
"Kenapa, Sayang?" Tiba-tiba kaki Ara terasa berat dan langkahnya melambat saat mereka tengah berada di basement parkir Apartemen Orion.
Wanita itu menjadi ragu akan keikutsertaannya dengan sang suami untuk menemui anak sambungnya itu.
"Tidak apa-apa. Biar Mas benar-benar dapat berbicara dari hati ke hati dengan Dani." Ara mengatakan demikian agar sang suami tidak memaksanya lagi. "Lagipula, apa Dani mau menerimaku, Mas?" ucapnya meragukan dirinya sendiri.
"Diterima atau tidak, kamu tetaplah ibunya meskipun bukan ibu kandungnya. Dan kamu juga mempunyai hak untuk mengunjunginya." Adrian menenangkan Ara dengan pemikirannya. Namun belum tentu anak laki-lakinya itu berpikir hal yang sama.
"Aku tunggu di mobil saja ya, Mas."
"Hei ... kau yang bersemangat sekali awalnya. Mengapa jadi seperti ini?" ucap Adrian yang menggenggam erat tangan istrinya.
"Sungguh aku ... hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian, Mas." Ara menguatkan kembali alasannya. "Sangat perlu menjaga kenyamanan untuk membahas hal seperti ini."
"Tapi kau tidak apa-apa, kan?" Adrian mengkhawatirkan istrinya. Wanita cantiknya itu menggeleng. "Tunggulah di dalam kalau begitu." Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk sang istri dan memastikan wanita itu masuk, kemudian duduk disana.
"Aku baik-baik saja, Mas. Pergilah." Mendengar sang istri berbicara seperti itu barulah ia beranjak dari sana.
"Oke," diciumnya kening sang istri. Adrian tahu Ara hanya beralasan dan tidak ingin dirinya merasa terbebani. "Jangan kemana-mana dan tunggu hingga aku kembali." Pesan Adrian pada wanita itu. Ara memajukan tubuhnya meraih pipi sang suami untuk dikecupnya. Akhirnya Adrian pergi ke apartemennya sendirian.
Sesampainya ia di sana, begitu sang anak membuka pintu setelah ia mengetuknya beberapa kali,
"Tumben, Daddy ingat aku?" sapaan sarkas sang anak hanya ditanggapi dingin oleh Adrian. Lelaki itu masuk tanpa disuruh. Kemudian duduk di sofa menunggu Dani menghampirinya.
"Duduk!" titahnya.
"Hei Dad! Ini apartemenku sekarang, harusnya aku yang mempersilahkan Daddy duduk bukan sebaliknya," ucap Dani kesal setelah Adrian sama sekali tidak menyapanya saat masuk tadi.
"Nama Daddy masih tercantum sebagai pemilik resmi semua aset Ilyasa, sampai Daddy yang secara sadar menyerahkannya padamu." Adrian menekankan posisinya pada sang anak.
Dani hanya tersenyum miring menanggapi ucapan sang ayah yang memang kenyataannya begitu. Ia hanya ingin sedikit egois akibat rasa kecewanya yang dalam akan rentetan kejadian yang membuat sang oma pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Dan tentu saja ia menyalahkan sang ayah yang membawa perempuan asing dalam keluarganya, hingga semua berakibat seperti ini.
Anak laki-laki itu kemudian mengambil duduk berseberangan dengan sang ayah. Dia pun memasang wajah dingin yang sama.
"Mengapa berkelahi di sekolah?" tanya Adrian langsung pada pokok permasalahan.
"Bukankah hal yang biasa jika laki-laki berkelahi?" Anak laki-laki itu menarik sebelah sudut bibirnya, karena ia sudah menduga akan kedatangan sang ayah ke apartemennya itu.
"Menjadi tidak biasa karena kau berkali-kali melakukannya. Dan mengapa ada surat yang harusnya untuk Daddy, tapi kenyataannya tidak pernah sampai?" Adrian berdiri, dengan membelakangi Dani lelaki itu melipat kedua tangannya di atas dada.
"Bukankah Daddy sibuk? Lagipula apa pentingnya aku? Dari dulu juga oma kan, yang selalu menyelesaikan masalahku di sekolah."
Adrian menarik napas panjang, kedua tangannya beralih kedalam saku celana. Lelaki itu emosi sekaligus sadar diri. Memang begitu kenyataannya. Selalu sang ibulah yang menghandle semua hal tentang anaknya. Namun sebenarnya itu bukan ia lakukan secara sengaja.
Kekecewaannya yang dalam, atas kepergian mantan istrinya sangat mempengaruhi hidupnya dulu. Tentu saja ia tidak bisa membesarkan Dani sedangkan dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Sehingga laki-laki itu memutuskan menitipkan anaknya pada sang ibu, sedangkan dia fokus membangun perusahaannya hingga menjadi seperti sekarang. Semua itu ia lakukan, tentu untuk kehidupan dan masa depan sang anak kelak.
"Daddy tahu, daddy tidak terlalu dekat denganmu. Tapi paling tidak, kau harus memberitahu daddy tentang surat itu. Sekarang kita hanya tinggal bertiga Boy. Kita harus kompak."
Tersenyum smirk, Dani membuang muka akibat jengah. Kompak? Bertiga? Apalagi itu. Setelah semua yang terjadi, ia tidak bisa kembali seperti sebelumnya lagi. "Apa saja yang mereka katakan?"
"Minta maaf? Da yang jelas-jelas salah, aku yang disuruh minta maaf. Daddy tahu kan aku tak sebrutal itu, aku memukulnya karena ia menghina keluarga kita," protes Dani dengan nada keras.
"Apa ada orang lain saat ia menghinamu?"
"Tidak. Ia memang sengaja seperti itu. Dan aku memukulnya di dekat kamar mandi, biar tidak ada yang menolongnya." Dani nampak geram saat mengingat kejadian yang sudah terlewat itu.
"Lalu bagaimana kalau kau di DO? Kau mau pindah kemana dengan catatan buruk yang kau sandang," ucap Adrian mengingatkan. Sekolah Dani adalah sekolah swasta terbaik di kota ini.
"Aku mau pindah ke luar negeri saja, bukankah Daddy ada sahabat di Kanada? Aku mau melanjutkan disana," jawab Dani yakin. Ia tidak ingin lagi berada di negara ini. Apalagi dengan wanita yang menjadi istri sang ayah sekarang.
"Kenapa harus di luar negeri, Boy? Kamu pindah keluar kota saja, biar Daddy menghubungi_"
__ADS_1
"Tidak. Aku mau diluar negeri. Titik." Dani memotong ucapan ayahnya, dan memberitahu sang ayah dia tidak ingin didebat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Langkah Adrian nampak tidak bersemangat. Ia menuju basement dengan pikiran berkecamuk. Baru saja ibunya pergi untuk selama-lamanya, sekarang sang anak yang ingin pergi jauh ke luar negeri meninggalkannya.
Di sepanjang jalan lelaki itu berpikir, bagaimana cara membujuk sang anak agar mengurungkan niatnya untuk melanjutkan study di luar negeri. Tentu akan sangat sulit karena anak lelakinya itu hanya menurut pada omanya. Sementara omanya sudah tidak ada.
Adrian memasuki mobil tanpa berucap apapun, kemudian menyalakan mesin dan mengendarainya keluar basement Apartemen Orion menuju rumah sakit.
Sang istri yang ada di sebelahnya pun sperti sedang didiamkan. Padahal lelaki itu sedang bingung dengan dirinya sendiri.
Sesekali, Ara menatap sang suami yang sama sekali tak melihat kepadanya. Bingung memulai obrolan, wanita itu mengulurkan tangannya mengusap lembut bahu sang suami yang nampak tegang memegang kemudi.
"Sayang," lelaki itu terkejut dan langsung menoleh. "Maaf, aku tak bermaksud ... aku hanya sedikit pusing," ucap Adrian beralasan. Ia baru menyadari tidak menyapa sang istri sejak tadi. Tangan kirinya menyambut telapak tangan lembut itu dan menempelkan ke pipinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Ara khawatir. "Kau bertengkar dengan Dani?"
Adrian memgangguk. "Hanya sedikit berdebat Sayang," ucapnya kemudian.
"Tapi matamu mengatakan hal yang lain. Kita bisa menjenguk kakak besok, kita putar balik saja ya," usul Ara ketika melihat Adrian tidak bersemangat sama sekali setelah turun dari apartemennya.
"Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja. Kita tetap ke rumah sakit. Kasihan tante." Ara tak ingin mendebat lagi, wanita itu menggenggam tangan sang suami, erat.
Sebenarnya, wanita itu ingin sekali bertanya tentang pertemuan ayah dan anak itu. Karena Adrian berubah pendiam setelah menemui Dani. Tapi sepertinya, saat ini bukan waktu yang tepat. Sehingga Ara hanya mengikuti alur, tidak bertanya atau menyinggung lagi tentang Dani.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Maaf Bu, tidak ada pasien rawat inap atas nama Tuan Akio," ucap seorang perawat ketika Ara bertanya nomor kamar Akio karena sang suami mengatakan bahwa sepupunya itu sudah dipindah ruangan.
"Coba periksa lagi, Mbak. Mungkin namanya terselip." Hal yang tidak mungkin terjadj diucapkan oleh Ara.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Bu. Di dalam ruangan yang Ibu sebutkan, tidak ada pasien atas nama Tuan Akio," Ara langsung berbalik menatap sang suami.
"Mas?"