KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#100


__ADS_3

Wajah Rianti terlihat ceria dengan senyum yang mengembang dari bibirnya, ketika melihat Sulastri berdiri dengan memegang Fahmi dan Farida di depannya. Ia masih memakai mukena warna biru yang dibelikan Sulastri beberapa hari yang lalu. Dia baru saja selesai shalat dhuha ketika petugas memberitahukan kedatangan Sulastri.


Setelah menyalami dan memeluk Sulastri, Rianti langsung duduk jongkok di depan Fahmi dan Farida. Senyumnya yang ramah, membuat Fahmi dan Farida mulai terlihat nyaman. Keduanya membalas senyum Rianti. Letak kopiah Fahmi yang miring diperbaikinya dan satu persatu kening keduanya ia cium.


"Mau kemana ini, kok resmi sekali. Mau kondangan ya," kata Rianti sambil mencubit pipi Farida.


"Mau ngantar kakak mondok," jawab Farida manja. Rianti membelalakkan matanya. Bola matanya berbinar-binar. Rianti melirik ke arah Sulastri mencoba mencari pembenaran. Sulastri mengangguk sembari tersenyum.


"O ya? Adik pintar. Ini baru namanya jagoan," kata Rianti kegirangan mencubit pipi Fahmi. Fahmi hanya tersenyum.


"Andai saja kakak tidak dipenjara, kakak pasti ikut dik Fahmi mondok." Raut wajah Rianti berubah. Tampak sekali ia merindukan suasana pesantren sekalipun ia tidak pernah mondok. Tapi sudah pasti suasana akan seperti yang ia inginkan. Penuh dengan suasana keagamaan dan tak ada urusan lain selain ilmu dan pembenahan hati. Setelah masuk penjara, ia seperti alergi dengan keramaian. Ia ingin suasana yang tenang dan dikelilingi oleh orang-orang baik.


Rianti memeluk tubuh Fahmi.


"Tunggu kakak di sana ya. Begitu kakak keluar dari penjara, kakak akan langsung kesana. Jadi, Fahmi mondoknya harus lama," kata Rianti memberi semangat. Sulastri yang masih berdiri memegang kepala Rianti menatap dengan tatapan sedih.


"Sekarang Fahmi kelas berapa?"


"Kelas lima," jawab Fahmi singkat. Rianti tersenyum. Ia melepaskan pelukannya. Ia mulai menghitung jarinya.


"Berarti umur Fahmi sekarang sudah 10 tahun." Kembali Rianti melirik ke arah Sulastri. Sulastri kembali mengangguk membenarkan perkiraan Rianti.


"Berarti setelah kuliah nanti, Fahmi harus mengabdi di pesantren biar bisa ketemu kakak. Ok?" kata Rianti. Fahmi mengangguk.


"Farida, panggil bi Aisyah ya. Suruh bawa makanan untuk kakak," kata Sulastri. Farida segera berlari menuju mobil di ikuti Fahmi dari belakang.


"Bagaiman kabarmu, Nak," kata Sulastri. Ia mengajak Rianti duduk. Rianti tersenyum.


"Seperti yang ibu lihat. Semakin hari, Rianti merasa semakin baik." Sulastri mengusap-usap punggung Rianti. Rianti tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak Sulastri.

__ADS_1


"Syukurlah, Nak. Ibu sangat bahagia sekali saat kamu menyuruh ibu membelikanmu mukena dan sajadah. Almarhum papamu pasti akan sangat bahagia di alam sana," kata Sulastri. Rianti mengusap air mata yang tiba-tiba saja keluar ketika Sulastri menyebut papanya.


"Semoga Allah mengampuni semua dosa Rianti pada papa," kata Rianti. Air matanya semakin mengalir deras.


"Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang, Nak. Dia akan memberi ampunan kepada hamba-Nya yang meminta ampun," kata Sulastri. Tangannya terus mengusap lembut kepala Rianti.


"Bu, makanannya," sela bi Aisyah setelah untuk sejenak merasa ragu mengganggu kebersamaan mereka. Sulastri menoleh, namun Rianti merasa tak terganggu dan tetap menyandarkan kepalanya. Bi Aisyah tampak tertetegun. Cerita tentang berubahnya Rianti benar adanya.


"Taruh di sana saja, Bi," kata Sulastri.


Bi Aisyah?" tanya Rianti. Sulastri mengangguk. Rianti mengangkat kepalanya. Ia lalu bangkit.


"Bi," panggilnya ketika bi Aisyah hendak pergi. Rianti mendekat . Ia memegang tangan kanan bi Aisyah dan menciumnya.


"Bi, maafkan aku atas kejadian malam itu."


Bi Aisyah tersenyum. Ia mendesah dan mengusap pundak Rianti.


"Terimakasih, Bi," bisik Rianti di telinga bi Aisyah.


Sulastri melirik ke arah jam tangannya.


"Baiklah, Nak. Mumpung hujan agak reda, ibu mau langsung ngantar adikmu ke pondok. Insya Allah ibu datang lagi nanti," kata Sulastri sembari melangkah ke arah Rianti. Rianti mengangguk. Setelah berpelukan dengan Rianti, Sulastri dan bi Aisyah segera keluar ruangan. Rianti menatapnya sambil melambaikan tangannya. Dia tersenyum ketika melihat Farida mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya.


"Rianti, kita sekarang akan melakukan kerja bakti di dalam lapas. Aku percayakan kepada kamu untuk mengarahkan teman-temanmu," kata petugas dari arah belakang. Rianti menoleh. Ia menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan masuk tanpa pengawalan petugas.


* * * * *


Jantung Sulastri tiba-tiba saja berdegup kencang ketika mobil yang ia tumpanginya berhenti di tempat parkir pesantren. Salah santri yang menanyai maksud kedatangannya segera mengarahkan pak Mustarah untuk memindahkan mobil ke tempat parkir dekat kediamanTuan Guru Izzul Islam, ketika Sulastri memberitahukan maksud kedatangan mereka.

__ADS_1


Hujan masih turun walau hanya gerimis. Seluruh rombongan turun kecuali pak Mustarah yang memilih diam di mobil. Abdul khalik mempersilahkan mereka duduk di kursi ruang tamu. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam. Sulastri mendesah memandang Fahmi yang duduk di pangkuan Bagas. Ia nampak murung. Bagas memeluknya erat.


"Assalamualaikum." Tuan Guru Izzul Islam muncul sembari mengangkat kedua tangannya ke arah mereka. Mereka serempak bangkit dan menundukkan kepala.


"Waalaikum salam," jawab mereka serempak.


"Silahkan duduk," kata Tuan Guru Izzul Islam mempersilahkan mereka kembali duduk. Tatapan matanya tertuju ke arah Fahmi yang memegang erat tangan Bagas.


"Ow ini adik yang mau mondok itu?" kata Tuan Guru Izzul Islam menunjuk ke arah Fahmi. Fahmi mengangguk lemah. Tuan Guru Izzul Islam tiba-tiba menoleh. Dia seperti mengingat sesuatu.


"Lik, ambilkan air botol kemasan di dalam," panggil Tuan Guru Izzul Islam kepada Abdul khalik yang berada di dalam rumah. Tak berapa lama kemudian, Abdul khalik muncul membawa botol minuman.


"Nah, ini buat minum Fahmi. Ini air sakti. Biar Fahmi betah dan pintar," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum. Fahmi terlihat tertarik. Tuan Guru Izzul Islam menyodorkan botol minuman ke arah Fahmi. Sulastri melirik Fahmi agar turun dan mengambil air itu. Fahmi segera turun dan mengambil botol minuman dari tangan Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Dia menundukkan kepalanya. Ia kembali teringat mimpinya tadi malam. Sulastri datang lagi dengan gamis biru dan jilbab biru motif batiknya. Tapi hari ini terlalu ramai. Dia tak bisa memperhatikan Sulastri dengan seksama. Ia ingin sekali meyakinkan hatinya dengan melihatnya dalam waktu yang cukup lama.


"Saya minta nomor rekeningnya, Tuan Guru. Terkait pembiayaan anak saya, mohon dipegang Tuan Guru saja. Saya takut anak saya gak bisa pegang uang,"kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Memang seperti itu, Bu. Khusus santri usia sekolah dasar, keuangannya memang di pegang pengurus asrama," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia mengambil bolpoin di saku baju kokonya dan mengambil selembar kertas hvs di lemari kitab di ruang tamu. Ia lalu mencatat sesuatu.


"Ini nomor rekening sekaligus nomor pengurus asramanya. Jika ada sesuatu silahkan hubungi nomor ini," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari meletakkan kertas itu di depan Sulastri.


Suasana sejenak hening ketika dua orang santriwati datang membawa beberapa gelas kopi dan makanan ringan. Sulastri melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Sebagai seorang wanita biasa, ia tak memungkiri jika Tuan Guru Izzul Islam memang tampan dan berkarisma. Padahal ia masih sangat muda.


"Silahkan diminum," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri terbuyar dari lamunannya.


"Maaf, kalau bapak ini saudaranya Ibu?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Ia menatap ke arah Bagas. Bagas dan Sulastri saling pandang. Mereka seperti saling memberi isyarat untuk menjawab. Khawatir Tuan Guru Izzul Islam curiga, Sulastri mantap menjawab. Ia harus jujur. Dia takut Fahmi dan Farida protes.


"Dia ayahnya Fahmi dan Farida, Tuan Guru. Tapi kami sudah tidak serumah lagi," jawab Sulastri. Dia tak ingin membuat Tuan Guru Izzul Islam bingung. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.

__ADS_1


"Suami kedua yang sudah meninggal," sambung Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam kembali menganggukkan kepalanya.


* * * * *


__ADS_2