
Jamila masih tertegun menatap persawahan yang ditanami tembakau di samping jalan. Memandangnya memaksanya memincingkan mata sebab silau dengan pantulan panas sinar matahari. Tak terdengar suara gemerisik air dari parit kecil yang letaknya lebih bawah dari jalan raya. Setelah musim hujan yang panjang dengan curah hujan yang berlimpah, kini musim kemarau menggantinya dan menebar kekeringan. Pohon-pohon menggugurkan daunnya. Hanya pohon mahoni yang berjejer di sepanjang jalan yang terlihat tetap menghijau dan rimbun sebagai peneduh. Angin yang berhembus tak sepadan dengan panas dan gerah siang ini.
Azan dhuhur telah berlalu beberapa menit lalu. Ini pertama kalinya ia lalai melaksanakan shalat tepat waktu. Sebelum-sebelumnya, bahkan saat masih di penjara, begitu adzan usai dikumandangkan dan selesai berdoa, dia akan langsung mengerjakannya. Segalanya jadi begitu sulit ketika kini ia berada di luar. Dia sudah terbiasa dalam kemudahan. Segalanya ada di depannya. Walaupun sekali lagi ketika ia sedang berada di penjara. Tapi kini, jangankan air untuk berwudhu, mencari tempat ia akan shalat pun, ia benar-benar merasa kesulitan. Ketika keadaannya seperti itu, ia mulai meragukan keputusannya untuk meninggalkan rumah Sulastri. Mungkin saja ini adalah sebuah teguran dari Allah, bahwa keputusan meninggalkan rumah adalah keputusan yang salah.
Jamila mendesah panjang. Ia bangkit perlahan. Uang di tangannya kini tersisa enam puluh ribu. Ia harus beririt sampai ia punya tujuan jelas.
Jamila kembali melangkahkan kakinya menyusuri trotoar jalan. Dia harus menemukan mushalla ataupun orang yang mau memberinya tumpangan sekedar untuk berwudhu dan shalat.
Jamila menghentikan langkahnya ketika melihat beberapa perempuan turun dari trotoar menuju persawahan di bawah jalan. Kalau tidak salah, perempuan-perempuan itu akan memetik daun-daun tembakau yang sudah tua di persawahan. Di kampungnya, ia terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Almarhum ibunya dulu sering mengambil upah memetik daun tembakau tetangga dengan bayaran lima belas ribu rupiah untuk setengah hari. Itu dulu. Setelah lewat beberapa tahun, mungkin upah memetik daun tembakau sudah berubah.
Jamila kembali melangkah. Perlahan ia menuruni jalan setapak dan dengan sangat hati-hati melewati potongan kayu balok yang melintang sebagai titian di atas parit menuju persawahan. Dia terus mengkuti kemana perempuan-perempuan itu berjalan. Hinga saat perempuan-perempuan itu berhenti dan duduk di sebuah pondok kecil di pematang sawah, ia menghentikan langkahnya. Tapi kehadirannya sudah diketahui perempuan-perempuan itu. Mereka seperti berbisik satu sama lainnya. Semua pandangan terarah kepada Jamila. Merasa perempuan-perempuan itu sedang membicarakannya, Jamila memberanikan diri mendekat.
"Assalamualaikum," ucap Jamila ketika telah sampai di depan mereka. Perempuan-perempuan itu serempak menjawab.
"Maaf, saya mau nanya, yang punya sawah dimana ya?" tanya Jamila.
"Ada di rumah, dik," kata salah seorang yang umurnya terlihat paling tua diantara mereka.
"Memangnya ada apa,dik,"
Jamila tersenyum sembari menggaruk kepalanya
"Saya mau ikut kerja petik daun tembakau,Kak," kata Jamila.
"Aduh, gak bisa kayaknya, Dik. Harus ketemu pemilik sawah dulu. Kami di sini hanya pekerja saja,"
Jamila terdiam sejenak.
"Apa orangnya akan kesini juga, Kak,"
"Kayaknya gak, biasanya dia akan menunggu di rumah sampai pekerjaan kami di sini selesai,"
Jamila mendesah pelan. Salah seorang dari mereka menyuruh Jamila duduk di sampingnya. Salah satu dari mereka nampak mengeluarkan beberapa bungkus nasi dari dalam tas plastik warna hijau, kemudian membagikannya kepada teman-temannya. Jamila menundukkan wajahnya ketika salah seorang perempuan yang duduk paling pojok tersenyum ke arahnya. Sejak kedatangannya, perempuan itu terus menatapnya. Ketika ia mencoba melihatnya, perempuan itu selalu tersenyum.
"Ayo, ikut makan sama kami," kata perempuan yang usianya lebih tua. Ia membuka bungkus makanannya dan menggelarnya di depan Jamila.
__ADS_1
"Saya sudah makan, Kak. Biar kakak saja yang makan. Saya masih kenyang," kata Jamila.
"Gak usah malu-malu. Ayo, nasinya banyak kok ini,"
"Gak usah, kak. Saya minta minumannya saja,"
Perempuan itu mengambil segelas minuman plastik di sampingnya dan memberikannya kepada Jamila.
"Ngomong-ngomong, adik dari mana?" tanya perempuan itu sembari terus menyantap makanannya. Jamila terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Apalagi ketika pandangan orang-orang kembali tertuju ke arahnya.
"Ee..., saya datang dari jauh, Kak. Saya aslinya dari desa Sekaroh," kata Jamila setelah lama terdiam memikirkan jawaban.
"Sekaroh?" Perempuan itu menatap Jamila.
"Wah, Jauh sekali dik. Mau ngapain kesini?" lanjutnya.
"Mau cari kerja, Kak," jawab Jamila menundukkan wajahnya.
"Sekarang adik kos dimana?"
Perempuan itu mendesah. Bungkus nasi yang telah ia habiskan isinya dilipatnya dan dimasukkan kembali ke dalam plastik. Ia lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari balik saku bajunya.
"Ayo semua, sudah hampir jam dua. Sudah waktunya kerja," katanya ke arah teman-temannya. Mereka kemudian bangkit dan meninggalkan Jamila duduk sendirian.
"Dik, maaf kami tinggal kerja dulu ya. Istirahat saja di sini dulu," kata perempuan itu. Jamila tersenyum menganggukkan kepala.
Jamila mendesah panjang sambil melihat perempuan-perempuan itu mulai memetik daun tembakau. Entah, apa lagi yang harus ia lakukan. Duduk terus di sana membuatnya jadi tidak enak. Ia harus segera pergi selagi perempuan-perempuan itu bekerja.
Jamila mengangkat tubuhya berat. Tapi dia urung melangkahkan kakinya ketika melihat perempuan yang sedari tadi menatap terlihat keluar dari balik rerimbunan tanaman tembakau. Dia tersenyum dan mendekat ke arah Jamila. Sesekali ia menoleh ke arah teman-temannya yang sibuk memetik daun tembakau. Jamila diajaknya duduk kembali.
"Maaf, tangan saya kotor. Perkenalkan nama saya Jini," kata perempuan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Jini itu. Jamila tersenyum.
"Jamila,"
Jini tersenyum. Ia kembali menoleh ke arah teman-temannya.
__ADS_1
"Kamu mau cari kerja ya," tanya Jini. Jamila mengangguk.
"Kalau kamu mau, saya punya pekerjaan untuk kamu."
Wajah Jamila terlihat merekah senang.
"Benarkah?" tanya Jamila. Jini tersenyum menganggukkan kepala.
"Untuk sementara, kamu bisa tinggal dulu di rumahku. Sekarang, kamu tunggu aku di pinggir jalan sana. Tapi ingat, jangan sampai teman-teman itu melihatmu." Jamila mengerutkan keningnya. Ia menatap wajah Jini lekat.
"Nanti, sepulangku dari sini, aku akan menjemputmu. Ingat, jangan kemana-mana kalau kamu ingin pekerjaan," kata Jini. Ia kemudian bangkit dan dengan membungkukkan tubuhnya ia kembali ke tengah sawah.
Jamila bangkit. Ia menatap tubuh Jini. Ia agak ragu dengan tawaran Jini itu. Kenapa dia tidak mengatakannya saat berkumpul tadi bersama teman-temannya, padahal itu yang mereka bahas saat duduk di pondok itu. Kenapa juga dia seperti orang ketakutan dilihat teman-temannya? batin Jamila.
Jamila kembali mendesah. Ia lalu membalikkan badannya dan melangkah lemah meninggalkan tempat itu.
* * * * *
Rianti menunduk dengan tatapan lemah ketika Sulastri memberitahukannya perihal kepergian Jamila. Tuan Guru Izzul Islam yang datang bersama Sulastri, dan berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan, mendekat dan duduk di dekat Rianti. Setelah menatap Rianti beberapa saat, ia mengusap punggung Rianti.
"Kita memang tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain, sekalipun kehendak itu menurut kita baik. Ini semua memang sudah di putuskan Allah. Kita serahkan semuanya kepada-Nya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengangkat kepalanya. Tatapannya lemah menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Yang aku khawatirkan, Jamila tidak punya siapa-siapa di luar sana. Jika sampai malam ini ia tidak pulang, saya tidak bisa membayangkan ia akan terlunta-lunta tanpa arah di luar sana," kata Rianti. Ia kembali menundukkan wajahnya.
"Itu juga yang ibu pikirkan, Nak. Jamila sama sekali tak mengenal tempat ini. Dia hanya anak kampung. Ibu juga khawatir dia akan tersesat," kata Sulastri.
"Tolong cari dia sampai ketemu, Bu," kata Rianti. Ia memegang tangan Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Kamu gak usah khawatir. Ibu sudah menyuruh pak Mustarah mencarinya. Mudah-mudahan pak Mustarah bisa pulang membawa Jamila," jawab Sulastri.
"Terimakasih, Bu,"
"Kamu juga tidak boleh berpikir terlalu berat, Dik.Jaga kesehatanmu dan kesehatan bayi kita. Serahkan urusan Jamila kepada kami. Tapi adik harus janji, jika nanti Jamila ditemukan, lupakan apa yang menjadi keinginan adik itu. Biarkan Jamila tetap menjadi bagian keluarga kita tanpa harus menikah denganku," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti hanya terdiam. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.
"Baiklah, kami pulang dulu. Sekalian kami juga akan mencari Jamila. Masih ada waktu sebelum malam tiba. Semoga kita bisa menemukannya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia memberi isyarat kepada Sulastri untuk bangkit. Setelah berpamitan dengan Rianti, keduanya langsung pergi.
__ADS_1