
Shalat jumat telah usai. Orang-orang sudah keluar dari masjid. Termasuk pak Bayan, Masku dan pak Mustarah yang baru saja keluar dari mobil sepulangnya dari masjid. Tak jauh dari mereka, Jeri tampak bersembunyi di balik batang sebuah pohon mahoni besar yang tumbuh di pematang sawah dekat rumah. Gerbang rumah yang belum ditutup, memberinya ruang untuk melihat dengan leluasa ke dalam halaman rumah. Sudah berhari-hari ia menyambangi rumah itu, tapi ia belum juga punya cara untuk memasukinya. Di tembok pagar rumah sudah dipasangi kawat berduri. Dia belum juga memberi informasi penting terkait Rianti kepada pak Jamal. Paling tidak, dia bisa memenuhi permintaan mudah pak Jamal, mencari tahu nomor ponsel Rianti.
Jeri mendesah panjang. Kali ini ia tak mau hanya sekedar melihat dari kejauhan. Ia tak mau lagi mendengar omelan dari pak Jamal karna dianggap tidak becus menjalankan tugasnya. Kali ini ia harus berhasil.
Jeri menengok kembali ke arah gerbang. Dilihatnya pak Bayan mendekat ke arah gerbang. Pintu gerbang di tutupnya.
Jeri terdiam sejenak. Kerutan di keningnya seperti ditekan keras. Ia tersenyum. Sepertinya ia sudah menemukan ide. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah menoleh kesana kemari memastikan keadaan sekitarnya aman, Ia dengan mengendap-endap meninggalkan tempat itu.
* * * **
Sulastri masih membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia masih memikirkan tahi lalat milik Rianti. Dia sedang memikirkan cara bagaimana memberitahukan Tuan Guru Izzul Islam tentang tahi lalat di bawah telinga kanan Rianti. Sulit memang. Tapi ia harus berani menyampaikannya. Tuan Guru Izzul Islam sudah terlalu lama menunggu perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpinya. Dia belum menikah sama sekali sejak dia salah meyakini dirinya sebagai sosok perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpinya.
Sulastri bangun dari berbaringnya. Ia tersenyum. Ia harus mencobanya. Jika pun nanti salah, toh tak akan merugikan siapa-siapa. Ia harus memikirkannya sendiri. Rianti tak perlu tahu. Sebuah ide muncul di kepalanya. Sulastri kembali tersenyum. Dia akan mengundang Tuan Guru Izzul Islam besok ke rumahnya. Tapi dia harus mencari-cari alasan yang tepat mengundang Tuan Guru Izzul Islam. Orang-orang pasti akan menanyakannya. Termasuk Tuan Guru Izzul Islam.
"Assalamualaikum," terdengar salam dari arah luar. Seperti suara pak Bayan.
"Waalaikum salam. Masuk, Pak," jawab Sulastri. Pak Bayan terlihat mendekat.
"Ada apa, Pak Bayan," tanya Sulastri ketika pak Bayan sudah ada di depannya.
"Ada tamu, Bu. Katanya mau cari non Rianti," kata pak Bayan. Sulastri terdiam sejenak memikirkan siapa gerangan tamu Rianti.
"Laki-laki atau perempuan, Pak," tanya Sulastri.
"Laki-laki, Bu."
Sulastri kembali mengernyitkan keningnya. Pak Jamalkah? batin Sulastri penasaran. Ia terdiam sejenak memikirkan siapa gerangan orang yang pantas mencari Rianti.
"Suruh dia menunggu di teras rumah, Pak. Saya akan memanggil Rianti dulu," kata Sulastri kemudian. Pak Bayan mengangguk.
"Baik, bu," Kata pak Bayan. Ia lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar.
__ADS_1
Karna penasaran, Sulastri bangkit dan mengikuti pak Bayan dari belakang. Sesampai di depan pintu, Sulastri berhenti dan memilih diam di samping pintu. Perlahan ia menyibak sedikit kelambu kaca jendela yang menghadap teras rumah. Dia melihat seorang laki-laki berbadan tinggi tegap menggunakan sarung dan baju koko warna putih serta peci hitam sedang duduk di pos jaga. Karna masih terlalu jauh, Sulastri belum bisa mengenalnya.
Pak Bayan terlihat mengajak laki-laki itu mendekat. Semakin dekat, Sulastri mulai mengenali laki-laki itu.
"Jeri?" desah Sulastri. Dia hampir-hampir tak mengenalnya dengan penampilan barunya. Sudah bertaubatkah ia seperti Rianti? tanya Sulastri dalam hati. Ia tak mau terlalu mengingat laki-laki itu. Dia tak mau membayangkan kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu saat Jeri melakukan hal yang tak senonoh kepadanya. Sulastri membalikkan badannya.
"Bu."
Suara Rianti yang tiba-tiba dari arah belakang sontak mengagetkan Sulastri. Sulastri menggeleng-geleng seraya mengusap-usap dadanya. Ia berbalik dan menjewer telinga Rianti. Melihat Sulastri terlihat begitu kaget, Rianti tertawa.
"Ampun, Bu. Ampun," teriak Rianti. Kali ini Sulastri menggelitik perutnya sehingga Rianti kegelian.
"Kamu mengagetkan ibu saja," kata Sulastri gemas. Ia menoleh kembali dari balik kelambu jendela. Ia menarik tangan Rianti agar lebih mendekat ke jendela. Jeri sudah terlihat duduk di kursi teras rumah.
"Tuh, Lihat. Apa ibu gak salah lihat," kata Sulastri lagi. Ia menyibak kelambu lebih lebar. Rianti mendekat. Keningnya mengkerut.
"Jeri?" kata Rianti. Ia lalu keluar. Sulastri sendiri memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Jeri?"
"Ayo duduk," kata Rianti. Jeri tersenyum dan duduk. Ia melirik ke arah Rianti. Rianti yang ia lihat saat ini benar-benar berbeda. Matanya yang dulu liar penuh kejahatan, sudah tidak terlihat lagi. Mata beringas itu kini sudah berubah seperti mutiara yang berkilauan. Ia terlihat begitu cantik dan menawan.
Rianti mendehem, membuyarkan Jeri dari ketertakjubannya. Jeri tersipu malu.
"Apa aku gak salah lihat, apa benar ini Jeri yang dulu aku kenal," kata Rianti setelah sejenak memperhatikan Jeri dan peampilannya. Jeri tersenyum. Ia memperbaiki letak pecinya.
"Benar, Non. Saya ini Jeri. Seperti pesan non dulu waktu saya menjenguk non di penjara, saya sudah berubah sekarang. Non juga sudah berubah banyak. Saya hampir tak mengenali Non Rianti,"
Rianti tersenyum.
"Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah yang telah memberi hidayah kepada kita. Aku mensyukuri semua proses hingga aku masuk penjara." Rianti tersenyum dengan kedua bola mata berbinar haru.
__ADS_1
"Aku senang melihatmu seperti ini. Kamu juga sudah berubah. Aku juga minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan dulu kepadamu," sambung Rianti. Jeri mengangguk.
"Gak apa-apa, Non. Yang berlalu biarlah berlalu," kata Jeri menundukkan kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya saat ini. Berpura-pura berubah di hadapan Rianti.
"Oh ya, kamu sekarang tinggal dimana?"
"Saya ngontrak Non. Saya kerja serabutan sebagai tukang parkir. Yang penting halal, Non,"
Rianti tersenyum. Dari binar-binar kedua bola matanya, ia nampak bahagia melihat perubahan pada diri mantan anak buahnya itu.
"Syukurlah, Jeri. Kalau kamu mau, kamu bisa kerja di perusahaan mutiara disegui,"
"Terimakasih, Non. Nanti saya pertimbangkan." Jeri menggaruk-garuk kepalanya. Ia mulai bimbang meminta nomor ponsel Rianti mengingat niat jahat yang telah dirancang pak Jamal dan pak Efendi. Tapi ia sudah terlanjur menghabiskan sejumlah uang besar dari pak Jamal. Pak Jamal tentu akan membunuhnya.
"Boleh minta nomor ponselnya, Non. Biar saya mudah menghubungi Non,"
Rianti tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya. Setibanya di dalam kamar, ia melihat Sulastri sedang berbaring membaca sebuah majalah. Ponsel di atas meja di ambilnya.
"Benar itu Jeri?" tanya Sulastri memperlihatkan wajahnya dari balik majalah.
"Ya, Bu. Dia memang Jeri," jawab Rianti.
"Mau apa dia kesini, Nak," tanya Sulastri. Ia kembali fokus ke majalah yang dibacanya.
"Dia hanya ingin ketemu sama Rianti, Bu. Dia sekarang sepertinya sudah berubah. Alhamdulilah," kata Rianti. Ia lalu keluar dan kembali ke teras rumah.
Rianti memperlihatkan nomor ponselnya kepada Jeri. Jeri lalu mencatatnya.
"Kalau begitu saya mau pamit dulu, Non. Sebentar lagi saya mau markir. Sudah jam 2,"
"Loh, Gak minum dulu,"
__ADS_1
"Kapan-kapan saya kesini lagi. Yang penting sudah ketemu dulu sama Non Rianti,"
Jeri bangkit di ikuti Rianti. Setelah bersalaman dengan Ranti, Jeri pun melangkah menuju sepeda motornya yang terparkir di samping pos jaga. Rianti terus menatapnya penuh bahagia. Dia tak menyangka Jeri mengikuti jejaknya untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Dia berharap, Jeri istiqomah. Dia melambaikan tangannya ketika melihat Jeri membungkukkan badannya sebelum menaiki sepeda motornya.