
Malam selepas maghrib. Awan hitam kembali menyambangi langit kota Jerowaru, setelah siang tadi cuaca begitu terik dan menggerahkan. Bayu bertiup semilir. Butiran-butiran hujan yang lembut terhempas angin seperti salju di antara cahaya lampu di tepi jalan. Aroma tanah khas musim penghujan tercium, membuat tersenyum tanah-tanah kering persawahan.
Selepas shalat maghrib berjamaah, seperti biasa, Sulastri dan Rianti terlihat duduk di sofa ruang tamu. Angin yang berhembus, menerpa tirai jendela ruang tamu. Munawarah datang membawa dua gelas minuman susu kambing yang tadi dibawa oleh rombongan Nyai Mustiani. Kebahagiaan malam ini sembari menunggu waktu dua hari lagi Rianti akan dibawa Tuan Guru Izzul Islam, seperti berbagi dengan kecemasan di wajah Sulastri. Ia tak sepenuhnya bisa bersikap tenang seperti Rianti. Dia sudah mengalami masa lalu yang begitu kelam sebelum menikmati kebahagiaannya kini. Ia tak mau penderitaan yang pernah ia alami, dialaminya juga oleh anak-anaknya, termasuk Rianti. Masa lalu itu begitu membuat trauma yang besar ketika mengingatnya. Dan kini, Pak Jamal menjadi momok satu-satunya yang menakutkan. Dan entah. Sejak shalat tadi, hatinya merasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Ditambah lagi ketika mengingat, jika tidak ada aral yang melintang, dan pernikahan itu terjadi juga, dia akan terpisah dengan Rianti yang otomatis akan tinggal bersama Tuan Guru Izzul Islam. Rianti sudah melebihi anaknya sendiri. Dia tidak bisa membayangkan jika Rianti tak lagi menemani malam-malamnya seperti ini.
Sulastri mendesah resah. Tapi ia berusaha tidak menampakkannya kepada Rianti. Minuman hangat susu kambing di depannya di seruputnya pelan. Ia tersenyum kepada Rianti yang ada di sampingnya. Sulastri memegang tangan Rianti. Rianti menoleh dan tersenyum.
"Nak, jika sudah waktunya nanti, kamu sudah tidak akan tinggal lagi dengan ibu. Ibu rasa sudah waktunya kita membagi harta warisan papamu. Orang tuamu tidak lagi menjadi prioritas utama baktimu. Suamimu lah bakti utamamu. Baik-baiklah pada mertuamu, karna dia adalah orang tuamu juga," kata Sulastri. Rianti tersenyum. Ia merangkul tubuh Sulastri.
"Bu, selama ibu masih hidup, kita tidak akan membagi perusahaan itu. Perusahaan itu milik kita bersama, dan ibu lah pimpinan utamanya. Apalagi dik Fahmi sebentar lagi akan pulang, dan kita aka segera memulai pembangunan pesantren. Akan lebih baik jika kita fokus ke hal yang lebih penting seperti itu," jawab Rianti. Sulastri mengusap kepala Rianti. Rianti benar-benar sudah tidak tertarik lagi dengan kemewahan dunianya. Sulastri mendesah.
"Dan satu lagi pesan ibu, kamu...,"
Kata-kata Sulastri terhenti. Nada panggilan dari ponsel milik Rianti di dalam kamar terdengar keras. Sulastri sampai lupa apa yang hendak disampaikannya.
"Kamu ambil dulu ponselmu sana. Ponsel kok pakai speaker," kata Sulastri. Rianti tersenyum.
"Tadi Rianti lagi dengar pengajian, Bu. Rianti lupa mengecilkan volumenya," jawab Rianti. Ia lalu melangkah menuju kamar. Sebuah nomor tak dikenal. Rianti segera mengangkatnya.
"Ya, Halo. Assalamualaikum," jawab Rianti sambil berjalan kembali dan duduk di samping Rianti.
__ADS_1
"Wa alaikumussalam warahma tullahi wabarokatuh."
Rianti mengernyitkan dahinya. Perlahan ia mulai mengenal suara laki-laki di seberang.
"Pak Jamal?" desah Ranti. Ia serempak saling pandang dengan Sulastri. Dada Sulastri mulai berdebar. Jantungnya berdetak kencang.
"Ada apa lagi, Pak," jawab Rianti tenang. Ia menyandarkan punggungnya di sofa. Dia meraih minuman di depannya dan meminumnya sembari mendengar pembicaraan pak Jamal yang begitu panjang.
"Sebelumnya, saya ucapkan selamat atas acara lamaran kamu pagi tadi. Seharusnya kamu tidak melupakan pamanmu ini. Padahal aku yang lebih pantas karna aku adalah saudara kandung papamu. Tapi sudahlah. Kita sudah tidak punya hubungan lagi." Pak Jamal menghentikan kata-katanya. Ia terdengar seperti sedang menenggak minuman. Rianti masih menunggu. Sulastri melihatnya cemas. Rianti menebarkan senyumnya ke arah Sulastri. Sulastri menggeleng.
"Tapi aku masih mencoba berbaik hati kepadamu, Rianti. Aku kasih kamu kesempatan malam ini saja untuk berpikir dan membuat keputusan. Jika tidak, Tuan Guru Izzul Islam dan seluruh keluarganya akan tahu siapa kamu. Aku akan memperlihatkan video itu kepada mereka. Jadi, bijaklah dalam membuat keputusan. Kamu boleh mengajak ibumu yang keparat itu," kata pak Jamal. Kalimat terakhir terdengar keras. Rianti tersenyum.
"Kurang ajar. Ternyata kamu memilih sendiri kehancuranmu. Baik, jika aku tidak bisa memiliki salah satu perusahaan itu, maka aku akan membuatmu sesengsara mungkin," kata pak Jamal geram dengan nada keras. Sulastri semakin terlihat takut. Ia berusaha mengambil ponsel di tangan Rianti, tapi Rianti mencegahnya. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran Sulastri saat ini.
"Lakukan saja, Pak. Aku akan menunggu hasilnya." Rianti mematikan panggilannya. Nomor tak dikenal itu langsung diblokirnya.
Rianti mendesah. Ia tersenyum dan posisi duduknya lebih didekatkan ke arah Sulastri. Sulastri yang nampak cemas, mulai meneteskan air mata. Rianti segera memeluk Sulastri.
"Ibu, Rianti sudah bilang, jangan menangis. Jangan pikirkan itu. Kita tidak akan mati dengan omongan dan penilaian buruk orang kepada kita. Paling hanya sebulan. Setelah itu orang-orang tidak akan punya waktu untuk mengingatkannya lagi. Tutup mata dan telinga kita. Omongan itu akan menghapus segala dosa dan kesalahan kita," kata Rianti.
__ADS_1
"Kenapa kamu setenang ini, Nak. Kenapa ibu tidak bisa bersikap seperti kamu,"
"Karna ibu menyayangiku. Dan terimakasih untuk itu. Tapi jika ibu sadar bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara, maka kehidupan yang disanalah yang lebih berharga.Seperti kata Nabi; jadilah orang asing di dunia ini, agar kehidupan di dunia ini tak membutakan hati kita dari melihat kehidupan yang sebenarnya kelak," kata Rianti. Ia merapikan rambut Sulastri yang terurai di wajahnya. Sulastri mendesah panjang. Ia terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi kok pak Jamal bisa tahu acara lamaranmu tadi pagi. Apakah diantara rombongan Nyai Mustiani ada yang berteman dengan pak Jamal?" tanya Sulastri heran.
"Sudahlah, Bu. Manusia jenis pak Jamal bisa melakukan semuanya. Jadi, siapapun yang memberitahunya, itu tidak akan merubah apa-apa. Ada baiknya kita bersiap-siap mengahadapi proses takdir yang sedang dijalankan Allah. Jika kita tidak bersikap tenang, kita bisa saja gila, Bu. Seperti kata Imam Al-ghazali; Tujuan kita hidup untuk beribadah dan mengingat Allah. Mungkin luka itu masih ada, namun hidup akan lebih ringan jika kita tulus memaafkan. Jadi, sebelum pak Jamal melakukan niatnya, aku sudah memaafkannya terlebih dahulu," kata Rianti.
Lagi-lagi Sulastri mendesah panjang. Ia merasa, dalam segala hal ia telah kalah dengan Rianti. Apapun yang diucapkannya selalu dijawab oleh Rianti dengan dalil agama.
Adzan Isya' terdengar berkumandang...
* * * * *
Pak Jamal yang masih berada di dalam mobilnya tak henti-henti mengumpat. Ia memperhatikan suasana di luar gerbang yang nampak sepi. Sengaja ia memarkir mobilnya di depan jalan kecil menuju rumah itu, dengan sebuah keyakinan bahwa Rianti pada akhirnya akan menerima kesepakatan yang ia ajukan. Dia sudah membawa map berisi surat kesepakatan yang telah ia ketik sebelumnya. Tapi ternyata semuanya tak sesuai kenyataan. Dia harus beralih ke rancana cadangannya. Pergi ke pondok pesantren Qudwatusshalihin. Malam ini juga. Dia sudah menunda terlalu lama penyebaran video itu. Dia tidak mau Rianti menganggapnya takut.
Pak Jamal menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menuju ke pondok pesantren Qudwatusshalihin Pemondah.
...buat pembaca baru, mohon ulasannya. Terimakasih...
__ADS_1