
Tak terasa waktu terus bergulir. Musim penghujan tahun ini datang lebih awal. Tepatnya di pertengahan bulan oktober. Aroma tanah awal musim penghujan tercium, saat rintik-rintik hujan untuk pertama kalinya jatuh membasahi bumi, membuat tunas-tunas hijau pepohonan yang menggugurkan diri saat musim kemarau, seperti berebutan menampakkan diri di ranting pepohonan. Di sepanjang mata memandang, suasana hijau menyejukkan mata. Suara riak-riak air yang mulai mengisi aliran sungai yang lama mengering, terdengar seperti musik alam, mengiringi kicau burung yang riang di ranting pepohonan. Alam yang mengering kembali terlihat segar.
Di serambi masjid pesantren, para santri terlihat duduk santai menikmati rintik-rintik hujan yang mulai menggenangi halaman masjid. Sehabis shalat ashar dan menyetor hafalan, sebagian mereka memilih tetap di masjid karna hujan semakin deras. Sebagian lagi terlihat riang mandi di tengah derasnya hujan.
Suara nada pengumuman dari pengeras suara kantor sekretariat pesantren terdengar berbunyi tiga kali. Segenap santri saling memberi isyarat agar diam. Nada panggilan yang selalu ditunggu para santri, lebih-lebih pada akhir bulan. Mereka berharap orang tua mereka lah yang datang mengunjungi mereka.
"Berita panggilan..., Kepada saudari, atas nama Layla, diharap kedatangannya ke sekretariat pesantren. Sekali lagi, saudari Layla, diharapkan kehadirannya ke sekretariat pesantren. Terimakasih."
Layla mengerutkan dahinya. Hanya berselang dua hari, pak Nurasmin dan bu Sofia datang mengunjunginya. Ada urusan pentingkah sehingga mereka datang lagi menjenguknya? batin Layla penasaran.
"Ayo, Layla. Di panggil tuh. Jangan lupa makanannya ya," teriak seseorang di antara kerumunan para santri yang duduk. Layla tersenyum dan perlahan bangkit. Mereka segera memberi jalan untuk Lyla. Layla segera menaikkan ujung mukenanya begitu turun dari serambi masjid. Para santri yang ada di serambi masjid mulai riuh memberi aba-aba kepada Layla untuk bersiap berlari di antara derasnya hujan.
Layla mengusap mukenanya yang basah akibat derasnya hujan setibanya di depan pintu sekretariat. Perlahan ia membuka pintu dan memberi salam.
Layla kembali mengerutkan dahinya saat tiba di dalam ruangan. Hanya ada dua orang di dalam ruangan itu. Zahra, salah seorang santri senior yang bertugas piket hari itu, dan seorang perempuan berkaca mata, yang duduk di bangku panjang dengan sebagian wajah ditutupi dengan jilbabnya. Di samping gadis itu duduk nampak tas dan koper. Karna penasaran, Layla langsung mendekati pengurus piket.
"Apa tadi nama saya yang dipanggil, Kak?"tanya Layla ingin memastikan setibanya di depan meja petugas piket. Zahra tersenyum menganggukkan kepalanya seraya menunjuk ke arah bangku dimana perempuan bercadar itu duduk. Layla menoleh. Ditatapnya sejenak kepada perempuan itu. Dia merasa tak mengenalnya sama sekali. Layla kembali memalingkan pandangannya ke arah Zahra. Ia memajukan kepalanya lebih dekat ke arah Zahra.
"Siapa ya, Kak?" tanya Layla setengah berbisik. Zahra mengangkat kedua bahunya.
"Kok nanya balik sama saya. Ditanya langsung dong," kata Zahra. Layla mendesah dan membalikkan badannya. Ia kemudian melangkah pelan mendekati perempuan itu dan duduk di sampingnya. Agak ragu, ia berusaha menyapanya.
"Assalamualaikum. Apa benar Kakak mencari saya?" tanya Layla. Perempuan itu tak menjawab. Dia diam saja. Layla menoleh ke arah Zahra. Kembali Zahra menaikkan kedua pundaknya. Layla menggaruk-garuk kepalanya. Kali ini ia melihat perempuan di dekatnya menundukkan badannya dengan telapak tangan di mulutnya. Dari tubuhnya yang bergerak, ia tahu perempuan itu sedang menahan tawanya. Layla semakin penasaran. Ia bangkit dan berdiri di depan perempuan itu. Ia yakin perempuan yang ada di depannya adalah orang yang ia kenal. Layla membungkukkan badannya dan mulai memperhatikan wajah perempuan itu. Perempuan itu seperti sudah tidak bisa menahan tawanya saat Layla memperhatikan wajahnya.
"Julia?" tanya Layla keheranan. Ia melepas jilbab yang menutupi wajah perempuan yang tidak lain adalah Julia itu. Julia masih tertawa sambil memegang perutnya. Layla memukul-mukul lengan Julia.
__ADS_1
Setelah tawanya reda, Julia memeluk tubuh Layla.
"Kamu, Ka_mu kenapa kesini?" tanya Layla masih bingung dengan kedatangan Julia yang tiba-tiba.
"Gak boleh?" tanya Julia balik.
"Bukan begitu. Aku tidak percaya saja kalau kamu kesini. Tumben. Bukankah kamu ada di jawa?" kata Layla. Julia tersenyum. Ia menggeser tubuhnya dan mendekatkan koper dan tas di sampingnya. Kembali Layla mengerutkan keningnya.
"Punyamu?"
Julia mengangguk. Belum habis rasa penasarannya, Layla kembali mengerutkan keningnya ketika melihat seorang perempuan dan laki-laki paruh baya keluar dari ruangan di samping. Itu pak Maksum dan bu Eti. Bapak dan ibu Julia. Keduanya tersenyum ke arah Layla.
Layla segera bangkit dan mendekat. Ia kemudian menyalami keduanya.
"Julia mau mondok di sini, Pak?" kata Layla ketika keduanya telah duduk di samping Julia. Dia masih belum percaya seratus persen kalau Julia benar-benar akan mondok di tempat itu. Keduanya mengangguk sambil tersenyum. Layla berbalik dan kembali mendekati Julia. Ia menarik tangan Layla dan mengajaknya ke sudut ruangan.
"Memangnya kamu sudah pikirkan matang-matang. Ini tempat orang menghafal Al-qur'an, Julia," kata Layla sambil tersenyum ketus.
"Memangnya menurutmu, aku gak bisa, begitu?" Julia balik bertanya.
Layla mendesah dan tersenyum.
"Bukan begitu. Aku heran saja karna kamu tiba-tiba tertarik menghafal Al-qur'an. Katanya mau jadi insinyur pertanian. Gak nyangka saja kalau kamu mau mondok di sini," kata Layla. Julia tersenyum.
"Aku gak betah kalau gak ada kamu. Setelah aku pikir-pikir, aku bilang saja sama bapak kalau aku mau pindah kesini," kata Julia. Layla mendesah panjang. Ia memegang tangan Julia.
__ADS_1
"Tapi jangan karna aku saja dong. Niat itu lebih penting. Menghafal Al-qur'an itu akan terasa mudah kalau kita niatnya karna Allah," tegas Layla sambil mengarahkan telunjuknya ke dada Julia. Julia tersenyum.
"Bisa karna terbiasa. Bukankah pemilik masa depan adalah mereka yang mau mencoba dan terus berlatih? Kita memang tidak pernah melihat Nabi Muhammad saw, tapi ketika kita sering menyebutnya, rasa cinta itu pasti datang. Kalau kamu saja bisa bertahan sampai saat ini, kenapa aku tidak," jawab Julia. Jawaban Julia yang meyakinkan, membuat Layla terdiam sembari tersenyum menatapnya. Tak beberapa lama kemudian, ia mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol kepada Julia.
"Luar biasa. Kalau jawabannya seperti ini, aku tidak bisa berkomentar apa-apa lagi," kata Julia. Dia lalu mengajak Julia ke tempat duduk pak Maksum dan bu Eti.
"Bagaimana, Nak Layla. Kayaknya Nak Layla sudah kerasan di sini. Sudah hafal berapa juz," tanya bu Eti. Layla tersenyum menundukkan kepala.
"Alhamdulillah, sudah 25 juz, Bu," jawab Layla sambil tersipu malu. Pak Maksum dan bu Eti tersenyum. Mereka terdengar berdecak kagum. Belum sampai satu tahun, Layla sudah berhasil menghafal sampai 25 juz.
"Kira-kira si Julia bisa gak seperti kamu. Bapak kaget tiba-tiba ia minta pindah. Kesini lagi. Padahal menghafal satu kalimat saja dia paling males," kata pak Maksum sambil melirik ke arah Julia. Julia terlihat memasang muka cemberut. Layla tersenyum.
"Insya Allah, bisa, Pak. Yang penting Julia nya sabar dan gak cepat jenuh," kata Layla.
"Denger tu Julia kata Layla. Jangan sampai baru seminggu di sini sudah minta pindah lagi. Ingat kata Bapak, kalau kamu minta pindah lagi, sudah, biar kamu di rumah saja. Gak usah kuliah. Tunggu orang datang melamarmu,"kata pak Maksum. Kembali ia menoleh ke arah Julia. Bu Eti mencubit lengan tangan pak Maksum. Melihat itu, Layla tersenyum geli.
"Awalnya memang berat, tapi lama kelamaan insya Allah akan terasa mudah kok. Aku juga pernah hampir mau pindah karna merasa gak sanggup. Tapi setelah itu, aku sama sekali tak mau pulang. Kayaknya rugi kalau gak di pesantren satu hari saja," lanjut Layla. Pak Maksum dan bu Eti menganggukkan kepala.
"Doakan dong, Pak. Kok malah gak kasih semangat begitu," sahut Julia dengan muka masih cemberut. Ketiganya tersenyum melihat ekspresi wajah Julia. Pak Maksum bangkit dan duduk di dekatnya. Punggung Julia diusapnya lembut.
"Bapak bukannya gak kasih semangat kamu. Bapak cuma memperingatkan jangan sampai minta pindah lagi. Bapak berharap kamu bisa betah seperti Layla dan jadi kebanggaan buat bapak dan Ibu," kata pak Maksum. Tubuh Julia dirangkulnya.
"Dik Layla, adiknya akan satu kamar dengan kamu ya," kata Zahra dari tempatnya duduk setelah melihat hujan mulai reda. Layla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Maaf, Pak. Bapak harus tinggal dulu di sini. Saya mau ajak ibu dan Julia mengantar barang-barang ke dalam," kata Layla. Pak Maksum menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Keduanya kemudian mengikuti Layla dari belakang menuju asrama.