KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#90/ Vonis buat Rianti


__ADS_3

Matahari bersinar dengan cerahnya di ufuk timur. Sinarnya yang hangat, seperti membangkitkan suasana ceria alam setelah tadi malam dalam waktu yang cukup lama, hujan deras mengguyur. Para petani mulai terlihat turun ke sawah-sawah mereka. Ada yang mulai mencangkul dan memasukkan air yang berlimpah dari parit tepi jalan. Ada juga yang terlihat memperbaiki pematang-pematang sawah yang rusak selama musim kemarau. Ditambah lagi dengan riuh burung-burung kecil yang beterbangan kesana kemari mencari makan, menjadi tontonan yang luar biasa bagi Sulastri yang sedang duduk santai di teras rumah.


Mobil Lycan hypersport sudah keluar dari garasi dan terparkir di samping pos jaga. Sulastri melempar senyum ke arah Rahini dan Wahyu yang membawa termos dan beberapa gelas menuju tempat jaga. Rupanya pak Ahmad, pak Bayan dan pak Mustarah sudah duduk santai di bangku panjang depan pos jaga. Asap rokok mereka tampak mengepul terbawa angin.


Sulastri melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja. Sebuah pesan singkat dari pak Mekar Kusuma, petugas lapas.


..."Bu, kalau ibu datang berkunjung, minta tolong bawakan mukena, sajadah dan jilbab. Khusus untuk jilbab, Rianti mau warnanya seperti warna pavorit ibu. Tolong ya, Bu. Rianti....


Sulastri tersenyum sembari berkali-kali mengucap syukur atas perubahan yang terjadi pada Rianti. Nasib seseorang memang siapa yang tahu. Kita selalu dituntut untuk bersangka baik. Apa yang terlihat buruk saat ini, bisa jadi akan jadi yang terbaik kelak. Husnusdzone adalah cara terbaik untuk menyikapi hidup agar hati terbebas dari prasangka buruk pada seseorang. Rianti yang dulunya jahat, yang kejahatannya terpancar dari raut muka kerasnya, secara tiba-tiba telah menjelma menjadi seorang gadis yang lembut hatinya. Allah telah membukakan hatinya. Ia punya harapan besar, masa depan perusahaan akan semakin baik dengan kembalinya Rianti dengan perubahan besarnya.


Sulastri meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia lalu bangkit dan melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Sesampainya di kamarnya, ia segera membuka lemarinya. Satu buah sajadah dan mukena warna biru dikeluarkannya.


Sulastri mendesah. Sayang sekali, dia sama sekali tak menyimpan satupun jilbab di dalam lemarinya. Sulastri terdiam sejenak. Seperti memikirkan sesuatu. Ia tersenyum. Mungkin ia juga harus memakai jilbab mulai hari ini. Dia akan memakainya ketika menemani persidangan Rianti pada hari ini. Warna yang sama. Jika pun ada motif, motif pun harus sama dengan yang akan dikenakan Rianti.


Sulastri menutup kembali pintu lemarinya. Dia lalu memasukkan mukena dan sajadah ke dalam tas kecil, kemudian melangkah kembali ke teras rumah.


Sulastri melirik ke arah jam tangannya. Baru jam tujuh pagi. Persidangan Rianti akan dimulai pukul 9 pagi. Masih dua jam lagi. Pak Sahril juga belum menelponnya. Ia sudah tak sabar ingin cepat-cepat menjenguk Rianti.


"Rahima..., Rahima...," panggil Sulastri. Wahyu dan Rahini yang baru kembali dari pos jaga segera mendekat.


"Ada apa, Bu," kata Rahini.


"Tolong bilang sama Rahima. Suruh anak-anak siap. Bilang, sebentar lagi kita mau berangkat," kata Sulastri. Rahini dan Wahyu segera menuju ke samping rumah. Sulastri mengambil tasnya dan menggantungnya di pundaknya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah pos jaga. Pak Bayan, pak Ahmad dan pak Mustarah yang sedang menikmati kopi mereka, segera bangkit ketika melihat Sulastri berjalan ke arah mereka.


"Pak Mustarah, sebentar lagi kita berangkat, ya," kata Sulastri.


"Baik, Bu," kata pak Mustarah. Ia segera menghabiskan kopinya dan melangkah menuju mobil.


"Jaga rumah ya, Pak," kata Sulastri ke arah pak Ahmad dan pak Bayan. Keduanya tersenyum mengangguk.


Rahima bergegas bersama Farida dan Fahmi menuju mobil. Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Sulastri menyuruh pak Mustarah menjalankan mobilnya.


* * * * *


Sulastri mengeluarkan dua buah jilbab warna biru motif batik dari dalam tasnya sesaat setelah tiba di dalam ruang tunggu lapas. Sebelum berbelok ke arah jalan menuju lapas, ia berhenti di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli jilbab pesanan Rianti. Sambil menunggu kedatangan Rianti, ia mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Perlahan ia memasang jilbab itu sembari tak henti-henti tersenyum. Sulastri memandang wajahnya lekat di depan kaca. Dia melihat dirinya lebih anggun dan lebih perempuan. Mulai hari ini ia harus mencoba membiasakan diri memakai jilbab. Dan secara perlahan, ia akan mewajibkan seluruh karyawannya yang beragama islam untuk memakainya.

__ADS_1


"Assalamulaikum."


Sulastri menoleh. Ia tersenyum melihat Rianti tersenyum ke arahnya. Sulastri bangkit dan Rianti segera mendekat dan memeluknya.


"Ibu cantik sekali hari ini. Hampir saja aku gak mengenali ibu," kata Rianti. Sulastri tersenyum dan melepaskan pelukan Rianti.


"Nah, sekarang kamu yang duduk. Biar ibu dandani kamu agar lebih cantik," kata Sulastri.Ia kemudian mendudukkan Rianti di atas kursi. Ia mulai mengeluarkan make up dan alat rias lainnya dari dalam tasnya.


"Pak, bisa tinggalkan kami sebentar," kata Sulastri ke arah petugas. Petugas itu mengangguk dan keluar.


"Duh, cantiknya kalau pakai jilbab," kata Sulastri ketika sudah memasangkan jilbab di kepala Rianti. Rianti hanya tersenyum melihat perbedaan wajahnya di dalam kaca. Ia merasa lebih peminim dan sopan.


"Nah, sekarang kamu berdiri dan menghadap ibu," kata Sulastri. Rianti bangkit dan membalikkan tubuhnya menghadap Sulastri. Sejenak mereka saling pandang. Senyum terkulum dari bibir keduanya.


"Kamu cantik sekali hari ini, Rianti. Semoga pak hakimnya terkesima dan meringankan hukumanmu," gurau Sulastri. Ia lalu mengecup kening Rianti.


"Sekarang kamu duduk lagi ya. Tunggu ibu sebentar. Ibu mau panggilkan adik-adikmu," kata Sulastri. Ia segera keluar. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali dengan membawa Fahmi dan Farida ke dalam ruangan. Awalnya Fahmi dan Farida hanya diam saja ketika melihat Rianti tersenyum ke arahnya. Mereka berdua masih mencoba mengingat-ingat. Keduanya memperhatikan wajah Sulastri. Mereka merasa tak asing.


Fahmi menarik tangan Farida mundur. Ia membisiki sesuatu di telinga Farida. Sontak Farida memegang tangan Sulastri dan bersembunyi di balik tubuhnya. Demikian juga dengan Fahmi, ia begitu ketakutan ketika sudah mulai mengenali wajah Rianti.


Rianti menundukkan kepalanya sembari mundur ke belakang. Melihat Fahmi dan Farida begitu ketakutan, ia menangis.


"Nak, dia kakakmu, Nak. Dia bukan orang jahat. Dia sudah jadi orang baik. Dia anak ibu juga," kata Sulastri mencoba menenangkan keduanya. Tapi keduanya masih terlihat ketakutan. Bahkan untuk menatap wajah Rianti, mereka takut.


"Rahima, kesini," kata Sulastri memanggil Rahima yang sedang berdiri di luar jendela ruangan. Rahima segera bergegas masuk. Ia lalu meraih tubuh Fahmi dan memeluknya.


"Ayo kita pergi, Bu. Farida takut,"


Sulastri mendesah.


"Farida, Fahmi, lihat ibu. Kalian harus percaya sama ibu. Itu kakakmu, bukan orang jahat. Nih, lihat," kata Sulastri. Ia melepaskan perlahan pegangan tangan Farida. Farida semakin mencengkram tangannya. Tak ingin Sulastri meninggalkannya. Sulastri tersenyum. Ia kemudian terlihat membisiki sesuatu di telinga Farida. Farida terdiam. Ia menatap wajah Rianti sebentar kemudian beralih menatap Sulastri. Sulastri mengangguk. Fahmi yang penasaran memegang tangan Farida. Dengan menundukkan kepala, Farida mendekatkan mulutnya ke telinga Fahmi.


"Lihat saja. Ibu akan memukul orang itu," kata Farida. Sulastri dan Rahima tersenyum. Rianti masih menundukkan kepalanya. Ia takut semakin membuat takut keduanya jika ia mengangkat wajahnya.


Sulastri bangkit dan perlahan mendekat ke arah Rianti. Fahmi dan Farida nampak was-was.

__ADS_1


"Bu, hati-hati," kata Fahmi dengan suara bergetar.


"Ayo, sekarang, kalian berdua lihat," kata Sulastri ketika sudah sampai di dekat Rianti. Ia lalu memegang kedua pundak Rianti. Setelah memandang Rianti sejenak, ia mengangkat tangan kanannya seperti hendak menampar wajah Rianti. Fahmi dan Farida memejamkan mata. Tak berani melihat kejadian di depannya.


Fahmi dan Farida membuka mata mereka perlahan. Selama memejamkan mata, tak terdengar sama sekali suara tamparan ataupun mengaduh dalam ruangan itu. Keduanya malah terlihat kaget melihat Sulastri berpelukan dengan Rianti.


Fahmi dan Farida menatap Rahima. Rahima tersenyum. Begitu juga saat keduanya bergantian menatap Sulastri dan Rianti. Keduanya tersenyum dengan tubuh saling mendekap satu sama lain. Fahmi mengernyitkan keningnya. Ia heran kenapa ibunya memeluk perempuan itu.


"Ayo, kemarilah kalian. Kalau kalian berdua sayang sama ibu, mari kesini. Bersalaman dengan kakak kalian," kata Sulastri. Rahima mendorong tubuh keduanya pelan. Mereka berdua agak ragu. Sulastri terus memberi isyarat dengan tangannya agar keduanya mendekat.


"Kalau kalian gak mau kesini, berarti kalian gak sayang ibu. Itu artinya, ibu aka pergi lagi meninggalkan kalian," kata Sulastri. Mendengar itu, keduanya segera berlari dan memeluk tubuh Sulastri.


Rianti duduk dan bersimpuh di atas lantai. Sorot matanya dan anggukan kecil kepalanya di arahkan bergantian ke arah Fahmi dan Farida. Air matanya kembali mengalir melihat wajah keduanya yang masih ketakutan. Malam itu ia begitu kejam memperlakukan keduanya. Tanpa belas kasihan menodongkan pisau di leher mungil Farida.


"Maafkan kakak, Dik. Kakak telah jahat sama kalian. Tolong maafkan kakak," hiba Rianti sembari mengulurkan kedua tangannya. Farida dan Fahmi masih mendekap tubuh Sulastri. Sulastri mengusap rambut keduanya. Ia laau duduk.


"Nak, ibu selalu bilang sama kalian berdua. Jika ada orang yang meminta maaf, maka kita harus memberikan maaf. Tidak hanya maaf, kita juga harus lebih sayang sekalipun ia pernah berbuat jahat kepada kita. Dia ini adalah anak bapak. Sekarang, dia adalah saudara kalian. Bapak akan marah jika kalian tidak memaafkan kakak kalian." Sulastri melpaskan pegangan tangan keduanya. Rianti masih menyodorkan kedua tangannya, berharap Farida dan Fahmi mau mendekat.


Fahmi memegang tangan Farida dan mengajaknya mendekat. Ketika keduanya sudah begitu dekat di depannya, Rianti segera memeluk keduanya. Tangisnya kembali pecah.


"Maafkan kakak, Dik. Maafkan Kakak. Kakak janji akan menyayangi kalian."


Fahmi dan Farida terlihat ikut menangis. Begitu juga Sulastri dan Rahima. Suasanan haru menelingkupi ruangan itu. Sulastri lebih mendekat. Tubuh ketiganya di satukannya dalam pelukannya.


"Adik mau gak memaafkan kakak. Kalau kalian gak memaafkan kakak, kakak lebih baik bunuh diri," kata Rianti. Mendengar itu, sontak Fahmi berteriak.


"Jangan Kak, jangan bunuh diri. Saya memaafkan kakak."


Rianti kembali memeluk tubuh Fahmi dan Farida. Hatinya terasa lega. Satu persatu tuntas sudah apa-apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Tinggal menerima keputusan hakim atas perbuatan jahat yang dilakukannya kepada ayahnya.


Rianti melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya. Setelah itu bergantian ia usap air mata Sulastri, Fahmi dan Farida.


"Terimakasih dik. Terimakasih. Terimakasih juga, Bu." kata Rianti. Sulastri tersenyum menganggukkan kepala. Ia merapikan jilbab Rianti yang berantakan.


"Bu, kita harus segera ke pengadilan. Sebentar lagi waktu sidang akan dimulai," kata petugas lapas. Sulastri menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengajak ketiganya keluar.

__ADS_1


__ADS_2