
Mentari bersinar cerah di ufuk timur. Cahaya yang putih dengan posisi setinggi satu galah, menghangat para pejalan kaki, anak-anak sekolah dan para pekerja memulai aktifitas mereka.
Jam 10 lebih, usai sarapan, mobil yang ditumpangi Sulastri dan hanya ditemani pak Mustarah sebagai sopirnya, terlihat baru saja keluar dari gerbang rumah. Pak Mustarah sempat menghentikan mobilnya ketika Sulastri melambaikan tangannya ke arah Fahmi yang sedang berdiri memperhatikan bangunan pondok di depannya. Setelah Fahmi membalas lambaiannya, Sulastri menyuruh pak Mustarah melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan Sulastri hanya terdiam. Tak seperti biasanya ketika sebelum-sebelumnya, sepanjang perjalanan dia akan mengajak pak Mustarah ngobrol mengenai apa saja. Sulastri tahu pak Mustarah sering begadang menemani pak Bayan di pos jaga. Ia mengajak pak Mustarah mengobrol agar pak Mustarah tidak mengantuk dan terjadi hal yang tidak diinginkan. Pak Mustarah sedikit melirik. Karna tak seperti biasanya, ia jadi merasa tak nyaman. Tapi belum berani menanyakannya pada Sulastri. Melihat tatapannya yang sedang memikirkan hal yang penting, pak Mustarah ragu untuk mengajak Sulastri bicara.
Sulastri mendesah panjang. Tugas yang diminta Rianti setelah menjemput Jamila adalah memberitahukan kepada Jamila bahwa dia akan dinikahi oleh Tuan Guru Izzul Islam. Rianti benar-benar menginginkannya terlibat sepenuhnya dalam urusan itu. Ia tahu, Rianti menginginkannya memperlakukan Jamila seperti ia memperlakukan Rianti.
Suara musik kitaro yang mengalun lembut dari tape mobil dibesarkan volumenya sedikit oleh pak Mustarah. Sulastri tetap terdiam, walaupun kini ia sedikit menyandarkan kepalanya seperti sedang menikmati alunan musik.
* ** * *
Petugas sipir memukulkan tongkat pendek warna hitam tiga kali ke jeruji sel. Rianti yang baru saja selesai memasukkan pakaian milik Jamila ke dalam tas besar, menganggukkan kepala ke arah penjara lalu mengajak Jamila berdiri. Rianti meraih tali tas dan meletakkannya di tangan Jamila.
"Apa kamu mau aku yang membawakan tasmu keluar? Lihatlah, untuk membawa diriku sendiri saja aku tak bisa," canda Rianti. Jamila tersenyum. Dia menatap Rianti lekat. Binar-binar tangis mulai terlihat di matanya. Rianti menggeleng. Dia memberi isyarat dengan jari yang digoyangkannya ke kiri dan ke kanan agar Jamila tak menangis lagi.
"Sudah, jika kamu menangis terus, cerita ini tak akan pernah berakhir. Ayo, kita tunggu ibu di ruang tunggu," kata Rianti sambil mendorong pelan tubuh Jamila.
Ketika Rianti dan Jamila yang dikawal petugas keluar dari pintu utama lapas menuju ruang pertemuan, dari arah gerbang, mobil yang ditumpangi Sulastri memasuki tempat parkir. Rianti tersenyum. Dia urung memasuki ruang tunggu dan memilih menunggu Sulastri di depan pintu.
"Ayo, sambut ibu sana. Aku tunggu disini saja. Aku gak kuat jika berjalan jauh," kata Rianti. Jamila memandangnya ragu. Sepertinya ia malu untuk melakukan perintah Rianti. Rianti sendiri memang sengaja mengubah gaya bicaranya yang menjurus kepada perintah tegas, dengan harapan Jamila bisa cepat akrab dengan Sulastri. Jamila yang masih terlihat sungkan di dorongnya. Sulastri yang baru saja keluar dari dalam mobil menoleh ke arah Jamila. Mau tidak mau Jamila harus mendekat. Rianti tersenyum ketika Jamila mencium tangan Sulastri. Setelah itu, Sulastri merangkul tangan Jamila dan mengajaknya menemui Rianti.
Rianti membentangkan kedua tangannya dan langsung disambut pelukan hangat Sulastri. Bergantian pipi kiri dan kanan Rianti menyusul keningnya, dikecupnya. Jamila yang melihat dari belakang terlihat takjub atas kasih sayang yang dimiliki kedua wanita di depannya itu. Dia seperti sedang diberikan pelajaran, bahwa semua orang bisa jadi keluarga jika bisa saling menghargai dengan berpedomankan agama.
__ADS_1
Setelah puas memeluk dan mencium Rianti, tangan Sulastri berpindah ke perut Rianti. Senyumnya semakin mengembang ketika ia merasakan ada getaran dari dalam perut Rianti.
"Ayo, cepatlah keluar , Nak. Selain kebebasan ibumu, kamu orang kedua yang paling nenek tunggu hadir di tengah-tengah keluarga kita," kata Sulastri. Rianti dan Jamila tersenyum.
"Masih 4 bulan lagi, Bu. Sabar, " kata Rianti.
"Nanti kalau anakmu sudah lahir, minta ijin sama suamimu agar selama sebulan biar ibu yang merawatmu dan bayimu di rumah. Kamu harus belajar dulu bagaimana merawat bayi," kata Sulastri.
"Beres. Nanti kalau kak Tuan datang, Rianti langsung minta ijin,"
Jangan sekarang dong. Nanti kalau anakmu sudah lahir,"
"Iya, Bu, becanda."
"Nak, ibu mungkin tidak lama di sini. Sebentar lagi waktu shalat jumat akan tiba. Pak Mustarah harus cepat-cepat pulang. Dia juga ditunggu adik kamu dan pak Bayan untuk sama-sama shalat jumat di masjid agung," kata Sulastri. Rianti menganggukkan kepalanya. Tatapannya kini dipalingkan ke arah Jamila. Raut kesedihan mulai terlihat di wajah Jamila. Dan pada akhirnya juga ia akan berpisah dengan Rianti.
Jamila tak bisa menahan air matanya. Dengan menundukkan wajahnya, ia memejamkan matanya. Isak tangisnya terdengar. Sulastri yang membelakanginya menoleh. Salah satu tangan Jamila dipegangnya dan didekatkan di tubuhnya. Dia lalu mengusap-usap punggung Jamila.
Rianti mendekat perlahan sambil memegang pinggangnya dengan salah satu tangannya. Satu tangannya yang lain mengangkat wajah Jamila pelan dan mengusap air matanya. Jamila masih sesenggukan.
"Jamila, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dari keduanya, tak ada yang perlu kita sesali, karna itu adalah ketentuan dari Allah. Jika Allah masih memanjangkan usia kita, serta menakdirkan kita untuk bertemu lagi, kita pasti akan bertemu. Itulah yang tak pernah membuatku risau atas segala yang menimpa diriku. Sebagai seorang hamba, kita mau apa jika Sang Pencipta menginginkan itu. Kita terima itu sebagai ketentuan-Nya. Kita hanya perlu menjalankan apa yang ia firmankan ketika kita ditimpa musibah , yakni shalat dan bersabar," kata Rianti bijak. Pipi Jamila diusapnya lembut.
"Kalau kamu sudah kenal ibu, maka kamu akan menemukan aku dalam dirinya," sambung Rianti sambil melirik ke arah Sulastri. Sulastri tersenyum.
__ADS_1
"Ayo, Bu. Segera ajak Jamila pulang. Sesampainya di rumah nanti, langsung suruh dia melakukan apa saja. Tenaganya setara tenaga laki-laki," sambung Rianti lagi. Kali ini Sulastri dan Jamila pun ikut tersenyum.
Rianti segera menyalami dan mencium tangan Sulastri sembari berbisik.
"Make up dan alat rias milik Rianti yang ibu disimpan, tolong dikasih Jamila ya, Bu." Sulastri tersenyum. Sebenarnya dia masih berat, namun pemilik keputusan benar-benar tak punya beban. Jamila menundukkan kepalanya ketika melihat ada sesuatu yang sedang dibicarakan keduanya. Ia yakin bisik Rianti adalah tentang dirinya. Dan ia sangat yakin itu pasti tentang sisi baiknya.
"Gak usah penasaran dengan apa yang kami bisikkan ya Jamila. Yang jelas itu sesuatu yang baik," kata Rianti ketika melihat Jamila menundukkan kepalanya. Ia tidak mau Jamila merasa tersinggung. Jamila mengangkat wajahnya dan kembali menatap Rianti. Tubuh Rianti kembali dipeluknya. Tak mau Jamila menangis lagi, Rianti melepaskan pelukan Jamila. Tangan Jamila dan Sulastri kemudian dipegangnya dan mengantarnya ke tempat parkir mobil. Sulastri hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Hati-hati nyopirnya ya Pak," kata Rianti kepada pak Mustarah yang sudah menyalakan mesin mobilnya. Sulastri dan Jamila yang sudah berada di dalam mobil melambaikan tangan.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan area lapas. Tatap mata kesedihan dari Jamila tak berpaling dari memandang Rianti yang berdiri dengan senyum indahnya ke arahnya. Bahkan ketika tubuh Rianti tak terlihat lagi karna sudah terhalang tembok pagar lapas, Rianti masih enggan memalingkan pandangannya. Ia menangis dalam diamnya.
Sulastri memegang tangan Jamila.
"Gak usah di tangisi lagi. Walaupun Rianti sendiri di penjara, insya Allah dia akan baik-baik saja. Pihak lapas pasti memikirkan keadaan Rianti yang sedang hamil," kata Sulastri.
"Tapi siapa yang akan membuatkannya susu dan mengambilkannya makanan, Bu. Kalau malam, Rianti selalu minta dipijit. Saya kasihan membayangkannya sendirian,"
"Yah, itu resiko ada di dalam penjara. Kita doakan saja Rianti bisa menjaga diri dan bayinya," kata Sulastri.
Setelah melalui beberapa jam perjalanan, mobil yang ditumpangi mereka akhirnya sampai di rumah. Tepat saat suara tarhim menjelang shalat jumat terdengar. Fahmi dan pak Bayan terlihat sedang duduk dengan pakaian jumatnya di pos jaga. Pak Mustarah segera membalikkan mobilnya setelah Sulastri dan Jamila turun dari mobil. Tak mau berlama-lama, pak Mustarah mengajak Fahmi dan pak bayan masuk mobil. Setelah pintu gerbang di tutup, mobil itu kembali melaju meninggalkan rumah.
Jalanan terlihat sepi. Suara Adzan penanda dimulainya shalat jumat mulai berkumandang bersahut-sahutan.
__ADS_1