
Matahari kembali bersinar menyinari alam yang semalaman berselimut dingin. Aroma tanah musim penghujan tercium jelas. Para petani mulai terlihat keluar beriringan menyambangi sawah-sawah mereka setelah usai tanam tembakau, mereka rehat menunggu datangnya musim hujan. Cuaca hari ini terlihat cerah. Angin yang bertiup semilir, memberi semangat baru pagi ini. Termasuk Rianti yang terlihat sudah bersiap-siap berangkat kerja. Sambil menunggu pak Mustarah memanaskan mesin mobilnya, ia duduk santai di teras rumah sambil menyeruput minuman hangatnya.
"Sudah sarapan, Nak," kata Sulastri mengagetkan Rianti dari belakang. Rianti yang tak menyadari kedatangan Sulastri yang tiba-tiba, mengusap-usap dadanya.
"Ibu ngagetin saja. Mendehem dulu kek." Rianti mendesah pendek sambil memasang wajah cemberut. Sulastri tersenyum dan mencubit pipinya.
"Rianti makannya di rumah makan Doyan Medaran saja, Bu. Rianti pingin refreshing dulu di sana," kata Rianti. Sulastri duduk di dekatnya. Gelas yang masih di tangannya diambil Sulastri. Sulastri menyeruputnya pelan.
"Jangan sering-sering minum susu kambing dong. Itu satu-satunya kenangan dari Tuan Guru Izzul Islam." kata Sulastri sembari tersenyum.
"Rianti kan masih simpan sorbannya Tuan Guru," jawab Rianti. Keduanya tersenyum seperti tanpa beban.
"Sudah siap, Non" kata pak Mustarah dari arah samping. Rianti menyeruput kembali minumannya. Setelah bersalaman dengan Sulastri, ia segera melangkah menuju mobil. Tak beberapa lama kemudian, mobil yang ditumpanginya perlahan meninggalkan rumah.
Rianti menoleh ketika melihat mobil fanther warna silver berpapasan dengan mobilnya ketika mobilnya menaiki tanjakan menuju jalan utama. Kaca mobil Fanther yang transparan membuatnya bisa melihat dengan jelas sosok laki-laki berpeci hitam di dalamnya. Rianti mendesah. Keningnya mengerut. Itu Tuan Guru Izzul Islam. Mau apa dia datang sepagi ini? Apakah ada kaitannya dengan pembatalan pernikahan itu? Haruskah ia kembali? batin Rianti.
Mobil melaju kencang menembus keramaian. Rianti menoleh ke arah pak Mustarah. Ia bimbang. Memutuskan kembali atau melanjutkan perjalanan. Rianti mengalihkan pandangannya ke arah depan. Dia belum melihat ada belokan di depan sana. Ia mengangguk kecil. Itu mungkin isyarat agar ia melanjutkan perjalanannya. Masih ada Sulastri di rumah. Sepulangnya dari kantor, ia akan mengetahui apa gerangan maksud kedatangan Tuan Guru Izzul Islam.
* * * * *
Sulastri baru saja hendak meninggalkan tempat duduknya di teras rumah, ketika mobil fanther warna silver membunyikan klaksonnya saat memasuki gerbang rumah. Sulastri segera bangkit dan melangkah maju ke ujung teras. Dia sudah tidak asing dengan mobil fanther itu. Dari kaca mobil bagian depan, ia juga bisa melihat dengan jelas sosok Tuan Guru Izzul Islam. Seperti halnya Rianti, berbagai pertanyaan muncul dalam benak Sulastri tentang maksud kedatangan Tuan Guru Izzul Islam.
Sulastri tersenyum ketika Tuan Guru Izzul Islam keluar dari mobilnya. Aroma minyak wangi khas Tuan Guru Izzul Islam semerbak terbawa hembusan angin. Pak Bayan segera mengiringi langkah Tuan Guru Izzul Islam menuju teras rumah tempat Sulastri berdiri menyambut.
"Assalamalaikum," ucap Tuan Guru Izzul Islam ketika sudah berada di depan Sulastri.
"Wa alaikum salam," jawab Sulastri. "Mari silahkan masuk, Tuan Guru," sambung Sulastri mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam masuk. Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke sekelilingnya.
"Kita ngobrolnya di luar saja, Bu. Maaf sebelumnya, ada hal penting yang ingin saya bicarakan empat mata dengan ibu. Tapi kalau di dalam, takut terjadi fitnah," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri menganggukkan kepalanya. Ia memberi isyarat kepada pak Bayan agar meninggalkan mereka.
"Pak Bayan, tolong minta Munawarah buatkan minuman untuk Tuan Guru,"
"Baik, Bu."
Suasana sejenak hening. Baik Tuan Guru Izzul Islam maupun Sulastri sama-sama terdiam. Sulastri masih menunggu Tuan Guru Izzul Islam memulai pembicaraan terlebih dahulu. Tuan Guru Izzul Islam sendiri masih mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraannya.
Munawarah terlihat mendekat membawa segelas kopi ke arah mereka. Sulastri mendesah seperti hendak membuang ketegangannya.
"Silahkan diminum kopinya, Tuan Guru,"kata Sulastri setelah Munawarah meletakkannya di atas meja. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia menyeruput pelan kopi di tangannya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pendek.
"Sebelumnya saya minta maaf sekaligus mewakili ibu saya." Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak. Ia mengusap wajahnya dengan sorban di pundaknya. Tatapan di arahkannya ke lantai teras. Sulastri menundukkan wajahnya menunggu kata-kata selanjutnya dari Tuan Guru Izzul Islam.
"Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas keputusan sepihak yang dilakukan ibu saya tadi malam. Terus terang, saya sama sekali tidak tahu hal itu. Tiba-tiba saja ibu saya memberitahukan kepada saya bahwa dia telah membatalkan perjodohan itu." Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya.
"Saya tahu apa yang dilakukan ibu saya adalah sebuah ketergesaan. Dan ini bertentangan dengan kehendak saya," kata Tuan Guru Izzul Islam. ia mengusap kedua matanya. Wajahnya memerah. Ia merasa malu untuk menatap langsung ke arah Sulastri.
__ADS_1
Sulastri tersenyum. Ia mendesah panjang sembari mengarahkan pandangannya jauh ke depan.
"Tidak apa-apa, Tuan Guru. Apa yang diputuskan bu Nyai menurut saya sudah tepat. Semua ibu pasti akan melakukan hal yang sama ketika tahu calon istri anaknya punya video mesum seperti itu." Sulastri menghentikan kata-katanya. Ia menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang masih menundukkan wajahnya.
"Rianti juga sudah menerima dengan ikhlas keputusan bu Nyai. Tak ada yang harus di salahkan dalam hal ini. Video itu adalah masa lalu Rianti. Ia juga tidak punya daya untuk mencegahnya jatuh ke tangan orang yang tak bertanggung jawab,"sambung Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Suasana kembali hening. Hingga kebisuan mereka terbuyarkan oleh suara dering ponsel di atas meja.
Sulastri meraih ponsel itu. Nama pak Jamal tertera di layar ponsel.
"Ini adalah orang yang menyebarkan ponsel itu, Tuan Guru. Namanya pak Jamal. Ia adalah adik kandung dari pak Yulian, sekaligus paman dari Rianti," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia terlihat heran.
"Mohon ijin, Tuan Guru. Saya mau menjawab panggilannya," kata Sulastri.
"Owh, silahkan, Bu,"kata Tuan Guru Izzul Islam mempersilahkan.
Sulastri memperbesar volume ponselnya. Ia sengaja melakukannya agar Tuan Guru Izzul Islam bisa mendengarnya.
"Halo, Pak Jamal. Ada yang bisa saya bantu," kata Sulastri. Nadanya begitu tenang disertai senyuman kecilnya.
"Saya mau buat kesepakatan baru, Sulastri. Saya akan menghapus video itu dan janji tidak akan menyebarkannya," kata pak Jamal dari arah seberang. Sulastri tersenyum ketus.
"Kesepakatan apa lagi, Pak Jamal. Bukankah kesepakatannya sudah pak Jamal tolak?" jawab Sulastri.
"Tambahkan lima ratus milyar lagi hingga jumlahnya jadi satu trilyun. Masalah antara kita langsung selesai,"
Sulastri kembali tersenyum.
Sulastri mendesah dan tersenyum ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam yang tampak penasaran,menyeruput kembali kopinya.
"Saya kok bingung, Bu. Kenapa bisa pamannya Rianti melakukan perbuatan tak masuk akal seperti itu," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri tersenyum.
"Semuanya bermula dari dendam masa lalu pak Jamal, Tuan Guru. Dia dulu ikut bekerja memimpin perusahaan bersama almarhum pak Yulian.Tapi ia melakukan korupsi besar hingga hampir-hampir membuat perusahaan bangkrut. Dia akhirnya dipecat. Kini dia kembali lagi menuntut semua perusahaan menjadi miliknya dengan segala cara. Termasuk video Rianti. Dia malah sudah memutus hubungan persaudaraannya dengan pak Yulian,"
"Masya Allah. Naudzubillahi min zalik," desah Tuan Guru Izzul Islam sambil mengusap dadanya.
"Benar sekali kata pepatah sasak, Bu. Kebon jari Lendang. Lendang jari kebon. Saudara jadi orang lain, dan sebaliknya orang lain bisa jadi saudara. Di zaman yang serba modern ini, semua bisa terjadi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri menganggukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.
"Terkait dengan perjodohan saya dengan Rianti, saya sendiri masih berpegang teguh pada janji saya. Saya tetap akan menikahi Rianti sambil mencari cara melunakkan hati ibu saya. Titip salam hormat saya kepada Rianti, sekaligus permintaan maaf saya. Saya harap Bu Sulastri mau memberi saya waktu. Semoga saya diberikan pertolongan oleh Allah untuk bisa merubah keadaan ini,"kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku baju kokonya dan memberikannya kepada Sulastri.
"Mohon berikan ini kepada Rianti," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia memperbaiki posisi kopiahnya.
"Kalau begitu, saya mohon pamit dulu. Saya tadi pergi tanpa memberitahu ibu. Takut dia mencari saya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri tersenyum dan berdiri ketika Tuan Guru Izzul Islam berdiri.
"Terimakasih atas kunjungannya, Tuan Guru. Hati-hati di jalan," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam membungkukkan kepalanya, lalu melangkah menuju mobilnya.
* * * * *
__ADS_1
"Lik, Abdul Khalik!" panggil Nyai Mustiani ketika mengetahui Tuan Guru Izzul Islam tidak berada di kamarnya. Mobil Tuan Guru Izzul Islam juga tak dilihatnya di tempat parkir. Abdul Khalik yang baru terbangun dari tidurnya segera melonjak bangun. Ketika membuka pintu kamarnya, dia sudah menemukan Nyai Mustiani berada di luar pintu.
"Ya, Bu Nyai,"
"Kamu tahu kemana Tuan Guru pergi?"
Abdul khalik mengusap-usap matanya. Dia menengok ke arah tempat parkir.
"Maaf, Bu Nyai. Tadi saya ketiduran. Jadi saya tidak melihat kemana Tuan Guru pergi," kata Abdul khalik. Nyai Mustiani mendesah. Ia lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam kamarnya, Nyai Mustiani hanya mondar-mandir kesana kemari. Walaupun ia yakin Tuan Guru Izzul Islam tidak akan berani melawan perintahnya, tapi ia tetap merasa cemas. Apalagi Tuan Guru Izzul Islam sangat kuat memegang mimpinya, bahkan ketika telah lewat bertahun-tahun lamanya. Tapi sekali lagi, video milik Rianti tetap merupakan aib besar. Dia tak bisa membayangkan, nama besar Tuan Guru Izzul Islam dan pesantren yang dipimpinnya akan ikut tercemar karna aib itu. Dia merasa harus segera mengatur rencana. Bahkan dalam waktu dekat, ia harus menyusun rencana segera menikahkan Tuan Guru Izzul Islam dengan wanita lain.
Nyai Mustiani mendesah panjang. Mengingat santriwati yang sering menemaninya menjelang tidurnya masih di bawah umur, tentu akan menjadi perdebatan panjang di antara para wali santri, LSM juga pastinya.
Nyai Mustiani menghempaskan tubuhnya di sisi tempat tidurnya. Ia menoleh kesana kemari ke setiap sudut kamarnya, mencoba mengingat beberapa wanita yang sekiranya pantas dijodohkannya dengan Tuan Guru Izzul Islam.
Nyai Mustiani tersenyum. Ia sepertinya sudah menemukan ide. Ia menganggukkan kepalanya mantap. Dia ingat salah satu keponakannya. Putri adik kandungnya, Pak Nurasmin. Dia memang masih di bawah umur. Masih kelas dua aliyah. Tapi ia yakin masalahnya tak seribet menikahkannya dengan anak orang lain.
Nyai Mustiani segera mengambil ponselnya. Setelah menemukan nomor hp pak Nurasmin, ia segera menghubunginya.
"Dimana kamu, Dik," kata Nyai Mustiani ketika terdengar jawaban dari seberang.
"Kamu ke rumah sekarang juga. Bawa mobilmu, kita bicaranya di luar saja. Cepetan, saya tunggu," kata Nyai Mustiani. Tak mau mendengar pertanyaan lanjutan dari pak Nurasmin, dia langsung mematikan ponselnya.
* * * * *
Apa? Apa saya tidak salah dengar, Kak? Layla itu kan masih sekolah. Masih kelas dua aliyah lagi. Apa kata orang nanti, Kak," kata pak Nurasmin kaget ketika Nyai Mustiani memberitahukan rencananya hendak menikahkan Tuan Guru Izzul Islam dengan putrinya.
Nyai Mustiani menatapnya lekat. Apa kamu mau melihat keponakanmu menikah dengan penzina seperti ini," kata Nyai Mustiani sembari memperlihatkan kembali video Rianti di ponselnya.
Pak Nurasmin terdiam. Ia tak mau melihat lagi ke arah video itu. Dia seperti masih berpikir keras mencarikan solusi lain untuk Nyai Mustiani.
"Masak gak ada gadis yang lain, yang umurnya lebih sepadan dengan nak Izzul, Kak,"
"Gak ada. Yang sekufu itu menurut saya ya Nayla. Lagi pula mau kamu sekolahkan sampai setinggi apa sih si Nayla. Kewajiban perempuan itu kalau sudah bersuami ya berbakti kepada suaminya. Jika seorang istri sibuk berkarir dengan pendidikannya, yakinlah, rumah tangganya tidak akan bertahan lama. Nayla memang masih terlalu muda, tapi pemikirannya sudah sangat dewasa. Dia sudah pantas menjadi pendamping Izzul," jelas Nyai Mustiani panjang lebar. Pak Nurasmin kembali mendesah. Dia diam saja. Dia tak berani lagi membantah perkataan Nyai Mustiani. Kata-kata Nyai Mustiani ada benarnya juga.
Pak Nurasmin menganggukkan kepalanya.
"Insya Allah, Kak. Saya akan membicarakannya dulu dengan Nayla. Mudah-mudahan dia juga mau menerimanya sesuai keinginan kita,"
"Harus mau. Banyak cara agar dia mau. Kamu carikan guna-guna agar dia gak menolak," kata Nyai Mustiani memotong tegas. Pak Nurasmin tersenyum.
"Ayo, antar aku pulang. Sudah siang. Nanti si Izzul juga mencariku," kata Nyai Mustiani sambil bangkit dari tempat duduknya. Pak Nurasmin mengernyitkan dahinya.
"Loh, gak pesan makanan dulu, Kak," kata pak Nurasmin sembari memegang perutnya yang mulai terasa lapar. Sejak duduk di rumah makan itu, Nyai Mustiani hanya memesan minuman dan beberapa roti basah.
__ADS_1
"Makannya di rumah saja. Ayo, kamu makan di sana nanti," kata Nyai Mustiani. Pak Nurasmin bangkit dan pasrah mengikuti langkah Nyai Mustiani dari belakang.