
Pagi ini langit kembali mendung. Gerimis sudah mulai turun disertai udara pagi yang dingin. Jalanan masih terlihat sepi. Hanya satu buah mobil yang terlihat melintas. Para pengendara sepeda motor mungkin akan berpikir panjang untuk keluar, melihat langit yang gelap. Pertokoan di tepi jalan juga masih belum ada yang terlihat buka.
Suara langkah sepatu terdengar menghentak dalam lorong penjara. Rianti yang sedang membaca lembar pertama buku iqra' dengan dibimbing teman satu selnya, menghentikan bacaannya ketika petugas lapas berhenti di depan ruangannya.
"Saudari Rianti, ada seseorang yang datang menjenguk," kata petugas itu sambil membuka kunci sel. Rianti mengernyitkan keningnya.
"Jam berapa, Pak," tanya Rianti kepada petugas. Petugas itu melihat ke arah jam di tangannya.
"Jam 6," jawab petugas itu singkat. Rianti mendesah. Tumben sepagi ini ibu datang menjenguk. Ada hal pentingkah? Batin Ranti. Dia segera menutup buku iqra' di depannya.
"Jamila, kita lanjutkan nanti, ya. Aku mau menemui tamu dulu," kata Rianti kepada teman perempuannya yang ia panggil Jamila itu. Jamila menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kamu pergi dulu sana," kata Jamila sambil melangkah menuju tempat tidurnya.
Setelah merapikan jilbab dan pakaiannya, Rianti bergegas mengikuti petugas menuju ruang tunggu.
Petugas membukakan Rianti pintu dan meninggalkannya. Bersamaan dengan itu, terdengar gemeretak hujan dari atap rumah. Hujan mulai turun dengan derasnya.
Rianti terdiam di depan pintu ketika melihat seorang laki-laki dengan separuh rambut beruban terlihat duduk membelakangi pintu. Dia memandang lekat ke punggung laki-laki itu dan mencoba mengingat-ingat apakah mengenal laki-laki itu. Rianti perlahan mendekat. Langkahnya pelan dan hampir tak terdengar.
Rianti mendehem. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum. Rianti masih belum bisa mengenali laki-laki itu walaupun ia merasa pernah melihatnya. Melihat Rianti terlihat kebingungan, laki-laki itu mempersilahkan Rianti duduk.
"Duduk dulu, Nak. Nanti saya jelaskan siapa saya," kata laki-laki itu. Rianti perlahan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kayu. Pandangannya lekat penuh telisik ke arah wajah laki-laki dengan kedua alis yang telah memutih itu. Melihat tubuhnya yang masih kekar, ia yakin uban di rambut dan kedua alisnya bukan karena ia sudah tua.
"Kamu pasti bingung dan bertanya-tanya siapa saya,"kata laki-laki itu sambil tersenyum.
"Waktu kamu masih umur 5 bulan, aku sudah pergi merantau ke singapura. Jadi wajar kamu tidak mengenalku."
Laki-laki itu menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Perkenalkan, Aku pak Jamal Wibowo. Aku ini adalah adik kandung ayahmu, Yulian Wibowo," kata laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Jamal Wibowo itu. Rianti masih lekat memandang laki-laki yang tak henti-henti mengumbar senyum itu. Rianti mengangguk-angguk kecil. Dia belum sepenuhnya percaya pengakuan laki-laki itu. Walaupun ia menemukan kemiripan dengan photo almarhum papanya waktu masih muda dengan seorang laki-laki yang sedikit ada kemiripan dengan laki-laki di depannya. Melihat Rianti tak menyambut tangannya, pak Jamal menarik kembali tangannya. Pak Jamal mendesah.
"Baiklah, aku punya sesuatu untuk lebih meyakinkanmu," kata pak Jamal. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Ia nampak mengusap layar ponselnya. Tak beberapa lama kemudian, ia memperlihatkan sebuah photo ke arah Rianti.
Rianti memperhatikan photo di layar ponsel. Ia mengambil ponsel itu. Terlihat dua orang laki-laki sedang berdiri bergandengan tangan di atas sebuah jembatan. Seingatnya, photo itu juga yang pernah ia lihat di album photo milik almarhum papanya. Rianti memberikan kembali ponsel itu kepada pak Jamal. Kembali ia menatap pak Jamal. Ia berkeyakinan, laki-laki di depannya itu memang saudara papanya.
"Bapak tidak punya photo terakhir bersama papamu. Maklum, bapak lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri." Pak Jamal terlihat menggeser lagi layar ponselnya.
"Ini photo waktu papamu menikah dengan mamamu. Ini bapak yang memakai jas hitam," kata pak Jamal lagi memperlihatkan photo di ponselnya. Rianti menganggukkan kepalanya. Itu memang photo mamanya waktu menikah.
Rianti bangkit dan menyodorkan tangannya. Tangan pak Jamal kemudian diciumnya. Rianti kembali duduk.
"Bagaimana Bapak tahu saya di sini?" kata Rianti. Pak Jamal tersenyum.
"Pak Efendi yang memberitahu bapak. Dia adalah mitra bisnis Bapak. Katanya, dia sempat akan melakukan kerjasama dengan almarhumah ibumu, sebelum istri kedua almarhun papamu mengambil alih perusahaan," kata pak Jamal dengan suara terdengar sedikit geram. Rianti mendesah dan menundukkan kepalanya.
"Bapak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Kamu pasti marah karna perusahaan yang seharusnya menjadi milikmu diambil orang yang tak sepantasnya memilikinya. Bapak yakin, ini semua adalah tipu daya licik dari pak Sahril." Pak Jamal menggeram kesal. Tangannya dikepalkan dan dihentak-hentakkan di atas meja. Rianti berpaling, mencoba tak memperhatikan pak Jamal.
"Tapi gak usah khawatir. Bapak kesini datang untuk membantumu. Bapak akan membantumu mengambil kembali perusahaan papamu dari perempuan itu," kata pak Jamal. Ia memegang tangan Rianti. Rianti menarik tangannya pelan, menjauh dari tangan pak Jamal.
"Semuanya sudah berakhir, Pak. Aku tidak berminat membicarakan perusahaan. Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku karna telah membunuh almarhum Papa," kata Rianti dengan suara lirih.
Pak Jamal menatap Rianti. Ia tersenyum sinis.
"Bapak sama sekali tidak terkejut kamu membunuh papamu. Sikap papamu yang terlalu berlebihan mempercayai orang lain daripada keluarganya sendiri, membuatmu dan almahumah mamamu wajar membunuhnya. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku sebagai anaknya," kata pak Jamal. Raut muka Rianti berubah. Dia sama sekali tak senang mendengar kata-kata pak Jamal.
Rianti tiba-tiba berdiri.
"Jika bapak kesini hanya untuk membahas perusahaan, maaf, aku tidak tertarik. Papa sudah mengamanatkan perusahaannya kepada orang yang tepat," kata Rianti tegas. Pak Jamal mengernyitkan dahinya. Dia tak menyangka mendapat respon seperti itu dari Rianti. Pak Jamal berdiri. Ia menatap heran ke arah Rianti.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Pak Sahril dan Bu Sulastri adalah orang baik. Mereka berdua benar-benar menjalankan amanat yang diberikan oleh papa. Aku mengikhlaskan perusahaan kepada mereka," jawab Rianti tegas.
"Bodoh kamu, Rianti. Kamu menyerahkan perusahaanmu kepada orang yang sama sekali tak ada hubungan darah denganmu?" Pak Jamal menggeleng-geleng mencemooh Rianti.
"Bu Sulastri itu istri almarhum papa. Dia ibuku juga. Dia satu-satunya orang yang memberiku semangat ketika tertimpa masalah seperti ini. Sedangkan Bapak, Bapak kesini datang hanya untuk kepentingan Bapak sendiri," kata Rianti. Sifat ganasnya kembali muncul.
"Bapak melakukan ini untuk kamu, Rianti. Bapak sudah tua. Ini terkait masalah marwah keluarga,"
Rianti mendesah. Ia mencoba menstabilkan nafasnya. Dia kembali duduk. Keningnya di urut-urutnya.
"Maaf kalau bapak langsung to the point ke masalah perusahaan. Bapak tentu tidak akan tinggal diam melihatmu di penjara terus. Bapak akan membantumu agar segera keluar dari tempat ini. Itu perkara gampang. Bapak sudah menyiapkan sejumlah uang untuk mempersingkat masa tahananmu,"
Rianti mengangkat wajahnya. Ia menatap mata pak Jamal. Rianti tersenyum.
"Maaf, Pak. justru vonis dua puluh tahun penjara terlalu ringan buatku. Kesalahanku terlalu besar. Aku tak ingin mempersingkatnya, apalagi dengan cara-cara tidak benar," kata Rianti tegas. Melihat dari tadi Rianti terus membantahnya, pak Jamal mulai terlihat emosi. Ia berdiri dan menggebrak meja.
"Dari tadi kamu terus membantahku. Kamu ditolong malah semakin sombong. Anak kurang ajar kamu Rianti. Aku sudah bela-belain datang dari jauh-jauh untuk menolongmu, tapi ini jawaban yang kamu berikan,"
"Maaf, Pak. Sudah waktunya aku masuk," kata Rianti. Pak Jamal terlihat semakin emosi. Mukanya memerah. Kedua tangannya terkepal.
"Membusuklah kamu di tempat ini. Dasar anak tak tahu diri. Bapak sama anak sama saja. Aku yakin, sekarang papamu sedang menggelepar kepanasan di neraka,"
"Diam!" teriak Rianti. Suaranya mengagetkan pak Jamal dan petugas yang duduk berjaga di luar ruangan. Mendengar teriakan itu, petugas segera masuk dan mendekat ke arah Rianti.
"Jangan coba-coba berkata yang tidak-tidak tentang papaku. Sangat beralasan jika dulu papa mengeluarkan Bapak dari perusahaan," sambung Rianti sengit. Pak Jamal mengepalkan tangannya. Giginya terdengar bergemeretak. Ia benar-benar marah mendengar teriakan Rianti.
"Pak, bawa aku kembali ke sel," kata Rianti sambil berlalu meninggalkan pak Jamal. Pak Jamal melotot tajam melihat Rianti keluar dari ruangan. Emosinya yang meluap-luap membuat tangannya tak sadar menggebrak meja dengan sangat keras, membuat petugas jaga yang membawa Rianti membalikkan badan dan kembali ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Bapak, harap segera meninggalkan tempat ini. Jangan sampai saya melaporkan Bapak ke polisi. Cepat!" kata petugas itu. Pak Jamal mendesah kasar. Sembari terus menatap tajam ke arah petugas itu, ia melangkah keluar ruangan dengan umpat serapahnya.