
"Pak Bayan. Pak Bayan tolong ke dapur dulu ya. Suruh bi Aisyah siapkan kopi untuk kita," kata Sulastri ketika telah selesai dari menunaikan shalat subuh berjamaah. Pak Bayan menganggukkan kepala dan segera bangkit dan melangkah keluar.
"Tuan Guru, Bu Nyai, kita pindah ke ruang tamu. Biar ngobrolnya lebih enak,"kata Sulastri. Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepala. Mereka berempatpun serempak bangkit. Nyai Mustiani segera menggandeng tangan Rianti dan bersama menuju ruang tamu. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
Tak terlalu lama duduk di ruang tamu. Bi Aisyah dibantu Munawarah datang membawa beberapa gelas minuman dan makanan ala kadarnya.
"Silahkan diminum, Tuan Guru, Bu Nyai. Dingin-dingin begini enaknya minum-minuman yang hangat," kata Sulastri mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam dan Nyai Mustiani. Keduanya tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Ustadz Fahmi pernah cerita kalau mau bangun pondok pesantren di sekitar sini. Kira-kira lokasinya dimana, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah menyeruput pelan kopi panas di tangannya.
Sulastri menoleh ke arah Rianti sejenak lalu kembali menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Insya Allah, Di depan rumah, Tuan Guru. Kami hanya tinggal menunggu pembebasan satu tanah lagi, Tuan Guru. Rencananya, memang kami mau menemui Tuan Guru untuk memintakan Fahmi ijin. Sudah waktunya dia pulang," kata Sulastri.
Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kami memang sudah mewanti-wanti Fahmi. Jika belum punya pesantren sendiri, gak boleh pulang. Tetap mengabdi di pesantren qudwatusshalihin membantu anak saya," kata Nyai Mustiani sambil tersenyum.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.
"Kami memang akan sangat kehilangan Ustadz Fahmi. Tapi dia juga harus menyebarkan ilmu yang ia dapatkan. Dari dulu, dia merupakan satu-satunya santri paling berkualitas dari segi ilmu agama," kata Tuan Guru Izzul Islam menambahkan. Sulastri tersenyum. Dari raut wajahnya, nampak ia terlihat begitu bahagia.
"Alhamdulillah. Itu semua berkat bimbingan dari Tuan Guru. Tidak ada hal lain yang paling saya harapkan, selain anak-anak saya kelak, benar-benar menjadi pejuang untuk agamanya. Sekali lagi terimakasih, Tuan Guru. Terimakasih, Bu Nyai. Anak-anak saya sudah Bu Nyai dan Tuan Guru anggap keluarga sendiri," kata Sulastri.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia kembali mengangkat gelas minumannya dan menyeruputnya. Kedua matanya bergerak pelan mencari keberadaan wajah Rianti. Sejak kedatangannya ke rumah itu, dan selama itu duduk di ruang tamu, ia masih belum bisa melihat dengan sempurna wajah Rianti. Penampilan terbaik Rianti menurutnya adalah ketika Rianti memakai jilbab biru motif batik. Ia selalu merindukannya untuk melihatnya, walaupun tak pernah ada kesempatan yang agak lama karna penjagaan pandangannya dari perempuan yang bukan mahromnya. Walaupun dalam ta'aruf membolehkan untuk melihat wajah dan kedua telapak tangannya, tapi ia merasa malu untuk melakukannya. Lagi pula ia merasa, tak perlu lagi ta'aruf. Petunjuk Allah dalam mimpinya tetap lebih penting. Bahkan, jikapun perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpinya itu adalah seorang yang buta atau cacat sekalipun, ia akan tetap menerimanya.
Untuk sejenak. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara gelas yang beradu dengan cangkirnya ketika secara bergantian mereka meminum minuman mereka. Suasana di luar rumah mulai terlihat terang. Gerimis masih terlihat. Suara burung-burung gereja yang hinggap di pohon tabebuya depan rumah, mulai terdengar riuh. Suara air yang mengalirpun terdengar jelas, menambah hidmat suasana pagi itu. Seperti hari kemarin. Mungkin mendung yang menelingkupi langit hari ini akan berakhir hingga malam nanti. Sudah tiga hari ini, langit selalu mendung. Hujan hanya diselingi sebentar saja oleh gerimis.
"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Bu Lastri. Tujuan saya kesini, selain meminta maaf, juga ingin meminta persetujuan Bu Lastri untuk membawa nak Rianti ikut bersama kami. Kami ingin pernikahan mereka segera dilangsungkan. Semoga dengan itu, amarah almarhum suamiku yang aku lihat dalam mimpiku semalam akan mereda. Apa yang aku lihat dalam mimpiku semalam adalah peringatan yang nyata untukku. Mohon dipertimbangkan, Bu. Aku tidak akan tenang jika tak segera menikahkan mereka," kata Nyai Mustiani penuh harap. Matanya berbinar-binar memelas. Sulastri mendesah panjang. Ia menoleh ke arah Rianti. Mata Sulastri tiba-tiba berkaca-kaca. Seperti ada air mata yang sedang ditahannnya. Rianti menundukkan wajahnya. Ia mengerti apa yang kini dirasakan Sulastri. Jangankan untuk selamanya. Tidak menemaninya satu hari saja di rumah, hampir setiap menit Sulastri menelponnya. Itu juga yang selalu ia keluhkan setiap malamnya menjelang tidur. Sulastri selalu mengungkapkan perasaan sedihnya jika suatu hari nanti Rianti benar-benar pergi meninggalkannya.
"Semuanya saya serahkan kepada Rianti, Bu Nyai. Keputusannnya ada pada dia," kata Sulastri sembari menundukkan kepalanya. Kata-katanya terbata-bata. Terdengar isak tangis dari mulutnya. Melihat itu, Rianti bangkit dan melangkah mendekati tempat duduk Sulastri. Ia lalu duduk di samping Sulastri. Tubuh Sulastri dirangkulnya.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Selama masih ada ibu, keputusannya ada di tangan ibu. Aku tidak akan kemana-mana jika ibu tak mengijinkannya," bisik Rianti. Air matanya ikut berderai. Sulastri mengusap kedua matanya. Ia menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya. Ia terdiam sejenak dan menatap ke arah photo Yulian Wibowo yang tergantung di dinding ruang tamu. Rianti ikut mengarahkan pandangannya ke arah photo.
Sulastri mengalihkan pandangannya ke arah Rianti setelah puas memandang photo Yulian Wibowo. Punggung Rianti diusapnya lembut. Ia mendesah dan tersenyum.
"Kamu harus menikah, Nak. Papamu selalu mengungkapkan harapan terbesarnya. Ia ingin berbangga-bangga dengan keturunannya yang banyak di sisi Rasulullah saw. Kamulah penerus harapan itu. Toh, kamu menikah bukan berarti akan meninggalkan ibu," kata Sulastri dengan nada mulai tenang. Rianti menganggukkan kepalanya. Tubuh Sulastri kembali didekapnya erat. Nyai Mustiani tersenyum.
"Silahkan, Bu Nyai. Semua saya serahkan kepada Bu Nyai dan Tuan Guru. Seperti yang dikatakan Bu Nyai. Kita tidak harus menunda-nunda lagi pernikahan mereka. Jika harinya baik, lebih cepat lebih baik," kata Sulastri. Nyai Mustiani mendesah panjang sembari mengusap dadanya penuh syukur. Ia melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang terdengar mengucapkan hamdalah.
"Jika memang sudah diijinkan, kami akan membawa serta Nak Rianti hari ini juga, Bu Lastri. Selanjutnya kami akan bermusyawarah dulu dengan keluarga untuk menentukan hari baik untuk melangsungkan pernikahan mereka." Nyai Mustiani mendesah panjang. Ia menatap ke arah Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam.
"Mereka berdua sudah terlalu lama menunggu saat-saat ini. Seperti kata ibu, kita tidak akan menundanya lagi. Dan terimakasih atas semuanya, Bu Lastri. Terimakasih atas jiwa besar Bu Sulastri dan Nak Rianti, yang telah ikhlas memaafkan kami. Semoga Allah selalu memberikan perlindungan-Nya kepada kita semua," sambung Nyai Mustiani. Ketiganya serempak mengamini perkataan Nyai Mustiani.
"Bu Nyai, Tuan Guru. Ijinkan saya membawa Rianti sebentar ke kamar. Ada yang perlu saya bicarakan,"kata Sulastri.
"Owch, Silahkan, Bu," kata Nyai Mustiani. Sulastri memegang tangan Rianti. Setelah membungkukkan kepalanya didepan Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam, ia mengajak Rianti menuju ke kamar.
__ADS_1
* * * * *
mohon vote setiap senin nya. Jangan lupa ulasan jujurnya untuk perbaikan. terimakasih.