KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#214


__ADS_3

Pagi tak terlihat seperti biasanya. Matahari yang sebelumnya benderang menampakkan sinar kekuning-kuningannya kini tertutup sepenuhnya oleh awan hitam. Gerimis pun untuk pertama kalinya turun di musim kemarau ini. Suasana di halaman rumah yang sebelumnya sudah ramai, bertambah ramai dengan orang-orang yang datang melayat. Di sepanjang tepi jalan, terparkir mobil-mobil. Orang-orang seperti tak putus-putusnya datang. Bahkan ada yang memilih mencari tempat hingga ke jalan besar. Di belakang rumah tempat jenazah Sulastri akan dikuburkan dekat kubur Yulian Wibowo, terlihat beberapa laki-laki yang sedang menggali tanah. Makanan-makanan yang sengaja dipesankan dari rumah makan di kawasan doyan medaran dan rumah makan milik bu Pratiwi untuk sarapan orang-orang yang hadir sudah memenuhi tempat prasmanan yang telah disediakan di samping rumah. Perempuan-perempuan yang datang melayat pun mulai terlihat sibuk ikut membantu bi Aisyah di dapur menyiapkan makanan.


Tepat pukul 10, jenazah Sulastri telah selesai dimandikan dan dikafankan. Orang-orang terlihat berebutan ingin membopong keranda Sulastri saat dikeluarkan dari rumah untuk di shalatkan. Setelah tiga shalat jenazah dengan jamaah yang memenuhi halaman rumah yang luas, jenazah Sulastri akhirnya dibawa ke tempat penguburannya. Tangis orang-orang kembali pecah ketika jenazah Sulastri di turunkan ke dalam liang kuburnya. Lantunan ayat-ayat suci Alqur'an mengiringi penimbunan jenazah Sulastri. Yang terlihat kini hanyalah timbunan tanah. Tubuh kaku Sulastri di dalam balutan kain kafannya sudah tidak terlihat lagi. Tubuhnya sudah menyatu dengan asalnya dan ruhnya telah kembali kepada sang Pencipta.


Hingga acara pemakaman Sulastri telah berakhir, orang-orang seperti enggan beranjak dari tempatnya. Mereka secara bergantian maupun secara serempak, membacakan surah Yasin untuk Sulastri. Gundukan tanah kuburan Sulastri terlihat penuh dengan aneka bunga warna-warni.


Di dalam rumah, Tuan Guru Izzul Islam nampak berbincang-bincang dengan Rianti, pak Sahril, pak Pratama dan Fahmi.


"Dengan banyaknya orang-orang yang datang melayat hari ini, kita perlu membagi tempat untuk acara tahlilan ibu sampai malam kesembilannya. Biar nanti jamaah yang tahlilan kita arahkan ke pesantren qudwatusshalihin juga," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Sepertinya usul Tuan Guru sangat bagus. Sepertinya di sini tidak akan menampung jamaah yang akan datang." kata pak Sahril. Ia menoleh ke arah Rianti yang duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam.


"Maaf, Non. Untuk sembilan hari kedepannya, bu Trianti akan menutup sementara waktu rumah makan yang ada di doyan medaran. Untuk sembilan hari ini, suplai makanan akan kita arahkan ke sini," kata pak Sahril. Rianti tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya, gak apa-apa, Pak. Alhamdulillah, bu Pratiwi juga akan melakukan hal yang sama. Dia sudah menyatakan kesiapannya menyiapkan makanan ala kadarnya untuk acara tahlilan ibu," kata Rianti. Di sampingnya, Fahmi hanya terdiam. Melihat itu, Rianti menyentuh tangannya.


"Bagaimana, Dik Fahmi. Kok diam saja?"


Fahmi tersenyum. Ia mendesah panjang.


"Apa ini tidak berlebihan, Kak. Maaf. Dengan jamaah sebanyak ini, apa kita cukup menyiapkan makanan kecil saja. Maksud saya, apa sebaiknya prasmanannya di hari kesembilan saja," usul Fahmi. Rianti tersenyum.


"Benar, ustadz Fahmi. Ini adalah sebagian kecil yang bisa dilakukan perusahaan kepada almarhum ibu Lastri. Perusahaan tidak akan rugi walaupun kita mengundang seluruh panti asuhan di kota ini." Pak Sahril mendesah panjang. Ia tersenyum.


"Ibu selalu berpesan kepada kami untuk menyisihkan sebagian dari keuntungan perusahaan untuk berbagi dengan fakir miskin. Dan masya Allah, setiap kami melakukan santunan, keuntungan perusahaan selalu bertambah berlipat-lipat," sambung pak Sahril. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Itulah keuntungan kita berbisnis dengan Allah, Pak Sahril. Allah telah menjanjikan keuntungan sepuluh kali lipat dari satu hal yang kita sedekahkan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mendesah panjang. Ia menarik pundak Fahmi dan merangkulnya.

__ADS_1


"Ibu adalah bos perusahaan, Dik. Dia telah bertahun-tahun melanjutkan apa yang telah dirintis almarhum papa.Jika tidak karna jasa ibu, perusahaan pasti sudah bangkrut," kata Rianti.Pak Sahril dan pak Pratama nampak mengangguk mantap, mengiyakan apa yang dikatakan Rianti.


"Dan terkait warisan, dik Fahmi tak perlu merisaukannya. Apa yang menjadi milik ibu adalah milik kalian adik-adikku. Perusahaan ini akan kita jalankan bersama-sama sesuai dengan petunjuk dan pedoman yang ditinggalkan ibu. Tak ada yang berubah dari kita selepas ibu pergi. Kalian tetap saudara-saudaraku," sambung Rianti. Fahmi mengusap air matanya. Haru mendengar kata-kata Rianti. Ia pun balas merangkul tubun Rianti.


"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu, Tuan Guru. Insya Allah, nanti malam kami akan datang lagi," kata pak Sahril.


"Terimakasih atas kedatangannya, Pak Sahril,pak Pratama," kata Rianti. Keduanya lalu bangkit. Setelah bersalaman dengan Tuan Guru Izzul Islam, Fahmi dan Rianti, keduanya segera keluar ruangan.


Suara adzan Dhuhur terdengar berkumandang. Mendung masih menggelayut di atas langit. Suasana panas berbulan-bulan seperti sudah berpindah ke awal musim penghujan. Udara yang hari-hari sebelumnya terasa gerah dan terik, kini berubah sejuk sejak tadi pagi. Gerimis yang turun, seperti gambaran alam yang ikut menangis sebab kepergian Sulastri.


Suasana di halaman rumah perlahan terlihat sepi. Orang-orang satu persatu mulai pulang ke rumah masing-masing. Hanya beberapa orang dari keluarga karyawan perusahaan mutiara cabang Bima yang terlihat membersihkan halaman rumah. Mereka sengaja ingin menginap beberapa hari hingga acara kesembilan hari kematian Sulastri selesai. Di halaman pesantren depan rumah, para santri juga terlihat sedang bersih-bersih.


Di depan kuburan Sulastri, Rianti, Fahmi, Farida dan Rayhan nampak khusyu' berzikir. Di belakang mereka, Bagas tak henti-henti menangis. Sulastri yang dulu pernah ia sia-siakan, mengangkatnya kembali dari keterpurukan hidupnya, membuatnya tak mampu menahan tangis ketika mengenangnya. Semua kenangan tentang Sulastri tak akan pernah mati. Karya nyatanya tersebar dimana-mana sebagai amal jariyahnya. Kasih sayangnya yang tulus telah menyatukan anak-anaknya menjadi sebuah keluarga yang saling menyayangi satu sama lain. Bahkan menyatukan fakir miskin, anak yatim, PSK dan anak terlantar di tempat itu menjadi keluarga besarnya. Di ruang tamu kini bersanding dua buah photo besar milik Sulastri dan Yulian Wibowo. Photo dengan senyum yang mengembang, yang mengingatkan orang yang memandangnya,bahwa di tempat itu pernah tinggal wanita kuat lagi penyayang. Wanita yang telah merubah Rianti dan Yulian wibowo menjadi pribadi yang taat beragama.

__ADS_1


__ADS_2