
"Assalamualaikum,"
Perhatian tertuju kepada Nyai Mustiani yang berdiri di depan pintu. Melihat itu, Tuan Guru Izzul Islam segera bangkit dan menghampiri ibunya. Ia lalu memegang tangan Nyai Mustiani dan mendudukkannya di tempatnya duduk.
"Perkenalkan ini ibu saya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Satu persatu mereka bangun dan menyalami Nyai Mustiani.
"Yang mau mondok mana?" kata Nyai Mustiani.
"Yang ini, Bu Nyai," kata Sulastri menunjuk ke arah Fahmi.
"Pinter. Dulu, Tuan Guru Izzul Islam juga sekecil kamu waktu mondok di Jawa. Kamu nanti pasti jadi orang hebat kalau sudah pulang," kata Nyai Mustiani.
Serempak mereka mengucap amin.
Tak terasa, obrolan panjang mereka mengantar mereka hingga waktu dhuhur tiba. Setelah memeriksa beberapa menit kamar yang akan ditempati Fahmi, mereka pamit pulang.
"Saya titip anak saya, Tuan Guru," kata Bagas saat ia menyalami Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia meraih tubuh Fahmi dan merangkulnya.
"Sudah pasti, Pak. Sekarang, saya mau ajak Fahmi ikut undangan pengajian di kota mataram bersama santri cilik lainnya. Saya pastikan, Fahmi gak akan ingat Bapaknya lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam setengah bercanda. Semua yang hadir tersenyum.
Adzan Dhuhur berkumandang. Mengantar kepergian Sulastri dan rombongan meninggalkan pondok pesantren. Fahmi yang tampak tidak murung lagi, terlihat mulai akrab dengan Tuan Guru Izzul Islam. Ia melambaikan tangannya ke arah mobil.
"Sudah, Bi Aisyah. Lihat, Fahmi nya saja tidak nangis. Kita harus membiasakan Fahmi hidup mandiri sejak kecil. Ini untuk kebaikannya kelak," kata Sulastri ketika melihat bi Aisyah menangis sambil terus menatap Fahmi dari dalam mobil.
"Farida juga mondok ya, Bu," sahut Farida yang duduk di pangkuan Bagas di kursi bagian depan.
__ADS_1
"Kalau Farida sudah siap, Farida boleh menyusul kakak," kata Bagas.
Matahari sudah bisa terlihat setelah sejak pagi tadi mendung menutupi langit. Hawa dingin masih terasa. Alam terlihat menghijau sepanjang mata memandang. Sebelum pulang Sulastri mengajak mereka meninjau lokasi pembangunan di kawasan jalan Doyan Medaran. Pembangunan sudah berjalan lima puluh persen. Pak Pratama yang ia temui di lokasi pembangunan menjelaskan bahwa khusus untuk rumah makan sudah bisa dioperasikan jika Sulastri sudah menemukan orang-orang yang akan ditempatkan di tempat itu. Pak Pratama juga menjelaskan bahwa promosi-promosi tentang tempat wisata baru itu sudah disebarkan. Hanya tinggal menyelesaikan pembangunan di lokasi yang berada di seberang sungai.
Dari lokasi pembangunan di jalan Doyan Medaran, mereka melanjutkan perjalanan menuju jalan Cempaka, melihat rumah yang dulu ditempati Castella dan Rianti. Saat itu juga Ia memutuskan, Bagas dan Nurul akan pindah besok dan segera menempati rumah itu. Menurut hasil pembicaraannya dengan pak Sahril melalui telpon tadi malam, sudah ada sekitar 30 anak yatim piatu yang telah didata oleh anak buah pak Sahril. Ketiga puluh anak yatim dan anak terlantar itu juga akan menempati rumah itu besok pagi. Rahini dan Wahyu juga akan ikut menemani Bagas mengurusi tempat itu. Bu Pratiwi juga sudah menyatakan kesediaannya untuk melepas Retno untuk ia tempatkan untuk bekerja di rumah makan di jalan Doyan Medaran, mengingat pengalaman Retno yang sudah lama bekerja di rumah makan. Selebihnya, ia menyerahkannya kepada bu Trianti, istri pak Sahril, yang telah ia tunjuk sebagai penanggung jawab di tempat itu. Sulastri memutuskan besok pagi, rencana-rencana yang telah ia susun akan dituntaskan semua. Ia telah menyuruh pak Pratama menyebarkan undangan dan mengumpulkan seluruh anak yatim di wilayah itu untuk mengikuti acara peresmian besok pagi, sekaligus akan melaksanakan santunan besar-besaran.
Dari Jalan Cendana, perjalanan mereka di lanjutkan untuk makan siang di rumah makan bu Pratiwi, sekaligus untuk memberitahukan kepada Retno agar mulai bekerja besok pagi. Untuk sementara, menu makanan akan disediakan dan disuplai dari rumah makan bu Pratiwi, sekaligus penyediaan untuk makan anak-anak yatim yang diundang peresmian besok pagi. Bu Pratiwi memerintahkan seluruh karyawannya untuk lembur nanti malam guna persiapan besok. Ia tampak terlihat senang. Kerjasama dengan Sulastri sangat menguntungkannya.
Sekitar jam dua lebih, setelah selesai makan dan shalat dhuhur, Sulastri mengajak mereka pulang.
* * * * *
Tunas-tunas daun tabebuya terlihat menghijau di halaman rumah besar itu. Padi yang menghijau menghampar memenuhi pandangan. Begitu juga dengan pohon-pohon yang tumbuh di tepi sungai tak jauh dari rumah itu. Mendung mulai terlihat menutup langit. Udara mulai berhembus dingin. Sulastri memerintahkan pak Bayan untuk membuka lebar-lebar pintu gerbang rumah, agar ia bisa menyaksikan pemandangan sawah menghijau di depannya saat ia duduk di teras rumahnya. Farida terlihat tak bersemangat bermain sepeda di halaman rumah walaupun Rahima sudah membawakannya Rayhan sebagai teman mainnya. Farida sudah terbiasa bermain dengan Fahmi. Ia terlihat tak bersemangat.
Suastri mendesah. Bersamaan dengan itu, air matanya mengalir. Perpisahan adalah sesuatu yang harus terjadi di dunia ini. Itu yang ingin ia tanamkan kepada anak-anaknya. Mereka tak harus tetap bersama. Mereka harus belajar berpisah satu sama lain. Mereka harus terbiasa dengan perpisahan. Hingga ketika datang saat perpisahan yang sebenarnya, saat ajal telah menjemput, mereka hanya akan menitikkan sedikit air mata dan menyadari bahwa perpisahan adalah suatu keharusan. Apa yang saat ini dimiliki pada akhirnya akan ditinggalkan.
* * * * *
Di kediaman Tuan Guru Izzul Islam...
Karna hujan terlalu lebat, Tuan Guru Izzul Islam tidak memimpin shalat jamaah maghrib ini. Ia, Nyai Mustiani, Abdul khalik, serta dua santri lainnya shalat jamaah di mushalla pribadi di dalam rumahnya.
Setelah selesai shalat, ketiga santri itu pamit pergi dan meninggalkannya berdua dengan Nyai Mustiani.
Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya dan menghadap ke arah Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mencium tangan Nyai Mustiani. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Tuan Guru Izzul Islam.
__ADS_1
"Bu, ada yang ingin aku sampaikan. Ibu pasti senang, karna ini berkaitan dengan sesuatu yang selalu ibu tanyakan," kata Tuan Guru Izzul Islam memulai pembicaraan.
Nyai Mustiani mengangkat kedua alisnya. Ia tampak penasaran dan ingin tahu.
"Oh ya? Masalah apa gerangan itu, Nak." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Tentang pernikahanku,"
Raut muka Nyai Mustiani seketika berubah. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Alhamdulillah, akhirnya ibu punya cucu juga," kata Nyai Mustiani.
"Belum, Bu. Nikahnya saja belum, kok bahas cucu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum. Ia memegang kedua tangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Ibu bercanda, Nak. Ayo, ceritakan ibu siapa perempuan yang beruntung itu," kata Nyai Mustiani penuh semangat.
"Aku tak perlu menceritakannya karna ibu sudah melihatnya,"
"Sudah melihatnya?" Nyai Mustiani mengerutkan keningnya. Ia menatap lekat mata Tuan Guru Izzul Islam.
"Ibu belum mengerti. Selama ini ibu hanya di rumah terus. Yang ibu lihat hanya santri dan khadam kita, bi Masyitoh dan Maysaroh. Tapi kamu gak mungkin kan menikahi salah satu dari mereka," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya. Kata-kata ibunya membuatnya tertawa.
"Ayo, Bu. Di ingat-ingat lagi. Yang jelas bukan penghuni rumah ini. Juga bukan dari kalangan santriwati. Mungkin tamu-tamu kita,"
"Tamu kita?" Nyai Mustiani medongakkan kepalanya. Matanya melirik kesana kemari, mencoba mengingat. Ia benar-benar penasaran dengan teka-teki yang diberikan anaknya, tapi ia tidak mau menyerah. Perempuan yang pernah ia lihat datang bertamu ke rumahnya hanya sedikit dan dia merasa pasti mengingat satu persatu dari mereka.
__ADS_1
Nyai Mustiani tersenyum. Ia seperti telah menemukan jawabannya.