
Tuan Guru Izzul Islam masih menunggu hujan yang turun sejak maghrib tadi reda. Hampir isya'. Melihat langit yang hitam, sepertinya hujan akan turun lebih lama malam ini. Ponsel pak Nurasmin tidak juga bisa dihubungi. Lampu sempat mati beberapa menit yang lalu. Itu mungkin yang menyebabkan signal menjadi buruk. Tapi perjanjiannya dengan pak Nurasmin harus ia tepati. Ia sudah menyanggupi untuk menemui pak Nurasmin habis isya' ini di rumahnya. Apapun keadaannya, ia harus pergi. Terlebih lagi dengan informasi mengagetkan yang ia terima dari Nyai Mustiani tentang pernikahannya dengan Layla, membuatnya semakin penasaran dan ingin segera sampai di rumah pak Nurasmin.
Zaebon terlihat berlari-lari kecil membawa payung ke arah teras tempat Tuan Guru Izzul Islam berdiri. Sebelum menghadap Tuan Guru Izzul Islam, ia masuk terlebih dahulu ke kamar Abdul khalik untuk memgeringkan tubuhnya. Setelah itu, ia langsung menemui Tuan Guru Izzul Islam.
"Bagaimana, Bon. Apa kamu tidak akan kesulitan melihat dalam keadaan hujan deras seperti ini," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika Zaebon datang menyalaminya.
"Insya Allah, Tuan Guru. Kita pelan-pelan saja," jawab Zaebon. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Sorbannya di usapkannya ke wajahnya yang basah akibat hempasan hujan yang terbawa angin.
"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat," Ajak Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon kembali masuk ke dalam kamar Abdul khalik dan keluar membawa payung. Dia menunggu Tuan Guru Izzul Islam turun dari teras.
"Naik dulu, Bon. Kayaknya pak Nurasmin nelpon," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika ponselnya berdering. Ketika memeriksanya, ia melihat nama pak Nurasmin di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, Pak. Ini saya baru saja mau berangkat," kata Tuan Guru Izzul Islam. Suaranya sedikit dikeraskan karna suara hujan yang berisik.
Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan keningnya. Ia menutup kepalanya dengan sorban. Ia masih merasa belum bisa mendengar dengan jelas pembicaraan pak Nurasmin dari seberang, walaupun ia sudah membesarkan volume ponselnya. Ia pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
"Aduh, saya minta maaf, Pak. Di luar hujannya deras sekali. Saya sama sekai tak mendengar pembicaraan Bapak," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari tersenyum.
"Begini, Nak Izzul. Sebenarnya,maksud bapak menyuruhmu ke rumah untuk membicarakan hasil pembicaraan Bapak dengan ibumu. Ini terkait kamu dan adikmu, Layla," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pendek. Ia mendongakkan pandangannya ke langit-langit kamar.
"Saya tahu, Pak. Ibu sudah memberitahuku tadi siang. Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Pak. Bagaimana keadaan dik Layla setelah mengetahui masalah ini, Pak,"
"Itulah sebenarnya yang ingin bapak bicarakan dengan kamu. Adikmu jelas tidak menginginkan pernikahan ini. Dia masih menganggap dirinya terlalu kecil. Dia bersikukuh ingin melanjutkan sekolahnya lebih tinggi lagi,"
Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah.
__ADS_1
"Dengan sikap ibu seperti ini, saya juga tidak bisa memberikan jalan keluar, Pak Saya bingung dan akhirnya memasrahkannya."
"Tapi ceritanya sekarang sudah lain, Nak Izzul. Adikmu Layla sudah kabur dari rumah,"
"Apa? Astaghfirullah." Tuan Guru Izzul Islam mengurut-urt keningnya kuat, memejamkan mata dan menggeleng-geleng.
"Sejak kapan, Pak," sambungnya lemah.
"Tadi siang dia keluar dengan alasan mau latihan silat, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga. Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi tetap tidak ketemu. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu kemana dia pergi," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak. Mau tidak mau dia merasa ikut bersalah dalam hal ini.
"Tapi semoga saja dia sedang berada di rumah teman-temnnya, Pak," harap Tuan Guru Izzul Islam.
"Semoga saja, Nak. Tapi tak biasanya ia seperti ini. Dia tidak terbiasa menginap atau tinggal lama di luar sana. Dia tipe anak rumahan."
Tuan Guru Izzul Islam kembali menggelengkan kepalanya. Ini kedua kalinya gadis yang hendak dijodohkan dengannya kabur meninggalkan rumah. Dia merasa bersalah karna menjadi penyebab menghilangnya Layla. Hanya karna kehendak ibunya yang selalu memaksa, membuat pak Nurasmin sekeluarga harus ikut merasakan susah.
"Baik, Pak. Saya mewakili ibu saya minta maaf, Pak. Salam hormat saya juga sama bibik," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan nada lemah.
Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang. Ia terduduk lemah di sofa kamarnya. Ia mulai khawatir memikirkan adik sepupunya yang entah pergi kemana malam-malam begini. Hujan di luar sana masih terdengar turun dengan derasnya. Ia mulai memikirkan bagaimana keadaan Layla di luar sana kalau memang ia benar-benar meninggalkan rumahnya. Keinginan Nyai Mustiani untuk menghindarkannya dari menikahi Rianti telah menyebabkan kerugian pada orang lain.
Tuan Guru Izzul Islam membaringkan tubuhnya perlahan di atas sofa. Suara derasnya hujan membuatnya semakin resah. Berbaringnya jadi tak tenang. Kaburnya Layla dari rumah membuat pikirannya benar-benar terganggu.
Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Ia baru ingat kalau belum memberitahukan Zaebon batalnya ke rumah pak Nurasmin malam ini. Zaebon pasti masih menunggunya di luar. Tuan Guru Izzul Islam memasang kembali pecinya dan keluar menuju teras rumah. Di teras rumah, ia melihat Zaebon masih menunggu di teras rumah bersama Abdul khalik. Melihat kedatangan Tuan Guru Izzul Islam, keduanya berdiri.
"Kita gak jadi pergi, Bon. Kamu istirahat saja sana," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk dan pamit ke kamarnya. Begitu juga Abdul khalik.
__ADS_1
Hujan turun benar-benar deras. Melihat langit yang nampak hitam, hujan seperti tak akan henti-henti mengguyur malam ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana pak Nurasmin mencari Layla dalam keadaan seperti itu. Sedangkan dia hanya bisa berdiri tanpa bisa berbuat apapun untuk ikut membantu. Dia juga tidak tahu apakah pak Nurasmin sudah memberitahu masalah ini kepada Nyai Mustiani. Ia berharap, kali ini Nyai Mustiani bisa lebih mengerti, dan tak lagi memaksakan kehendaknya.
Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah.
"Ibu?"
Ketika membuka pintu kamarnya, Tuan Guru Izzul Islam sudah menemukan Nyai Mustiani sedang duduk di atas sofa di dalam kamarnya. Melihat itu, Tuan Guru Izzul Islam segera menyalami Nyai Mustiani dan duduk di sampingnya.
"Ibu kenapa istirahat?
Nyai Mustiani tak menjawab. Ia hanya menggeleng kecil. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikan wajah Nyai Mustiani diam-diam. Wajah Nyai Mustiani tampak kusut dan ekspresinya persis saat ia memarahinya saat pulang dari rumahnya Sulastri. Apakah ia sudah tahu apa yang terjadi pada Layla? batin Tuan Guru Izzul Islam.
"Apa ibu mau saya siapkan makan malam?" kata Tuan Guru Izzul Islam lagi setelah Nyai Mustiani hanya diam saja dengan posisi duduk yang tak tetap. Selalu bergerak kesana kemari. Nyai Mustiani kembali menggelengkan kepalanya. Kali ini ia menatap Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Bapakmu gak becus mengurus anak. Ini bukti bahwa pendidikan yang diberikan orang tua-orang tua sekarang kepada anak-anaknya tidak ada yang benar. Ngurus satu anak perempuan saja gak beres," kata Nyai Mustiani ketus. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikan wajah Nyai Mustiani. Mungkin apa yang sedang dibicarakan Nyai Mustiani terkait dengan kaburnya Layla.
"Saya tidak mengerti maksud ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam berpura-pura tidak tahu.
"Itu, Pamanmu, Si Nurasmin. Anaknya kabur dari rumah. Ibu doakan anaknya gak kembali-kembali,"
"Masya Allah, Bu. Gak boleh seperti itu. Lagi pula wajar Layla kabur. Dia masih kecil. Masih belum kepikiran untuk menikah. Apalagi dengan laki-laki berumur seperti saya. Sudahlah, Bu. saya gak apa-apa . Jika memang saya ditakdirkan untuk tidak menikah, saya menerimanya," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Tidak, kamu harus menikah.Ibu sudah mempersiapkan calon lain yang lebih baik dari Layla." Nyai Mustiani bangkit. Tuan Guru Izzul Islam menatap heran ke arah Nyai Mustiani.
"Siapa lagi, Bu? Ibu lama-lama tidak tenang jika terus merepotkan diri dalam masalah ini. Kenapa hanya karna ibu tidak menyukai Rianti, semua harus ibu paksakan? Rianti sudah bertaubat, Bu. Apa yang ibu lihat adalah masa lalu Rianti yang dimanfaatkan orang-orang yang tidak suka pada perubahan Rianti. Bahkan, jika dibandingkan denganku, dia lebih baik, Bu. Aku menjadi Tuan guru seperti ini dan ibu, juga orang-orang menganggapku baik, karna memang aku dilahirkan di lingkungan pondok pesantren yang sehari-harinya tak lepas dari suasana keagamaan yang kental. Tapi apakah baik jika terus menganggap orang buruk sebab masa lalunya? Kita tak ingin mendapat murka Allah karna bisa saja orang yang kita hina dan anggap buruk itu adalah salah satu kekasih Allah. Itu sebabnya, Imam Ghazali selalu menyuruh kita berbaik sangka kepada siapa saja, Bu. Karna kita juga tidak pernah tahu, apakah akhir hidup kita baik atau sebaliknya." Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya. Sedikit rasa kesal atas kekukuhan ibunya mempertahankan kehendaknya membuatnya tak sadar terus berbicara. Dan anehnya, sepanjang itu pembicaraannya, tak ada sama sekali tanda-tanda Nyai Mustiani akan marah atau memotong pembicaraannya seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu. Maafkan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia merasa berdosa karna telah menggurui Nyai Mustiani. Ia memegang tangan Nyai Mustiani, tapi perlahan Nyai Mustiani melepasnya. Nyai Mustiani melangkah pelan menuju pintu. Tuan Guru Izzul Islam hanya diam melihat langkah gontai Nyai Mustiani menuju pintu. Hingga ketika Nyai Mustiani sudah keluar dari kamarnya, Tuan Guru Izzul Islam masih diam menatap ke arah pintu.