
Fahmi menghentikan pengajiannya ketika terdengar nada ponselnya berdering di dalam saku bajunya. Para santri yang ada di depannya menatap ke arah Fahmi yang sedang memeriksa layar ponselnya.
Sebuah pesan singkat dari Sulastri.
"Assalamualaikum, Nak. Kakakmu sekarang sudah pulang dari penjara. Kamu harus pulang. Akan ada selamatan nanti malam untuk menyambut kepulangan kakakmu. Bawa juga adik-adikmu."
Fahmi tersenyum. Setelah membalas singkat pesan itu, ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku bajunya. Kitab di depannya di tutupnya. Dia mengarahkan pandangannya kepada para santri di depannya.
"Pengajiannya kita lanjutkan besok saja ya. Saya sedang ada urusan sedikit hari ini. Ayo, berdoa dulu," kata Fahmi. Ia lalu bangkit dan turun dari Masjid. Para Santri serempak terdengar mulai berdoa.
*
Sementara itu. Di dalam ruang keluarga, Tuan Guru Izzul Islam dan Nyai Mustiani tampak sedang duduk di atas sofa panjang. Terlihat Tuan Guru Izzul Islam sedang memijit lengan tangan Nyai Mustiani.
"Nak, ibu sekarang sudah tua. Sudah mulai sakit-sakitan. Apa kamu masih saja mau menunggu perempuan dalam mimpimu itu. Sudah lima belas tahun, Nak. Kamu belum juga diberi tanda siapa perempuan berkerudung biru motif batik itu," kata Nyai Mustiani. Sesekali batuk keringnya terdengar menyakitkan di telinga Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam meletakkan kopiahnya di atas meja. Ia terdiam sejenak. Nyai Mustiani memegang tangannya. Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Ia tersenyum.
"Entahlah, Bu. Dalam kepasrahanku, aku masih yakin tentang mimpiku itu. Aku mempercayakan semuanya kepada Allah. Allah itu maha baik, dan menurut persangkaan hamba-Nya," kata Tuan Guru Izzul Islam.
Nyai Mustiani mendesah panjang. Kopi hangat di depannya di seruputnya pelan. Ia mendesah panjang dan menyandarkan tubuhnya.
"Ibu sudah bicara sama Tuan Guru Faeshal. Dia punya anak yang cantik dan baik. Namanya Qurrotul Aini. Dia sangat setuju jika kamu menikah dengannya," kata Nyai Mustiani. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam sembari mengangguk meyakinkan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendesah dan memandang Nyai Mustiani.
Nyai Mustiani mengambil ponsel di sampingnya. Ia lalu memperlihatkan photo seorang perempuan cantik berkerudung putih di dalam layar ponselnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum setengah dipaksakan. Ia sama sekali tidak tertarik dengan photo yang disodorkan Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Nyai Mustiani.
"Bu, Kita punya aliran yang berbeda dengan Tuan Guru Faeshal. Dalam beberapa hal, kita tidak pernah bisa disatukan, bahkan cenderung menjurus kepada perpecahan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Dia terlihat tak bersemangat namun masih memaksakan tersenyum di depan ibunya.
"Justru, maksud ibu menjodohkan kalian agar perbedaan itu jangan sampai menjurus kepada perpecahan," kata Nyai Mustiani.
__ADS_1
"Dipikir-pikir dulu, Bu. Tidak ingatkah ibu? Sudah beberapa kali Tuan Guru Faeshal membid'ahkan ajaran pesantren kita. Di beberapa pengajiannya pun ia beberapa kali menyindir nama ayah yang dianggapnya raja bid'ah di wilayah ini,"
"Sudah ibu pikirkan matang-matang. Saya yakin, dengan pernikahan ini, hubungan kita akan jadi baik. Bukankah itu yang di ajarkan agama kita? Kamu lebih tahu itu, Izzul," kata Nyai Mustiani.
Tuan Guru Izzul Islam terdiam. Dia tidak mau membela diri lagi. Dia takut ibunya marah. Nada bicara Nyai Mustiani sepertinya sudah menjurus marah. Ibunya sudah terlalu lama bersabar menunggunya menikah. Jadi wajar saat ini dia menganggapnya tidak mampu mencari sendiri pendamping hidupnya.
"Sudah, ibu tidak mau dengar lagi kamu membantah ibu. Jika perempuan berkerudung biru motif batik itu yang kamu anggap baik, maka ibu juga menganggap pilihan ibu yang terbaik untuk kamu,"kata Nyai Mustiani. Setelah menyeruput kopinya beberapa kali, ia bangkit. Tuan Guru Izzul Islam segera berdiri dan berusaha membantu Nyai Mustiani berdiri.
"Sudah, aku bisa jalan sendiri," kata Nyai Mustiani. Nada bicaranya bergetar. Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia tahu ibunya sedang kesal.
"Sudah, Bu. Maaf kalau ibu marah. Baik, lakukan yang menurut ibu baik. Aku menyerahkannya kepada ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia mengusap punggung ibunya. Nyai Mustiani tersenyum. Ia memegang kepala Tuan Guru Izzul Islam dan menciumnya.
"Tuan Guru, Ustads Fahmi menunggu di luar." Abdul khalik terlihat berdiri di depan pintu menundukkan kepalanya.
"Suruh dia tunggu sebentar. Aku mau mengantar ibu ke kamarnya," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari terus memapah Nyai Mustiani hingga ke dalam kamarnya.
"Gak usah, Tuan Guru. Tadi sudah ngopi di masjid," Kata Fahmi buru-buru mencegah. Tuan Guru Izzul Islam merapikan beberapa kitab yang berserakan di atas meja.
"Ada apa, Fahmi," kata Tuan Guru Izzul Islam memulai pembicaraan setelah beberapa saat sibuk membolak-balik lembaran sebuah kitab di tangannya.
"Saya mau ijin pulang dulu, Tuan Guru. Farida dan Rayhan saya bawa pulang juga," jawab Fahmi.
"Loh, kok tumben pulangnya rombongan. Ada acara apa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam .
"Ibu mau buat acara selamatan untuk menyambut kepulangan kakak kami. Kebetulan acara aan dilaksanakan nanti malam. Ibu menyuruh saya pulang hari ini." kata Fahmi. Ia menundukkan kepalanya.
"Memangnya kakakmu habis dari mana?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi terdiam. Ia agak malu untuk memberitahukan yang sebenarnya. Tapi ia juga tak bisa mencari jawaban lain yang sifatnya membohongi Tuan Guru Izzul Islam.
__ADS_1
"Ee..., Dia baru bebas dari penjara, Tuan Guru," jawab Fahmi dengan suara datar.
"Penjara?" Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan keningnya.
"Owh, saya baru ingat. Kalau gak salah ingat, dulu ibumu pernah minta di doakan air. Katanya itu untuk anaknya. Itu saudara sambungmu ya,"
Fahmi menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Abdul Khalik datang membawa segelas kopi panas dan meletakkannya di depan Tuan Guru Izzul Islam.
"Loh, kamu buat baru kopinya, Lik," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat kopi panas di depannya mengeluarkan uap. Abdul khalik tersenyum.
"Maaf, Tuan Guru. Tadi banyak lalat yang masuk di kopi Tuan Guru, makanya saya ganti," jawab Abdul khalik. Ia mundur beberapa langkah. Tuan Guru Izzul Islam menyeruput kopinya.
"Lik, panggil Zaebon, suruh dia antar Ustadz Fahmi pulang," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik menanggukkan kepalanya dan pamit pergi.
Fahmi masih terdiam. Ia sudah terlanjur meminta agar pak Mustarah menjemputnya. Tapi ia tidak berani mengatakannya kepada Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia segera menulis pesan singkat kepada Sulastri agar pak Mustarah membatalkan penjemputannya hari ini.
Matahari sudah tergelincir di tengah-tengah langit. Musim kemarau yang panjang membuat panas begitu terik menyengat.
Tuan Guru Izzul Islam kembali ke kamarnya. Pantulan panas matahari membuatnya tak betah berlama-lama di teras rumah. Ia memilih masuk dan membaringkan tubuhnya di dalam kamarnya. Suasana adem di dalam kamar pelahan mulai terasa ketika AC dinyalakannya.
Pembicaraan dengan Nyai Mustiani beberapa menit lalu kini hadir dan menjadi topik hangat di dalam kepalanya. Niat Nyai Mustiani untuk menjodohkannya dengan anak Tuan Guru pentolan Wahabi, membuatnya kini tak tenang. Sejak ayahnya masih hidup, tak terhitung kalinya mereka terlibat perang dalil terkait masalah agama yang seharusnya tak dibahas karna akan membingungkan umat. Diapun lewat channel Media Yaqin milik pesantren yang di asuhnya, beberapa kali mengeluarkan klarifikasi atas pernyataan-pernyataan menyesatkan yang dilontarkan Tuan Guru Faeshal. Dan jika memang ibunya bersikeras menjodohkannya dengan anak Tuan Guru Faeshal, ia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Ia tak mungkin akan menjadi lunak jika suatu hari nanti, hal-hal yang menjadi perdebatan mereka di masa lalu akan mengarah kepada konflik antara mertua dan menantu.
"Ya, Allah...," desah Tuan Guru Izzul Islam panjang. Dia tak menyangka masalah pernikahannya akan panjang seperti ini. Nyai Mustiani yang sudah lama mengharapkannya menikah, kini sudah sampai kepada keputusannya sendiri. Jika ia menolak, ia akan menghadapi kemarahan ibunya. Dan ia tak menginginkan itu.
Tuan Guru Izzul Islam menselonjorkan kakinya. Ia mengambil tasbihnya dan mulai memutar butirnya satu persatu sambil berzikir.
__ADS_1