
"Kamu mandi dulu sana. Nanti kalau sudah selesai, bangunkan ibu. Ibu mau istirahat sebentar. Ibu capek sekali," kata Sulastri ketika telah sampai di dalam kamar. Ia melepaskan gandengan tangannya. Dia lalu membalikkan tubuh Rianti mengahadapnya. Jilbab Rianti di lepasnya perlahan. Rambut Rianti yang menutupi telinga kanannya di singsingkannya. Ia tersenyum ketika melihat tahi lalat di bawah telinga Rianti. Rianti tersenyum. Sejenak keduanya saling pandang. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.
"Kamu memang pantas untuk Tuan Guru Izzul Islam. Cantik sekali, seperti bule. Cantik di sini, dan di sini juga," kata Sulastri sambil menempelkan telunjuknya di hidung dan dada Rianti. Rianti tersenyum. Sulastri mengusap rambut Rianti dan mengecup keningnya. Setelah itu ia melangkah menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya. Rianti melipat kembali jilbabnya dan meletakkannya di atas meja rias. Setelah itu, ia melangkah menuju kamar mandi.
Sulastri menguap panjang. Gemericik air di dalam kamar mandi seperti sedang meninabobokannya. Tatapan matanya ke arah langit-langit kamar, perlahan mulai meredup.
Sulastri mendesah kesal. Baru saja ia terlelap, suara getar hp di atas meja mengagetkannya. Sulastri mengurut-urut keningnya. Kepalanya terasa pusing. Ia berusaha memejamkan kembali matanya. Tapi kali ini tidak bisa. Kantuknya seperti sudah terbang jauh.
Sulastri kembali mendesah. Perlahan ia bangkit. Ia menoleh ke arah meja, dimana ponselnya dan ponsel Rianti di letakkan. Dia lalu meraih ponsel miliknya dan memeriksa pesan singkat yang masuk. Kosong.
Sulastri kembali membaringkan tubuhnya. Sejenak ia terdiam. Dia jadi memikirkan pesan yang masuk ke ponsel Rianti. Itu membuat matanya semakin terjaga. Tiba-tiba saja ia jadi penasaran. Jangan-jangan itu pesan dari Tuan Guru Izzul Islam. Batinnya penasaran.
Sulastri tersenyum. Ia kembali bangun dan mengambil ponsel milik Rianti. Dia menoleh ke arah kamar mandi. Rianti mandi biasanya lama. Dia tidak akan sempat memergokinya membuka ponselnya.
"Gak apa. Cuma sekali," celetuk Sulastri sembari tersenyum. Ia mulai memeriksa beberapa pesan yang masuk. Pesan terbaru ada di whatsup Rianti.
"Anak seorang pengusaha mesum".
Kening Sulastri mengernyit dalam. Dadanya berdebar-debar. Nafasnya tertahan. Begitu membuka pesan, Wajah Rianti dan Castella langsung muncul. Ia belum mau memutar video itu. Melihat covernya saja, membuat dadanya terasa sesak.
"Ya, Allah. Perbuatan siapa ini," desah Sulastri resah.
Sulastri mengalihkan pandangannya ke arah pesan di bawah video.
"Video ini akan aku sebar luaskan, jika kamu tidak mau memenuhi permintaanku. Jangan berlama-lama. Segera hubungi aku setelah membaca pesan ini.
Sulastri mendesah. Pengirim pesan itu tidak menyertakan namanya. Melihat waktu pengiriman, pesan Video itu sepertinya sudah terkirim satu jam yang lalu. Tepatnya saat mereka sedang berbincang di ruang tamu bersama Tuan Guru Izzul Islam. Pesan kedua yang baru saja masuk, mungkin karna Rianti belum meresponnya.
Sulastri menoleh ke arah kamar mandi. Rianti tak boleh tahu masalah ini. Jangan sampai kebahagiaan yang baru saja dirasakannya hilang begitu saja dan berganti kesedihan. Dia harus mencari cara agar video itu tidak sampai tersebar luas. Apalagi jika sampai diketahui keluarga besar Tuan Guru Izzul Islam. Pengirim video itu juga harus segera ia lacak. Ia butuh teman. Ia segera ingat pak Sahril.
Sulastri segera berdiri. Ia lalu mengambil jilbabnya dan segera keluar kamar.
Detak jantung dan dada yang berdebar cemas mengiringi langkah kaki Sulastri yang tergesa-gesa keluar rumah menuju pos jaga. Pak Mustarah dan pak Bayan yang sedang tidur-tiduran terlihat kaget ketika melihat Sulastri sudah berdiri di depan mereka. Keduanya segera melonjak bangun.
"Pak, Ayo keluarkan mobilnya. Kita ke rumah makan Doyan Medaran sebentar. Kita shalat dan makan di sana nanti,"kata Sulastri. Pak Mustarah segera memasang bajunya dan segera menyalakan mobil yang terparkir di samping pos jaga. Pak Bayan terlihat heran melihat wajah Sulastri yang nampak pucat. Tak berapa lama kemudian, mobil itu segera keluar meninggalkan rumah.
"Pak."
Pak Bayan yang hendak melanjutkan istirahat siangnya menoleh. Rianti terlihat di luar pos jaga. Pak Bayan bergegas keluar menemui Rianti.
"Ya, Non,"
"Ibu kemana, Pak?"
Pak Bayan menggaruk-garuk kepalanya.
"Katanya sih mau ke rumah makan, Non," jawab pak Bayan.
"Rumah makan?" desah Rianti. Ia mengernyitkan keningnya. Tumben Sulastri pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Begitu pentingkah urusannya sampai-sampai ia tidak punya waktu menunggunya selesai mandi? Bahkan ia salah membawa hp. Batin Rianti. Rianti menatap pak Bayan.
__ADS_1
"Apa Ibu gak bilang ada urusan apa?"
"Gak, Non. Kayaknya ibu tergesa-gesa sekali. Mungkin ada urusan penting mendadak kali, Non,"
Rianti terdiam sejenak menundukkan wajahnya. Mencoba menerka urusan penting apa gerangan yang membuat Sulastri tiba-tiba menghilang. Ia kembali mendesah dan menatap pak Bayan.
"Dilanjutkan lagi istirahatnya, Pak. Saya mau masuk," kata Rianti.
"Silahkan, Non."
Rianti membalikkan badannya dan melangkah menuju rumah. Cuaca siang terasa terik menyengat. Matahari benar-benar merajai di atas sana. Dedaunan pohon tabebuya berguguran dan berserakan di halaman rumah.
* ** * *
Sulastri, pak Sahril dan pak Pratama terlihat duduk di salah satu gazebo ditepi sungai. Ketiganya terlihat terdiam menundukkan kepala. Sulastri yang masih gelisah dan cemas, seperti tak tenang dalam duduknya. Sesekali ia berjalan di tepi sungai dan kembali duduk. Minuman dingin yang dihidangkan Retno di depannya hanya diaduk-aduknya saja. Makannya sudah tak berselera walaupun ia merasa lapar. Apa yang baru saja disaksikannya benar-benar mengacaukan pikirannya. Dia sudah menceritakan semuanya kepada pak Sahril dan pak Pratama. Kini keduanya sama-sama masih terdiam mencari jalan keluar. Ia takut pengirim misterius itu keburu menyebarkan video itu.
"Melihat sms itu, saya tetap curiga, ini semua adalah ulah dari pak Jamal. Dia masih tidak menerima jika bu Sulastri yang mengambil alih perusahaan ini. Tapi pertanyaannya, dari mana ia mendapatkan video ini, kalau tidak dari orang yang pernah dekat dengan Non Rianti," kata pak Sahril memulai kembali pembicaraan setelah beberapa saat terdiam. Pak Pratama menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan pak Sahril.
"Sebentar, Pak. Saya baru ingat, sehabis jumat kemarin, Rianti kedatangan Jeri. Apa jangan-jangan dia yang menyebarkannya?" kata Sulastri.
"Bisa jadi, Bu. Setahu saya, Jeri itu tangan kanannya Non Rianti. Bisa saja, Bu," respon pak Sahril serius. Ia seperti telah menemukan titik terang.
"Tapi? Melihat penampilan Jeri yang sudah berubah, saya kok jadi ragu, Pak,"
"Maksud ibu?"
"Penampilannya islami sekali. Tidak seperti Jeri yang dulu,"
"Kita memang harus tetap berbaik sangka, Bu. Tapi kita patut mencurigainya. Segala cara bisa digunakan orang demi kepentingannya."
"Kalau saya boleh usul. Bagaimana kalau ibu menelpon pemilik nomor itu. Buat orang itu mengira bahwa Non Rianti lah yang menelponnya," kata pak Pratama. Sulastri menoleh ke arah pak Sahril.
"Saya setuju dengan usul pak Pratama, Bu. Kita hanya butuh informasi tentang orang itu. Dengan begitu kita bisa mencari cara untuk mengatasinya," kata pak Sahril. Sulastri mengangguk kecil. Ia lalu mengambil ponsel di depannya. Setelah sejenak menunggu orang seberang mengangkat panggilannya, suara berat dari arah seberang terdengar.
"Halo, keponakan bapak. Bagaimana kabarmu, Nak. Sudah lihat videonya?" kata orang di seberang. Kekeh tawanya terdengar menyakitkan telinga. Sulastri menoleh ke arah pak Sahril dan pak Pratama yang tampak saling berbisik.
"Maaf ini siapa," kata Sulastri sambil mencoba meniru gaya bicara Rianti. Jika itu memang pak Jamal, ia yakin tak akan bisa membedakannya.
"Saya ini, Bapakmu, Pak Jamal Wibowo," Jawab pak Jamal dengan nada tegas dan terdengar agak keras. Ia seperti ingin memperdengarkan bahwa saat ini ia sedang di atas angin.
"Kenapa Bapak melakukan ini. Bapak tega sekali sama anak saudara bapak. Dimana hati nurani bapak," kata Sulastri dengan nada tak kalah keras.
"Hei, Rianti. Aku sudah mengajakmu bicara baik-baik, tapi kamu sama sekali tak menghargaiku. Aku hanya menginginkan kamu mengambil hakmu dari wanita ****** itu, tapi kamu sok sudah berubah dan memilih bermusuhan denganku. Sekarang kamu harus tahu sedang berhadapan dengan siapa." Pak Jamal menghentikan kata-katanya sejenak. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi aku masih bisa berbaik hati kepadamu, Rianti. Aku hanya minta kamu menyerahkan perusahaan mutiara yang ada di Segui kepadaku. Aku janji akan langsung menghapus video itu," sambung pak Jamal. Nada bicaranya perlahan semakin menurun. Sulastri terdiam. Ia bergantian menatap ke arah pak Sahril dan pak Pratama. seperti meminta pendapat.
Pak Sahril meminta ponsel itu dari Sulastri.
"Halo, Pak Jamal. Ini dengan pak Sahril."
__ADS_1
Sejenak tak terdengar apapun dari arah seberang.
"Halo. Pak Jamal. Apa pak Jamal masih di sana?" ulang pak Sahril memanggil.
"Aku tidak punya urusan denganmu, Pak Sahril. Dan jangan kira aku takut kamu ikut terlibat membantu Rianti melawanku,"
"Saya tidak punya urusan kamu takut atau tidak, Pak Jamal. Saya hanya berkewajiban menjaga keluarga pak Yulian dan aset-asetnya dari buaya seperti pak Jamal,"
"Kurang ajar kamu, Sahril. Dasar penjilat. Ingat, kalian semua telah menipuku dengan berpura-pura sebagai Rianti. Aku yakin, pelakor itu juga ada di sana. Dasar perempuan ******," kata pak Jamal marah.
"Mari kita selesaikan baik-baik, Pak Jamal. Ingat, Non Rianti itu adalah keponakan bapak. Dia anak dari saudara kandung bapak,"
"Persetan dengan semua itu. Sejak dia memecatku karna lebih mempercayaimu, aku sudah memutuskan hubungan persaudaraanku. Dan jangan harap aku melunak dengan alasan kuno seperti itu. Aku akan tetap menyebarkan video itu," kata pak Jamal. Pak Sahril menggeleng-geleng.
"Pak Jamal tahu apa akibatnya jika ngotot menyebarkan video itu? Pak Jamal akan terjerat undang-undang pornografi. Pikirkan itu, Pak Jamal. Jangan sampai pak Jamal mendekam di penjara. Atau bisa jadi seumur hidup jika saya mengungkit kembali kasus lama pak Jamal," kata pak Sahril mencoba mengancam.
"Aku tidak peduli lagi, Sahril. Yang ada di kepalaku saat ini adalah aku ingin semua keluarga Yulian Wibowo melarat dan sengsara. Termasuk pengikut-pengikutnya. Jadi jangan mengancamku lagi."
Pak Jamal memutuskan pembicaraan. Ketiganya saling pandang. Pak Jamal sepertinya memang sudah tidak peduli dengan perbuatan yang dilakukannya. Sulastri semakin cemas. Air matanya terlihat keluar. Pak Sahril dan pak Pratama sama-sama mendesah.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rianti ketika melihat video ini, Pak. Aku tidak mau dia terluka setelah lima belas tahun mendekam di penjara. Dia sudah terlalu lama menderita," kata Sulastri mulai sesenggukan dalam tangisnya. Pak Sahril dan pak Pratama hanya bisa terdiam. Mereka benar-benar merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Sahril mendesah dan menggelengkan kepalanya.
"Keputusannya ada di tangan ibu dan Non Rianti. Kami hanya bisa membantu memenjarakan pak Jamal jika ia terbukti menyebarkan video itu." Pak Sahril mendesah dengan rasa bersalahnya. Hanya itu jalan keluar yang bisa ia tawarkan sementara waktu kepada Sulastri.
"Itu berarti Rianti harus melihat video ini?" kata Sulastri. Pak Sahril mengangguk. Sulastri menggelengkan kepalanya menolak pendapat pak Sahril.
"Tidak ada jalan lain, Bu. Itu adalah masa lalu non Rianti. Kita berharap non Rianti tabah menghadapinya untuk menyelamatkan marwah keluarga," kata pak Sahril.
Nada dering ponsel terdengar lagi. Sulastri melirik ke arah ponsel. Namanya tertera di layar ponsel. Rianti menelponnya. Sulastri mengusap air matanya. Sejenak ia berusaha menenangkan diri.
"Ya, Nak,"
"Ibu dimana. Kok gak bilang-bilang kalau pergi. Hp nya ketuker lagi," kata Rianti dari seberang. Air mata Sulastri kembali deras mengalir mendengar nada bicara Rianti yang manja. Dia tidak bisa membayangkan wajahnya yang ceria dalam sekejap akan berubah murung. Pernikahannya dengan Tuan Guru Izzul Islam pun akan terancam gagal. Tapi ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Dia tidak mau Rianti curiga.
"Ada urusan sedikit di Rumah makan, Nak. Sebentar lagi ibu pulang,"
"Cepetan, Bu. Rianti gak betah di rumah kalau tidak ada ibu,"
"Baik, ini ibu mau berangkat pulang," kata Sulastri. Ia langsung menutup telponnya. Ia mendesah panjang dan medongakkan wajahnya.
"Kita akan sama-sama mencari jalan keluar, Bu. Saya dan pak Pratama akan mencari dulu keberadaan pak Jamal. Mudah-mudahan hati pak Jamal bisa sedikit lebih melunak," kata pak Sahril. Ia lalu meminta ponsel yang ada di tangan Rianti. Ia kemudian mencatat nomor pak Jamal.
"Tolong usahakan, Pak. Aku juga belum tahu, apakah aku sanggup memberitahukan Rianti masalah ini." kata Sulastri penuh harap. Ponsel di depan pak Sahril diraihnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ia lalu bangkit dan pamit pulang.
Mobil Lycan Hypersport yang membawa Sulastri melaju sedang di jalanan. Sulastri sengaja menyuruh pak Mustarah tidak terlalu cepat mengemudikan mobilnya. Ia kini serba salah dalam kecemasannya. Di satu sisi hatinya tak ingin bertemu Rianti karna merasa tak tega melihat wajah ceria Rianti yang akan segera berubah sedih. Tapi di sisi lain, ia juga tak tega Rianti menunggunya terlalu lama.
"Ya, Allah. Cobaan datang lagi. Beri kekuatan dan kemenangan kepada kami, Ya, Allah," doa Sulastri dalam hati. Bibirnya mulai komat-kamit melafalkan semua zikir yang terlintas di kepalanya. Harapannya hanya satu, Allah akan mengabulkan doanya agar menghalangi niat jahat pak Jamal.
* * * * *
__ADS_1
...Mohon beri penilaian (Bintangnya) untuk perbaikan ke depannya. Trimakasih...