KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#178


__ADS_3

Setelah beberapa jam melewati prosesi pemakaman Nyai Mustiani, orang-orang terlihat mulai keluar dari area pemakaman keluarga yang terletak di dalam komplek pondok pesantren. Orang-orang yang datang dari segala penjuru penuh sesak di dalam pesantren. Mobil dan sepeda motor bahkan memenuhi sepanjang lima ratus meter di depan gerbang pesantren. Area lapang yang sudah disiapkan di belakang pesantren pun sudah tidak menampung jamaah yang hadir untuk memakamkan jenazah Nyai Mustiani.


Rianti sendiri sudah meninggalkan lokasi setelah hanya diberi kesempatan pihak lapas untuk melihat jenazah Nyai Mustiani. Ia didampingi pak Sahril dan pak Pratama segera kembali menuju lapas setelah jenazah Nyai Mustiani dibawa ke tempat pemakaman.


Di ruang tamu, Tuan Guru Izzul Islam yang sedang berkabung, hanya ditemani Sulastri. Tamu-tamu dari pejabat daerah yang ditemaninya beberapa menit yang lalu sudah pergi. Hanya para santri yang masih terlihat lalu lalang di dalam rumah mempersiapkan sesuatu untuk acara zikiran malam pertama meninggalnya Nyai Mustiani nanti malam.


"Nak, kalau memang pondok diliburkan selama tiga hari, ibu ijinkan dulu adikmu pulang. Dik Fahmi akhir-akhir sering keluar untuk mengurusi persiapan pembangunan pondok," kata Sulastri setelah Tuan Guru Izzul Islam menemuinya di ruang tamu, usai menerima para tamu yang berpamitan pulang.


"Dik Farida dan dik Rayhannya sudah dikasih tahu, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil mengusap keringat di wajahnya dengan ujung surbannya.


"Belum. Katanya minta diijinkan dulu," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan melangkah keluar teras. Salah satu santri putri yang sedang membersihkan bekas minuman botol plastik dipanggilnya.


"Kamu panggil Farida dan Rayhan ya. Suruh dia siap-siap pulang," kata Tuan Guru Izzul Islam. Santri itu mengangguk dan segera bergegas pergi. Tuan Guru Izzul Islam kembali menemui Sulastri.


"Nak, kalau nanti kamu mau jenguk istrimu, kasih tahu ibu. Ibu mau ikut," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan. Ia menatap Sulastri.


"Bu, kata Rianti, ibu harus periksa kesehatan ibu dulu. Kami ingin ibu sehat kembali. Dik Fahmi tentu sangat berharap ibu nanti memberinya semangat saat memulai pembangunan pondok pesantren. Ibu ke rumah sakit ya?" kata Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


Sulastri mendesah panjang. Dia terdiam sejenak. Dia menundukkan wajahnya. Rona wajahnya yang pucat tak bisa disembunyikan di balik senyum tipisnya. Apalagi dengan batuk yang mulai terdengar mengganggu kenyamanannya. Dia tidak bisa lagi beralasan kondisinya sedang baik-baik saja.


"Ya, ibu mau, tapi setelah kita menjenguk Rianti," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia nampak senang mendengar kesediaan Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.


"Ini juga amanah dari almarhumah ibu. Beliau berpesan agar aku membawa ibu ke rumah sakit. Ibu berpesan, aku harus merawat ibu seperti aku merawat almarhumah ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Subhanallah, Bu Nyai masih sempat memikirkan kesehatan ibu, padahal beliau juga sedang sakit," kata Sulastri. Kembali terdengar batuk. Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan mengambil botol air kemasan. Setelah membuka tutupnya, ia memberikannya kepada Sulastri.


"Kita tetap mencoba ikhtiar separah apapun penyakit kita. Siapa tahu Allah mengembalikan kesehatan kita dan tentunya kita bisa menggunakannya untuk hal-hal baik," kata Tuan Guru Izzul Islam memberi semangat. Sulastri tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Tuan Guru Izzul Islam dan Sulastri mengalihkan pandangan ke arah pintu. Keduanya tersenyum.


Farida dan Rayhan terlihat berdiri di depan pintu dengan menundukkan wajah. Tuan Guru Izzul Islam menyuruhnya masuk. Dengan malu-malu, keduanya masuk.


"Ayo, kamu berdua salaman langsung sama Kak Tuanmu. Pak Mustarah sudah lama menunggu di luar," kata Sulastri. Farida dan Rayhan yang baru saja hendak duduk mengurungkan niatnya. Keduanya langsung meminta bersalaman dengan Tuan Guru Izzul Islam.


"Loh, kita makan siang dulu, Bu. Kok mau langsung pulang?" kata Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


"Ibu makan di rumah saja, Nak. Ibu juga pingin cepat pulang. Ingin istirahat," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.


"Tapi janji ya, Bu. Besok, setelah kita pulang dari menjenguk dik Rianti, ibu akan langsung saya bawa ke rumah sakit," kata Tuan Guru Izzul Islam.


Sulastri tersenyum. Ia mendesah sangat pelan.


"Iya, ibu janji," kata Sulastri. Dia menyodorkan tangannya kepada Rayhan dan Farida agar membantunya berdiri. Keduanya segera mendekat dan membantu Sulastri berdiri. Tuan Guru Izzul Islam ikut bangkit dan mencium tangan Sulastri.


"Jaga ibu baik-baik, dik Farida, Dik Rayhan," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari mengantar ketiganya keluar ruangan. Pak Mustarah yang sedang duduk menunggu di teras segera bangkit dan bergegas menuju mobil.


* ** * *


Udara siang ini terasa gerah. Nun jauh di seberang, mendung terlihat berarak. Musim penghujan tahun ini begitu panjang. Air berlimpah dimana-mana. Ke setiap mata memandang, pemandangan sekitar sempurna menghijau menyejukkan mata.


Waktu begitu cepat berlalu. Seperti melompat dari satu tempat ke tempat lainnya. Sejatinya tak ada yang berubah. Udara yang kita hirup adalah udara yang sama. Hanya kita yang senantiasa harus merenungi perubahan pada diri kita. Hidup mesti berakhir. Setelah kehidupan di dunia, sudah mesti akan ada kehidupan sebenarnya, dimana kita harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita semasa hidup di dunia. Kita tak muncul begitu saja di dunia ini. Dan Allah tidak menciptakan kita kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Setiap gerakan dari anggota tubuh kita berpotensi mendapatkan pujian dari-Nya ataupun kemarahan-Nya. Pilihannya hanya itu.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2