
Tatapan Sulastri semakin tajam. Melihat mami Zelayin seperti mengejeknya dari balik tubuh kekar Jamblang, hatinya bertambah panas. Gigi-giginya bertautan satu sama lain. Menggemeretak. Tangannya bergetar. Ia menunduk dan mengambil sebuah batu yang tergeletak di tanah. Mami Zelayin terlihat pucat dan segera menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh besar Jamblang. Jamblang menunjuk ke arah Sulastri, matanya menatap tajam ke arah Sulastri, seperti mengancam.
"Ayo, lempar, kalau kamu ingin mendekam lama di penjara. Ingat, anak-anakmu akan menganggapmu hilang selama-lamanya," teriak mami Zelayin sembari mengeluarkan setengah wajahnya dari balik tubuh Jamblang.
Nafas Sulastri bergemuruh. Ejekan Mami Zelayin benar-benar semakin membuat emosinya memuncak.
* * *
Rahima segera melepaskan barang belanjaannya ketika melihat Sulastri berdiri dengan memegang batu, berhadapan dengan Jamblang. Tatapan matanya yang tajam dan seperti hendak mengayunkan batu itu ke arah Jamblang dan Mami Zelayin, membuat Rahima segera berlari ke arah Sulastri.
Rahima memeluk tubuh Sulastri. Ia berusaha menghalangi pandangan Sulastri dari menatap Mami Zelayin. Kepala Sulastri di sembunyikannya di dadanya.
"Ingat Lastri, jangan gegabah. Bukan ini cara menghadapi mereka. Ingat anak-anakmu," bisik Rahima di telinga Sulastri. Perlahan ia mengambil batu yang ada di tangannya. Awalnya Sulastri menolak, namun Rahima terus meyakinkannya bahwa apa yang akan dilakukannya akan berakibat buruk bagi dirinya. Sulastri perlahan melepaskan batu di tangannya.
Sulastri menangis di pelukan Rahima.
Melihat Sulastri sudah mulai tenang, Mami Zelayin perlahan berjalan menuju rumahnya dengan kawalan Jamblang.
Rahima kemudian mengajak Sulastri menuju pondoknya. Sulastri menghela nafas panjang. Ia berusaha menenangkan dirinya walaupun sesekali menoleh ke arah pondok Mami Zelayin.
* * *
__ADS_1
Sebuah mobil kijang warna silver terlihat berhenti di depan pintu masuk. Jamblang yang baru saja kembali ke pos jaganya, segera beranjak. Ia kaget karna baru kali ini ada mobil memasuki kawasan itu. Begitu juga dengan Mami Zelayin, ia segera keluar dan melihat dari kejauhan. Seorang laki-laki berkaos putih terlihat keluar dari dalam mobil. Ia masih berdiri di depan pintu gerbang yang tersembuyi di balik rimbun pohon. Dia membuka kaca mata hitamnya ketika melihat Jamblang hanya berdiri dan tidak terlihat akan memindah kayu balok yang melintang di depan gerbang.
"Hei, kenapa kamu berdiri saja, pindahkan kayu ini." katanya keras kepada Jamblang. Merasa dibentak, Jamblang terlihat marah. Ia melangkah mendekat. Di tatapnya laki-laki di depannya dengan wajah tidak senang.
"Siapa kamu, dan apa keperluanmu datang ke tempat ini,"
Laki-laki itu tersenyum. Dia mengarahkan pandangannya ke arah rumah-rumah panggung yang berjejer di sisi kiri kanan tempat itu.
"Bosmu sangat kenal betul dengan saya, begitu ia tahu aku di sini, dia pasti akan kencing berdiri," kata laki-laki itu berkacak pinggang. Ia kembali memasang kaca matanya dan menatap ke arah Jamblang.
"Beritahu dia, ada tamu penting sedang menunggunya,"
"Katakan dulu, siapa kamu dan apa kepentinganmu ke sini.Jangan sampai aku berbuat yang tidak-tidak kepadamu," ancam Cuplak.
Mami Zelayin yang masih memperhatikan dari kejauhan,terkejut. Ia seperti mengenal suara laki-laki itu. Ia mendesah. Wajahnya terlihat pucat. Ia segera menuruni tangga kayu rumahnya dan bergegas ke arah gerbang.
"Jamblang, pindahkan kayu itu dan biarkan dia masuk," kata Mami Zelayin tergopoh-gopoh. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan tersenyum ke arah laki-laki yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menundukkan badannya meminta maaf.
"Silahkan di masukkan mobilnya, Pak Ahyar," kata mami Zelayin ramah. Laki-laki yang dipanggil pak Ahyar itu mendengus, seperti mengejek. Sejenak ia perhatikan tubuh mami Zelayin dari atas sampai bawah. Ia berdecak menggelengkan kepalanya.
"Ckk,ckk, ckk, tambah montok saja kamu Zelayin. Lama sekali aku tak menyentuhmu," kata pak Ahyar. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke mobilnya.
__ADS_1
"Tapi sayang, aku sudah tak nafsu lagi," katanya lagi sembari masuk ke dalam mobilnya. Mami Zelayin terlihat mencoba menyembunyikan wajah kesalnya di balik seulas senyum di bibirnya.
Mobil kijang itu perlahan masuk ketika balok kayu penghalang telah dipindahkan jamblang.
"Gak usah takut, gak ada orang yang melihatku, wajahmu kok pucat gitu," ledek pak Ahyar ketika mobilnya melewati tempat mami Zelayin berdiri. Mami Zelayin hanya terdiam dan mengikuti mobil hingga berhenti di depan rumah panggung besar. Mama Zelayin menoleh ke arah Sulastri yang duduk di bawah pohon mahoni. Tatapannya terlihat tidak senang saat melihat Sulastri tak henti-henti menatap ke arahnya.
"Mari masuk, Pak," kata Sulastri begitu pak Ahyar keluar dari mobilnya. Ia kemudian mengajak pak Ahyar naik ke atas rumah panggung.
"Jangan repot-repot Zelayin, aku tidak mau kamu terlalu ramah. Aku takut aku lupa dengan tujuanku kemari," kata pak Ahyar ketika telah duduk di atas karpet merah yang digelar mami Zelayin. Ia menoleh kesana kemari memperhatikan beberapa perabotan di dalam ruangan itu. Mami Zelayin hanya menundukkan kepalanya.
"Kaya sekali kamu Zelayin. Luar biasa. Isi rumahmu seperti isi rumah pejabat. Tapi sayangnya, kamu telah membuat kesabaranku habis," kata pak Ahyar. Ia menatap ke arah mami Zelayin. Mami Zelayin mengangkat kepalanya sebentar dan kembali menunduk.
"Maaf, Pak Ahyar, saya belum punya uang, makanya saya takut mengangkat telpon Pak Ahyar." Suara mami Zelayin terdengar serak.
"Aku sudah tidak mau tahu, Zelayin. Batas waktu yang telah aku berikan sudah habis sebulan yang lalu. Aku terpaksa mencarimu karna aku juga tersangkut beban hutan yang banyak. Proyek jembatan yang aku kerjakan membuatku bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa aku andalkan selain uang yang aku pinjamkan kepadamu,"
Mami Zelayin mendesah pendek. Kepalanya terasa berat untuk diangkat. Ia hanya mendehem beberapa kali. Hal itu membuat pak Ahyar semakin terlihat kesal.
"Aku kesini tidak untuk melihatmu diam saja, Zelayin. Aku mau jawaban," kata pak Ahyar. Ia memajukan duduknya lebih dekat dengan mami Zelayin. Ia memegang dagu mami Zelayin dan mengangkatnya. Sejenak, ia perhatikan bibir mami Zelayin yang merona.
Mami Zelayin menahan nafasnya. ia hanya bisa menatap saat bibir pak Ahyar mendekat ke bibirnya. Ia memejamkan matanya saat pak Ahyar mulai mengulum lembut bibirnya.
__ADS_1
Pak Ahyar menarik bibirnya ketika melihat mami Zelayin mulai menikmati ******* bibirnya. Ia tersenyum dan menghentakkan tangannya kuat di dagu mami Zelayin. Mami Zelayin mengaduh. Kuku pak Ahyar melukai dagunya.
"Maaf, Zelayin. Kita kembali ke pembahasan kita. Kapan kamu bisa membayar hutangmu," kata pak Ahyar sembari memundurkan tubuhnya. Mami Zelayin terlihat kesal. Beberapa saat tadi ia merasa pak Ahyar sudah masuk prangkapnya. Ia berharap pak Ahyar mau menidurinya. Dengan itu, ia akan memberinya kelonggaran membayar hutangnya.