
Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya sejenak. Dadanya masih saja berdebar menjelang dimulainya akad nikah. Bahkan peci hitam yang dipakainya sudah beberapa kali di perbaiki posisinya. Walaupun akad nikahnya malam ini hanya disaksikan para santrinya, kerabat dekat dan beberapa petugas dari KUA, tapi ia tetap saja merasa grogi.
Suara pintu diketuk di iringi suara salam. Tuan Guru Izzul Islam meraih sorban yang ia letakkan di atas meja cermin. Ia lalu meletakkannya di pundaknya. Sejenak ia memandang wajahnya sendiri di depan cermin. Ia tersenyum.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya. Setelah itu ia berbalik dan melangkah menuju pintu.
"Ada apa, Lik," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Abdul khalik berdiri menundukkan kepala di depan pintu.
"Ditunggu bu Nyai Sulastri, Tuan Guru," kata Abdul khalik.
"Baik, kamu duluan ya, nanti aku menyusul,"
"Baik, Tuan Guru,"
* * * * *
Pak Nurasmin memasang jas warna hitam yang dibawakan bu Sofia. Bu Sofia masih berdiri memperhatikan pak Nurasmin yang sedang memasang satu persatu kancing jasnya. Setelah selesai, bu Sofia memberikan pak Nurasmin peci hitamnya.
"Bagaimana, Bu. Apa ibu jadi ikut?" kata pak Nurasmin. Bu Sofia mendesah. Ia menoleh kearah kamar Layla. Dia nampak resah.
"Kayaknya gak, Pak. Ibu khawatir sama Layla. Ibu curiga, dari tadi dia mencari tali rapia. Apa jangan-jangan anakmu mau bunuh diri ya, Pak," kata bu Sofia.
"Hus! ibu ngomongnya sudah ngelantur. Gak boleh berkata seperti itu, Bu," kata pak Nurasmin. Ia menatap tajam bu Sofia.
"Bukan begitu, Pak. Setiap kali ibu tanya, dia tidak pernah jawab ibu. Ibu titip salam saja sama Nak Izzul," kata bu Sofia.
"Bapak yakin Layla sudah berubah. Menurut Bapak , dia tidak akan terpengaruh jika kak tuannya nikah lagi,"
"Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, Pak. Pokoknya ibu gak mau ikut," kata bu Sofia.
__ADS_1
Pak Nurasmin mendesah. Melihat wajah bu Sofia yang terlihat cemas, ia juga terlihat mulai cemas. Ia menatap bu Sofia sejenak lalu ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Pecinya juga ia lepaskan di atas meja sembari mendesah panjang.
Bu Sofia mengernyitkan keningnya. Ketika melihat pak Nurasmin mulai membuka satu persatu kancing jasnya, bu Sofia segera duduk.
"Loh, Pak. Kenapa dilepas?" kata bu Sofia heran sambil menahan tangan pak Nurasmin.
"Kayaknya bapak gak usah pergi, Bu. Bapak kok ikut khawatir mendengar cerita ibu. Biar kita telpon saja nanti Nak Izzul mengenai alasan kita tidak kesana,"
"Gak usah, Pak. Biar ibu yang menjaga Layla. Bapak gak usah khawatir."
Pak Nurasmin menatap bu Sofia. Bu Sofia tersenyum mencoba meyakinkan pak Nurasmin. Pak Nurasmin mendesah. Ia mengambil kembali peci di atas meja. Bu Sofia sendiri langsung memasangkan kembali kancing jaz pak Nurasmin.
"kalau begitu ibu langsung cari si Layla sana. Bila perlu malam ini ibu tidur di kamarnya," kata pak Nurasmin. Bu Sofia mengangguk. Setelah menyalami pak Nurasmin, ia bergegas menuju kamar Layla. Tapi baru saja selangkah ia melangkahkan kakinya, pintu kamar Layla terbuka. Layla muncul dan berlari tergesa-gesa dengan membawa sebuah bingkisan ke arah pak Nurasmin.
"Pak, mau berangkat, Pak," kata Layla. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Pak Nurasmin dan bu Sofia sama-sama mengerutkan dahinya menatap heran. Mereka saling berpandangan.
"Apa ini, Nak?" tanya pak Nurasmin.
"Alhamdulillah, Bapak kira kamu akan kembali seperti dulu lagi,Nak. Bapak hampir saja gak pergi menyaksikan akad kak Tuanmu,"
"Loh, memangnya kenapa, Pak,"
Pak Nurasmin menatap bu Sofia.Bu Sofia hanya tersenyum.
"Tuh ibumu, dia mengkhawatirkanmu." Pak Nurasmin menunjuk ke arah bu Sofia. Bu Sofia hanya tersenyum.
"Gak apa-apa, Pak, Bu. Bapak dan ibu pergi pun Layla tidak akan apa-apa,"
"Tidak, Nak. Ibu biar disini saja menemani kamu. Ibu bisa datang lain hari menjenguk kak Tuanmu. Tapi kalau kamu mau ikut, ibu juga ikut," kata bu Sofia sambil merapikan rambut Layla yang sesekali menutup matanya.
__ADS_1
"Gak usah, Bu. Layla masih asa tugas yang belum Layla selesaikan," kata Layla. Bu Sofia tersenyum. Kepala Layla diusapnya lembut.
Setelah ia merasa Layla baik-baik saja, pak Nurasmin akhirnya keluar menuju mobilnya. Layla mengikutinya dari belakang sambil membawakan kado yang ia buat untuk Tuan Guru Izzul Islam.
"Pak, titip salam sama Kak Tuan ya. Insya Allah, Layla akan kesana setelah lulus nanti," kata Layla sambil tersenyum malu. Pak Nurasmin mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum. Kado di tangan Layla diambilnya dan dimasukakannya ke dalam mobil.
"Ayo, Kamu masum sana. Temani ibumu,"kata pak Nurasmin. Layla mengangguk. Setelah mobil yang dikendarai pak Nurasmin keluar dari halaman rumah, Layla segera menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam rumahnya.
* * * * *
Para santri serempak membaca shalawat Badar ketika Tuan Guru Izzul Islam terlihat menaiki tangga masjid. Kepala KUA dan segenap perangkat desa dan beberapa pengurus pesantren yang ada di dalam masjid, tanpa dikomando langsung berdiri menyambut kedatangan Tuan Guru Izzul Islam. Di belakangnya mengiring Abdul khalik dan Zaebon. Tak beberapa lama kemudian setelah Tuan Guru Izzul Islam duduk, Sulastri muncul dengan menggandeng menggandeng Jamila yang nampak anggun memakai gaun berwarna putih. Sulastri lalu mendudukkan Jamila di samping Tuan Guru Izzul Islam.
"Bagaimana, Tuan Guru. Apa acaranya sudah bisa kita mulai?" kata kepala KUA setelah merengsek lebih dekat ke tempat duduk Tuan Guru Izzul Islam.
"Silahkan, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam mempersilahkan. Tuan Guru Izzul Islam dan kepala KUA kemudian sama-sama memperbaiki posisi duduknya dengan satu lutut diangkat. Kepala KUA menjabat erat tangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Tapi maaf, Tuan Guru. Saya mungkin tidak akan menyebut gelarnya Tuan Guru. Sekali lagi saya mohon maaf," kata kepala KUA setengah berbisik. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Oh ya, gak apa-apa, Pak. Silahkan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Kepala KUA mengambil nafas panjang.
"Bismillahirrahmanirrahim. Izzul Islam bin tgh. Lalu liwaul Hamdi, aku nikahkan kamu dengan Jamila binti Muhammad Tayib almarhum dengan maskawin seperangkat alat shalat dan emas tiga gram dibayar tunai,"
"Aku terima nikahnya Jamila binti Muhammad Tayib dengan maskawin seprangkat alat shalat dan emas tiga gram tunai,"
Sah..., sah..., sah...
Terdengar suara riuh para santri yang antusias menyaksikan akad nikah Tuan Guru Izzul Islam. Suasana kembali riuh saat Tuan Guru Izzul Islam menyerahkan maskawin kepada Jamila. Tangis haru Jamila tak terdengar oleh riuh para santri yang ikut berbahagia dengan berakhirnya akad nikah Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila.
Melihat Jamila menangis, Sulastri yang ada di belakang Jamila segera mendekat. Pungung Jamila kemudian diusapnya lembut. Melihat tangis Jamila tak kunjung juga berhenti, Tuan Guru Izzul Islam membisiki Sulastri untuk membawa Jamila meninggalkan tempat acara.
__ADS_1
"Perhatian, untuk santriwan dan santriwati sudah bisa meninggalkan tempat acara. Panitia sudah menyiapkan prasmanan di asrama masing-masing. Jadi kami persilahkan para santri menuju asrama masing-masing. Terimakasih." Para santri kemudian membubarkan diri setelah mendengarkan pengumuman dari panitia acara. Satu persatu para tamu yang ada di dalam masjid berdiri dan menyalami Tuan Guru Izzul Islam, mengucapkan selamat.