
"Bu Rianti, silahkan, sudah ditunggu Tuan Guru," kata petugas jaga mengingatkan Rianti. Rianti yang masih sibuk memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas, mengangguk. Ia mencoba menahan ringisan akibat rasa sakit yang datang lagi di balik senyum kecilnya. Tiba-tiba saja ia merasakan otot rahimnya terasa mengencang dan mengendur. Ia merasakan rasa nyeri dan sakit di pinggang dan punggungnya sejak jam 3 tadi malam setiap lima menitnya. Itu membuatnya harus mengubah posisi duduknya berulangkali untuk meringankan nyeri dan rasa sakit di punggung dan pinggangnya. Benar-benar keadaan yang membuatnya tak nyaman. Pakaian yang belum sepenuhnya ia lipat dan masukkan ke dalam tas akhirnya dibiarkannya menumpuk.
Rianti masih meringis kesakitan ketika berusaha bangkit dari duduknya. Ia terdiam sejenak. Ada sesuatu yang terasa mengalir di ***********. Rianti menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan. Rianti meraba pelan ke arah selangkangannya. Ia mendesah resah ketika melihat cairan bening di kedua jarinya.
Rianti menoleh ke arah samping. Rasa sakit semakin terasa. Dia menyesalkan kenapa petugas itu pergi meninggalkannya, atau setidak-tidaknya dia mengijinkan Jamila masuk dan membantunya berjalan.
"Pak, ada orang disana?" kata Rianti setengah berteriak. Ia mendesah. Mungkin panggilannya terlalu lemah sehingga tak ada yang mendengarnya. Rianti kemudian memutuskan untuk berjalan dengan bersandar di dinding ruang.
Rianti tersenyum lega ketika hampir sampai di pintu selnya, Jamila terlihat di ujung lorong pintu masuk lapas. Melihat Rianti yang meringis kesakitan, Jamila menengok ke arah pintu memanggil Tuan Guru Izzul Islam yang sedang berbicara dengan petugas lapas.
"Kak Tuan, Rianti," kata Jamila setengah berteriak. Ia lalu berlari menuju Rianti. Demikian juga dengan Tuan Guru Izzul Islam dan petugas yang bersamanya. Keduanya segera masuk menyusul Jamila.
"Ya Allah, air ketubannya pecah," kata Jamila ketika melihat ************ Rianti basah saat memegang tubuhnya. Tuan Guru Izzul Islam yang sudah berada di dekat Rianti segera mengangkat tubuh Rianti dan membopongnya. Dia segera berlari menuju mobil.
"Bon, kita langsung ke rumah sakit," kata Tuan Guru Izzul Islam kepada Zaebon yang sigap membuka pintu mobil ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam membopong tubuh Rianti.
"Pak, maaf, kami tergesa-gesa. Assalamualaikum," kata Tuan Guru Izzul Islam seraya mengangkat tangannya ke arah petugas saat mobil mulai bergerak meninggalkan lapas. Petugas itu tersenyum sambil membalas lambaian tangan Tuan Guru Izzul Islam.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam menunggu harap-harap cemas sambil terus berdoa di luar ruangan tempat Rianti melahirkan. Tuan Guru Izzul Islam urung menemani Rianti melahirkan karna Jamila memohon agar dia yang menggantikannya menemani Rianti di dalam. Dia masih menunggu penuh kegelisahan suara bayi yang akan keluar dari rahim Rianti. Setiap petugas yang keluar dari ruangan itu tak luput dari pertanyaannya seputar keadaan Rianti. Menunggu beberapa jam membuatnya semakin gelisah. Hingga beberapa lama kemudian, tangisan bayi yang ditunggu-tunggunya akhirnya terdengar. Senyum kebahagiaan mengembang dari bibir Tuan Guru Izzul Islam. Kedua bola matanya merona ceria. Ia bangkit dan berdiri di depan pintu, menunggu seseorang keluar dari ruang bersalin itu.
"Selamat ya, Pak. Ibu dan bayinya alhamdulillah selamat. Silahkan," kata salah seorang perawat ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam berdiri di depan pintu. Ia lalu mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam masuk.
"Selamat Kak, bayinya laki-laki," kata Jamila sambil memperlihatkan bayi yang ada dalam gendongannya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sembari tak henti-henti mengucap syukur. Ia lalu mendekati Rianti yang terbaring lemah namun tetap dengan senyumannya. Kening Rianti diciumnya lama.
"Terimakasih, istriku. Semoga Allah memberimu pahala berlipat-lipat atas kelelahanmu ini," bisik Tuan Guru Izzul Islam di telinga Rianti. Rianti tersenyum dan balas mencium kening Tuan Guru Izzul Islam.
Jamila mendekat ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan menyodorkan bayi itu. Dengan penuh hati-hati, Tuan Guru Izzul Islam menggendong bayi itu. Setelah puas menciumnya, ia lalu mengadzankan dan mengiqomahkannya di telinga kanan dan kiri si bayi.
Rianti memberi isyarat kepada Jamila agar mendekat. Dia menyuruh Jamila duduk di dekatnya bersandar. Salah satu tangannya dilingkarkannya di pinggang Jamila. Keduanya tersenyum ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam mondar-mandir kesana-kemari menggendong bayinya sambil membacakannya shalawat.
"Terimakasih telah menjaga suami kita," kata Rianti sambil mencolek perut Jamila. Jamila yang merasa geli sedikit melonjak. Dia melirik Rianti dan mencubit lembut dagunya.
__ADS_1
"Tidak hanya Tuan Guru, mulai hari ini aku yang akan mengurusmu dan bayi kita," kata Jamila. Dia meraih tangan Rianti dan menciumnya.
"Kalau kamu setuju, bagaimana kalau aku panggil kamu Kakak."
Rianti tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kita akan tetap seperti biasanya. Tak ada kakak, tidak ada adik. Kita adalah istri-istri dari suami kita. Aku lebih nyaman kita saling memanggil dengan nama kita masing-masing. Biar saja anak-anak kita yang memanggil kita dengan panggilan Ummi," kata Rianti. Jamila kembali tersenyum.
Rianti menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang nampak tersenyum dan mengajak bayi di tangannya bicara. Bayi itu terdengar menangis. Melihat itu, Jamila segera bangkit dan mendekat. Bayi dalam gendongan Tuan Guru Izzul Islam diambilnya.
"Sudah waktunya minum susu. Sabar ya ayah baru?" kata Jamila sambil tersenyum melirik ke arah Rianti. Bayi di gendongannya kemudian diserahkannya kepada Rianti. Rianti segera menyusui bayinya. Tuan Guru Izzul Islam ikut mendekat dan duduk di samping Rianti.
"Kak Tuan, apa ibu sudah dikasih tahu kalau kita ada di rumah sakit?" tanya Rianti setelah beberapa lama Tuan Guru Izzul Islam duduk di sampingnya. Tuan Guru Izzul Islam nampak kaget dan langsung memegang saku bajunya. Hp di dalamnya saku bajunya segera dikeluarkannya.
"Astaghfirullah, Aku sampai lupa, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia langsung mencari nomor Fahmi.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Fahmi yang dihubungi tidak juga mengangkat panggilannya. Ia kemudian memutuskan untuk mengirimkannya sms.
"Oya, Dik. Tadi sebenarnya ibu mau ikut menjemputmu, tapi karna kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan, terpaksa tidak kita ikutkan. Ibu setuju, tapi ada syaratnya. Aku harus mengijinkanmu menginap di rumah ibu malam ini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia mencubit lembut pipi bayi yang sedang menyusui.
"Tapi Rianti belum bisa pulang malam ini, Kak Tuan. Perawatnya bilang, Rianti harus menunggu satu malam dulu di sini," sahut Jamila. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk kecil.
* * * * *
"Pak Bayan, apa pak Bayan lihat hp saya?" tanya Fahmi ketika keluar dari mengajar. Pak Bayan tersenyum. Ia masuk ke dalam pos jaga dan mengambil ponsel di atas meja. Ia kembali keluar dan memberikannya kepada Fahmi.
"Eh, Kenapa gak diangkat, Pak. Tadi Kak Tuan menelpon," kata Fahmi ketika melihat nama Tuan Guru Izzul Islam tertera di daftar panggil.
"Saya baru saja dari dapur Ustadz. Saya gak tahu kalau ada yang nelpon," jawab pak Bayan. Fahmi kemudian menelpon balik Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi tersenyum sambil menggaruk-garuk punggung lehernya, ketika Tuan Guru Izzul Islam mengucap salam terlebih dahulu dari seberang sana.
"Waalaikum salam, Maaf, Kak Tuan. Tadi saya lupa bawa hp. Ada apa, Kak Tuan," kata Fahmi.
"Sudah baca sms belum," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi kembali tersenyum cengengesan.
__ADS_1
""Aduh, saya juga belum sempat buka sms, Kak Tuan,"
"Belum kawin sudah pelupa." Terdengar suara lain dari arah seberang. Fahmi tersenyum. Itu pasti suara Rianti.
"Eh, Kak Rianti, bagaimana kabarnya? Kak Tuan kok gak bawa Kakak ke rumah. Ibu nunggu loh," kata Fahmi.
"Titip salam dulu sama ibu. Mungkin malam ini Kakak nginep dulu di rumah sakit." Fahmi mengernyitkan keningnya.
"Rumah sakit? Apa yang terjadi, Kak," tanya Fahmi. Ia mulai terlihat cemas.
"Alhamdulillah, Kakak sudah lahiran, Dik."
Wajah Fahmi yang sesaat tadi cemas seketika berubah ceria kembali. Ia terlihat senang.
"Bagaimana keponakanku, Kak. Superman atau wonder women,"
Terdengar beberapa suara tawa dari arah seberang.
"Kamu ada-ada saja. Cowok dong," jawab Rianti.
"Asyik, calon ustadz nambah lagi. Ibu pasti senang mendengarnya,"
"Cepat kasih tahu ibu sana biar ibu tidak terlalu menunggu lama. Titip juga permintaan kak tuan karna tidak bisa membawa kakak pulang malam ini. Insya Allah, besok malam Kakak nginep di sana," kata Rianti.
"Baik, Kak. Kalau begitu aku langsung menghadap ibu dulu. Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," Terdengar jawaban serempak dari arah seberang.
Suara detak jam menguasai dengan gemanya di dalam ruangan. Sebelum masuk ke dalam rumah, Fahmi terlebih dahulu menyulut rokoknya dan duduk diteras rumah. Sebungkus rokok di atas meja teras rumah mengalihkan perhatiannya untuk langsung masuk menemui Sulastri.
Fahmi mengetuk pelan kamar Sulastri sambil mengucap salam. Hal yang selalu ia lakukan walaupun ia tahu pintu kamar itu tak pernah terkunci. Ia hanya tak ingin mengagetkan Sulastri. Biasanya kalau Sulastri tak menjawab, ia pasti sedang tidur. Dengan itu ia bisa mengatur gerakannya agar tidak membangunkan Sulastri saat memasuki kamar.
Setelah memastikan tak ada jawaban dari dalam kamar, Fahmi dengan sangat hati-hati membuka pintu.
__ADS_1
Ia menoleh menoleh ke setiap sudut kamar ketika tak mendapati Sulastri di atas tempat tidurnya.
Fahmi menutup kembali pintu kamar. Tatapannya kini terarah ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Ia melangkah. Tapi sebelum ia benar-benar dekat dengan kamar mandi, Ia menoleh ke arah tempat tidur. Fahmi terperanjat kaget ketika melihat tubuh Sulastri tergeletak di lantai, dengan setengan badan berada di kolong tempat tidur.