
Perlahan sorot dari proyektor yang di putar di dinding memperlihatkan sosok lima orang laki-laki berpeci hitam yang sedang duduk di sebuah ruangan luas bercat putih. Mereka duduk bersila di atas karpet warna merah. Tiga laki-laki yang ada di dalam video adalah wajah-wajah yang tak asing di mata orang-orang yang hadir.
Pak Sahril mengambil remote dari tangan pak Pratama dan menjeda video. Ia menoleh ke arah Castella yang masih berdiri bersedekap. Di dekatnya, Rianti menempel di badannya.
" Ini adalah video yang diambil di rumah saya, tepatnya tiga hari sebelum pernikahan pak Yulian dengan bu Sulastri. Tentu saudara-saudara sudah tidak asing dengan wajah pak Wali kota kita." Pak Sahril menzoom sosok seorang pria berkaca mata dengan baju koko putih yang duduk di dekat pak Yulian Wibowo.
"Perekaman video ini juga atas perintah langsung dari pak Yulian. Pak Yulian ingin seluruh staf melihat video ini suatu hari nanti. Aku kira inilah saat yang tepat untuk memperlihatkannya kepada ibu dan saudara-saudara yang hadir pada hari ini." Pak Sahril kembali memencet tombol remote. Pandangan mata orang-orang di dalam ruangan tertuju ke arah layar yang membentang di dinding.
Di dalam video, terlihat Yulian Wibowo sedang mengarahkan pandangannya ke arah kamera.
"Assalamualaikum wr wb. Saudara-saudaraku yang berbahagia. Kiranya penting untuk saya sampaikan beberapa keputusan yang telah saya ambil terkait dengan masa depan perusahaan ke depannya. Antara lain, bahwa dengan ini saya menunjuk istri saya Sulastri Wibowo sebagai pengganti saya dalam pengelolaan perusahaan.
Brak!
Castella mengangkat kursi di depannya dan membantingnya keras di atas meja. Aksinya membuat orang-orang terkejut.
"Lelucon macam apa yang kamu buat ini , Sahril. Ini mustahil. Benar-benar tidak mungkin. Kalian sudah bersekongkol. Kalian semua penipu," teriak Castella.
"Hei, Sahril! Berapa kali kamu tidur dengan pelacur itu sehingga kamu begitu pintar membuat sandiwara ini," teriak Rianti ikut-ikutan mengarahkan telunjuknya ke arah pak Sahril. Tidak hanya itu ia juga meludah hingga mengenai jaz milik pak Sahril. Buru-buru pak Pratama mengeluarkan sapu tangannya dan segera membersihkannya. Ekspresi wajah pak Sahril yang tadinya tenang dan penuh senyum, kali ini berubah merah. Kali ini ia merasa harus marah. Kata-kata Castella dan Rianti sudah sangat menghinanya.
"Jangan sampai saya menuntut ibu karna telah menuduh yang tidak-tidak terhadap saya dan bu Sulastri," kata pak Sahril dengan nada mengancam. Castella tersenyum ketus.
__ADS_1
"Kamu sudah berani melangkah terlalu jauh, Sahril. Kami mencurigai adanya hubungan gelap antara kamu dan pelacur itu."
Pak Sahril menghela nafas panjang. Ia mencoba menenangkan diri dan berusaha tak terpengaruh kata-kata provokatif Castella dan Rianti. Ia memilih duduk.
"Bapak-bapak, silahkan duduk. Saya kira kita sudah tidak perlu menjelaskan lagi. Kita akan menunggu pemimpin baru kita. Kita akan memulai rapat pertama kita hari ini," kata pak Sahril. Castella tersenyum dan menarik salah satu kursi di sampingnya. Ia lalu duduk. Rianti berdiri di belakangnya.
"Jangan harap dia bisa masuk ke tempat ini," kata Castella.
"Rianti, perintahkan Mohan dan Jeri berjaga di depan pintu. Jangan sampai ada yang masuk lagi ke ruangan ini," perintah Castella kepada Rianti. Rianti menoleh ke arah Mohan dan Jeri yang masih berdiri jauh di belakang mereka.
"Tunggu!" Castella menoleh ke arah Jeri.
"Jeri, kamu pergi sana. Panggil orang-orangmu dan bawa kesini. Orang-orang ini memang tidak perlu di kasihani. Mereka harus di hajar,"
Jeri pun keluar, tapi itu hanya sebentar saja. Ia kembali masuk ke dalam ruangan dengan wajah ketakutan. Melihat itu, Rianti segera menarik tangannya kasar.
"Ada apa. Kenapa kamu kembali lagi," Bisik Rianti dengan nada marah.
"Maaf, Non. Di luar ada banyak polisi, dan..., eee...," kata Jeri ragu. Ia menoleh ke belakang. Keluar pintu.
Rianti berjalan ke arah pintu dan membukanya perlahan.
__ADS_1
Rianti terperangah. Ia mematung seperti patung menatap ke luar pintu. Merasa suasana tiba-tiba berubah sepi, Castella membalikkan tubuhnya.
Seorang perempuan cantik berambut sebahu dengan stelan jaz warna biru terlihat berjalan begitu anggun dengan ketukan teratur ujung high heel warna yang sama dengan jaz yang dipakainya. Ia terlihat begitu tenang melangkah menuju ke arah ruangan. Di belakangnya, beberapa orang petugas dari kepolisisan mengawalnya di belakang. Castella menatap bengong. Orang-orang di dalam ruangan serempak berdiri. Rianti yang berdiri di dekat pintu segera menyingkir.
Sulastri tersenyum ketika suara tepuk tangan terdengar serempak ketika ia telah sampai di dalam ruangan. Beberapa polisi yang mengawal segera menutup tubuh Sulastri hingga sampai di kursi putar dekat pak Sahril.
Castella menatap marah.
"Jangan coba-coba menduduki kursiku, Perempuan ******. Aku bunuh kamu."
Sulastri urung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Ia tersenyum dan menatap ke arah Castella.
"Maaf, Castella. Masamu telah berakhir. Kamu sudah tidak punya kuasa apa-apa lagi atas diriku. Aku bisa saja menyuruh orang-orang untuk membunuhmu. Posisiku saat ini sebagai orang penting baru di perusahaan ini, memungkinkanku untuk melakukannya. Tapi, aku tidak mau. Aku masih mengasihimu karna aku tidak punya hati seperti dirimu."
Sulastri menoleh ke arah Jeri dan Mohan. Ia menatapnya penuh kebencian.
"Pak, tolong tangkap dua orang itu atas tuduhan pemerkosaan." Empat orang petugas polisi segera menangkap tubuh Jeri dan Mohan. Keduanya hendak berontak. Tapi petugas segera memborgol tangannya.
Castella mengangkat kursi tempatnya duduk dan hendak melemparkannya ke arah Sulastri. Rianti sendiri berlari ke arah Sulastri hendak melabraknya, tapi beberapa orang di dalam ruangan segera memegang tubuh keduanya. Keduanya berteriak dan berontak minta dilepaskan.
"Bangsat! Lepaskan aku. Kalian akan menerima akibat dari perbuatan kalian. Cepat!Lepaskan aku keparat," ronta Castella. Begitupun juga dengan Rianti.
__ADS_1
"Dan satu lagi, bu Castella. Ibu dan non Rianti hanya berhak atas rumah di jalan Cempaka. Kami akan mengirim barang-barang milik Ibu yang ada di rumah jalan Daha Pandan wangi. Rumah itu adalah milik sah ibu Sulastri," kata pak Sahril. Hal itu membuat Castella semakin sakit hati. Tubuhnya yang tak kuat lagi karna dipegang kuat beberapa laki-laki, membuatnya hanya bisa menatap tajam. Nafasnya seperti gemuruh. Wajahnya memerah. Karna tak bisa lagi menumpahkan kemarahannya, ia pingsan.
"Kurang ajar, kalian apakan mamaku. Lepaskan aku. Lepaskan!," teriak Rianti ketika melihat Castella lemas tak sadarkan diri. Pak Sahril mendesah. Tak mau Rianti terus berteriak, Ia memerintahkan petugas kepolisian untuk membawa mereka keluar.