KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#247


__ADS_3

Pagi ini matahari yang tadinya bersinar cerah, mulai ditutupi awan hitam yang berarak perlahan dari arah utara dan menyelubungi langit di ufuk timur. Gerimis terdengar mulai turun. Layla yang hendak pergi berziarah ke makam Nyai Mustiani dan Sulastri, bersama pak Nurasmin dan bu Sofia terpaksa harus mengurungkan niatnya. Gerimis yang beberapa lama turun perlahan berganti hujan yang turun dengan derasnya. Walaupun mereka akan menggunakan mobil, tapi penglihatan pak Nurasmin yang bermasalah, apalagi dengan jarak pandang yang kurang satu meter saat hujan lebat seperti itu, membuat mereka sepakat untuk menunggu sampai hujan reda.


Sambil menunggu hujan reda, Layla memilih masuk ke dalam kamarnya dan menyibukkan dirinya memutala'ah kembali hafalan Al-qur'annya. Sementara pak Nurasmin dan bu Sofia memilih duduk di ruang tamu.


"Bu, apa ibu gak dengar ada suara klakson mobil di luar sana," kata pak Nurasmin dengan agak keras karna suara hujan yang berisik. Bu Sofia menoleh ke arah kaca jendela ruang tamu. Sepertinya ia melihat ada mobil sedan warna hitam yang terparkir tepat di depan gerbang rumah. Bu Sofia bangkit dan berdiri di depan pintu.


"Pak, sepertinya ada mobil di luar. Coba diperiksa dulu, Pak. Mungkin pemiliknya mau berteduh," kata bu Sofia tanpa menoleh. Pak Nurasmin segera bangkit. Ia lalu melangkah mendekat. Pintu mobil bagian depan terlihat di buka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi keluar dengan membawa payung dan melangkah ke pintu mobil sebelahnya. Tak beberapa lama kemudian, dia terihat memayungi seorang laki-laki paruh baya berjenggot. Keduanya berdiri di depan gerbang. Laki-laki paruh baya itu mengangkat kedua tangannya.


"Bu, ambilkan Bapak payung. Sepertinya orang itu mau masuk," kata pak Nurasmin. Bu Sofia segera bergegas mengambilkannya payung. Setelah itu, pak Nurasmin segera keluar dan berlari-lari kecil menuju gerbang.


"Mau cari siapa, Pak," tanya pak Nurasmin sambil memperhatikan dengan seksama wajah laki-laki paruh baya di depannya. Wajah laki-laki itu sepertinya tidak asing di matanya.


"Saya mau ketemu Bapak. Bapak Pak Nurasmin kan?" kata laki-laki itu. Pak Nurasmin mengangguk dan segera membukakan pintu gerbang. Ia lalu mempersilahkan keduanya masuk.


"Bu, buatkan kopi untuk tamu kita," kata pak Nurasmin setibanya di ruang tamu. Setelah membersihkan sofa dan meja, ia mempersilahkan kedua tamunya duduk. Pak Nurasmin fokus mmperhatikan wajah laki-laki paruh bayu yang masih sibuk membersihkan mukanya dengan sapu tangannya. Ia yakin mengenal laki-laki itu, tapi ia masih ragu.


"Maaf, kalau kami membuat Bapak bingung." Laki-laki itu memasukkan sapu tangannya di saku jasnya. Ia tersenyum ke arah pak Nurasmin.


"Saya ini kepala MUI Provinsi Nusa Tenggara Barat, Haji Nur Asikin," sambung laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya mengajak pak Nurasmin bersalaman. Pak Nurasmin mendesah. Ia tersenyum. Rasa penasarannya hilang sudah. Dia baru ingat. Dia sering melihat laki-laki itu di TV Lombok. Dia sering tampil dalam kajian Ramadhan menjelang berbuka puasa.


"Astaghfirullahal Adzim, maafkan saya, Tuan Guru. Maaf kalau saya dari tadi Tuan Guru lihat memperhatikan Tuan Guru. Saya merasa kenal tapi agak ragu. Soalnya gak nyangka sekali Tuan Guru akan mampir di rumah saya," kata pak Nurasmin tersipu malu.


"Gak apa-apa, Pak. Malah saya yang harus minta maaf karna datang mendadak seperti ini," kata Tuan Guru Nur Asikin.


"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, Tuan Guru sudah kemana?" tanya pak Nurasmin. Tuan Guru Nur Asikin tersenyum. Ia memperbaiki posisi duduknya.


"Saya tidak kemana-mana, Pak. Tujuan saya memang berkunjung ke rumah Bapak," kata Tuan Guru Nur Asikin. Pak Nurasmin mengernyitkan keningnya. Ia kemudian tersenyum malu.


"Kalau boleh tahu, ada apa ya, Pak. Saya kok jadi takut," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Nur Asikin tersenyum.


"Biasa saja, Pak. Gak ada apa-apa, Pak. Cuma sekedar silaturrahim saja," jawab Tuan Guru Nur Asikin.


Sejenak pembicaraan mereka terhenti saat bu Sofia muncul membawa minuman.


"Ini istri saya Tuan Guru," kata pak Nurasmin memperkenalkan bu Sofia. Bu Sofia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Bu, duduk dulu. Ibu mungkin kenal dengan Tuan Guru," kata pak Nurasmin sambil memegang tangan bu Sofia dan menyuruhnya duduk. Bu Sofia mulai memperhatikan Tuan Guru Nur Asikin. Ia menggaruk-garuk bagian atas telinganya sambil tersenyum.


"Kayak siapa ya, Pak," kata bu Sofia sambil menoleh ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin hanya tersenyum.


"Ayo tebak, Bu. Dua bulan lagi, Tuan Guru pasti muncul di TV Lombok," kata pak Nurasmin.

__ADS_1


"Subhanallah, Tuan Guru Nur Asikin," kata bu Sofia. Ia spontan berdiri dan memegang tangan Tuan Guru Nur Asikin dan menciumnya.


"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar enggak nyangka kalau Tuan Guru mengunjungi kami. Ya, Allah. Mimpi apa kita semalam, Pak," kata bu Sofia. Dia masih belum percaya kalau sosok yang sering ia dengarkan ceramahnya saat bulan Ramadhan kini ada di depannya.


"Kami biasanya berbuka puasa di depan televisi, mendengarkan ceramah Tuan Guru. Tapi sayang, kok terlalu singkat, Tuan Guru. Ditambah dong durasinya," kata bu Sofia. Tuan Guru Nur Asikin tersenyum.


"Itu sudah dibatasi pihak televisi, Bu. Gak enak juga kalau ceramahnya terlalu panjang. Jamaah cepat bosan," kata Tuan Guru Nur Asikin.


Hujan masih belum reda. Malah terlihat semakin deras. Pak Nurasmin mempersilahkan tamunya untuk meminum kopi di depannya.


"Saya langsung saja ya, Pak, Bu." Tuan Guru Nur Asikin membuka kembali pembicaraan setelah beberapa saat terdiam menikmati minuman dan makanan kecil yang dihidangkan bu Sofia. Bu Sofia dan pak Nurasmin saling pandang. Sepertinya ada hal lain yang ingin disampaikan Tuan Guru Nur Asikin.


"Saya kesini, selain untuk silaturrahim, ada maksud khusus yang sebenarnya malu untuk saya ungkapkan, tapi sangat rugi jika tidak saya ungkapkan," kata Tuan Guru Nur Asikin. Ia kembali memperbaiki posisi duduknya. Ia lebih memajukan badannya.


"Sebagai orang tua, tentu kita semua punya kewajiban kepada anak-anak kita. Ketika kewajiban kita menafkahi dan menyekolahkannya menurut kemampuan kita, kewajiban terakhir kita adalah mencarikannya jodoh yang baik menurut mereka." Tuan Guru Nur Asikin menghentikan kata-katanya. Ia memperhatikan ekspresi pak Nurasmin dan bu Sofia. Sepertinya, keduanya sudah mengerti maksud pembicaraannya.


"Saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan ini terlalu tergesa-gesa. Saya sadar, nak Layla mungkin sudah menjatuhkan pilihannya pada seseorang. Saya hanya mencoba menjalankan ikhtiar untuk anak saya," kata Tuan Guru Nur Asikin. Pak Nurasmin mendesah panjang sambil menundukkan wajahnya. Untuk kedua kali ini ia telah kedatangan orang penting dengan topik pembahasan yang sama. Masalah rumit yang sulit ia jawab. Pak Nurasmin menoleh ke arah bu Sofia. Bu Sofia menggerakkan salah satu matanya seperti menyuruh pak Nurasmin untuk menjawabnya.


Pak Nurasmin kembali mendesah. Kedua telapak tangannya saling memegang kuat.


"Sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Guru. Kami sebagai orang tua sungguh sangat bahagia karna Tuan Guru berkenan menjadikan anak saya sebagai mantu." Pak Nurasmin menghentikan kata-katanya. Ia terdiam sejenak.


"Bu, panggil anakmu sebentar. Biar kita tidak bercerita dua kali. Biarkan dia mendengar langsung apa yang akan disampaikan Tuan Guru," kata pak Nurasmin sambil menyentuh tangan bu Sofia. Bu Sofia tersenyum. Ia kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar Layla. Tak menunggu lama, bu Sofia kembali bersama Layla.


"Nak, ini Tuan Guru Nur Asikin, kepala MUI NTB," kata pak Nurasmin ketika Layla sudah duduk di sofa. Layla melapisi kedua tangannya dengan ujung jilbabnya dan bersalaman dengan Tuan Guru Nur Asikin.


"Bapak ingin menyampaikan selamat atas keberhasilan Nak Layla keluar sebagai juara umum di Brunei Darussalam. Bapak juga minta maaf karna tidak bisa ikut menjemput kepulangan Nak Layla." Layla tersenyum menundukkan kepalanya.


"Nak Layla telah mengharumkan nama provinsi Nusa Tenggara Barat di kancah internasional. Kami sangat bangga dengan prestasi Nak Layla," lanjut Tuan Guru Nur Asikin.


"Terimakasih banyak, Tuan Guru," kata Layla.


Tuan Guru Nur Asikin mengangguk. Ia kembali menyeruput kopinya yang telah dingin. Dia memandang Layla beberapa lama. Ia kembali tersenyum.


"Begini, Nak Layla. Maksud kedatangan Bapak kesini, selain untuk silaturrahim, juga ingin memperkenalkan anak saya kepada Nak Layla. Namanya Lalu Qinan Kusuma. Dia baru saja menyelesaikan S2 nya di universitas Mataram. Rencananya, tahun ini ia berniat melanjutkan pendidikan S3 nya, tapi Bapak melarangnya dulu. Bapak menyuruhnya istirahat dulu. Bapak merasa sudah waktunya ia menikah," kata Tuan Guru Nur Asikin. Layla tersenyum menganggukkan kepalanya. Dia mulai mengerti arah pembicaraan Tuan Guru Nur Asikin. Ia mendesah panjang, namun sebisa mungkin tidak terlihat.


"Dalam pandangan Bapak yang awam, bapak berprasangka baik bahwa Nak Layla adalah gadis yang shalehah. Memang itulah prasangka untuk para penghafal Al-qur'an. Dan sebagai orang tua, bapak ingin keluarga bapak mendapatkan berkah dari Al-qur'an dengan berkenannya Nak Layla menerima...., kalau bapak boleh langsung mengatakannya,...melamar Nak Layla untuk anak saya," kata Tuan Guru Nur Asikin. Ia mendesah panjang. Sapu tangan di dalam saku jasnya dikeluarkannya kembali dan mengusap sedikit keringat di keningnya.


"Tapi seperti yang dikatakan oleh Bapak Nak Layla. Semua keputusan ada di tangan Nak Layla," lanjut Tuan Guru Nur Asikin.


Layla mendesah panjang. Ia mengangkat wajahnya pelan. Ia menoleh ke arah pak Nurasmin dan bu Sofia. Keduanya tersenyum menganggukkan kepala.

__ADS_1


Layla memalingkan wajahnya ke arah Tuan Guru Nur Asikin.


"Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan Guru." Layla kembali mendesah. Ia merasakan tubuhnya benar-benar gerah. Ia terdiam sejenak. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Sekali lagi, saya minta maaf. Saya belum bisa menjawabnya. Saya minta waktu untuk berpikir dan shalat istiharah. Sekali lagi mohon maaf jika saya mengecewakan Tuan Guru," lanjut Layla. Ia mendesah panjang. Walaupun tetap merasa tidak enak, tapi ia seperti telah mengeluarkan bongkahan batu di dalam dadanya.


"Subhanallah. Itu memang yang seharusnya kita lakukan. Minta petunjuklah kepada Allah. Apapun petunjuk yang kamu dapatkan, kami tidak bisa membantahnya," kata Tuan Guru Nur Asikin. Ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap Layla yang tetap menundukkan wajahnya.


"Kalau begitu, saya mohon pamit pulang, Pak, Bu, Nak Layla. Jangan sungkan untuk memberitahu saya apapun jawaban Nak Layla nantinya."


Tuan Guru Nur Asikin kemudian meminta tas hitam yang ada di pangkuan sopirnya. Dari dalam tas ia mengeluarkan sebuah amplop ukuran besar. Amplop itu kemudian diletakkannya di depan Layla. Layla melirik ke arah amplop tebal di depannya. Penampakan uang seratus ribu terlihat.


"Di dalam amplop itu ada photo anak bapak sebagai bagian dari istiharah Nak Layla," kata Tuan Guru Nur Asikin. Ia kemudian membalik amplop itu.


" Ini nomor handphone Bapak. Nak Layla bisa menghubungi Bapak lewat nomor itu. Sekali lagi, jangan sungkan. Anggap bapak orang tua kamu juga," sambung Tuan Guru Nur Asikin. Layla tersenyum. Tuan Guru Nur Asikin menyerahkan kembali tas itu kepada sopirnya. Ia kemudian bangkit dan menyodorkan tangannya ke arah pak Nurasmin untuk bersalaman.


"Nak Layla gak usah mengembalikan sejumlah kecil uang di dalam amplop itu. Itu bukan uang sogokan. Itu juga bukan uang pribadi Bapak. Itu uang khusus dari MUI sebagai bentuk penghargaan kami kepada Nak Layla," kata Tuan Guru Nur Asikin seraya mengusap-usap kepala Layla saat Layla menyalaminya.


Hujan sudah mulai reda ketika Tuan Guru Nur Asikin keluar dari rumah pak Nurasmin. Pak Nurasmin, bu Sofia dan Layla mengantarnya sampai pintu gerbang. Setelah mobil milik Tuan Guru Nur Asikin semakin menjauh, ketiganya kembali masuk ke dalam rumah.


* * * * *


Diapit pak Nurasmin dan bu Sofia, Layla membuka amplop di tangannya dan mengeluarkan sebuah photo dari dalamnya. Ia menatapnya sejenak sebelum bergantian dilihat oleh pak Nurasmin dan bu Sofia. Setelah itu, ia lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam amplop. Jumlahnya lima juta rupiah plus voucher makan dan menginap selama tiga hari di hotel Beloam Lombok bagian selatan. Ia memasukkan kembali uang itu kedalam amplop dan menyerahkannya kepada bu Sofia.


"Apa kamu akan mengembalikannya, Nak?" tanya bu Sofia. Layla menggeleng.


"Tidak, Bu. Uang itu milik kita. Tuan Guru tentu akan tersinggung jika kita mengembalikannya. Pakailah untuk kebutuhan Bapak sama Ibu," jawab Layla.


"Pak, Bu. Layla mau ke kamar dulu, ya. Layla mau istirahat kalau kita gak jadi pergi ke rumah Kak Tuan," kata Layla. Bu Sofia menoleh ke arah pak Sumarep.


"Kita pergi besok saja, Nak. Hujan sepertinya mau turun lagi. Kamu istirahat saja sana," kata pak Nurasmin. Layla kemudian bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Pak Nurasmin dan bu Sofia mengantarnya dengan tatapan bahagia ke arah Layla hingga ia masuk ke dalam kamarnya.


"Gak nyangka ya, Pak. Yang berminat sama anak kita orang besar semua," kata bu Sofia sambil memegang tangan pak Nurasmin. Pak Nurasmin tersenyum.


"Alhamdulillah, itu membuktikan anak kita anak yang baik." Pak Nurasmin menghela nafas panjang. Dia menoleh ke kamar Layla.


"Semoga anakmu juga bisa menemukan petunjuk, Bu. Tentu saat ini dia bingung menentukan pilihan," kata pak Nurasmin penuh harap. Bu Sofia tersenyum menganggukkan kepalanya.


* * * * *


Tak terasa waktu terus berlalu. Langit yang mendung sejak pagi tadi bertambah gelap ketika adzan maghrib berkumandang. Gerimis kembali terdengar turun. Alam seperti berselimut dalam dingin.

__ADS_1


__ADS_2