KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#185


__ADS_3

Tuan Guru Izzul Islam urung membuka pintu kamarnya ketika suara ponsel berdering di atas meja. Dia agak ragu kembali untuk menjawab panggilan. Para santri sudah terlalu lama menunggunya untuk shalat maghrib berjamaah.


"Assalamualaikum, Pak,"


"Waalaikum salam. Maaf, Nak, mengganggu. Bapak hanya mau nanya kalau nanti bakda isya' Nak Izzul ada waktu, bapak mau berkunjung ke sana. Ada yang mau bapak bicarakan," kata pak Nurasmin dari arah seberang. Sejenak Tuan Guru Izzul Islam terdiam memikirkan kegiatannya malam ini sesudah isya.


"Gak ada, Pak. Saya lupa kalau malam ini malam jumat. Silahkan, Pak. Saya tunggu," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan tersenyum.


"Terimakasih, Nak. Habis shalat isya' insya Allah saya langsung kesana. Kalau begitu, mari nak, Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam."


Tuan Guru Izzul Islam menutup panggilannya dan kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Setelah itu ia bergegas keluar kamar menuju masjid pesantren.


* * * * * *


"Bagaimana, Pak," tanya bu Sofia setelah pak Nurasmin meletakkan ponselnya di atas meja. Walaupun ia mendengar juga pembicaraan pak Nurasmin dengan Tuan Guru Izzul Islam, ia masih penasaran dan ingin mendengarnya sekali lagi dari pak Nurasmin.


"Nanti setelah isya' Bapak akan kesana, Bu," kata pak Nurasmin. Bu Sofia menatap pak Nurasmin lekat. Ia mendesah panjang sambil menoleh ke arah pintu kamar Layla.


"Kira-kira Bapak mau ngomong apa sama Nak Izzul," kata bu Sofia ingin tahu. Pak Nurasmin belum ke rumah Tuan Guru Izzul Islam tapi ia yang merasa mulai deg-degan. Pak Nurasmin mendesah panjang.


"Yah, mau bagaimana lagi,Bu. Demi anak kita,bapak terpaksa menutupi malu bapak. Kita akan membicarakan terus terang tentang kondisi anak kita. Apa yang sedang terjadi pada Layla. Kita berharap, ada saran dan jalan keluar dari Nak Izzul." Pak Nurasmin menguap.


"Ambilkan Bapak baju dan peci Bapak, Bu. Sebentar lagi isya'. Bapak berangkat lebih awal saja. Nanti shalat isya' nya di pesantren," kata pak Nurasmin. Bu Sofia bangkit dan bergegas mengambil baju dan peci pak Nurasmin.


"Oh ya, Bu. Tolong panggilkan anakmu juga. Dia perlu tahu kalau bapak akan ke rumah kak tuannya." Bu Sofia tersenyum. Tak berapa lama kemudian, ia kembali bersama Layla di belakangnya.


"Duduk sini, Nak," kata pak Nurasmin kepada Layla yang baru saja hendak duduk di dekat bu Sofia. Layla langsung bangkit dan duduk di samping pak Nurasmin. Melihat wajah pak Nurasmin yang sedikit lunak, ia yakin ada berita gembira yang akan disampaikan pak Nurasmin untuknya.


"Nak, malam ini bapak mau bertemu dengan kak Tuanmu. Bapak akan membicarakan sesuatu yang jadi permintaanmu. Tapi bapak tidak bisa janji apakah jawaban kak Tuanmu akan menyenangkan dirimu."


Layla mengangguk. Bu Sofia menatapnya resah.


"Tapi terus terang saja, Nak. Bapak khawatir keadaanmu tidak berubah seandainya saja nanti hasil pembicaraan bapak dan kak Tuanmu tidak akan menyenangkanmu. Apa bapak dan ibu akan terus melihatmu bersedih seperti ini? Berikan ketenangan buat bapak dan ibu, Nak," kata pak Nurasmin penuh harap di sela-sela wajahnya yang mulai berubah cemas.


Layla menghela nafas panjang.


"Layla hanya ingin kak Tuan tahu bahwa Layla menginginkannya. Insya Allah, hati Layla mungkin akan sedikit tenang." Layla memegang tangan pak Nurasmin dan bu Sofia.


"Tapi bapak dan ibu tidak usah memikirkan dan menjadikannya beban jika Layla tetap pada keputusan Layla yang tak akan menikah jika tidak dengan Kak Tuan. Ini adalah sumpah Layla," sambung Layla. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian dengan penuh harap keduanya tak membantahnya.


Pak Nurasmin mendesah pelan. Melihat tatapan Layla, sepertinya Layla tak ingin mendengar bantahan dari keduanya. Pak Nurasmin menoleh ke arah bu Sofia. Kedua mata bu Sofia berbinar-binar sedih. Sama halnya dengan pak Nurasmin, ia sudah tidak punya kata-kata lagi untuk menasehati Layla. Ia tak mau membuat Layla semakin tertekan. Biarlah waktu yang akan menyadarkan atau merubah keputusannya.


Suara Tarhim terdengar dari masjid seberang jalan. Pak Nurasmin buru-buru memasang bajunya. Layla sigap memasukkan kancing demi kancing baju pak Nurasmin. Peci hitam di atas meja diraihnya dan diberikannya kepada pak Nurasmin.


"Doakan Bapak," kata pak Nurasmin sembari berdiri. Layla dan bu Sofia ikut berdiri.

__ADS_1


Pak Nurasmin memegang pundak Layla. Ia menatap Layla lekat.


"Nak, kak Tuanmu adalah seorang laki-laki alim lagi shaleh. Wanita yang pantas jadi pendampingnya tentu wanita yang shalehah juga. Kak Riantimu memang pernah punya masa lalu yang kelam. Tapi kita tidak pernah tahu apa rencana Allah untuk setiap hamba-Nya. Kamu tidak tahu saja bagaiamana kak Riantimu telah berubah menjadi wanita yang luar biasa. Bahkan ia telah hafal 30 juz Al-Qur'an selama di penjara. Padahal dia mengenal Alquran di penjara juga. Itu sebabnya jangan pernah berburuk sangka." pak Nurasmin mengusap kepala Layla. Layla mengangguk terdiam.


"Nak, jika kamu hanya mengerjakan shalat menurut keadaan hatimu, maka jangankan menjadi pendamping kak Tuanmu, menghayalkannya saja kamu tak pantas." Layla menundukkan kepalanya malu. Pak Nurasmin dan bu Sofia serempak mendesah.


"Maaf, Nak. Bapak tidak sedang mematahkan harapanmu. Bapak hanya ingin kamu mengerjakan dulu apa yang menjadi kewajibanmu kepada Allah sesuai kemampuanmu, agar kamu tak malu saat meminta kepada-Nya," kata pak Nurasmin. Kepala Layla di dekatkannya ke wajahnya dan mencium keningnya lembut. Air mata Layla mengalir. Bu Sofia yang hanya melihat dari belakang ikut mendekat dan memeluk tubuh Layla dari belakang.


"Ayo, kalian makan dulu sana . Setelah itu shalat berjamaah. Bapak mau berangkat," kata pak Nursmin. Ia lalu melangkah diikuti bu Sofia dan Layla menuju mobilnya. Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai pak Nurasmin melesat di jalanan.


* * * * *


Pak Nurasmin sampai di kediaman Tuan Guru Izzul Islam bersamaan dengan selesainya shalat berjamaah di masjid pesantren. Abdul khalik yang mengenali pak Nurasmin dari kejauhan bergegas mendekatinya dan langsung membukakan gerbang. Pak Nurasmin kemudian memarkir mobilnya di samping rumah.


Dua menit menunggu di kursi rotan teras rumah ditemani Abdul khalik, Tuan Guru Izzul Islam dikawal dua orang santri di belakangnya terlihat tersenyum di luar gerbang begitu melihat pak Nurasmin duduk di teras rumah. Ia mempercepat langkahnya.


"Lik, buatkan kita kopi," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah bersalaman dengan pak Nurasmin. Dua orang santri yang bersamanya, yang masih berdiri di bawah teras di suruhnya pergi.


"Kalian datanglah lagi nanti jam 9," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya menganggukkan kepala. Sebelum pergi, keduanya menyempatkan diri menyalami Tuan Guru Izzul Islam dan pak Nurasmin.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum saat menoleh ke arah pak Nurasmin.


"Bagaimana, Pak. Sehat?" kata Tuan Guru Izzul Islam sambil menyentuh lengan tangan pak Nurasmin. Pak Nurasmin tersenyum.


"Alhmdulillah, Nak. Ibumu juga titip salam buat kamu," kata pak Nurasmin.


"Dik Laylanya juga sehat, Pak?"


Pak Nurasmin mendesah. Ia tersenyum.


"Alhamdulillah, adikmu juga baik-baik,"


Abdul khalik datang. Tuan Guru Izzul Islam membantunya menurunkan gelas minuman. Salah satu gelas dihidangkannya di depan pak Nurasmin.


"Silahkan diminum, Pak,"


Sejenak keduanya terdiam. Asap rokok yang disulut pak Nurasmin usai menyeruput kopinya berhamburan tertiup angin. Beberapa kali ia mendesah. Seperti sedang menghimpun keberaniannya untuk memulai pembicaraannya. Dia sebenarnya menunggu Tuan Guru Izzul Islam menanyakan maksud kedatangannya, tapi selama itu mereka mengobrol, Tuan Guru Izzul Islam belum juga menanyakannya. Dia benar-benar merasa tegang.


Pak Nurasmin mendehem menyingsingkan dahak yang berkumpul ditenggorokannya. Kembali ia mendesah panjang sambil memiringkan badannya menghadap Tuan Guru Izzul Islam.


"Apa, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum melihat wajah pak Nurasmin yang terlihat tegang. Dua kali ini ia melihat wajah pak Nurasmin setegang itu setelah kasus perjodohannya yang gagal dengan Layla. Pak Nurasmin ikut tersenyum.


"Maaf, Nak, hal yang ingin bapak bicarakan denganmu malam ini adalah terkait dengan adikmu Layla," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam memgerutkan keningnya. Ia terdiam menatap ke arah meja.


"Ada apa dengan dik Layla, Pak?"


Pak Nurasmin menghela nafas panjang. Ia menatap wajah Tuan Guru Izzul Islam sejenak.

__ADS_1


"Ini ada kaitannya dengan perjodohanmu beberapa bulan yang lalu, Nak Izzul,"


Tuan Guru Izzul Islam kembali mengerutkan keningnya dengan sedikit senyum di bibirnya. Ia tak mencoba bertanya lagi. Dia masih menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut pak Nurasmin.


"Bapak kira kejadian itu sudah sama-sama kita lupakan. Bapak kira semua baik-baik saja sampai pada akhirnya bapak tahu bahwa Layla sendiri yang sedang tidak baik-baik saja,"


"Maksud Bapak?" tanya Tuan Guru Izzul Islam penasaran.


"Entah kenapa adikmu tiba-tiba berubah. Ibumu menemukan catatan harian adikmu. Di salah satu lembaran, adikmu menuliskan sumpahnya tidak akan menikah jika tidak dengan Nak Izzul,"


"Astaghfirullahal Adzim..., ada apa dengan dik Layla sehingga ia harus bersumpah seperti itu,"


"Sekarang dia menyesal kenapa tidak menerima perjodohan itu." Pak Nurasmin menghela nafas panjang. Air matanya terlihat mengalir. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan pak Nurasmin.


"Keadaan adikmu sangat mengkhawatirkan. Dia sudah gak mau sekolah. Makan pun, jika bapak tidak berjanji menemui malam ini, dia tidak akan makan,"


Tuan Guru Izzul Islam mengelus-elus dadanya pelan. Sejenak keduanya kembali terdiam. Tuan Guru Izzul Islam menyeruput minumannya.


"Itu sebabnya Bapak datang menemuimu walaupun itu sangat berat bagi bapak. Bapak malu karna sebelumnya Layla kabur dari rumah karna tidak mau dijodohkan. Jujur, bapak mau meminta pendapat Nak Izzul. Bapak benar-benar bingung,"


Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-angguk kecil.


"Dik Layla sekarang sudah kelas berapa, Pak,"


"Kelas 3, Nak,"


Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan. Ia terdiam sejenak sembari mengusap-usap janggut tipisnya.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah pak Nurasmin.


"Untuk saat ini saya belum bisa memberikan bapak jalan keluarnya, tapi begini saja, Pak. Emmh..., insya Allah besok malam biar saya kesana menemui dik Layla. Saya ingin bicara dengan dia,"


"Terimakasih, Nak." Pak Nursmin mendesah panjang. Ia menatap ragu ke arah Tuan Guru Izzul Islam.


" Itu memang yang ada dalam pikiran bapak. Tapi bapak malu mengungkapkannya terlebih dahulu. Mungkin kalau Nak Izzul yang menasehatinya, Layla mau mendengarkannya," sambung pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Kenapa mesti malu, Pak. Saya ini juga anaknya bapak. Apa yang jadi beban bapak dan ibu saat ini menjadi beban saya juga," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Lik, Abdul khalik," panggil Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya Tuan Guru," kata Abdul khalik.


"Panggil Jamila dan Suhaini. Siapkan kita makanan. Kamu juga kesini ya. Kita makan bersama bapak," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik mengangguk dan bergegas pergi.


"Bapak makannya di rumah saja, Nak. Nanti ibu kamu nunggunya terlalu lama," kata pak Nurasmin.


"Terkadang saya selalu merindukan kehadiran almarhumah ibu saat makan malam. Dengan kehadiran bapak malam ini, saya merasa ibu hadir di dekat saya. Sedikit saja, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam penuh harap. Pak Nurasmin tersenyum mengiyakan.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2