KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#205


__ADS_3

Sinar kekuning-kuningan mulai terlihat di ufuk timur menyingsingkan gelap sehabis subuh. Jamila yang sudah mempersiapkan hidangan pagi di atas meja makan berdiri menyambut kedatangan Tuan Guru Izzul Islam yang baru pulang dari masjid. Walaupun perasaan malu masih ada di dalam hatinya, tapi ia sudah mulai terbiasa. Perlakuan Tuan Guru Izzul Islam yang luar biasa, membuatnya cepat beradaptasi. Apa yang sebelumnya ia pikirkan bingung untuk dikerjakannya, kini semuanya terlihat begitu mudah. Apa makanan kesukaan dan apa aktifitas Tuan Guru Izzul Islam sehari-harinya sudah ia ketahui. Rianti sepertinya memang sudah mempersiapkannya menjadi istri kedua Tuan Guru Izzul Islam. Sejak masuknya yang kedua kalinya ke penjara, Rianti selalu bercerita kesehariannya dengan Tuan Guru Izzul Islam. Apa yang ia sukai dan tidak. Cerita Rianti tiba-tiba seperti menuntunnya sehingga ia tak perlu takut apa yang ia lakukan salah. Rasa canggung ada tapi tidak sebesar tadi malam.


"Assalamualaikum," ucap Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Jamila berdiri di dekat meja makan. Jamila tersenyum. Setelah menjawab salam, ia mendekat. Setelah mencium tangan Tuan Guru Izzul Islam, kitab yang dipegang Tuan Guru Izzul Islam diambilnya dan di letakkannya di atas meja kecil tak jauh dari meja makan. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan duduk di kursi samping meja makan. Jamila bergegas menuju dapur. Ia tahu, ini bukan jam sarapan Tuan Guru Izzul Islam. Sebelum makan, biasanya Rianti selalu menyiapkannya susu kambing hangat. Dia hanya tak mau membuat Tuan Guru Izzul Islam menunggunya mempersiapkan makanan.


Jamila buru-buru melangkah ke dapur mempersiapkan minuman buat Tuan Guru Izzul Islam.


"Oya, Dik, habis sarapan, kita akan pergi ke lapas menjenguk Rianti. Setelah itu, kita akan ke rumah ibu untuk melihat perkembangan pondok pesantren miliknya dik Fahmi," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika Jamila meletakkan minuman di meja kecil samping Tuan Guru Izzul Islam. Jamila mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam meraih tangannya dan menariknya pelan agar Jamila duduk di dekatnya. Jamila tersenyum.


"Kita juga akan membeli peralatan bayi untuk persiapan kelahiran Rianti. Aku percayakan pada adik untuk mengaturnya," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Sekarang, temani aku sarapan dulu. Habis mandi, kita akan langsung berangkat," sambung Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya lalu bangkit menuju meja makan.


* * * * *


Jamila menggeser tubuhnya agak menjauh dari Tuan Guru Izzul Islam ketika Rianti muncul di depan pintu setelah beberapa saat menunggunya di ruang pertemuan. Ia menundukkan wajahnya malu. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum.


Senyum Rianti tersungging lebar. Rona wajahnya ceria ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila duduk satu kursi.


Tuan Guru Izzul Islam segera bangkit dan menyongsongkan kedatangan Rianti. Ia memeluk tubuh Rianti penuh kehangatan. Jamila masih duduk. Sesekali melirik ke arah keduanya. Entah kenapa ia tiba-tiba malu bertemu dengan Rianti. Keakrabannya yang dulu seketika musnah.


"Jamila, kenapa kamu tidak menyambutku?" kata Rianti. Masih dalam posisi memeluk tubuh Tuan Guru Izzul Islam. Ia menggerakkan jari tangannya sebagai isyarat agar Jamila mendekat. Jamila tersenyum. Ia bangkit dan melangkah pelan ke arah keduanya.


Rianti melepaskan pelukannya, tapi salah satu tangannya masih merangkul sebagian badan Tuan Guru Izzul Islam. Salah satu tangannya lagi menarik tangan Jamila. Keduanya lalu dipeluknya secara bersamaan. Jamila mendekap erat tubuh Rianti.


"Jangan sampai ada rasa cemburu antara kita, Jamila. Tuan Guru Izzul Islam adalah milik kita berdua. Kita adalah istrinya yang mencintainya karna Allah. Kita akan sama-sama membantunya memajukan pesantren," kata Rianti. Jamila menganggukkan kepalanya. Isak tangisnya mulai terdengar. Suasana haru dan bahagia terpancar dari wajah ketiganya.


"Aduh,"


Jamila dan Rianti melepaskan pelukannya masing-masing ketika terdengar Tuan Guru Izzul Islam mengaduh sambil memegang perutnya. Keduanya spontan serempak memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam. Rianti dan Jamila sama-sama tersenyum karna kedua tangan mereka bertubrukan.


"Ada apa, Kak Tuan," tanya Rianti.

__ADS_1


"Anak ini menendang perutku," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mendesah panjang. Tangan Jamila dan Tuan Guru Izzul Islam di pengangnya dan diletakkannya di perutnya.


"Ibu yakin kamu saat ini merasakan juga perasaan bahagia yang kami rasakan, Nak. Kamu akan diasuh oleh orang-orang yang taat kepada Allah. Insya Allah, kamu akan menjadi anak seperti yang diharapkan almarhum kakekmu. Dia ingin kamu jadi orang yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk menegakkan kalimat Allah," kata Rianti sambil mengeluskan tangan keduanya di perutnya.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Amin, Allahumma Amin," ucap Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam kemudian mengajak keduanya duduk. Keduanya mengapitnya di sisi kiri dan kanannya dengan kedua tangan merangkul pundak keduanya.


"Aku dan Jamila sudah membelikanmu dan kebutuhan adik bayi setelah melahirkan nanti. Jamila akan mengaturnya untukmu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.


"Aku tak sabar ingin melihatnya. Jangan lupa memphotonya buat adik," kata Rianti. Ia lalu menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam.


Setelah beberapa menit mengunjungi Rianti di lapas, Tuan Guru Izzul Islam mengajak Jamila pulang. Sebelum pulang, ia menyempatkan untuk mengunjungi pondok pesantren milik Fahmi. Setelah makan siang dan shalat berjamaah di rumah Sulastri, keduanya memutuskan pulang.


* * * * *


Bulan sabit kembali terlihat di ufuk maghrib dihiasi bintang gemintang. Langit terlihat sendu. Memandangnya, dibuai angin semilir menyejukkan mata. Hati seperti sedang diarahkan untuk memuji Sang Pencipta.


Menit demi menit berlalu. Adzan isya berkumandang mengganti waktu maghrib yang telah usai.


Tuan Guru Izzul Islam masih berdiri di tangga masjid memperhatikan bulan sabit di ufuk maghrib. Suara ramai santri yang sedang melantunkan shalawat usai shalat isya', menggema mengisi malam. Tuan Guru Izzul Islam bergegas menuruni anak tangga dan melangkah pulang.


Jamila yang sedang berada di dalam kamar buru-buru memasang jilbabnya ketika mendengar Tuan Guru Izzul Islam sedang berbincang-bincang dengan Abdul khalik di luar rumah. Dia hanya memakai sarung. Dia tak sempat mengganti pakaiannya dengan gamis karna pekerjaannya di dapur belum selesai. Jamila segera keluar dan mulai menyiapkan makanan yang sudah ia siapkan di dapur untuk dibawa ke meja makan..


Di halaman rumah, Jamila dan Suhaini baru saja datang dan tersipu malu ketika mereka telah sampai di depan teras rumah. Sudah dua hari ini sejak Tuan Guru Izzul Islam menikah dengan Jamila, keduanya tidak dipanggil lagi untuk menyiapkan makan Tuan Guru Izzul Islam. Kali ini keduanya datang tanpa dipanggil terlebih dahulu. Karna sudah terbiasa mengerjakan segala kebutuhan Tuan Guru Izzul Islam sejak di tinggal Rianti, mereka merasa ada yang lain ketika setelah isya' mereka langsung ke kamar masing-masing. Dan malam ini mereka berinisiatif sendiri mendatangi kediaman Tuan Guru Izzul Islam.


"Ada apa Suhaini, Jamila," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya tersipu malu.


"Kami ingin membantu bu Nyai, Tuan Guru," kata Jamila. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.

__ADS_1


"Kalian masuk saja. Mungkin bu Nyai nya sedang ada di dapur." kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila menatap Suhaini dan mengajaknya masuk rumah.


"Tapi tunggu dulu." kata Tuan Guru Izzul Islam menghentikan langkah mereka. Keduanya segera membalikkan badan menghadap Tuan Guru Izzul Islam.


"Karna nama kamu sama dengan bu Nyai, mulai hari ini kamu pakai nama depanmu saja, Nur Jamila. Biar kamu dan bu Nyai gak sama-sama menoleh kalau dipanggil," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila tersenyum-senyum sambil menutup mulutnya dengan ujung jilbab. Keduanya pun kemudian masuk ke dalam rumah. Keduanya langsung membantu Jamila membawa makanan ke meja makan.


* * * * *


Acara makan malam malam ini terlihat berbeda karna baik Zaebon, Abdul khalik, Jamila dan Suhaini sama-sama ikut makan bersama Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila. Baik Suhaini maupun Jamila yang sengaja di atur berhadapan dengan Zaebon dan Abdul khalik terlihat malu-malu. Ketika Jamila dan Tuan Guru Izzul Islam sudah mengangkat beberapa suapan, mereka berempat masih terlihat grogi. Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila hanya tersenyum.


"Kalian mau makan atau cuma ngelihat saja," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keempatnya hanya saling pandang sambil tersipu malu.


"Sudah, kalian gak usah susah-susah pikirkan jodoh. Orang yang di depan kalian adalah jodoh kalian. Terserah aa kalian akan ikut istiharahku atau tidak, kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu bangkit dan mendekati Zaebon dan Abdul khalik. Ia lalu mengambil sendok dan meletakkan beberapa ikan dan sayur ke dalam piring mereka. Baik Zaebon dan Abdul khalik berusaha menolak, tapi Tuan Guru Izzul Islam berusaha menghalau tangan keduanya. Melihat itu, Jamila pun melakukan hal yang sama. Suhaini dan Jamila hanya tertunduk saling lirik.


"Kalau kalian belum juga memulai makan kalian, kami akan meninggalkan kalian," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Jangan, Tuan Guru," kata Zaebon spontan berdiri. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ke empatnya pun mulai menyantap makanan mereka. Diikuti Jamila dan Suhaini.


Usai makan malam dan membersihkan piring-piring yang kotor, Tuan Guru Izzul Islam memanggil Jamila, Suhaini, Abdul khalik dan Zaebon ke ruang tamu. Setelah lama memandangnya yang menundukkan wajah, Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya. Ia memanggil Jamila untuk duduk di sampingnya.


Keempatnya nampak berkeringat.


"Apa yang aku katakan tadi saat makan bukan candaan. Aku serius ingin menjodohkan kalian. Kami mau yang terbaik buat kalian karna kalian sudah mengabdi begitu lama di pesantren ini. Kalian sudah kami anggap sebagai keluarga kami." Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang sambil menyandarkan punggungnya di kursi.


"Sebenarnya perjodohan ini adalah rencana Nyai Rianti. Setelah aku istiharahkan, kalian memang cocok satu sama lainnya. Kami juga bisa memanfaatkan ilmu yang kalian dapatkan di sini untuk membantu kami membesarkan pesantren. Tidak usah memikirkan mengenai tempat tinggal. Kami akan menyiapkan perumahan untuk pengurus pesantren. Ketika Nur Jamila dan Suhaini sudah lulus Aliyah setahun lagi, Insya Allah rumah itu akan selesai dibangun. Bagaimana, kalian setuju?" kata Tuan Guru Izzul Islam. Mereka berempat tersipu malu. Untuk beberapa lama, Tuan Guru Izzul Islam menunggu beberapa saat mereka tenang. Jamila bangkit dan berdiri di belakang Suhaini dan Nur Jamila. Ia mengusap punggung keduanya.


"Yakinlah atas pilihan Tuan Guru dan Nyai Rianti. Keduanya adalah orang shaleh. Hasil istiharah pasti jadi yang terbaik, karna itu langsung petunjuk dari Allah. Jangan sampai kalian salah pilih di luar sana," kata Jamila. Keduanya menganggukkan kepala.


"Bagaimana Abdul khalik, Zaebon? Kalian setuju?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik dan Zaebon mengangguk mantap.


Tuan Guru Izzul Islam nampak tersenyum puas.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Bersabarlah hingga keduanya lulus sekolah. Jika nanti mereka meminta kuliah, ijinkan mereka selama itu tidak mengganggu tugas mereka di rumah," lanjut Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya mengangguk.


__ADS_2