
Pagi merekah cerah. Suara burung tekukur yang tergantung di teras rumah terengar merdu, seperti sedang mencari perhatian pak Nurasmin yang sedang menikmati kopi hangatnya di teras rumah.
"Bu, Bapak mau berangkat. Tolong ambilkan kunci mobil," panggil pak Nurasmin. Tak beberapa lama kemudian, bu Sofia muncul. Kunci di tangannya diletakkan di atas meja.
"Anakmu mana, gak selain ikut sekolah,"tanya pak Nurasmin.
"Katanya mau berangkat belakangan, Pak. Katanya kalau hari sabtu, biasanya gak terlalu aktif belajar," kata bu Sofia. Ia mendesah panjang. Ia lalu duduk di dekat pak Nurasmin. Pak Nurasmin yang sudah berniat pergi, mengurungkan niatnya. Melihat wajah bu Sofia yang kusut, ia meletakkan kembali kunci di atas meja.
"Wajah ibu kenapa? Pagi-pagi kok gak semangat,"
Bu Sofia menoleh ke arah belakang.
"Anakmu itu, Pak. Akhir-akhir ini dia jadi pendiam seperti itu. Kerjaannya di kamar terus," kata bu Sofia. Pak Nurasmin terdiam sejenak.
"Ini memang ujian kalau sudah kelas 3. Malah di kelas bapak, banyak yang menikah, padahal beberapa bulan lagi mereka lulus." Pak Nurasmin kembali mengambil kuncinya.
"Ibu sering-sering temani dia. Suruh dia bersabar," sambung pak Nurasmin.
"Tapi kayaknya ini masih masalah lama, Pak."
"Masalah yang mana," tanya pak Nurasmin.
"Biasa, ini masalah kak tuannya,"
Pak Nurasmin mendesah pendek. Dia menatap bu Sofia sejenak. Jam di tangannya diliriknya. Apa yang baru saja disampaikan bu Sofia membuatnya tidak tenang. Tapi ia harus segera berangkat. Dia punya jadwal paling awal hari ini di sekolah. Ia takut terlambat.
"Nanti kita bicarakan setelah bapak pulang sekolah, Bu. Sekarang, ibu ajak dulu dia bicara baik-baik. Nanti sekalian bapak mampir di rumah Tuan Guru Sukirman. Mau minta air untuk anak kita,"
"Apa gak minta sama nak Izzul saja, Pak,"
"Malu, Bu. Nanti bapak mau jawab apa kalau Nak Izzulnya nanya untuk apa. Masak bapak harus bilang agar si Layla bisa melupakan kamu," kata pak Nurasmin. Ia lalu berdiri. Bu Sofia ikut berdiri dan mencium tangan pak Nurasmin.
"Nanti saja kita bicarakan, Bu. Bapak mau berangkat dulu. Assalamualaikum,"
"Wa alaikum salam."
Bu Sofia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai pak Nurasmin hilang dari pandangannya. Tapi baru saja ia masuk, ia melihat Layla keluar dari kamarnya . Ia heran karna Layla masih menggunakan baju tidurnya.
"Loh, kamu gak sekolah, Nak." Bu Sofia melangkah mendekati Layla yang berdiri di depan pintunya.
"Layla gak masuk, Bu. Layla lagi kurang sehat," kata Layla. Bu Sofia mendesah. Tangan Layla dipegangnya dan diajaknya duduk di sofa ruang tamu.
"Akhir-akhir ini ibu perhatikan kamu sering begadang. Itu sebabnya kalau pagi kamu itu gak semangat masuk sekolah. Sebentar lagi kamu lulus, Nak. Nanggung kalau kamu malas," kata bu Sofia. Layla tak menjawab. Ia menundukkan wajahnya dengan tatapan kosong. Bu Sofia mengusap rambut Layla.
"Jangan membebani pikiranmu dengan sesuatu yang berat, Nak. Kamu ini masih muda. Masa depanmu terbentang di depan sana. Kalau kamu terus memikirkan sesuatu yang belum saatnya kamu pikirkan, itu bisa merusakmu,"
Layla mengangkat wajahnya. Ia menatap Bu Sofia layu.
"Kalau begitu, carikan Layla obat agar Layla melupakan apa yang selalu Layla pikirkan saat ini,"
"Sesakti-saktinya dukun, jika hatimu sudah dikuasai oleh perasaanmu, apapun mantra atau jampi-jampi, tidak akan pernah mempan, Nak. Obatnya ada dalam usahamu untuk berusaha melupakannya,"
"Tapi masalahnya, Layla tidak bisa, Bu. Andai saja rasa ini bisa Layla pindahkan ke ibu, tentu ibu tidak akan menanyakan lagi masalah ini. Ini berat bagi Layla, Bu,"
"Tapi ibu mau bagaimana lagi. Ibu tidak bisa melihatmu seperti ini terus,"
"Suruh bapak bicara sama kak tuan. Perjodohan yang dulu sempat batal masih bisa diperbaiki kok. Lagi pula, kak Rianti masih di penjara,"
"Itu namanya merusak rumah tangga orang, Nak. Gak boleh,"
"Lagian, kenapa juga kak Tuan menikahi orang bermasalah seperti kak Rianti."
__ADS_1
"Itu karna dulu kamu menolak perjodohan itu, Nak. Jika saja saat itu kamu mau, tentu sekarang kamu sudah jadi istri kak tuanmu,"
"Itu yang membuat Layla menyesal, Bu. Itu juga yang membuat Layla tak pernah berhenti memikirkannya," kata Layla dengan nada keras. Ia tiba-tiba bangkit dan segera berlalu meninggalkan bu Sofia menuju kamarnya. Suara pintu dibanting, membuat bu Sofia terkejut. Tatapannya lekat menatap ke arah pintu kamar Layla. Bu Sofia mendesah panjang.
"Ya, Allah. Apa yang harus saya lakukan."
Bu Sofia bangkit dan melangkah pelan menuju halaman rumah. Daun-daun kering yang berserakan di halaman rumah kemudian di bersihkannya.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam menyapa ramah para petugas yang sedang duduk di depan teras lapas. Beberapa orang yang mengenal Tuan Guru Izzul Islam langsung mendekat dan menyalaminya.
Seorang petugas mengantarnya menuju ruang pertemuan. Sedangkan pak Bayan, ikut duduk dengan beberapa petugas di teras.
Setelah beberapa waktu menunggu, Rianti akhirnya keluar. Kali ini ia ditemani oleh Jamila. Raut wajah Jamila terlihat ceria melihat Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ke arah mereka. Dia hanya pernah melihat Tuan Guru Izzul Islam sekali saat dia berceramah di tempat bekerjanya dulu. Itupun dari kejauhan. Saat ini ia begitu dekat dengan sosok kharismatik itu. Ceramahnya yang ramah dan mengena, membuatnya diterima dimana saja. Termasuk orang yang tidak pernah melihatnya. Tapi petugas hanya mengijinkannya untuk mengantar Rianti saja, setelah itu, ia harus kembali mengikuti kegiatan bersih-bersih di dalam lapas.
"Kak Tuan, perkenalkan, ini Jamila. Ini teman satu kamar Rianti mulai dari pertama kali masuk lapas ini,"kata Rianti setelah mencium tangan dan memeluk Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Jamila menunduk malu.
"Rianti sering menceritakanmu. Terimakasih telah menjaga istri saya selama di sini. Semoga Allah membalas kebaikan saudari," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila tersenyum menganggukkan kepalanya kecil.
"Jamila sudah lama ingin melihat kak Tuan. Tadi dia minta ijin hanya untuk bersalaman dengan kak Tuan," kata Rianti.
"Owh, begitu." Tuan Guru Izzul Islam mengambil sorbannya dan melapisi tangannya. Dia kemudian menyodorkan tangannya ke arah Jamila. Dengan malu-malu, Jamila menyambut tangan Tuan Guru Izzul Islam dan menciumnya. Tuan Guru Izzul Islam langsung menarik tangannya. Rianti yang melihatnya hanya tersenyum.
"Rianti, kayaknya aku langsung masuk saja. Di tunggu petugas," Bisik Jamila. Ia menoleh ke belakang melihat petugas yang masih menunggunya di dekat pintu. Ia mendesah. Perlahan ia mengarahkan pandangannya ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Mari Tuan Guru, Saya pamit dulu," kata Jamila. Dia langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan keduanya. Rianti tersenyum. Dari cara berjalannya, Rianti tahu betapa bahagianya Jamila karna akhirnya bisa bertemu Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam memegang perut Rianti dan mengusapnya lembut. Ekspresi bahagia terpancar dari wajah keduanya. Kening Rianti dikecupnya. Setelah itu bergantian mencium perut Rianti.
"Hei, sudah bisa nendang. Tahu ya kalau sekarang sedang berhadapan sama ayah," kata Tuan Guru Izzul Islam kegirangan ketika sebuah gerakan terasa di perut Rianti. Rianti yang melihatnya hanya tersenyum. Setelah mendaratkan ciuman sekali lagi ke perut Rianti, Tuan Guru Izzul Islam memegang kedua pundak Rianti. Dia lalu mengajak Rianti duduk.
"Bagaimana keadaanmu dik," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah duduk di samping Rianti. Rianti tak langsung menjawab. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam. Setiap kali Tuan Guru Izzul Islam datang mengunjunginya, dia selalu rindu pundak itu. Pundak yang setiap malam selalu jadi sandarannya sembari bercerita sebelum tidur. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan mengelus kepala Rianti.
"Tak lama lagi adik akan bebas. Allah pasti akan menyiapkan banyak waktu untuk kita berdua lebih lama lagi. Yakinlah, ini adalah ujian terakhir buat kita," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Oh ya, Kak. Adik sudah hafal 30 juz." Rianti mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Senyum Tuan Guru Izzul Islam mengembang. Matanya terlihat berbinar-binar.
"Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah," kata Tuan Guru Izzul Islam penuh syukur. Tubuh Rianti dipeluknya dan tak henti-henti mencium keningnya.
"Ayo, mintalah apapun hadiah yang adik inginkan. Memang tak ada hadiah yang pantas untuk mengapresiasi keberhasilan adik ini, tapi aku harap, apapun yang akan aku berikan adalah sesuatu yang istimewa buat adik. Mintalah dan aku akan memberikannya,"
Rianti tersenyum. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam manja.
"Benarkah? Apapun yang adik minta?"
Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Ia mencubit pipi Rianti.
"Berbohong itu adalah salah satu sifat orang munafik. Naudzubillahi min dzalik, aku tidak mau punya salah satu sifat orang munafik itu,"
Rianti memegang salah satu tangan Tuan Guru Izzul Islam dan menciumnya.
"Dengan telah khatamnya adik menghafal Al-qur'an, maka kak Tuan harus lebih banyak menyempatkan waktu Kak Tuan untuk menyimak hafalan adik," kata Rianti.
"Tapi ini bukan hadiah yang adik minta ya? Pengajuan hadiahnya menyusul belakangan," sambung Rianti.
"Siap, kalau gak lelah, aku pasti meluangkan waktu buat adik," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Tapi kalau gak salah, Jamila nanti kalau sudah bebas, akan tinggal di rumah ibu. Kenapa kamu tidak ajak saja dia tinggal di rumah biar kalian bisa bersama-sama lagi," sambung Tuan Guru Izzul Islam setelah sejenak terdiam. Senyum Rianti mengembang.
"Nah, itu dia hadiahnya," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kalau itu gak usah dijadikan hadiah. Dik Rianti adalah bos di rumah. Tinggal perintah, pasti aku kabulkan. Kalau Jamila mau dan ibu tidak keberatan dia tinggal di rumah, kenapa tidak. Minta yang lain dong,"
Rianti mendesah panjang. Ia menatap wajah Tuan Guru Izzul Islam lama. Sejenak kedua mata saling pandang. Rianti tersenyum. Ia membalikkan badannya menghadap Tuan Guru Izzul Islam. Kedua tangan Tuan Guru Izzul Islam dipegangnya.
"Eemmm...," Rianti mengarahkan pandangannya ke atas.
"Mau minta apa ya?" katanya sembari melirik manja ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Telunjuknya diketuk-ketukkannya pelan di dagunya. Ia mendesah panjang. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jam yang tergantung di dinding. Dia hanya punya waktu satu menit lagi sampai petugas datang membawanya kembali masuk. Dia tidak punya waktu untuk menunda lagi menyampaikan yang sudah lama hendak ingin disampaikan kepada Tuan Guru Izzul Islam. Tawaran hadiah dari Tuan Guru Izzul Islam hari ini adalah momen yang pas untuk menyampaikannya. Dia juga harus mulai serius agar Tuan Guru Izzul Islam tidak menganggapnya main-main. Tapi ketika menatap Tuan Guru Izzul Islam, ia menjadi takut menyampaikannya. Melihat Rianti diam dengan ekspresi wajah berbeda, Tuan Guru Izzul Islam gantian memegang tangan Rianti.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?" kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Kak Tuan sudah janji akan mengabulkan apapun yang Rianti inginkan. Rianti tahu, Kak Tuan pasti akan menepati janji kak Tuan," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.
"Aku sudah menceritakan semua kepada Kak Tuan tentang Jamila. Dia lebih dari sekedar teman. Dia sahabat, guru dan orang yang sabar membimbingku hingga aku benar-benar menyadari dan menyesali kesalahan yang pernah aku perbuat. Di saat aku putus asa Tuhan tidak akan mengampuniku karna dosa besarku menghabisi nyawa papaku sendiri, dia tak henti-henti memberiku harapan bahwa Tuhan pasti mengampuni dosaku. Tak sampai di situ, dia mulai mengajariku membaca Al-Qur'an. Siapa yang tahan mengajar orang dewasa yang buta sama sekali tentang ilmu agama hingga ia menjadi sangat fasih, bahkan bisa mengkhatam Al-Qur'an? Aku berhutang budi kepadanya, bahkan nyawaku pun tak cukup untuk membalasnya. Tak ada kebahagiaan yang paling tinggi selain mengenal Allah dan mencintai agamanya." Rianti mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Tuan Guru Izzul Islam mengusap-usap pundaknya.
"Orang yang telah membantuku mengenal Tuhan patut mendapatkan penghargaan yang tinggi," sambung Rianti menutup kata-katanya. Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang.
"Aku tidak mengerti penghargaan tinggi macam apa yang harus kita berikan kepada Jamila. Dia adalah orang yang sangat berjasa dalam kehidupan beragama adik. Uang dan kemewahan tentu bukan sesuatu yang diinginkannya. Aku juga yakin adik tak menginginkan itu sebagai hadiah untuk Jamila," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum menganggukkan kepala. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam lekat.
"Adik ingin Kak Tuan menikahinya."
Tuan Guru Izzul Islam kaget. Ia tak menyangka kata-kata itu yang akan keluar dari mulut Rianti. Ia melepaskan pelan pegagannya di tangan Rianti. Ia mengernyitkan dahinya sembari menatap kedua mata Rianti, seperti sedang mencari pembenaran di kedua sinar mata itu. Rianti kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban keraguan yang ia tangkap dari mata Tuan Guru Izzul Islam.
"Apa yang kamu bicarakan ini, Rianti. Aku...Aku tidak_,"
"Kak Tuan sudah berjanji dan itulah hadiah yang adik minta," potong Rianti. Dia menarik kembali kedua tangan Tuan Guru Izzul Islam dan meletakkannya di dadanya.
"Demi Allah, Kak Tuan. Inilah yang adik inginkan. Adik ingin Kak Tuan menikahi Jamila. Dia bisa membantu kita mengurus pesantren. Kita bisa membuatkannya sebuah rumah di dekat asrama putri. Dia bisa kak Tuan andalkan untuk itu. Ku mohon, Kak Tuan. Kabulkan permintaanku ini. Kumohon,"
Tuan Guru Izzul Islam memejamkan matanya sembari mendesah panjang. Ia sama sekali tak pernah berpikiran untuk melakukan poligami. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya berdua saja dengan Rianti. Tuan Guru Izzul Islam membuka kembali matanya.
"Aku bukanlah orang yang adil untuk masalah ini, Rianti. Itu sebabnya aku begitu kaget kamu mengajukan permintaan sepeeti ini,"
"Aku sebagai istrimu bersaksi bahwa Kak Tuan adalah orang yang sangat adil. Bahkan jika Kak Tuan punya istri empat. Jamila adalah orang yang terlantar. Dia wanita yang tidak punya siapa-siapa. Begitu besar pahala yang akan kita dapatkan jika kita mengambilnya sebagai bagian dari keluarga inti kita,"
"Iya, tapi tidak harus dengan menikahinya, Dik,"
"Tapi menurut adik, Kak Tuan harus menikahinya. Dan kak tuan pantas punya istri lebih dari satu."
Tuan Guru Izzul Islam sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia menundukkan wajahnya lama. Rianti mengusap pundak Tuan Guru Izzul Islam. Kening Tuan Guru Izzul Islam dikecupnya penuh kehangatan.
"Aku mencintai, Kak Tuan. Dan inilah cara aku mencintaimu. Aku tidak takut berbagi dengan wanita lain jika itu tujuannya karna Allah. Yakinkan hatimu, Kak Tuan," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengangkat wajahnya. Ia memegang wajah Rianti.
"Sungguh aku malu memandangmu, Rianti. Aku seperti sedang berhadapan dengan seorang Rabiatul Adawiyah. Tak seorang laki-lakipun di zamannya yang berani melamarnya karna drajatnya yang tinggi di sisi Allah. Bahkan, para wali pun malu," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan nada bergetar. Ia merasakan seluruh persendiannya bergetar. Rianti tersenyum. Ia memeluk tubuh Tuan Guru Izzul Islam.
"Jangan katakan itu, Kak Tuan. Kak Tuan adalah imamku. Surgaku ada dalam ridhamu. Baktiku kepadamu mengalahkan baktiku kepada kedua orang tuaku," bisik Rianti. Air matanya kembali mengalir saat mencium pipi Tuan Guru Izzul Islam.
Suara deheman petugas dari luar pintu membuat keduanya melepaskan pelukan masing-masing. Tuan Guru Izzul Islam mengambil sorbannya dan mengusap air mata Rianti. Rianti pun melakukan hal yang sama. Air mata Tuan Guru Izzul Islam diusapnya dengan ujung jilbabnya.
"Kak Tuan belum memberikan aku jawaban. Katakan, Kak Tuan. Apa Kak Tuan mengabulkan permintaanku?"
Tuan Guru Izzul Islam mendesah.
"Segalanya harus kita istiharahkan, Dik. Agar semua keputusan kita di ridhai oleh Allah," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum. Dia kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Tuan Guru Izzul Islam.
"Kak Tuan tidak perlu melakukannya. Istrimu ini sudah terlebih dahulu melakukannya untuk Kak Tuan. Dalam mimpiku, wajah Jamila bersinr seperti rembulan." kata Rianti. Tangan Tuan Guru Izzul Islam diciumnya. Setelah itu, ia menyodorkan keningnya untuk dicium Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam lalu mengantar Rianti hingga ke depan pintu lapas.
"Jaga kesehatanmu dan kesehatan bayimu," kata Tuan Guru Izzul Islam sesaat setelah sampai di pintu lapas. Rianti tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum, kak Tuan,"
__ADS_1
"Wa alaikum salam."
Tuan Guru Izzul Islam masih tertegun berdiri di tempatnya walaupun tubuh Rianti sudah tidak terlihat lagi. Dia baru tersadar ketika beberapa orang datang menyalaminya. Mereka pun mengantar Tuan Guru Izzul Islam menuju mobilnya.