
Bulan berganti bulan. Musim demi musim silih berganti. Tak terasa, tiga tahun telah berlalu. Waktu seperti terus berusaha mengingatkan manusia untuk bercermin dan melihat pesan-pesan Allah lewat perubahan pada diri mereka sendiri. Rambut yang telah mulai memutih, kulit yang keriput, tulang muka menonjol, dan segalanya yang tak sama seperti sebelum-sebelumnya. Sebuah pesan bahwa entah kapan tibanya waktu Allah memanggil mereka kembali untuk menerima ganjaran dan hukuman.
Pondok pesantren milik Tuan Guru Faeshal yang telah berganti nama menjadi pondok pesantren Qurratul Aini dari hari ke hari semakin ramai. Dengan dibantu Rianti dan Jamila, juga pengaruh besar Tuan Guru Izzul Islam, pondok pesantren itu berkembang pesat menjadi pondok pesantren pavorit para penghafal Al-qur'an. Tak ada biaya apapun yang dipungut, sehingga orang tua-orang tua yang menginginkan anaknya mendalami Al-qur'an,dan merasa kurang mampu, berbondong-bondong memasukkan anak-anak mereka ke pesantren itu. Bangunannya pun terbilang megah dengan fasilitas yang lengkap. Perusahaan milik Rianti telah menjatahkan selama tiga tahun 30 persen dari keuntungan penjualan mutiara untuk renovasi bangunan-bangunan lama, juga untuk menambah bangunan baru.
Jamila dan Qurratul Aini pun telah melahirkan masing-masing seorang putri cantik di tahun kedua pernikahan Tuan Guru Izzul Islam dan Qurratul Aini. Qurratul Aini melahirkan satu bulan setelah Jamila melahirkan. Jamila melahirkan anak setelah Azka genap berusia empat tahun. Suasana di dalam keluarga besar Tuan Guru Izzul Islam kini bertambah ramai.
Dua tahun yang lalu, Suhaini dan Nur Jamila juga sudah dinikahkan serempak dengan Zaebon dan Abdul Khalik. Nur Jamila yang dijodohkan dengan Abdul khalik, kini menetap di pondok pesantren Qurratul Aini dan menjadi salah satu pengurusnya. Sedangkan Zaebon dan Suhaini tetap mengabdi di pondok pesantren Qudwatusshalihin.
Pagi-pagi sekali pak Nurasmin sudah sudah tiba di kediaman Tuan Guru Izzul Islam. Wajahnya terlihat ceria. Ada kabar gembira yang harus segera disampaikannya pada Tuan Guru Izzul Islam. Takut tidak menemukan Tuan Guru Izzul Islam , selepas wirid subuh, ia segera berangkat ke pondok pesantren Qudwatusshalihin Pemondah.
Pak Nurasmin turun dari mobilnya setelah memarkir mobilnya di depan gerbang. Belum ada orang yang terlihat di halaman rumah. Masih terlalu pagi. Mungkin Tuan Guru Izzul Islam masih berada di masjid pesantren. Pak Nurasmin kembali membuka pintu mobilnya dan memilih menunggu di dalam mobil.
Tak beberapa lama di dalam mobil, pintu rumah terdengar di buka. Pak Nurasmin tersenyum. Ia buru-buru keluar dan bergegas menuju gerbang.
"Assalamualaikum," ucap pak Nurasmin ketika melihat Rianti duduk di teras rumah.
"Waalaikum salam," jawab Rianti. Ia bangkit dan mengarahkan pandangannya ke arah gerbang. Begitu kagetnya ia ketika melihat pak Nurasmin tersenyum dari balik gerbang.
"Astaghfirullah, Bapak?" kata Rianti. Ia segera bergegas turun dari teras. Setelah mengambil kunci gerbang dari atas pintu kamar Abdul khalik, ia segera membukakan pintu gerbang untuk pak Nurasmin. Tangan pak Nurasmin langsung diciumnya.
Ya, Allah, Bapak. Ada apa kok pagi-pagi begini sudah ada di sini. Kenapa gak nelpon dulu biar kami yang mengunjungi Bapak," kata Rianti sambil memegang tangan pak Nurasmin mengajaknya masuk.
"Gak apa-apa. Bapak juga kangen pingin ngobrol-ngobrol dengan kalian," kata pak Nurasmin.
""Bapak duduk di sini saja, Nak. Pagi-pagi begini enaknya duduk di teras sambil mendengar burung perkutut," kata pak Nurasmin ketika Rianti mengajaknya masuk ke dalam. Rianti tersenyum.
"Kalau begitu, Bapak tunggu dulu ya, Aku mau buatkan minuman," kata Rianti. Pak Nurasmin menganggukkan kepalanya. Rianti kemudian masuk.
Tuan Guru Izzul Islam muncul dari arah samping. Ia mempercepat langkahnya ketika melihat pak Nurasmin duduk di teras rumah.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab pak Nurasmin sambil tersenyum ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam muncul dari arah samping. Ia bangkit saat Tuan Guru Izzul Islam mendekat hendak menyalaminya.
"Sendiri, Pak?" tanya Tuan Guru Izzul Islam sambil mempersilahkan pak Nurasmin duduk.
"Saya sendirian, Nak. Kebetulan hari ini ibu kamu mau ngajak Layla belanja keperluan ke Brunei Darussalam," kata pak Nurasmin sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia tersenyum. Ia terlihat begitu bahagia.
"Brunei Darussalam?" tanya Tuan Guru Izzul Islam penasaran. Pak Nurasmin mengangguk.
"Mau apa dik Layla ke Brunei, Pak," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Senyum pak Nurasmin kembali mengembang. Ia urung menjawab pertanyaan Tuan Guru Izzul Islam karna Rianti muncul dengan membawa minuman.
__ADS_1
"Ini, Bapak cerita, dik Layla nya mau pergi ke Brunei Darussalam," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika Rianti telah duduk di sampingnya. Rianti mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah pak Nurasmin.
"Ke Brunei? Mau apa dik Layla kr Brunei, Pak?" tanya pak Nursmin.
"Alhamdulillah, Layla nya terpilih mewakili pesantren untuk mengikuti musabaqoh tilawatil Qur'an."
Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti serempak mengucap Hamdalah.
"Alhamdulillah. Dik Layla hebat. Baru tiga tahun setengah sudah bisa jadi andalan pesantren. Hebat," kata Rianti sambil mengacungkan jempolnya.
"Kapan berangkatnya, Pak?" tanya Rianti.
"Insya Allah, tiga hari lagi, Nak. Itu sebabnya pagi-pagi Bapak datang ke sini. Besok pagi, Bapak dan Ibu mau buat acara selamatan untuk adik kalian," jawab pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti terlihat ikut bahagia.
"Bapak harap kalian semua bisa hadir besok di rumah. Sekalian buat penyemangat untuk Layla," lanjut pak Nurasmin.
"Insya Allah, Pak. Kami semua ikut bahagia dengan keberhasilan dik Layla," kata Tuan Guru Izzul Islam yang disambut anggukan Rianti.
"Jangan lupa ajak Nak Fahmi juga, Nak Rianti. Bapak titip salam," kata pak Nurasmin.
""Insya Allah, Pak," kata Rianti.
"Eh, Bapak. Kapan datang, Pak." Jamila muncul dari dalam rumah. Ia langsung menyalami pak Nurasmin.
"Sarapannya sudah siap, Kak Tuan. Sekalian ajak Bapak,"
Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan memegang tubuh pak Nurasmin. Ia lalu mengajak pak Nurasmin masuk ke dalam kamar. Setelah selesai sarapan dan berbincang-bincang sebentar, pak Nurasmin berpamitan pulang.
Rianti mendehem dan melirik ke arah Jamila ketika ketiganya kembali duduk di ruang tamu sehabis mengantar pak Nurasmin sampai pintu gerbang. Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Ia belum mengerti apa maksud Rianti dan Jamila tersenyum dan saling lirik.
"Gak boleh menyembunyikan sesuatu jika sedang duduk bertiga begini. Kok kalian senyum-senyum sendiri. Aku jadi tersinggung," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan memasang wajah cemberut.
"Gak ada, kok, Kak Tuan. Kami hanya teringat dik Layla," kata Jamila. Tuan Guru Izzul Islam terdiam.
"Kami tadi saling berbisik. Betapa bahagianya kami kalau dik Layla juga bisa berkumpul bersama kami," sahut Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia menatap bergantian ke arah keduanya.
"Maksudnya?"
Rianti dan Jamila kembali saling lirik. Rianti memberi isyarat agar Jamila yang menjawab. Tapi Jamila kembali memberi isyarat agar Riantilah yang mengatakannya. Sikap keduanya membuat Tuan Guru Izzul Islam menjadi penasaran.
"Baik, kalau kalian menyembunyikan sesuatu, aku lebih baik pergi," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil mengangkat tubuhnya. Rianti segera memegang tangannya dan mengajak Tuan Guru Izzul Islam duduk kembali.
__ADS_1
"Masak Kak Tuan gak ngerti?" kata Rianti. Jamila tersenyum.
"Gak usah buat teka-teki. Langsung saja. Bagaimana aku bisa mengerti kalau kalian hanya tersenyum dan saling lirik saja," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Maksud kami, karna kedua syarat telah dipenuhi oleh dik Layla, apa Kak Tuan gak berminat untuk melanjutkannya lagi," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalian ini ada-ada saja. Aku ini sudah tua. Sudah lima puluh tahun. Kalian bertiga sudah cukup bagiku. Lagi pula, tanpa menikahinya, dia juga bisa mengajar juga, kok," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Iya kalau dia menikahnya tidak dengan orang luar. Kalau dia gak dapat ijin dari suaminya?" sahut Jamila. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.
"Kader dulu santri-santrinya biar kita gak kehabisan stok pengajar. Biar gak tergantung dengan satu orang," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Tapi sayang juga, Kak Tuan. Kalau orang-orang kita sendiri kan lebih enak," kata Rianti.
"Sudah, sudah. Aku mau istrahat dulu. Aku ngantuk. Jangan lupa bangunkan jam sebelas," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil bangkit dari tempat duduknya. Rianti menoleh ke arah Jamiladan tersenyum.
"Ngomong-ngomong, sekarang aku giliran mana ya?"
Tuan Guru Izzul Islam berbalik. Rianti berdecak.
"Pantes gak minat nikah lagi. Kak Tuan sudah pikun. Tadi malam siapa yang mijat kaki Kak Tuan," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku lupa. Sekarang giliran Jamila," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Sebentar, Kak Tuan." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan langkahnya. Jamila tiba-tiba bangkit dan mendekat ke arahnya.
"Kak Tuan duduk dulu. Karima lagi tidur di ranjang. Aku belum sempat memindahkannya," kata Jamila.
"Gak usah, biar aku tidur di sampingnya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia langsung melangkah. Jamila dan Rianti kemudian mengikutinya dari belakang.
* ** * *
Tuan Guru Izzul Islam membaringkan tubuhnya pelan di atas tempat tidur setelah ia mencium kening putrinya yang tampak tidur pulas di sampingnya. Ia menguap beberapa kali. Rasa kantuknya mulai menggerayangi ke awasan matanya. Sambil berusaha memejamkan matanya, lantunan shalawat terdengar dari mulutnya.
Mata Tuan Guru Izzul Islam yang baru saja hendak terlelap tiba-tiba terjaga kembali. Entah, tiba-tiba saja ia teringat perbincangan mereka tadi tentang Layla. Tiba-tiba saja ia terpikir kata-kata Rianti tadi.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Apa yang dikatakan Rianti dan Jamila benar. Dengan kepercayaan yang diberikan pondok pesantren Al-aziziyah kepada Layla sebagai wakilnya di musabaqah tingkat internasioanal di Brunei Darussalam, tentu sangat dibutuhkan untuk mengabdi di pondok pesantren Tahfiz Qurratul Aini. Tapi tentu jika ia menikah dengan orang lain, persoalannya akan terikat ijin dari suaminya. Lebih-lebih ia menikah dengan dengan orang yang tempat tinggalnya jauh dari pesantren.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum setelah beberapa saat hanya terdiam kaku menatap langit-langit kamar. Ia menoleh lagi kearah putrinya. Setelah menciumnya lagi, ia memiringkan tubuhnya sembari membaca doa tidur. Tak beberapa lama kemudian, ia pun terlelap.
jangan lupa
__ADS_1
vote