KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#95


__ADS_3

Hujan masih deras mengguyur. Fahmi dan Farida yang sudah siap-siap dengan seragam sekolah mereka kembali gigit jari. Sudah dua minggu lebih mereka tak masuk sekolah sejak pengusiran dari rumah itu. Ditambah lagi dengan hujan yang dimulai sejak hari kemarin, memupuskan semangat mereka untuk memulai hari pertama mereka masuk sekolah.


Kini mereka berdua terlihat berdiri dengan muka cemberut di teras rumah melihat ke arah halaman yang tergenang air. Sulastri hanya menatap mereka sambil menggendong Rayhan. Nurul yang sedari tadi masih sungkan mendekati mereka, akhirnya memberanikan diri mendekat. Rayhan yang ada dalam gendongan Sulastri diambilnya dan menggendongnya.


"Hati-hati hati, Dik. Nanti perutmu ditendang," kata Sulastri sambil tersenyum. Nurul tersenyum. Ia mulai menggoda Rayhan. Tawa Rayhan terdengar renyah di antara riuh suara hujan.


"Fahmi, Farida, sini,Nak," kata Sulastri memanggil keduanya. Fahmi dan Farida yang masih terlihat cemberut, dengan malas melangkahkan kaki mereka mendekat ke arah Sulastri.


Sulastri meraih tubuh keduanya.


"Ayo, Bu. Antar kita sekolah," kata Farida. Sulastri merapikan rambut keduanya.


"Semua teman-teman kamu pasti gak bisa sekolah juga hari ini. Jika kita ke sekolah hari ini, kita tidak akan menemukan siapa-siapa di sana," kata Sulastri berusaha meyakinkan mereka. "Lagi pula, mobilnya sedang di pakai ayah," Terdengar suara batuk bersahut-sahutan dari arah dalam rumah. Sulastri menengok. Bi Aisyah yang ia tugaskan menyetrika pakaiannya terlihat bersandar di dinding rumah.


"Bi, istirahat dulu. Minum obatnya dulu, Bi," kata Sulastri. Nurul yang mondar-mandir menggendong Rayhan di teras rumah mendekat ke arah Sulastri.


"Bi Aisyah lagi ngapain, Kak," kata Nurul.


"Lagi nyetrika,"


"Biar saya saja yang bantu, Kak." Nurul memberikan Rayhan kepada Sulastri. Nurul segera masuk dan tak berapa lama kemudian, bi Aisyah keluar. Ia terdengar bersin beberapa kali. Wajah bi Aisyah terlihat tidak sehat.


"Ayo sana, bibik minum obatnya dan langsung istirahat. Panggilkan Rahima juga, Bi," kata Sulastri. Rayhan yang ada dalam gendongannya melonjak kegirangan ketika melihat bi Aisyah.


"Bibik cantiknya lagi sakit. Libur dulu ya mainnya sama bibi," cegah Sulastri saat Rayhan menjulurkan kedua tangannya kepada bi Aisyah. Bi Aisyah melambaikan tangannya ke arah Rayhan. Melihat itu, Rayhan menangis.


"Sabar, ya. Rayhan sama ibu dulu," kata bi Aisyah. Ia segera berlarian menuju ke kamar samping.


Sambil menunggu Rahima datang, Sulastri menurunkan Rayhan di lantai. Beberapa mainan di keluarkan Sulastri untuk menyibukkan Rayhan. Farida dan Fahmi yang terlihat bosan dihampirinya.


"Fahmi, kamu mondok saja ya, Nak. Kamu mau enggak," kata Sulastri. Fahmi terdiam. Ia menatap Sulastri.


"Masih ingat gak kalau dulu sudah janji sama bapak akan mondok. Dari pada gak bisa sekolah terus kayak gini, lebih baik Fahmi mondok saja. Di sana gak ada yang namanya libur. Di sana kamu bisa ngaji, belajar dan banyak kegiatan. Banyak teman lagi,"

__ADS_1


"Farida ikut ya, Bu," kata Farida. Raut muka cemberutnya berubah riang.


Sulastri tersenyum dan mengusap rambut Farida.


"Nanti kalau Farida sudah besar. Biar kakaknya dulu yang mondok, nanti Farida menyusul," kata Sulastri.


"Mondoknya dimana," tanya Fahmi. Rahima datang. Sulastri menyuruhnya untuk menemani Rayhan.


"Di pondok pesantren qudwatusshalihin. Yang kemarin kita pernah ke sana. Mau kan?" kata Sulastri.


"Hore, sebentar lagi Kak Fahmi akan jadi ustadz," kata Rahima sambil mengangkat kedua tangan Rayhan.


"Tadi malam kak Fahminya hebat loh, Bu. Pidatonya bagus, apalagi kalau sudah mondok," sambung Rahima.


"Benarkah? Wah, ibu bangga sekali sama kamu. Apalagi nanti kalau sudah mondok, pasti tambah membanggakan ibu. Bapak pasti senang."


Fahmi terdiam beberapa saat. Ia nampak sedang berpikir.


"Ayahmu sedang mengurus berkas kepindahannya. Ibu juga sudah membicarakannya sama ayahmu. Ayahmu sangat senang dan bangga kalau kamu mau mondok,"


Nurul yang mendengarkan dari dalam nampak tersenyum.


Fahmi menganggukkan kepalanya. Sulastri tersenyum lega. Ia mendekatkan tubuh Fahmi dan mencium keningnya.


"Kalau Fahmi sudah setuju, besok kita ke pondok pesantren qudwatusshalihin. Kita harus ketemu dulu sama Tuang Guru. Sekarang, ajak adikmu ganti pakaian," kata Sulastri.


Sulastri mendesah. Berat memang jika harus berpisah dengan Fahmi. Dia masih kecil. Tapi dia harus mondok. Untuk menjadi orang baik memang tidak harus menjadi santri. Tapi zaman kini telah berubah. Pergaulan yang bebas serta tekhnologi yang begitu maju, harus dibuatkan tameng yang kuat agar generasi yang akan datang tidak menjadi budak masa itu. Apa yang akan di temui Fahmi dan anak-anak seumurannya kelak, akan jauh berbeda dengan hari ini. Ilmu dan iman adalah dua senjata yang sakti untuk menghadapinya. Fahmi harus belajar hidup mandiri, begitu juga Farida. Mereka akan jadi penerus perusahaan. Penerus yang akan memimpin dengan iman sehingga tetap sesuai dengan tuntunan agama.


Terdengar suara ponsel berdering. Sulastri terbuyar dari lamunannya. Ia segera bangkit dan melangkah ke dalam rumah. Ia tampak tersenyum ketika membaca pesan masuk di layar ponselnya. Ia menoleh ke arah Rahima.


"Rahima, Jamblang sudah tertangkap," kata Sulastri kegirangan.


"Alhamdulillah, akhirnya kena juga dia," kata Rahima tak kalah senang. Mendengar itu, Nurul melepaskan strika di tangannya. Ia menatap keheranan melihat wajah Sulastri dan Rahima yang terlihat senang.

__ADS_1


"Jamblang? Jamblang siapa, Kak," kata Nurul ingin tahu.


"Orang jahat. Tapi sekarang sudah ditangkap," jawab Sulastri.


* * * * *


Sementara itu.


Pak Jamal dan pak Efendi terlihat duduk di sebuah kedai kopi yang terletak sekitar seratus meter dari bibir pantai. Asap rokok mereka mengepul di atas kepala mereka. Hujan masih deras mengguyur. Suara riuhnya yang menggeretak di atas atap kafe membuat mereka kesulitan saling mendengar satu sama lain.


"Jadi, bagaimana rencana kita selanjutnya," kata pak Efendi setengah berteriak. Pak Jamal menaikkan kedua pundaknya. Kedua kakinya dinaikkan dan memilih duduk bersila di atas tempat duduknya.


"Aku tidak punya ide apapun. Rianti satu-satunya senjata kita. Tapi anak itu bodoh. Dia merelakan perusahaannya diambil orang. Bodoh. Dasar bodoh. Bodoh seperti papanya," kata pak Jamal mengumpat.


Pak Efendi tersenyum ketus.


"Kalau pemiliknya sendiri sudah menyerah, mau tidak mau kamu harus menyerah juga," kata pak Efendi. Pak Jamal menatap tidak senang. Ia kembali menurunkan kedua kakinya. Ia menggeleng sambil meringis geram.


"Tidak, sekali-kali tidak. Aku sama sekali tak rela jika perusahaan itu dikuasai perempuan tidak jelas itu. Aku harus mencari cara agar perusahaan itu jatuh ke tanganku,"


"Berat, Pak Jamal. Berat sekali. Mereka punya surat resmi penyerahan aset perusahaan kepada Sulastri. Mereka juga punya pengacara dan kuasa hukum yang handal seperti pak Sahril. Aku sudah memeras pikiranku mencari ide membantumu. Tapi aku belum mendapatkan celah ke arah itu." Pak Efendi mendesah panjang.


"Aku kira kamu berhasil membujuk Rianti." sambung pak Efendi dengan nada lemah.


Aaagh!


Pak Jamal menggebrak meja. Gelas kopi di atas meja hampir-hampir terbalik. Pak Efendi segera mengamankan gelas kopinya dan langsung menyeruputnya.


"Ok, aku mau ke kantor dulu. Sekali lagi, berhasil tidaknya rencana kita ini, tergantung pada berhasilnya pak Jamal membujuk Rianti," kata pak Efendi. Ia berdiri setelah menghabiskan kopinya.


Pak Jamal ikut berdiri.


"Aku akan mencobanya lagi. Aku akan menggunakan segala cara agar anak itu mau bekerjasama. Bila perlu kita guna-guna dia," kata pak Jamal. Pak Efendi tersenyum. Tanpa berkata apa-apa, ia berlalu meninggalkan pak Jamal.

__ADS_1


__ADS_2