
Tuan Guru Izzul Islam langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya ketika telah sampai di dalam kamarnya. Dia merasa sudah tidak bisa membela perempuan berkerudung biru motif batik di hadapan ibunya. Sebelum ibunya tahu yang sebenarnya tentang Qurratul Aini, pernikahan itu sepertinya tetap akan dilaksanakan. Tapi seperti yang sudah-sudah, tawakkal adalah jalan terbaik ketika semua usaha sudah dilakukannya.
Suara langkah seperti setengah di seret terdengar dari arah luar kamar. Seperti mengarah ke kamarnya. Itu suara langkah khas Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam segera mengenalnya dan langsung bangun. Baru saja dia hendak melangkahkan kaki, pintu sudah diketuk. Dia segera membukanya.
"Ibu? kok ibu belum tidur?" kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Nyai Mustiani tersenyum di depannya.
"Ibu hanya penasaran, siapa nama perempuan berkerudung biru motif batik yang sudah kamu temukan itu?"
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia tak langsung menjawab. Ia hanya memandang Nyai Mustiani dengan senyum kecilnya.
"Emh...,Aku yakin ibu pernah melihatnya walaupun hanya sekali. Namanya pasti sudah tidak asing di telinga ibu. Namanya Rianti Wibowo. Anaknya Bu Sulastri dan Yulian Wibowo," kata Tuan Guru Izzul Islam.
Wajah Nyai Mustiani mengembang ceria.
"Benarkah?"
Nyai Mustiani mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi hanya sebentar karna kembali lagi menatap Tuan Guru Izzul Islam. Bibirnya digerakkan kesana kemari seperti meragukan Tuan Guru Izzul Islam.
"Jangan tergesa-gesa dulu. Jangan sampai salah tafsir seperti ibunya dulu." Nyai Mustiani memegang pundak Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Insya Allah. Kali ini aku yakin tidak salah, Bu."
Nyai Mustiani mendesah pendek dan menepuk pundak Tuan Guru Izzul Islam beberapa kali.
__ADS_1
"Tapi sekali lagi ingat, Qurratul Aini tetap yang pertama. Ibu hanya penasaran saja, siapa perempuan berkerudung biru motif batik itu," lanjut Nyai Mustiani. Ia kemudian membalikkan begitu saja dan melangkah meninggalkan Tuan Guru Izzul Islam menuju kamarnya. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Sikap ibunya lagi-lagi membuatnya harus memendam kata-kata yang hendak diucapkannya. Setelah Nyai Mustiani sudah masuk ke dalam kamarnya, Tuan Guru Izzul Islam menutup pintu dan kembali merebahkan tubuhnya.
* ** * *
Sementara itu. Tuan Guru Faeshal masih duduk di depan tumpukan kitabnya di atas meja di ruang tamu. Suara gemerisik dedaunan pohon nyiur di halaman rumah sesekali terdengar mengiringi hening malam. Berkali-kali ia melirik ke arah jarum jam di dinding. Sudah hampir jam 11 malam. Sejak kepulangannya dari undangan mengaji siang tadi hingga malam mulai beranjak larut kini, dia belum menemukan Qurratul Aini ada di rumah. Ia merasa, membebaskan Qurratul Aini keluar dengan membawa mobil sendiri dengan alasan tugas akhir semesternya, terlalu berisiko. Apalagi sampai larut malam seperti ini. Ia merasa Qurratul Aini telah menyalah gunakan kepercayaan yang telah diberikannya. Firasatnya tidak baik.
"Bu, ibu!" panggil Tuan Guru Faeshal. Suaranya menggema di dalam ruangan. Suara langkah tergesa-gesa Nyai Indrawati terdengar dari arah belakang. Matanya terlihat sembab. Ia berhenti sejenak. Kerudung yang tergantung di gantungan baju belakang pintu disambarnya dan segera dipasangnya.
"Kamu lihat sudah jam berapa itu? Kenapa anakmu belum juga pulang. Apa yang dia lakukan sampai jam segini. Anak perempuan keluyuran malam-malam. Lama-lama ayah curiga dia tidak sedang mengerjakan tugas," kata Tuan Guru Faeshal ketika Nyai Indrawati sudah duduk di kursi sampingnya.
Nyai Indrawati mendesah pelan. Ia menoleh ke arah jam dinding. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Nada setengah marah Tuan Guru Faeshal membuatnya sedikit takut.
"Kenapa kamu diam saja. Telpon kek. Tanya dia lagi ngapain. Suruh pulang. Sudah malam. Kamu itu tidak becus mengurus anak. Aku sudah mempercayakanmu mengurus dia. Mendidik dia. Ingat, dia sekarang itu sudah bertunangan dengan Tuan Guru Izzul Islam. Apa kata orang jika melihat anakmu itu pulang hingga larut malam," kata Tuan Guru Faeshal lagi tanpa menoleh. Ia membolak balik lembaran kitabnya.
Tuan Guru Faeshal menoleh. Tatapannya tidak senang dengan jawaban Nyai Indrawati. Nyai Indrawati menunduk.
"Telpon dia. Suruh dia pulang. Cepat!" kata Tuan Guru Faeshal dengan nada agak keras yang ditahan. Nyai Indrawati menghela nafas panjang. Ia berusaha tetap bersikap tenang walaupun kata-kata Tuan Guru Faeshal mulai memancing emosinya.
"Gak aktif, Yah. Mungkin dia sedang tidak mau diganggu."
Tuan Guru Faeshal tersenyum ketus. Ia berdiri dan berkacak pinggang.
"Nah, nah, nah, ini..., ini yang aku tidak suka. Sejak kapan dia mulai mematikan ponselnya. Sejak kapan dia tidak mau diganggu orang tuanya. Alasan saja. Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku ingin dia pulang sekarang juga."
__ADS_1
Nyai Indrawati mendongak menatap Tuan Guru Faeshal. Ia mendesah panjang.
"Tapi ibu mau menelponnya bagaimana, Yah. Ponselnya tidak aktif,"
"Telpon teman-temannya. Bodoh. Otak kok sempit sekali," kata Tuan Guru Faeshal sembari mengarahkan telunjuknya ke kepala Nyai Indrawati.
"Sudah malam, Yah. Jam segini mereka pasti sudah tidur,"
"Agh, aku tidak mau tahu. Pokoknya aku mau dia pulang sekarang juga. Panggil Piyan, suruh dia antar kamu mencarinya ke rumah teman-temannya. Jangan pulang sebelum kamu membawanya pulang. Cepat. Jadi ibu kok gak becus ngurus anak satu-satunya." Nyai Indrawati terdiam. Kata-kata Tuan Guru Faeshal mulai mengusik perasaannya.
"Yah, anakmu sudah terlalu tertekan dengan sikap keras ayah selama ini. Dia sudah dewasa, Yah. Tapi ayah selalu memperlakukannya seperti anak kecil."
Tatapan mata Tuan Guru Faeshal menyala mendengar jawaban Nyai Indrawati yang tak terduga-duga. Seumur menikah dengan Nyai Indrawati, Nyai Indrawati tak pernah sama sekali membantahnya.
"Aku memperlakukannya seperti ini agar dia jadi anak baik, tidak keluyuran kemana-mana, tidak terpengaruh faham yang nyeleneh. Tugas kamu sebagai ibu menjaga apa yang telah aku tanam di otak anak itu. Ini semua demi kebaikannya. Ini tentang marwah keluarga kita,"
"Tapi cara ayah terlalu berlebihan." Nyai Indrawati berdiri. Kali ini ia merasa harus melawan. Lebih-lebih ketika mengingat bagaimana tertekannya Qurratul Aini selama ini. Dia sudah tidak memikirkan lagi resiko yang akan ia terima.
" Aku sendiri sudah sangat merasa tertekan dengan peraturan-peraturan yang ayah terapkan. Ini bid'ah,itu bid'ah.Mencium Al-qur'an bid'ah. Mencium tangan guruku saja bid'ah. Kenapa tidak sekalian saja ayah melarang ibu mencium tangan ayah. Jika tidak karna guruku, aku tidak akan jadi istri yang shalehah untuk ayah selama ini. Sudah 50 tahun, Yah. Mana pernah aku membantah ayah. Setiap kali aku ingin berontak, aku selalu ingat pesan guruku agar tetap patuh kepada suami. Sekarang terserah ayah. Aku sudah tak sanggup lagi menahan tekanan ini. Kalau ayah mau menceraikanku atau Apapun yang ayah kehendaki, terserah. Aku sudah tidak peduli lagi."
Nyai Indrawati benar-benar terlihat marah. Beban perasaan yang selama ini ia simpan seperti hendak terkikis habis dalam balasan tatapan tajamnya ke arah mata Tuan Guru Faeshal. Ia lalu berbalik dan melangkah menuju kamar Qurratul Aini dengan isak tangisnya yang tertahan. Tuan Guru Faeshal terperangah. Dia tak menyangka Nyai Indrawati yang selama ini pendiam dan penurut, tiba-tiba saja mengucapkan kata-kata yang sangat mengagetkan urat sarafnya. Dia seperti patung yang berdiri dengan tatapan tajamnya. Hingga tak beberapa lama kemudian, Nyai Indrawati keluar lagi. Di tangannya sebuah surat yang ditulis Qurratul Aini. Dengan ekspresi kesal dalam tangisnya, Ia langsung saja menghempaskan surat itu di atas meja.
"Itu akibat Ayah terlalu menekan anak. Satu persatu orang yang ayah cintai akan pergi meninggalkan ayah. Akupun dengan segala hormat, merasa sudah tidak tahan lagi di rumah ini," kata Nyai Indrawati sambil menunjuk. Tatapannya kini tak kalah tajam dengan tatapan Tuan Guru Faeshal. Setelah puas memperlihatkan kemarahannya, Ia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Tuan Guru Faeshal menuju kamarnya.
__ADS_1
Tuan Guru Faeshal masih terdiam. Dadanya tiba-tiba terasa sakit. Jantungnya berdetak kencang dan nafasnya naik turun dengan cepatnya. Ia memperhatikan surat di atas meja lalu meraihnya. Belum habis membaca surat itu, ia tiba-tiba menekan dan meremas dadanya kuat. Ia terlihat meringis menahan rasa sakit. Matanya terbelalak. Tubuhnya bergetar dan kejang-kejang. Tak beberapa lama kemudian, tubuh Tuan Guru Faeshal ambruk menabrak meja sehingga menimbulkan suara yang keras. Nyai Indrawati yang sedang menangis di dalam kamarnya, kaget. Ia segera keluar dan mendapati Tuan Guru Faeshal sudah terbaring di lantai dengan darah mengalir dari kedua lubang hidungnya. Nyai Indrawati panik. Ia berteriak histeris. Beberapa santri yang kebetulan bertugas piket pada malam itu segera berhamburan ke dalam rumah. Tuan Guru Faeshal segera dilarikan ke rumah sakit.