KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#164


__ADS_3

Pagi merekah cerah. Matahari bersinar dengan terangnya dari ufuk timur tanpa sedikitpun awan yang menghalanginya. Suara nyanyi burung-burung kecil menebarkan semangat pada penduduk pagi untuk memulai aktifitasnya.


Di ruang makan, Rianti nampak sibuk bersama Jamila dan Suhaini mempersiapkan makanan di atas meja. Wajahnya Rianti berbinar ceria. Senyum tak henti tersungging dari bibirnya tanpa sebab. Ia duduk di kursi depan meja makan dan memperhatikan satu piring besar berisi sambal jamur dan pelecing kangkung yang dibuatnya. Itu mungkin satu-satunya lauk pembeda hari ini. Lauk itu khusus di buatnya. Resep bumbunya ia dapatkan dari Sulastri. Itu makanan pavoritnya sebelum menikah. Sulastri selalu membuatkannya ketika sarapan. Ia yang sebelumnya malas sarapan selalu berselera ketika Sulastri menghidangkannya kedua makanan itu. Dia berharap, rasa dari kedua makanan itu sama enaknya dengan yang dibuat Sulastri. Tadi, sebelum membawanya ke meja makan, terlebih dahulu ia menyuruh Jamila dan Suhaini menyicipinya dan memintanya untuk menilai makanannya dengan jujur. Keduanya mengacungkan kedua jempolnya dan mengatakan pelecing kangkung dan sambal jamur buatannya memang lezat. Ia tidak tahu apakah keduanya benar-benar memuji makanannya atau hanya sekedar menyenangkannya, tapi ia yakin, jika resep yang diberikan Sulastri sudah sesuai takarannya, maka makanannya tentu akan seenak makanan buatan Sulastri. Memilih makanan buatan Sulastri sebagai menu sarapan hari ini bukannya tanpa alasan. Tak hanya sekedar sesuai dengan selera lidahnya, kedua makanan dengan bumbu racikan Sulastri itu sudah masuk makanan pavorit di rumah makan Doyan Medaran dan rumah makan milik bu Pratiwi. Dia juga ingin memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya dalam sarapan pertamanya bersama Tuan Guru Izzul Islam. Dia berharap, selera lidah Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam sama dengan selera lidahnya.


"Nah, sekarang kalian berdua ke dapur sana. Kalian sarapan duluan. Biar saya yang urus di sini," kata Rianti. Keduanya menganggukkan kepala. Setelah meletakkan tisu di setiap ujung meja makan, keduanya pamit pergi.


Rianti tersenyum dan mendesah panjang. Setelah memperhatikan sejenak makanan yang ada di atas meja, ia bangkit dan melangkah menuju kamar. Dengan sangat hati-hati ia membuka pintu. Takut mengganggu Tuan Guru Izzul Islam yang sedang membaca kitabnya di atas tempat tidur.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dengan wajah cerianya ketika melihat Rianti masuk ke dalam kamar. Perlahan Rianti mendekatinya dan duduk di depannya. Tuan Guru Izzul Islam melepas kitabnya dan memegang tangan kanan Rianti. Ia lalu mengecupnya lembut. Rianti tersenyum menundukkan wajah.


"Makanannya sudah siap. Aku panggil ibu dulu," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Ia segera bangkit. Kopiah yang ada di atas meja diambilnya lalu memasangnya. Rianti tersenyum ketika kopiah yang dipakai Tuan Guru Izzul Islam terlihat miring. Ia lalu bangkit dan mendekat. Kopiah di kepala Tuan Guru Izzul Islam kemudian dibenarkannya. Tuan Guru Izzul Islam memejamkan matanya. Harum tubuh Rianti benar-benar menyegarkan penciumannya. Keduanya saling pandang hingga kemudian Tuan Guru Izzul Islam mengecup kening Rianti lembut.


"Ayo panggil ibu," bisik Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengangguk kecil seraya tersenyum. Serasa berat sekali membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Tuan Guru Izzul Islam. Padahal dia punya banyak waktu untuk menghabiskan kebersamaannya dengan Tuan Guru Izzul Islam. Entah kenapa di waktu sesempit itu ia ingin Tuan Guru Izzul Islam melakukan hal yang lebih kepada dirinya. Mungkin menggendongnya dan membawanya ke atas ranjang. Dekapan dan pelukan hangat Tuan Guru Izzul Islam tadi malam benar-benar membuatnya nyaman. Ia benar-benar merasa menjadi wanita paling sempurna tadi malam. Mengalahkan ratu-ratu kesohor yang pernah memenuhi cerita dunia.


"Ada apa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Rianti belum juga berbalik melangkah keluar. Rianti tersipu malu.


"Gak apa-apa," kata Rianti. Ia segera membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu sembari terus tersenyum. Setelah menatap Rianti dengan senyum bahagia hingga hilang di balik pintu. Tuan Guru Izzul Islam mendongak sembari mengangkat kedua tangannya.


"Ya, Allah. Jadikan istriku pendamai hati serta penambah kegemaranku beribadah kepada-Mu. Jadikan ia istri yang shalehah. Istri yang akan jadi bidadariku, dunia dan akhirat. Amin." Tuan Guru Izzul Islam mengusap wajahnya dan melangkah keluar.


* * * * *


Suasana di meja makan terlihat khidmat. Nyai Mustiani yang duduk di tengah-tengah antara Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti nampak terlihat ceria. Senyumannya tak henti-henti tersungging ketika menatap bergantian ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti. Rianti sendiri sesekali memperhatikan ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang nampak lahap menikmati pelecing kangkung dan sambal jamur buatannya. Ia tak pernah memberitahukan Tuan Guru Izzul Islam sebelumnya bahwa keduanya adalah masakan buatannya, begitu juga kepada Nyai Mustiani.


"Zul, kenapa pelecing dan sambalnya tidak kamu bagi ibu," tanya Nyai Mustiani ketika melihat di depannya tak ada makanan seperti yang ada di depan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menengok kesana kemari, ke arah makanan di atas meja. Ia menatap lama ke arah pelecing kangkung dan sambal jamur di depannya. Dia tersenyum. Dia baru sadar, hanya dia yang menikmati makanan itu.


"Maaf, Bu. Saya kira makanan seperti ini ada di depan ibu. Tapi bagaimana ini, tangan saya sudah memegangnya. Ibu akan makan sisa tangan saya," kata Tuan Guru Izzul Islam merasa bersalah. Ia terlihat mengusap wajahnya dengan tangan kirinya sembari menggeleng kecil. Rianti hanya diam memperhatikan. Ia juga merasa bersalah karna hanya membuat dua piring pelecing kangkung dan sambal jamur.


"Gak apa-apa, ayo Rianti, ambilkan ibu," kata Nyai Mustiani. Rianti segera mengambilkannya. Setelah mengambil secukupnya, ia menyuruh Rianti meletakkannya kembali didepan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam sendiri masih terdiam. Ia masih terlihat merasa bersalah karna telah mendahului ibunya. Seharusnya, ia tak mengambil apapun sebelum ibunya memulainya.

__ADS_1


"Loh, kok diam begitu, ayo lanjutkan makannya," tegur Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan.


"Gak apa-apa. Jika itu kamu anggap kesalahan, ibu memaafkanmu," kata Nyai Mustiani sembari tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam ikut tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia lalu melanjutkan makanannya.


"Emmh..., pantas saja suamimu tak memperhatikan yang lain. Sambal jamur dan pelecing kangkung ini amat sedap. Bumbunya pas dan saling mengikat satu sama lain. Enak." Nyai Mustiani nampak menikmatinya.


"Ibu tahu. Kedua makanan ini jarang ibu temui di meja makan sebelumnya. Ini pasti buatan kamu," kata Nyai Mustiani lagi sambil melirik ke arah Rianti. Rianti tersenyum kecil.


"Ini sepertinya bukan jamur tiram," kata Tuan Guru Izzul Islam ikut nimbrung menilai makanan. Rianti tersipu malu.


"Itu jamur liar, Kak Tuan. Abdul khalik yang membawanya. Katanya dia menemukannya di belakang kamarnya," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ini baru pertama kalinya Rianti memanggilnya dengan sebutan Kak Tuan.


Nyai Mustiani mengangguk.


"Mmh...Enak, ibu baru ingat. Di belakang kamarnya Abdul khalik memang sering di tumbuhi jamur liar ketika musim hujan. Biasanya banyak tumbuh di sela-sela pohon pisang belakang rumah." Nyai Mustiani terdiam sejenak. Dia seperti benar-benar menikmati sambal jamur buatan Rianti. "Tapi menurut ibu, apapun jenis jamur dan makanannya, kalau bukan karna pembuatnya yang ahli, tak akan seenak ini. Kamu harus sering-sering membuatkan kami makanan seperti ini, biar makan kami tetap selera, apalagi sarapan seperti ini," sambung Nyai Mustiani.


Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti tersenyum dan saling lirik satu sama lain. Rianti tahu, Nyai Mustiani sedang memberikannya pelajaran melalui makanan yang mereka santap.


Setelah beberapa menit kemudian. Setelah mereka telah selesai sarapan, Tangan Rianti mulai sibuk mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja makan. Nyai Mustiani yang sedang menikmati buah pisang di depannya, memegang tangan Rianti.


"Biarkan saja, nanti Jamila dan Suhaini yang membawanya," kata Nyai Mustiani.


"Tidak, Bu. Ini sudah jadi tugas saya sekarang. Biar mereka nanti membantu saya mencuci piring saja. Mereka mungkin masih makan di dapur," jawab Rianti. Piring-piring yang telah di kumpulkannya kemudian ia masukkannya ke dalam nampan. Ia lalu membawanya menuju dapur. Suhaini dan Jamila yang sedang duduk di dapur begitu kaget ketika melihat Rianti terlihat membawa piring-piring kotor di depan mereka.


"Kenapa gak panggil kami, Bu Nyai," kata Suhaini. Keduanya langsung mengambil nampan yang dibawa Rianti dan meletakkannya di tempat cucian.


"Gak apa-apa. Saya masih bisa membawanya. Ayo, kita cuci piringnya," kata Rianti.


"Maaf, Nyai. Biar kami saja yang mencucinya. Piringnya gak banyak kok. Serahkan pada kami,Nyai," kata Suhaini bersikukuh tak ingin Rianti ikut mencuci piring. Rianti tersenyum dan memegang pundaknya.

__ADS_1


"Apa kamu takut Bu Nyai memarahi kalian?" kata Rianti.


"Tidak, Nyai. Ini memang tugas kami sebagai santri. Sebisa mungkin kami tak ingin merepotkan keluarga Tuan Guru. Selama kami di sini, kami ingin mendapatkan barokah dari keluarga guru kami. Jika tidak karna jasa beliau yang telah memahamkan kami ilmu agama, mungkin saat ini kami termasuk anak-anak yang melalaikan agamanya. Sudah, Bu Nyai. Mohon biarkan kami yang mengerjakannya," kata Suhaini sambil menundukkan wajahnya. Rianti tersenyum. Ia mengusap pundak keduanya bergantian. Keduanya tersenyum. Usapan lembut tangan Rianti membuat keduanya merasa sedang berhadapan dengan ibu mereka.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu ya," kata Rianti. Keduanya mengangguk. Rianti kemudian membalikkan badannya dan kembali ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, dia tidak menemukan Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam. Dia mendengar keduanya sedang bercakap-cakap di ruang tamu. Dua buah piring berisi aneka macam buah-buahan diambilnya dan membawanya ke ruang tamu.


"Duduk sini, Nak. Kita ngobrol-ngobrol dulu," kata Nyai Mustiani ramah mengarahkan Rianti duduk di dekatnya. Tuan Guru Izzul Islam sendiri langsung melepas surat kabar yang sedang dibacanya ketika melihat Rianti.


"Zul, ajaklah istrimu bulan madu. Sekali-kali kesibukannya di kurangi beberapa minggu ini. Nikmati dulu masa pengantin kalian. Nginap di hotel, barangkali. Pesantren gak akan bubar kok. Yah, tiga hari cukup," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan memandang Rianti. Seperti meminta pendapat.


"Rencananya memang begitu, Bu. Tapi saya masih bingung ngajak Dik Rianti kemana," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani mendesah. Pandangannya dialihkan ke arah Rianti. Tangan Rianti dipegangnya.


"Ayo, Nak. Kamu maunya diajak kemana?"


Rianti tersenyum. Dia menatap Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya terserah kak Tuan saja, Bu. Di rumah saja juga gak apa-apa," kata Rianti.


"Yah, gak asik dong. Masak kalah sama ibu sama amarhum ayah kalian. Ibu dulu di ajak ke bali loh walaupun satu malam. Walaupun itu dalam rangka undangan pengajian," kata Nyai Mustiani sambil tersenyum.


"Kalau bulan madunya ke rumah ibu, boleh?" kata Rianti. "Kebetulan, ibu tadi nelpon saya. Katanya kami harus segera merampungkan pembagian warisan menurut hukum Islam. Ibu takut kelak akan terjadi komplik antara saya dengan adik-adik saya hanya karna urusan warisan," kata Rianti. Nyai Mustiani mengangguk dan menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam.


"Apa yang dikatakan ibu memang benar. Kamu dengan adik-adik mungkin tak terlalu memikirkan hal ini. Tapi kita patut khawatir keturunan-keturunan kita kelak akan mengungkit satu sama lain. Lebih baik kita tuntaskan dulu masalah ini," tegas Tuan Guru Izzul Islam.


Nyai Mustiani mendesah pendek.


"Mau penenangan kok, lagi-lagi bahas masalah serius." kata Nyai Mustiani.


"Jangan lupa, sampaikan salam ibu sama ibu kamu ya. Insya Allah, lain hari ibu akan ikut kesana," sambung Nyai Mustiani. Rianti menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2