KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#97


__ADS_3

Tuan Guru Izzul Islam tersentak, tapi ia berusaha menyembunyikannya dalam anggukan dan senyuman kecilnya. Perempuan yang seumuran ibunya itu namun tampak lebih bugar, ternyata adalah seorang janda. Ini semakin memperkuat keyakinannya tentang mimpinya semalam.


Sulastri mendesah dan melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tangannya terihat sibuk melipat-lipat ujung jilbabnya. Ia merasa seperti ada yang aneh dengan sikap dan tatapan Tuan Guru Izzul Islam hari ini. Tidak seperti hari kemarin. Dia tampak tenang menundukkan kepalanya. Bahkan kini ia melihat keringat di kening Tuan Guru Izzul Islam. Padahal cuaca masih terasa dingin akibat hujan yang mengguyur sejak pagi tadi.


Sulastri mencoba mengarahkan pandangannya ke seluruh tubuh dan pakaiannya. Tatapan aneh Tuan Guru Izzul Islam seperti sedang menelanjanginya. Sulastri mulai bertanya-tanya dalam hati tentang pakaian yang dikenakannya kini. Adakah yang salah dari cara berpakaiannya? Terlalu seksikah. Apakah cara berpakaiannya kini masih memperlihatkan auratnya sehingga Tuan Guru berkeringat seperti itu? Ataukah Tuan Guru sedang melihatnya dengan mata batinnya sehingga segala keburukannya tampak?


Sulastri mulai risih dan salah tingkah. Tuan Guru Izzul Islam sendiri tahu saat ini Sulastri pasti sedang mempertanyakan gelagat anehnya hari ini. Dan ia merasa ini tidak baik. Jangan sampai Sulastri berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Tapi ia hanya seorang manusia biasa walaupun gelar Tuan Guru telah di sandangnya. Ia tak bisa menyembunyikan kekakuannya. Ia hanya seorang Tuan Guru muda. Lebih-lebih ia hanya seorang manusia biasa. Seharusnya ia menganggap perempuan yang ada di depannya kini sebagai ibunya. Tapi mimpinya semalam benar-benar mengacaukan pikirannya.


Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas dan mengeluarkannya perlahan. Keringat di keningnya diusapnya dengan surban di pundaknya.


"Eh, Maaf, ngomong-ngomong, kapan adiknya mau masuk pesantren," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba melunakkan suasana yang beberapa saat tadi terasa beku.


Sulastri tersenyum. Ia meraih tangan Fahmi dan Farida.


"Insya Allah, besok, Tuan Guru. Secepatnya saya akan antar dia," jawab Sulastri.


"Nanti, ee..., siapa namanya?"


"Fahmi," jawab Fahmi ketika Tuan Guru Izzul Islam menunjuk ke arahnya.


"Kalau saya Farida, Tuan Guru," sahut Farida ikutan memperkenalkan namanya. Tuan Guru Izzul Islam dan Sulastri serempak tersenyum. Suasana yang tegang agak mencair.


"Fahmi nanti asramanya ada di belakang. Fahmi akan kumpul dengan teman-teman yang sebaya dengan Fahmi. Di sana ada permainannya juga. Jadi, Fahmi bisa belajar sambil bermain," kata Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi menganggukkan kepalanya.


"Hore, Farida ikut main, ya?" teriak Farida kegirangan.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Farida.


"Boleh. Kalau Farida, kapan ikut mondok,"


Farida menoleh ke arah Sulastri.


"Kok lihatnya ke ibu. Ayo, jawab Tuan Guru, kapan mau ikut mondok," kata Sulastri.


"Nanti kalau sudah kelas 6 SD kayak kakak," jawab Farida sambil menatap ke arah Fahmi. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepala.

__ADS_1


Sulastri meraih tasnya dan menggantungkannya di pundak. Ia menoleh ke arah jam tangannya. Sudah hampir maghrib. Dia harus segera pulang.


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu , Tuan Guru. Sudah mau maghrib," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Sulastri ikut berdiri.


"Oh ya, Silahkan. Tapi maaf, jadi lupa menyiapkan makanan," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Gak usah repot-repot, Tuan Guru," kata Sulastri. Ia menyuruh Fahmi dan Farida bersalaman dengan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sembari mengusap kepala keduanya.


"Mari, Tuan Guru. Assalamualaikum," kata Sulastri. Ia meraih kedua tubuh anaknya.


"Waalaikum salam,"jawab Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum menundukkan wajahnya.


"Ya, Allah, apa yang telah hamba lakukan. Hamba pasti telah membuat tamu hamba tersinggung. Astaghfirullah." Desah Tuan Guru Izzul Islam penuh sesal. Ia belum menerima sikap yang ia perlihatkan kepada Sulastri, walaupun ia sendiri tidak menginginkannya. Dia tidak mau terlihat masih berdiri di sana menatap kepergian Sulastri. Ia langsung membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah.


Tuan Guru Izzul Islam menghempaskan kembali tubuhnya di atas sofa. Kopiah dan sorbannya diletakkan kembali di atas meja. Abdul khalik terlihat muncul kembali di depan pintu.


"Sudah dulu pijitnya, Lik. Kamu siap-siap shalat maghrib sana," tegur Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Abdul khalik masih berdiri di depan pintu menunggu perintah. Abdul khalik mengangguk dan perlahan pergi.


Suara tarhim terdengar nyaring dari arah masjid pesantren. Tuan Guru Izzul Islam memasang kembali kopiah dan sorbannya. Ia bangkit dan melangkah keluar rumah untuk mengimami santri shalat berjamaah.


* * * * *


Adzan maghrib mulai terdengar bersahut-sahutan sepanjang perjalanan. Suasana di trotoar-trotoar jalan sudah mulai dipenuhi para pedagang lesehan. Pun juga dengan orang-orang yang berbondong menuju masjid.


Sulastri menengok ke arah Fahmi yang duduk di kursi depan. Dia memanggilnya pelan, namun tak ada jawaban. Fahmi sudah tertidur.


"Kita makan di rumah makan bu Pratiwi ya, Pak," kata Sulastri. Pak Mustarah mengangguk. Sulastri mendesah. Hari ini ia tidak sempat mengunjungi Rianti. Ia berharap besok tidak hujan. Sebelum mengantar Fahmi ke pondok pesantren, terlebih dulu ia akan mengajaknya untuk berpamitan dengan kakaknya. Dia harus mulai menciptakan hubungan antara anaknya dengan Rianti. Ia mau kelak mereka benar-benar menjadi saudara yang saling membutuhkan satu sama lain.


Pak Mustarah menghentikan mobilnya ketika telah sampai di parkiran rumah makan ibu Pratiwi. Mereka segera turun. Retno yang sudah hafal mobil Lycan milik Sulastri, terlihat riang menyambut di tangga masuk rumah makan. Terlihat juga bu Pratiwi tersenyum di belakang Retno.


Karna pelanggan sudah mulai sepi, bu pratiwi mengajak seluruh karyawannya untuk mengatur ulang meja makan sehingga mereka bisa ikut makan bersama Sulastri. Suasana kekeluargaan terasa ketika canda dan tawa terdengar dari mulut mereka usai selesai makan.


"Apa bu Sahni masih cuci piring di belakang?" tanya Sulastri ketika tidak melihat bu Sahni, perempuan yang sempat ia temani mencuci piring saat dulu bekerja di rumah makan itu.


"Bu Sahni nya lagi sakit, Bu. Dia kami istirahatkan dulu," jawab bu Pratiwi.

__ADS_1


"Sudah dibawa ke rumah sakit?"


"Sudah, Bu. Dia sudah agak baikan. Insya Allah, seminggu lagi dia bisa bekerja lagi,"


Sulastri membuka tasnya dan mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah. Ia lalu memberikannya pada bu pratiwi.


"Titip buat bu Sahni ya, Bu. kata Sulastri sambil tersenyum.


Setelah di rasa cukup. Sulastri pamit pergi.


"Kapan-kapan kalau liburan, ajak teman-teman main ke rumah ya, Bu. Dik Retno, main-main ke rumah kalau ada waktu," kata Sulastri ketika hendak masuk ke dalam mobil.


"Insya Allah, Bu. Nanti hari minggu kami ramai-ramai ke sana," jawab bu Pratiwi.


"Nanti kita buat rujak ya, Bu," sahut Retno sambil tersenyum cengegesan di samping bu Pratiwi.


"Nah, saya setuju itu, Dik Retno. Carikan mangga yang banyak ya," kata Sulastri.


Gampang, Bu. Nanti kita minta mangga sama bu Sahni. Kebetulan dia punya kebun mangga," kata Retno.


"Ok, saya tunggu di rumah hari minggu. Mari, Bu," kata Sulastri sambil masuk ke dalam mobilnya. Setelah melambaikan tangan ke arah bu Pratiwi dan Retno, ia menyuruh pak Mustarah menjalankan mobilnya.


* * * * *


Suara lantunan ayat suci Al-qur'an terdengar di dalam ruangan tempat Rianti dan Jamila berada. Rianti yang mendengar dengan seksama bacaan Al-qur' an yang di lantunkan Jamila diikutinya dengan penuh khusyu'.


"Shadallahul adzim...,"


Jamila menutup bacaannya. Setelah bergantian mencium Al-qur'an, ia meletakkannya di atas meja samping tempat tidur .


"Sampai dimana kemarin hafalan shalatnya, Rianti?" tanya Jamila sambil melepas mukena yang sedang di pakaianya.


"Alhamdulillah sudah sampai Tasyahhud akhir. Tinggal melancarkannya saja," jawab Rianti tersenyum ceria. Dia lalu berdiri dan ikut duduk di sisi dipan dekat Jamila.


"Alhamdulillah, cepat sekali hafalnya. Tahu gak kenapa?" tanya Jamila. Rianti menggeleng.

__ADS_1


"Itu karna kamu sungguh-sungguh mau berubah," kata Jamila. Rianti tersenyum dan merangkul tubuh Jamila.


"Ini juga berkat kesungguhan ibu guruku," kata Rianti. Keduanya tersenyum. Rianti sudah tidak lagi merasakan suasana penjara yang membosankan sejak satu ruang bersama Jamila. Ia merasa seperti sedang merantau menuntut ilmu di tempat yang jauh, dan kelak, jika sudah datang waktunya, dia pasti akan pulang.


__ADS_2