KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#84


__ADS_3

Jantung Sulastri berdebar ketika terdengar suara langkah sepatu mendekat ke arahnya. Ia memperbaiki posisinya. Berusaha bersikap setenang mungkin. Ia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Bunyi kipas angin di dalam ruangan berukuran 4x5 itu terdengar menguasai dalam heningnya suasana.


Pintu terdengar berderit panjang. Sulastri tak menoleh. Ia terus saja memandangi kipas angin yang berputar di sudut ruangan. Rantang di atas meja ia letakkan di bawah kaki kursi.


"Bangsat! Mau apa kamu kesini. Berani-beraninya, Kamu!" Teriak Rianti ketika mulai mengenali Sulastri yang duduk di kursi. Sulastri menoleh. Ia tersenyum dan berdiri. Rianti yang seperti anjing yang memergoki pencuri di rumah tuannya, bersiap menerkam Sulastri. Petugas yang membawanya segera menarik tubuhnya dan memegang tubuhnya kuat.


"Lepaskan! lepaskan aku. Aku akan membunuh perempuan ****** ini," teriak Rianti sambil terus meronta hendak melepaskan diri.


Sulastri perlahan mendekat, tapi masih menjaga jarak aman dari jangkauan tangan dan kaki Rianti.


Puih!


Ludah Rianti mengenai wajah Sulastri. Sulastri mendesah. Ia meraih ujung kerudungnya dan mengusapnya.


"Duduklah, Rianti. Tak ada gunanya kita saling bermusuhan seperti ini. Aku tidak pernah menganggapmu musuh. Apapun penilaianmu padaku, aku tetap istri sah Papamu. Dan aku, aku merasa punya kewajiban menjagamu," kata Sulastri. Hal itu membuat tatapan Rianti semakin tajam. Berkali-kali ia meludah ke arah Sulastri. Sulastri membiarkan saja hingga saat petugas hendak membawa Rianti, Sulastri mencegahnya.


"Biarkan, Pak. Biarkan ia menumpahkan kekesalannya," kata Sulastri sembari tersenyum. Pak Bayan dan pak Sahril yang memperhatikan dari jeruji jendela ruangan itu hanya bisa memperhatikan penuh kecemasan.


Sulastri membalikkan tubuhnya dan melangkah mengambil sebuah botol air kemasan di bawah kaki meja. Ia kembali dan menyodorkan botol minuman itu kepada Rianti. Dengan cepat, Rianti menendang botol minuman dari tangan Sulastri dan terhempas di lantai.


"Pak, lepaskan dia," kata Sulastri. Petugas itu mengernyitkan dahinya. Ia menatap Sulastri ragu. Sulastri menganggukkan kepalanya meyakinkan petugas.


Perlahan petugas itu melepaskan Rianti. Sontak Rianti segera melangkah cepat ke arah Sulastri. Ia mondar-mandir di hadapan Sulastri dengan tatapan tajam. Rianti memperhatikan tubuh Sulastri mulai dari ujung kaki sampai rambutnya. Rianti tersenyum sinis.


"Hebat, Penampilanmu benar-benar berubah Sulastri. Kamu berhasil mempermak penampilanmu layaknya orang kaya,"kata Rianti ia terus memeriksa setiap bagian tubuh Sulastri. Suasana di dalam ruangan tampak tegang. Terutama bagi pak Sahril, pak Bayan dan Rahima yang terus memperhatikan dengan penuh cemas. Rianti menyentuh tangan Sulastri. Sulastri tetap terdiam memperhatikan kemana tangan Rianti bergerak.

__ADS_1


"Kulitmu halus. Pakaian yang kamu kenakan juga bermerk. Ini. Tapi kamu tahu gak, ini, ini. Ini semua adalah milikku yang kamu rampas dengan licik bersama si Sahril itu."Rianti menoleh ke arah jeruji jendela. Ia menatap pak Sahril penuh kebencian.


"Hei, Sahril. Sini, masuk. Sekalian aku akan mempermak wajah serigalamu itu," kata Rianti menuding-nuding wajah pak Sahril. Pak Sahril hanya terdiam menatap Rianti.


Puih!


Rianti meludah ke arah kaki Sulastri. Ia kini lebih mendekat ke tubuh Sulastri. Wajahnya hampir-hampir bersentuhan dengan wajah Sulastri. Suara nafasnya yang menderu membuat mata Sulastri terpejam. Ia bisa merasakan dengan jelas amarah yang bergejolak di dada Rianti lewat suara nafasnya yang menderu, cepat dan tak beraturan.


Kedua tangannya mengepal, seperti sedang mengumpulkan segenap kekuatannya.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di wajah Sulastri.


Plak!


Satu tamparan lagi mendarat di pipi Sulastri yang sebelah. Rianti semakin tak terkendali melihat tak ada sama sekali perlawanan dan bantuan untuk Sulastri. Dengan meringis geram, ia lebih mendekat. Tangannya yang bergetar mengumpulkan amarahnya, segera mengarah ke rambut Sulastri. Ia mulai menjambak rambut Sulastri. Sulastri berusaha menahan kedua tangan Rianti. Tapi tenaga Rianti yang kuat membuat tubuhnya terjatuh di lantai.


"Tolong dia, Pak. Kenapa bapak diam saja. Lastri, kenapa kamu diam saja. Lawan dia Lastri. Kamu bodoh, Lastri. Kamu bodoh," teriak Rahima. Ia menangis melihat Sulastri terlihat kesakitan menahan sakit akibat jambakan kuat Rianti.


Petugas itu segera datang menolong, namun Sulastri mengangkat tangan mencegahnya. Pak Bayan dan pak Sahril terlihat cemas melihat Rianti dengan beringasnya menjambak rambut Sulastri. Sulastri terlihat kesakitan, bahkan saat tenaga kuat Rianti mendorong tubuhnya hingga terjerambab di lantai, Sulastri masih tak ingin petugas atau siapapun menolongnya. Ia membiarkan saja Rianti mengamuk melampiaskan kemarahannya.


Rianti benar-benar mendapatkan kepuasan melampiaskan dendam dan sakit hatinya. Melihat Sulastri hanya terdiam tanpa perlawanan, ia semakin berutal mengerahkan segenap tenaganya, hingga tenaganya habis. Tubuhnya terkulai lemas di samping tubuh Sulastri. Bahkan ketika ia hendak memegang leher Sulastri hendak mencekiknya, dia sudah tak punya kekuatan lagi walaupun sekedar mengangkat tangannya. Tenaganya benar-benar habis terkuras.


Rianti tersenyum. Dadanya terasa lega setelah beberapa menit tadi habis-habisan menyiksa tubuh Sulastri. Pak Bayan dan pak Sahril segera berhamburan masuk dan mengangkat tubuh lemah Sulastri.

__ADS_1


"Rianti, aku bawakan makanan untukmu di dalam rantang. Makanlah," kata Sulastri lemah. Ia berhenti sejenak menatap wajah Sulastri. Rianti menatap lemah. Setelah itu ia berjalan lemah dipapah pak Bayan dan pak Sahril.


Pak Bayan dan pak Sahril mendudukkan Sulastri di atas sebuah bangku panjang di ruang tunggu tamu lapas. Rahima yang masih menangis segera membersihkan darah di wajah dan rambut Sulastri.


"Kenapa kamu lakukan ini, Lastri. Kamu bisa mati. Perempuan itu seperti anjing kelaparan. Dia tidak punya perasaan. Dia bisa membunuhmu," kata Rahima. Sulastri terdiam saja. Sesekali ia terlihat meringis ketika tangan Rahima tak sengaja menyentuh luka di kepalanya.


"Benar kata Rahima, Bu. Tak ada gunanya melakukan hal sia-sia seperti ini. Rianti tidak akan berubah, Bu. Percuma saja," kata pak Sahril. Pak Bayan ikut mengangguk.


"Selama dia berbentuk manusan, aku yakin dia masih bisa berubah. Sekeras apapun batu, jika terus ditetesi air, ia pasti akan berlubang juga. Rianti adalah satu-satunya anak kandung pak Yulian. Dia juga sudah mengamanatkan kepada saya untuk menyerahkan salah satu perusahaan kepadanya kelak jika sudah berubah." Sulastri mendesah panjang.


"Selama dia masih hidup, aku berkewajiban berusaha merubahnya. Aku ingin menikmati kesuksesan ini bersama Rianti suatu hari nanti," sambung Sulastri.


"Tapi kamu bisa mati, Lastri. Anak itu seperti tak punya belas kasihan sama sekali," kata Rahima.


"Lihat, aku masih hidup. Dia juga sudah tidak punya tenaga untuk memukulku lagi. Setidaknya, saat ini ia merasa lega dan puas telah melampiaskan kemarahannya kepada orang yang dia benci. Aku tidak aka berhenti, Rahima. Aku tidak akan berhenti sampai dia benar-benar mau menerimaku sebagai ibunya," kata Sulastri. Ia tersenyum.


"Ambilkan aku botol minuman di dalam mobil, Rahima. Di dalam tasku," kata Sulastri. Rahima bangkit dan melangkah menuju mobil. Tak berapa lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebotol minuman.


Sulastri bangkit setelah menerima botol minuman dari Rahima. Ia kemudian menghampiri petugas lapas yang duduk di sebuah kursi di belakangnya.


"Pak, Tolong usahakan Rianti meminum air ini," kata Sulastri. Ia meletakkan botol minuman itu di atas meja depan petugas.Petugas itu menatap Sulastri.


"Air apa ini, Bu," tanya petugas.


"Hanya air biasa yang telah di doakan seorang Tuan Guru. Ini salah satu usaha saya, Pak. Semoga berkah dari bibir orang alim itu bisa membantu melunakkan hati Rianti. Tentunya atas ijin dari Allah," kata Sulastri. Petugas itu mengangguk. Sulastri kembali ke tempat pak Bayan, pak Sahril dan Rahima. Ia pun mengajak mereka pulang.

__ADS_1


__ADS_2