
Freya yang sudah berada di atas ranjang, membenarkan posisi guling yang lari dari posisi seharusnya. Karena sejak mereka tidur seranjang, sang suami selalu meletakkan guling di tengah mereka sebagai batas antara keduanya. Sebab, sang suami belum bisa menerima dia sebagai istri sesungguhnya. Freya tak mempermasalahkan hal itu, yang penting ia tak dihina-hina lagi seperti dulu.
Hufft..
Freya baringkan tubuhnya dengan perlahan. Kehamilannya yang memasuki usia enam bulan, sudah mulai mengganggu sedikit aktifitasnya. Karena perutnya sudah besar. Bahkan tidur telentang rasanya tak nyaman lagi.
Freya memutar lehernya, rasanya wajah sang suami, seperti punya magnet. Ia terus saja tertarik untuk melihatnya. Apalagi jika Freya ingat kejadian di ruang kerja tadi. Dengan tangan bergetar dan ekspresi wajah kikuk, Mahesa mengelus perutnya yang buncit itu. Saat itu, darahnya Freya rasanya berdesir hebat hingga ke jantung. Karena terharu dengan kelakuan sang suami, yang salah tingkah, saat mengusap-usap perutnya.
Kejadian mendebarkan itu, tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba saja Pak Adnan dan alex masuk ke ruang kerjanya Mahesa. Ayah mertua dan abang iparnya itu, sebenarnya mau balik badan, karena melihat kemesraan yang dilakukan Mahesa pada Freya, saat mengelus dan menciumi perut buncitnya dengan cara berlutut. Tapi, Mahesa memanggil lagi sang ayah. Dan Freya dengan kikuknya keluar dari ruangan itu, meninggal ketiga pria itu.
Puas menatap wajah tampan sang suami. Freya pun memilih tidur miring membelakangi suaminya itu. Bukan apa, jika ia terus menatap wajahnya Mahesa. Ia bisa imsomnia, karena tak konsentrasi dibuat wajah tenang dan damai sang suami.
Seorang wanita sangat cepat untuk jatuh cinta, karena wanita itu pakai perasaan. Apalagi jika pria itu sudah bersikap baik padanya, yang sebelumnya jahat. Lagi pula, Freya sangat bersungguh-sungguh dengan pernikahannya. Jadi, tak ada alasan untuk membenci sang suami, walau di awal pernikahan suaminya itu bersikap jahat padanya.
Pungg
Guling yang tadinya ia gunakan sebagai pembatas antara dirinya dan suami di tempat tidur mereka, kini telah melayang ke udara, dan mendarat di hadapan Freya.
Deg
Seketika bola matanya Freya yang masih melek itu membeliak sempurna, mendapati guling sudah mendarat sempurna di lantai kamar tepat di hadapannya.
Graap..
Jantungnya Freya rasanya sudah copot dari tempatnya, saat merasakan tangan kekar sang suami membelit di perutnya. Tak hanya itu, sang suami juga menempelkan wajahnya ke wajahnya Freya yang ketat, karena menegang.
Freya panas dingin dibuat kelakuan Mahesa yang tak terduga. Helaan napas terasa hangat menerpa wajahnya yang dingin itu.
"Sampai kapan kamu akan membelakangiku disaat tidur?" Suara bariton yang begitu serak terdengar geli yang membuat Freya semakin menegang kaku.
Freya terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa? ia gak mau merusak suasana hati sang suami setiap malam. Karena suami nya dalam masa pemulihan, Dan suaminya itu memang seperti jaga jarak padanya. Padahal selama dalam masa pengobatan, Freya sudah mencurahkan kasih sayangnya pada Mahesa. Membantu suaminya itu mandi dengan air daun bidara. Mengingatkan sang suami untuk beribadah juga.
"Ma, maafin aku ya!"
__ADS_1
Deg
Freya semakin dibuat dag dig dug ser dengan permintaan maaf sang suami yang terdengar tulus.
"Apa gak ada maaf buatku?" kali ini, Mahesa menarik lembut tubuh sang istri agar menghadapnya.
Dengan debaran jantung yang tak berirama Freya membalik badannya, mata pasangan suami istri beradu pandang.
"Jawablah dengan jujur, apa kamu memaafkan aku istriku?" Masih menatap sendu Freya yang kini kedua matanya sudah berkabut.
Freya mengangguk lemah. "I, iya. Tak ada alasan untuk tidak memaafkan suamiku ini."
Tes
Air mata yang sedari tadi mendesak ingin keluar tak tertahankan lagi.
Jemari Mahesa menjulur melap air mata kebahagiaan yang membasahi pipi mulusnya sang istri. Mahesa dengan tatapan sendunya, merangkum wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Menghadiahi kening, hidung, pipi kiri dan kanannya Freya dengan kecupan lembut, tapi terasa dalam, yang membuat tubuh Freya semakin menegang.
"Emm, memangnya selama ini gak manusia?" tanya Freya dengan penuh kehati-hatiannya.
"Haruskah suamimu menjelaskan semua keburukan yang sudah ku lakukan padamu?" Mahesa menunggu reaksi sang istri atas pertanyaan nya. Istrinya itu malah bengong melihatnya. "Ucapanku dan perbuatanku sudah sangat melukai hatimu. Asal kamu tahu istriku. Semua kejahatan yang ku lakukan padamu, tersimpan jelas di memory ku hingga saat ini, yang membuat aku jadi malu padamu. Selama dalam masa penyembuhan ini, aku siapkan mental untuk bisa mendekatimu. Karena aku merasa tak pantas untuk jadi suamimu."
Freya sungguh terharu mendengar ungkapan hati sang suami, yang sangat tulus itu. Benar, ia lihat perubahan drastis dari sang suami, dalam penyembuhan tiga bulan ini. Ia juga sering GR, karena merasa suaminya sudah mulai membuka hati padanya, dari tatapan mata dan sikap yang lembut. Tapi, terlihat suaminya itu gengsi bermesraan padanya. Dan malam ini, suaminya itu tak sanggup lagi, untuk menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kasih sayangnya pada sang istri.
"Aduuhh...!" Keluh Freya, saat sang suami mendekatkan bibir untuk meraup bibirnya Freya. Freya sangat terkejut, karena merasakan tendangan yang sangat kuat di perutnya. Dan Mahesa juga merasakan itu, karena ia sedari tadi, terus saja mengusap usap perut sang istri yang masih dibalut pakaian itu.
Mahesa tertawa kecil. Ia singkap piyama yang dikenakan sang istri. Dan pria itu dengan semangatnya bermain di perut buncit itu.
"Assalamu'alaikum sayang... " Ujar Mahesa dengan senyum yang mengembang. Ia lirik sang istri yang tertawa melihat tingkah konyolnya
Clukk
Si Debay, merespon ucapan dan sentuhan sang ayah dengan bergerak cepat di dalam perutnya Freya.
__ADS_1
"Lihat istriku, anak kita mengenali ayahnya." Ujar Mahesa dengan muka bodohnya.
Freya menganggukkan kepalanya dengan bahagia nya. Suaminya ternyata sangat baik, seperti ayah mertuanya pak Adnan.
"Baby girl, malam ini ayah akan bermain-main di sekitar habitatmu. Ayah harap, kamu tetap tenang di tempat, gak usah ikut ikutan bermain dengan ayah dan ibu ya?"
Puukk..
Freya memukul pelan bahu sang suami yang kini masih menempelkan kepalanya di perutnya.
Sontak Mahesa mengangkat wajahnya. "Ada yang salah sayang?" tanyanya mengulum senyum.
"Iya su, suamiku. Akan lebih baik, saat anak di dalam kandungan diajak bicara, yang dikatakan yang baik baik. Dibacakan ayat suci Al-quran."
"Oohh... Iya ya?" Sahut Mahesa tersenyum lebar. "Setelah aku ngaji, bisakah kita melakukannya?" tanya Mahesa mematuk-matukkan jemarinya.
Freya mengerutkan kening, pertanyaan bodoh apa itu?
"Jawab istriku, aku sudah lama puasa." Ujar Mahesa dengan tatapan mendamba.
Freya menganggukkan kepalanya lemah, dengan bibir merekah, senyum lebar, membuat kedua matanya menyipit.
"Yee.... " Mahesa bersorak riang, kedua tangan terangkat ke atas. Dan ia langsung menghujani wajah sang istri dengan kecupan penuh cinta.
"Iihh.. Suamiku, katanya mengaji dulu." Protes Freya, ia menjauhkan wajah sang suami dari lehernya. Ia seperti itu, Karena grogi. Sungguh Freya jantungan saat ini.
"Nanti sayang, tiba sapuan bibir dan tangan ini ke perutmu, itu akan aku lakukan." Jawab Mahesa dengan suara berat. Ia sungguh tak bisa menahan diri lagi. Apalagi tadi, ia tanpa sengaja menonton permainan mereka saat di hotel. Ya, waktu itu kan Mahesa merekam aksi itu. Dan video itu sudah Mahesa hapus.
***
Bersambung
Tinggalkan jejak like, komentar positif dan hadiah votenya say
__ADS_1