KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#149


__ADS_3

Malam selepas isya'. Hujan kembali turun. Beberapa kali Tuan Guru Izzul Islam mondar-mandir membuka pintu dan menengok ke kamar Nyai Mustiani, sepulangnya dari masjid. Tak seperti biasanya, Nyai Mustiani tidak terlihat di ruang tamu. Seserius itukah dia marah? batin Tuan Guru Izzul Islam. Atau mungkin saja Nyai Mustiani tidur lebih awal sebab tadi malam dia tidur sangat larut.


Tak ingin terus khawatir dengan pertanyaan dalam hatinya, Tuan Guru Izzul Islam memutuskan keluar dan melangkah menuju kamar Nyai Mustiani.


Sesampainya di depan pintu, ketika ia hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Tiga orang santriwati keluar dari dalam kamar Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mundur beberapa langkah. Melihat Tuan Guru Izzul Islam ada di luar kamar, mereka kaget dan langsung diam menundukkan wajah mereka.


"Apa Ibu sudah tidur?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Ketiganya serempak menganggukkan kepala. Tuan Guru Izzul Islam mendesah.


"Baiklah, kalian boleh pergi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ketiganya perlahan mundur dan pergi.


Tuan Guru Izzul Islam membuka pelan kamar Nyai Mustiani. Dari celah pintu yang terbuka, ia melihat Nyai Mustiani nampak sudah lelap dalam tidurnya.


Tuan Guru Izzul Islam menutup kembali pintu kamar dan melangkah menuju kamarnya.


* * * * *


Suara alunan musik dangdut di pos jaga terdengar bertalu-talu diantara derasnya suara hujan yang mengguyur. Pak Bayan yang ditemani pak Mustarah di pos jaga nampak seperti tidak saling memperhatikan. Keduanya tampak sibuk dengan ponsel masing-masing.


Tapi tiba-tiba pak Bayan yang sedang asik bersandar di kursinya melonjak kaget. Dari matanya yang memincing dan keningnya yang mengerut, terlihat ada sesuatu aneh yang kini sedang dilihatnya di ponselnya. Sembari terus menatap ke arah layar ponselnya, satu tangannya sibuk menarik baju pak Mustarah agar segera menoleh ke arah ponselnya.


"Ada apa sih, Pak Bayan," kata pak Mustarah heran. Pak Bayan mendekatkan ponselnya ke arah pak Mustarah. Pak Mustarah memperhatikan dengan seksama sebuah cover video di beranda Facebook milik pak Bayan. Memperhatikan dengan seksama, keduanya sepakat pada kesimpulan bahwa perempuan yang ada di dalam gambar video itu adalah orang yang sama-sama mereka kenal. Pak Bayan dan pak Mustarah saling pandang.

__ADS_1


"Non Rianti?" kata pak Bayan sambil menatap pak Mustarah seperti hendak mempertegas. Pak Mustarah menganggukkan kepala. Pak Bayan memegang tangan pak mustarah.


"Kita harus memberitahukan ibu masalah ini," kata pak Bayan. Ia nampak resah.


"Saya pernah mendengar masalah ini sebelumnya. Video ini juga penyebab Non Rianti dan Tuan Guru batal menikah. Saya setuju Pak Bayan segera beritahukan masalah ini kepada ibu. Ini bisa gawat kalau menyebar kemana-mana," kata pak Mustarah. Tanpa berkata apa-apa lagi, Pak Bayan segera bangkit. Dia segera berlari menuju rumah utama.


"Assalamualaikum,"


Tiga kali mengucap salam, Rianti keluar dari kamarnya dan menemui pak Bayan. Pak Bayan mendesah. Dia tak mungkin memberitahukannya kepada Rianti. Pak Bayan tersenyum.


"Maaf, Non. Saya mau ketemu ibu," kata pak Bayan. Rianti mengangguk.


"Pak Bayan tunggu dulu di teras. Ibu lagi di kamar mandi," kata Rianti. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan pak Bayan sendiri duduk menunggu di teras rumah. Tak berselang lama, Sulastri keluar dari kamarnya dan langsung menemui pak Bayan.


Sulastri mendesah panjang dan menengok ke dalam rumah. Ternyata pak Jamal sudah menyebarkan video itu. Pak Bayan memperhatikan wajah Sulastri. Walaupun tampak muram, tapi tak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada sama sekali keterkejutan yang berlebihan. Sulastri menatap pak Bayan.


"Pak Bayan, tolong hapus video itu. Periksa teman-teman pak Bayan, dan minta juga mereka menghapus video itu jika mereka memiliki video itu. Jangan sampai mereka terlibat. Kita akan segera melaporkan masalah ini," kata Sulastri. Pak Bayan mengangguk. Ia pamit pergi dan segera kembali ke pos jaga.


Sulastri mendesah panjang dan masih berdiri di depan pintu rumah. Tatapannya menerawang menembus derasnya hujan di halaman rumah. Angin sesekali menghempas, membuat Sulastri membalikkan badannya dan kembali masuk.


"Ada apa, Bu," kata Rianti ketika Sulastri telah masuk kembali ke dalam kamar. Ia melihat Sulastri nampak sibuk menggeser layar ponselnya dan duduk di sampingnya. Rianti mengecilkan volume televisi yang sedang ditontonnya.

__ADS_1


"Pak Jamal sudah menyebarkan video itu, Nak. Ibu akan menghubungi pak Sahril. Kali ini, pak Jamal harus menerima akibat perbuatannya," kata Sulastri sembari meletakkan ponsel di telinganya. Rianti menatapnya sejenak. Ia mendesah panjang. Dia sudah sadar lambat laun itu akan terjadi juga. Dan ia sudah siap menghadapinya. Semua sudah ia serahkan kepada Sulastri dan pak Sahril.


"Halo, Pak Sahril. Apa Pak Sahril sudah tahu terkait video Rianti?"


"Ya, Bu. Tadi pak Pratama yang mengirimkan kepada saya. Ibu gak usah khawatir, saya sudah menghubungi teman-teman kita di pihak kepolisian, juga pihak pengembang media agar memblockir video tersebut. Videonya memang sudah sangat menyebar, Bu. Tapi kita berharap kita bisa mencegahnya lebih lanjut," kata pak Sahril dari arah seberang.


"Baik, Pak. Terimakasih. Saya tunggu informasi selanjutnya, Pak. Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam,"


Sulastri menutup panggilannya. Ia menatap ke arah Rianti. Rianti tersenyum. Volume televisi dibesarkannya kembali. Sulastri menggeser tubuhnya lebih dekat kesamping Rianti. Sulastri mengusap rambut Rianti. Rianti kembali tersenyum. Seperti biasa, Rianti masih terlihat tenang dan tak panik sama sekali. Ia benar-benar sudah siap menghadapinya.


"Serahkan sama ibu dan pak Sahril. Dan, kalau boleh ibu kasih saran, kamu istirahat dulu dari kantor beberapa hari," kata Sulastri. Ia sendiri masih memikirkan bagaimana orang-orang di kantor akan membicarakan Rianti satu sama lainnya. Rianti tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Gak usah, Bu. Saya akan masuk seperti biasanya,"kata Rianti. Kedua kakinya ia selonjorkan dan mulai terlihat menguap beberapa kali.


"Seperti yang pernah Rianti katakan. Rianti tidak akan terpengaruh video itu. Ibu gak usah mengkhawatirkan Rianti," sambung Rianti dengan tatapan seperti hendak memohon kepada Sulastri agar mempercayainya. Sulastri tersenyum dan menganggukkan kepalaya.


"Ibu mengerti. Ibu saat ini hanya ingin memberikan hukuman pada pak Jamal."


Sulastri ikut merebahkan tubuhnya pelan di samping Rianti. Rianti mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya dan ikut menggelarnya di atas tubuh Sulastri. Sulastri tersenyum dan memeluk tubuh Rianti.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2