
Sulastri masih terdiam menatap Rianti yang duduk di depannya. Di ruang tunggu.
Sejak Rianti mengutarakan keinginan yang menurut Sulastri adalah hal gila, walaupun secara agama diperbolehkan, ia hanya bisa terdiam menatap Rianti. Ia lama-lama bertanya-tanya heran dalam hatinya. Terbuat dari apakah hati Rianti? Dia mengira tak akan ada wanita yang memiliki hati seperti Rianti, namun kenyataannya, kini ia dihadapkan dengan sosok itu. Sungguh hal yang sangat luar biasa mengherankan. Rianti benar-benar telah menjelma sebagai sosok yang nyaris tak ada ruang untuk dicari kelemahannya.
Sulastri mendesah pendek. Kedua tangan Rianti di remasnya.
"Apakah ini sudah kamu bicarakan dengan Kak Tuanmu?" tanya Sulastri. Rianti menggeleng. Sulastri mengerutkan keningnya.
"Nanti, Bu. Rianti pasti akan membicarakannya dengan kak Tuan," jawab Rianti.
"Wanita itu juga?"
Rianti tersenyum.
"Jamila, Bu,"
Sulastri mengangguk malas. Bukan karna benci Jamila, Ia hanya masih tidak bisa menerima keputusan Rianti.
"Pikirkan lagi dulu, Nak. Kenapa kamu harus mengorbankan perasaanmu. Kak Tuanmu saya yakin bisa tahan kok. Sebentar lagi juga kamu akan bebas. Tinggal tiga bulan lagi," kata Sulastri. Ia berusaha sekali lagi dengan harapan Rianti bisa merubah keputusannya.
Rianti tersenyum.
"Tidak ada yang saya korbankan, Bu. Justru ini merupakan kebahagiaan besar buat Rianti. Keputusan Rianti ini tidak serta merta muncul karna melihat kak Tuan sendirian. Sudahlah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Banyak hal yang bisa dilakukan Jamila untuk membantu kak tuan. Ilmu agamanya setara anak pesantren. Dan yang paling penting, jika bukan karna prantaranya, ibu tidak akan melihat Rianti seberubah ini,"kata Rianti panjang lebar. Rianti hanya mendesah panjang. Melihat tatapan Rianti, sepertinya keputusan Rianti sulit untuk dirubah. Sulastri mendesah panjang. Rianti tersenyum. Ia mengangkat kedua tangan Sulastri dan menciumnya. Hal itu membuat hati Sulastri melemah. Ia tidak mungkin memaksanya untuk membatalkan keputusannya.
Sulastri menatap Rianti cukup lama. Tatapan Rianti seperti memelas, memohon agar Sulastri tak mempengaruhi keputusannya lagi. Ia takut Sulastri menggunakan haknya sebagai seorang ibu, sehingga ia tidak boleh membantahnya.
"Ibu tidak bisa memaksamu, Nak. Walaupun saat ini ibu belum terlalu menerima keputusanmu ini, tapi ibu yakin keputusanmu ini sudah kamu pikirkan matang-matang."
Senyum Rianti tersungging lebar.
"Terimakasih, Bu. Ini sudah Rianti pikirkan dan istiharahkan
jauh sebelumnya. Hatiku sama sekali tak meragukan itu. Dan semoga Allah meridhai keputusanku ini," kata Rianti. Sejenak keduanya terdiam.
"Jadi kapan Jamila akan bebas," tanya Sulastri. Ponsel di atas meja diambilnya dan dimasukkan ke dalam tasnya.
"Insya Allah, tiga hari lagi, Bu," jawab Rianti. Sulastri mengangguk kecil.
"Oh ya, Bu. Sudah berapa persen pembangunan pondok pesantrennya dik Fahmi?"
Sulastri tersenyum. Ia mendesah panjang. Raut mukanya berubah cerah.
"Alhamdulillah, sepuluh pondasi asrama sudah selesai. Nanti malam, jamaahnya Kak Tuanmu akan datang bergotong royong. Mudah-mudahan dua minggu lagi, kesepuluh asrama itu sudah selesai seratus persen."
"Alhamdulillah, sudah ada yang menitipkan anaknya di rumah sambil menunggu asrama rampung dikerjakan,"
Wajah Rianti ikut berbinar-binar.
"Alhamdulillah, Rianti ikut senang, Bu. Mudah-mudahan apa yang kini dikerjakan dik Fahmi mendapat berkah dari Allah swt," kata Rianti.
"Baiklah, kalau begitu, ibu pulang dulu. Siang ini, akan ada lagi jamaah yang akan gotong royong. Ibu juga mau mampir di rumah makan bu pratiwi. Ibu sudah pesan gorengan buat orang kerja," kata Sulastri. salah satu tangannya ditekan di atas kursi untuk membantu tubuhnya berdiri. Ia mendekati Rianti dan membantunya berdiri. Setelah itu ia memeluknya. Setelah puas memeluk Rianti, Sulastri meraba perut Rianti yang sudah terlihat membesar sembari mengelusnya lembut. Ia kemudian mencium perut Rianti.
__ADS_1
"Cucu ibu, yang baik-baik di sini ya?, yang sabar, agar Allah menyayangimu. Nenek yakin, kelak kamu akan jadi anak yang kuat dan shaleh seperti kedua orang tuanmu," bisik Sulastri di perut Rianti. Rianti tersenyum sembari mengucap amin. Kembali Sulastri menatap Rianti lekat. Wajah Rianti diusapnya.
"Kamu juga jaga kesehatanmu, Nak. Ibu sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu. Jika nanti kamu bebas, minta ijin sama kak Tuanmu barang seminggu untuk menemani ibu di rumah. Ibu pingin sekali tidur bersama denganmu seperti dulu," kata Sulastri. Kening Rianti diciumnya. Rianti mengangguk. Air matanya keluar, namun sigap Sulastri mengusapnya.
"Sudah, gak usah pancing air mata ibu. Ayo, temani ibu sampai luar," kata Sulastri. Tangan Rianti digandengnya dan keluar dari ruangan. Rianti melambaikan tangannya ketika Sulastri melambaikan tangannya dari dalam mobil ketika mobil mulai keluar dari gerbang lapas.
* * * * *
Waktu terus berlalu. Tak terasa senja telah tenggelam. Gelap menghampar. Tapi suasana berbeda terlihat di depan rumah besar milik Sulastri. Persawahan yang dulunya menghampar dan gelap di depan gerbang rumah, kini terlihat rata. Beberapa truk pengangkut pasir mondar-mandir sejak pagi tadi untuk menimbun area persawahan. Lampu-lampu penerangan di pasang hampir memenuhi area persawahan yang telah dibeli Sulastri untuk lokasi pembangunan pondok pesantren. Malam ini akan ada gotong royong besar-besaran di tempat itu.
Orang-orang utusan Tuan Guru Izzul Islam juga sudah terlihat datang dan berkumpul di depan gerbang sembari menunggu bi Aisyah dan Munawarah membuatkan mereka kopi. Sulastri yang ikut berbaur terlihat ikut menghidangkan gorengan yang tadinya dibeli dari rumah makan bu Pratiwi.
Suara musik kasidah yang diputar pak Bayan terdengar ramai mengisi suasana malam.
Berpindah beberapa kilo dari tempat itu. Tepatnya di dalam lapas perempuan lombok timur, Rianti dan Jamila yang baru saja selesai melaksanakan shalat isya, terlihat duduk di atas tempat tidur. Dua buah kotak plastik berisi makanan, yang tadi dibawakan Sulastri, segera dibuka Rianti. Ada sambal jamur tiram, ikan kering dan daging bebek yang digoreng. Dari dalam tas kresek besar warna hitam, Rianti mengeluarkan beberapa minuman dan membagikannya kepada Jamila.
Jamila hanya terdiam. Ekspresinya nampak tak bersemangat. Tatapannya lemah menatap makanan di depannya. Malam ini ia merasa tak berselera makan. Tiga hari lagi dia akan bebas. Sedangkan Rianti sendiri harus masih menjalani sisa hukumannya tiga bulan lagi. Kebebasan yang sangat ditunggu-tunggu para napi, malah kini menjadi saat yang tidak menyenangkan baginya. Tanpa Rianti, kebebasannya tak berarti apa-apa. Walaupun tempat yang akan ditujunya setelah bebas sudah jelas.
Rianti menghela nafas panjang. Dia urung mengangkat suapannya karna melihat Jamila nampak tak bersemangat.
"Ayolah, Jamila. Jangan seperti itu. Makanlah. Akhir-akhir ini kamu makannya sedikit. Nanti kamu sakit,"
Jamila menundukkan wajahnya. Ia menatap Rianti sedih.
"Besok antar aku lagi menemui Sipir. Aku tidak ingin bebas," kata Jamila. Rianti tersenyum.
"Kan kemarin kamu sudah dengar sendiri. Suka atau tidak suka, kamu harus meninggalkan tempat ini," kata Rianti. ia mencuci tangannya dan memegang pundak Jamila.
* * * * *
"Apa?, kak Rianti bilang begitu?" Fahmi yang sedang duduk di teras rumah setelah menyambangi jamaah yang bergotong royong malam ini, setengah terkejut ketika mendengar cerita Sulastri yang duduk di sampingnya. Ia menatap wajah Sulastri lekat. Sesaat ia terdiam dengan kening mengerut. Tapi setelah beberapa saat, kerutan di keningnya terlihat melunak. Ia mendesah.
"Mengejutkan memang, tapi sah-sah saja jika memang kak Rianti yang menginginkannya." Fahmi kembali menatap Sulastri.
"Apa ibu sudah tanya apa alasan kak Rianti melakukan ini," sambung Fahmi.
Sulastri mengangguk.
"Kakakmu selalu mengambil keputusan dengan pertimbangan agama. Itu sebabnya kita tak pernah menang dan bisa menghalangi keputusan yang kita anggap salah," kata Sulastri.
"Ck...ck...ck, kak Rianti memang perempuan luar biasa. Ya, Allah, jika kelak aku dipertemukan dengan seorang wanita, maka pertemukan aku dengan perempuan yang seperti kak Rianti. Luar biasa!" kata Fahmi menggelengkan kepalanya. Sulastri mengangguk.
"Coba ibu bayangkan, bisa saja kak Rianti mengambil bagian terbesarnya dalam perusahaan, tapi dia meyerahkannya untuk dibagi rata dan untuk kepentingan agama dan umum," kata Fahmi terkagum-kagum.
Sulastri tersenyum. Dia bangkit dan berdiri.
"Ya sudah, kamu awasi orang-orang yang bekerja. Ibu mau istirahat," kata Sulastri. Dia langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Fahmi yang sepertinya masih terpaku mengagumi sosok Rianti.
* * * * *
Jamila terlihat kembali di antar petugas jaga setelah beberapa menit berada di pos jaga memasakkan air hangat untuk Rianti. Segelas susu panas untuk Rianti di seduhkannya. Rianti yang ada di atas ranjang membaca Al-qur'an menoleh dan tersenyum kepada Jamila ketika Jamila meletakkan segelas susu di dekatnya. Rianti mencium Al-qur'an di tangannya kemudian menutupnya.
__ADS_1
"Terrmakasih,"
Jamila tersenyum.
"Masih panas. Sambil menunggu, ayo baringkan tubuhmu. Biar aku pijit kakimu," kata Jamila. Rianti menolak, tapi Jamila memaksanya berbaring. Jamila mulai memijit kakinya.
"Jamila, gimana ya rasanya orang melahirkan. Kata orang, saat melahirkan adalah saat antara hidup dan mati," kata Rianti. Jamila tersenyum.
"Nanyanya kok kesini. Sama, aku juga belum merasakannya. Nikah saja belum," kata Jamila.
"Sebentar." Tiba-tiba Jamila seperti ingat sesuatu. Ia menurunkan tubuhnya dan menunduk ke kolong tempat tidur. Ia mengeluarkan sebuah tas besar dari dalamnya. Rianti hanya menatap heran dan belum mengerti apa yang sedang dilakukan Jamila.
"Lagi ngapain sih?" tanya Rianti. Jamila hanya terdiam dan mulai membongkar satu persatu baju yang terlipat di dalam tas. Ia mendesah pendek.
"Aku lupa dimana menaruhnya," kata Jamila. Pakaian di dalam tas dirapikannya kembali. Setelah selesai, ia kembali memasukkannya ke kolong tempat tidur.
Jamila kembali memijat kaki Rianti. Rianti mengernyitkan keningnya.
"Kamo kok belum jawab sih, cari apa," tanya Rianti lagi.
"Aku baru ingat, aku pernah di kasih amalan sama guru ngajiku dulu waktu Aliyah. Tapi aku lupa dimana menyimpannya," kata Jamila.
"Memangnya kamu bawa ke penjara?"
"Catatan itu terakhir ada di celana yang aku gunakan saat ditangkap. Sudah terlalu lama, tapi...?" Jamila mencoba mengingat. Ia terdiam beberapa saat. Jamila tersenyum.
"Yah, aku ingat sekarang." Jamila memperbaiki posisi duduknya. Kali ini ia bersila di depan Rianti terbaring.
"Dengarkan baik-baik ya. Ini bekalmu kelak jika melahirkan anak. Mungkin Tuan Guru belum sempat memberitahumu," kata Jamila. Rianti tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dibandingkan hewan, manusia lebih banyak yang tidak selamat saat melahirkan. Cocok sekali jika wanita yang melahirkan antara hidup dan mati. Oleh karnanya untuk keselamatan saat melahirkan, seorang wanita dianjurkan untuk membaca surat Al-Insyiqoq ayat satu sampai lima." Rianti mengangkat tubuhnya pelan dan menyandarkannya di dinding.
"Dan barang siapa yang takut keguguran, maka bacalah Ya Hasiybu tujuh kali. Tetapkanlah membacanya sambil mengelus perutmu. Mudah-mudahan Allah memberi keselamatan kepadamu dan kepada bayimu. Dan jika kamu menginginkan anak laki-laki, maka niatkan jika kamu hamil, anak yang ada di dalam kandunganmu itu akan kamu beri nama Abdul Qadir," lanjut Jamila. Rianti masih terdiam, seperti menunggu kata-kata yang akan disampaikan lagi oleh Jamila. Tapi sampai di situ, Jamila tak berkata apa-apa. Ia kembali memijit kakinya.
"Hanya itu?" tanya Rianti. Jamila tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.
"Selebihnya, tanyakan nanti sama Tuan Guru," kata Jamila. Rianti tersenyum.
"Alhamdulillah, aku dapat ilmu lagi. Sedikit tapi sangat bermanfaat," kata Rianti.
Terdengar suara pukulan nyaring dari arah luar. Jamila mendesah. Selimut yang terlipat di samping Rianti digelarnya. Tubuh Rianti dibantunya kembali berbaring. Setengah tubuh Rianti kemudian ditutupinya dengan selimut.
"Sudah jam 12, sudah waktunya kamu istirahat. Aku tidur di bawah saja," kata Jamila.
"Gak apa-apa, kita bisa berbagi tempat tidur. Masih muat kok," kata Rianti.
"Sudah, aku tidur di bawah saja. Kamu harus punya ruang gerak biar tubuhmu gak kaku," kata Jamila. Ia kemudian bangkit dan mengambil tikar dan menggelarnya di bawah Rianti. Perlahan ia membaringkan tubuhnya.
"Selamat tidur, Jamila," kata Rianti. Jamila tersenyum.
Malam mulai beranjak larut. Suasana hening di dalam ruangan perlahan mengantar keduanya terlelap dalam tidur nyenyak.
__ADS_1