
Langit kembali terlihat mendung siang ini, setelah tadi pagi hujan turun dengan derasnya. Gerimis terlihat mulai turun.
Tuan Guru Izzul Islam meletakkan kitab yang dibacanya di sampingnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Suara Rianti dan Jamila yang sedang bermain dengan Azka di ruang keluarga masih terdengar. Ada sesuatu yang kini mengganjal dalam pikirannya. Sesuatu yang ingin ia ungkapkan kepada keduanya sejak tiga hari yang lalu, tapi ia masih belum yakin untuk membicarakannya dengan keduanya. Ia masih mempertimbangkannya. Ia takut akan merusak keceriaan mereka. Selain itu, Ia masih ingin mendengarkan suara hati terdalamnya. Pernah ia berpikir untuk melupakannya. Tapi anehnya, hal itu membuatnya tak tenang.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia lalu bangkit. Setelah memasang bajunya, ia melangkah keluar menuju pintu. Tapi baru saja ia hendak membuka pintu, ia mengurungkan niatnya. Dia berbalik pelan dan kembali duduk di sisi ranjangnya. Ia terdiam sejenak sembari menyangga dagunya dengan sela ibu jari dan telunjuk tangan kanannya.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan mengangguk. Kopiah di kepalanya ia lepas dan diletakkan di atas ranjang. Ia kemudian mengangkat kedua lengan bajunya hingga di atas sikunya. Setelah itu, ia bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu'.
Tuan Guru Izzul Islam keluar dari dalam kamarnya setelah usai melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Hatinya sedikit tenang dan merasa yakin untuk mengatakan sesuatu itu kepada Rianti dan Jamila. Sepanjang langkahnya menuju ruang keluarga untuk menemui Rianti dan Jamila, dia terus berdoa apa yang akan dikatakannya tak akan membuat hati Rianti dan Jamila tersakiti.
"Azka, lihat siapa yang datang," kata Rianti sambil mengarahkan pandangan Azka dengan telunjuknya ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang berdiri di belakangnya. Azka menoleh. Begitu melihat Tuan Guru Izzul Islam ada di belakangnya, ia langsung berdiri dan memeluk kaki Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan menggendong Azka. Ia lalu membawanya duduk di antara Jamila dan Rianti.
"Azka sudah ngaji sama ibu Jamila?" kata Tuan Guru Izzul Islam sambil memperbaiki tempat duduk Azka di atas pangkuannya. Azka menoleh ke arah Jamila. Jamila tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Bilang sama ayah kalau Azka sudah hafal surat An-nas," kata Jamila.
"Subhanallah, anak pintar. Nanti ayah belikan mobil-mobilan kalau Azka sudah hafal surat Al-lahb ya?" kata Tuan Guru Izzul Islam sambil mencium kepala Azka.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam mendesah dan menatap ke arah Rianti dan Jamila. Keduanya saling pandang ketika untuk beberapa lamanya Tuan Guru Izzul Islam hanya menatap mereka sambil tersenyum tanpa berkata apa-apa. Tuan Guru Izzul Islam menggaruk-garuk kepalanya. Ia menghela nafas panjang.
"Ada yang ingin aku dengan kalian. Tapi ngomongnya di kamar saja," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila dan Rianti mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam memberikan Azka kepada Rianti. Ia kemudian bangkit diikuti keduanya.
"Suhaini, Nur," panggil Rianti ketika sudah sampai di depan pintu kamar. Suhaini dan Nur Jamila yang sedang menemani Inak Nurmah di kamar belakang segera keluar dan mendekat ke arah mereka.
"Bawa Azka ke kamarmu ya," kata Rianti sambil menyerahkan Azka kepada Suhaini.
"Azka sama nenek dulu. Mau didongengkan cerita tentang Cuplak dan Gurantang," kata Rianti sembari mengusap kepala Azka. Azka mengangguk. Suhaini dan Nur Jamila kemudian segera membawanya ke kamar belakang. Tuan Guru Izzul Islam, Rianti dan Jamila serempak melambaikan tangannya ke arah Azka saat Azka melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Aku jadi takut. Tumben Kak Tuan seserius ini," kata Rianti ketika mereka telah duduk di atas sofa.
Sejenak suasana menjadi hening. Tuan Guru Izzul Islam belum juga terlihat ingin memulai pembicaraannya. Rianti dan Jamila masih menunggu penuh penasaran. Tak biasanya Tuan Guru Izzul Islam seperti itu. Seperti ada sesuatu yang berat yang sedang dipikirkannya. Dan sepertinya ia merasa kesulitan mengucapkannya.
Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya. Tubuh Jamila dan Rianti yang ada di samping kiri dan kanannya di dekatkannya ke tubuhnya. Ia kemudian memeluk tubuh keduanya erat. Kening keduanya bergantian di kecupnya lembut. Jamila melirik ke arah Rianti memperlihatkan kebingungannya. Demikian juga dengan Rianti. Keduanya mulai merasa khawatir tentang sesuatu yang mungkin membebani Tuan Guru Izzul Islam. Masing-masing mencoba menerka dalam pikiran masing-masing tentang sesuatu yang mungkin jadi beban Tuan Guru Izzul Islam.
"Kak Tuan, jika ada yang ingin Kak Tuan sampaikan, langsung saja. Terus terang, diamnya Kak Tuan dan sikap Kak Tuan inj membuat kami jadi cemas," kata Rianti dengan kepala bersandar di pundak Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya matanya menatap ke wajah Tuan Guru Izzul Islam. Mencoba membaca ekspresi dari wajah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan mengusap kepala keduanya. Setelah itu, dia lalu mengangkat pelan kepala keduanya. Ia mendehem. Ia menghela nafas panjang sambil memejamkan mata sejenak.
__ADS_1
"Aku berlindung kepada Allah, Zat yang maha membolak-balikkan hati, atas nafsu yang menguasai jiwaku." Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya. Setelah itu bergantian menatap keduanya.
Jamila bangkit mengambil air botol kemasan dan meletakkannya di depan Tuan Guru Izzul Islam.
"Sebenarnya berat mengatakannya. Aku paling takut membuat hati kalian tersakiti dan sedih. Demi Allah, semua yang aku cari ada pada kalian berdua. Sungguh, aku sangat beruntung memiliki kalian. Aku ridha kepada kalian berdua. Semoga Allah mencatat kalian sebagai bidadari-bidadari surga," lanjut Tuan Guru Izzul Islam disambut langsung dengan ucapan amin dari keduanya.
"Demi Allah, kami juga bersaksi bahwa Kak Tuan adalah suami yang mengerti hak-hak istrinya. Kak Tuan telah berlaku adil. Apa yang Kak Tuan lakukan sesuai dengan apa yang Kak Tuan ucapkan. Kami bersyukur ditakdirkan hidup untuk mendampingi Kak Tuan. Apapun yang Kak Tuan inginkan adalah kebahagiaan kami untuk mewujudkannya," kata Rianti yang langsung disambut oleh senyuman dan anggukan kepala Jamila.
Tuan Guru Izzul Islam. Air matanya terlihat keluar.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari mengusap air matanya.
"Kalian tentu tahu, seluruh hidupku disibukkan dengan bergelut di bidang agama. Aku punya cita-cita besar menghabiskan seluruh hidupku untuk menyebarkan syiar Islam menurut kemampuanku. Perkembangan yang begitu pesat ini, membuat perubahan dan kebebasan telah menggeser nilai-nilai agama dalam masyarakat kita. Aku ingin di setiap desa ada cabang-cabang pesantren kita. Setidaknya, orang-orang yang sedikit melalaikan agamanya bisa tersejukkan dengan ayat-ayat dan zikir dari pengeras suara yang kita perdengarkan. Sekeras-kerasnya batu, akan berlubang juga jika terus menerus ditetesi air." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Ia menghela nafas panjang dan menatap ke arah photo almarhum ayahnya.
"Almarhumah ibu pernah bercerita bahwa salah satu doa almarhum ayah adalah, jika anaknya tak memberikan manfaat apa-apa untuk agamanya, ia meminta agar Allah tidak memperpanjang umur anak-anaknya. Sebaliknya, beliau berdoa agar menuntaskan segala keinginan baik anaknya sebelum mencabut umurnya."Tuan Guru Izzul Islam kembali terdiam. Rianti dan Jamila mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Tuan Guru Izzul Islam. Untuk sementara, keduanya belum bisa menyimpulkan arah pembicaraan Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya masih menunggu Tuan Guru Izzul Islam melanjutkan pembicaraannya. Rianti menuangkan air dalam botol ke dalam gelas di depan Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia kemudian meminum air yang dituangkan Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menatap bergantian keduanya. Ia tersenyum. Tangan keduanya dipegangnya erat dan meletakkannya dipangkuannya.
__ADS_1
"Aku ingin meminta ijin kalian untuk menikah lagi."