
Suasana di ruang makan kembali sepi ketika Nur Jamila, Suhaini, Abdul khalik dan Zaebon pamit kembali ke kamar masing-masing. Tinggal Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila yang saling pandang dengan senyum penuh arti yang hanya mereka berdua yang tahu. Suasana tiba-tiba saja berubah kaku. Entah kenapa suasana yang sudah mulai terbiasa antara keduanya tiba-tiba berubah kikuk. Tak seperti saat mereka bergantian memberi nasehat pada Abdul khalik dan Zaebon.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang setelah melirik ke arah jam dinding. Sudah jam 12 malam. Ia menoleh ke arah Jamila yang duduk di sampingnya dengan menundukkan wajahnya.
"Sudah jam 12, aku antar kamu ke kamarmu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila menganggukkan kepalanya pelan. Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Jamila melirik. Dia mengira Tuan Guru Izzul Islam akan memegang tangannya dan membantunya berdiri, tapi dia hanya melihat Tuan Guru Izzul Islam berdiri saja sembari sibuk merapikan bagian belakang bajunya yang kusut. Dia pun mengangkat tubuhnya pelan. Dia kemudian mengikuti Tuan Guru Izzul Islam berjalan di belakangnya.
Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar saat menyusuri lorong menuju kamar mereka. Suasana hening bahkan berlanjut hingga keduanya sampai di kamar Nyai Mustiani yang ditempati Jamila.
"Jangan lupa shalat sunnah sebelum tidur ya. Kalau kamu sempat, mampirlah ke kamar. Bangunkan aku tahajjud," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila terdiam. Ia mendesah pelan. Ia menggaruk-garuk punggung lehernya. Ada yang ingin ia katakan, tapi ia malu. Suasananya benar-benar membuatnya kikuk. Ia mulai kesal. Kedua bibirnya mengatup rapat seperti tak membiarkan lidahnya bergerak.
Melihat Jamila hanya diam dan tak menjawabnya, Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia menatap wajah Jamila. Keringat terlihat berkumpul di keningnya. Wajahnya Jamila terlihat gelisah. Pucat. Tak seperti beberapa menit yang lalu. Tuan Guru Izzul Islam mengambil ujung sorbannya dan mengusap keringat di kening Jamila.
"Kamu sakit?" tanya Tuan Guru Izzul Islam sambil menyentuh pundak Jamila. Tak ada jawaban. Jamila hanya menunduk memandang jari-jari kakinya.
Jamila? Kamu sakit?" balas Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Jamila seperti tak mendengar pertanyaannya. Bahkan saat ia menyentuh pundaknya. Jamila tergagap. Ia seperti orang kebingungan, menoleh kesana kemari.
"Apa Kak Tuan mengatakan sesuatu?" tanya Jamila. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang sembari tersenyum.
"Kamu sakit?" kata Tuan Guru Izzul Islam mengulang pertanyaannya. Jamila tersenyum sembari mengurut-urut keningnya.
__ADS_1
"Eh..Ti-tidak, Kak," kata Jamila gugup tersipu malu sambil memegang daun pintu kamar. Tuan Guru Izzul Islam menepuk pundak Jamila lembut.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Aku mau ke kamar," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila terdiam sejenak, setelah itu ia menganggukkan kepalanya pelan.
Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya dan melangkah menuju kamarnya. Jamila masih berdiri memegang daun pintu. Ia seperti belum mau membuka pintu di depannya. Seperti masih ada yang mengganjal hatinya. Ia menoleh. Tuan Guru Izzul Islam sepertinya mantap menuju kamarnya. Jamila mendesah panjang dan memejamkan matanya. Ia benar-benar merasa kesal dengan dirinya sendiri. Jika ia tidak juga memulainya malam ini, Tuan Guru Izzul Islam tetap akan menganggapnya belum siap memulainya. Ia harus mengatakannya. Tak perlu malu. Bukankah pahala besar jika menawarkan pelayanan batin lebih dulu kepada suami? batin Jamila. Ia menganggukkan kepalanya mantap.
"Kak Tuan." Jamila membalikkan tubuhnya. Tuan Guru Izzul Islam yang baru saja akan membuka pintu kamarnya segera menoleh. Ia tersenyum ke arah Jamila. Kali ini Jamila tak menundukkan wajahnya. Tatapannya yang bertubrukan dengan tatapan Tuan Guru Izzul Islam membuatnya tak bisa memalingkan wajahnya. Ini tatapan bukan sembarang tatapan. Itu adalah tatapan birahi. Tatapan yang menunggu salah satu dari keduanya memberi isyarat. Jamila melangkah pelan mendekati Tuan Guru Izzul Islam.
"Ada apa, Dik," tanya Tuan Guru Izzul Islam dengan suara serak. Jamila melirik kesana kemari. Mendesah dan menelan ludahnya dalam-dalam.
"Apa Kak Tuan gak mau tidur di kamar ibu?" kata Jamila. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mendesah panjang.
Tuan Guru Izzul Islam meraih pelan tangan Jamila dan mengajaknya menuju kamarnya. Tangan Jamila bergetar. Tuan Guru Izzul Islam semakin mempererat pegangan tangannya.
"Kita shalat sunnah dulu, Kak Tuan?" tanya Jamila ketika telah sampai di dalam kamar. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia mempersilahkan Jamila untuk mengambil wudhu' terlebih dahulu.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya ketika telah selesai berdoa. Sebelum dia menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Jamila, Jamila sudah terlebih dahulu menyodorkan tangannya dan mencium tangan Tuan Guru Izzul Islam bolak-balik. Setelah itu ia meletakkan tangan Tuan Guru Izzul Islam di atas kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengusap lembut kepala Jamila lalu menciumnya. Darah keduanya yang berdesir sebagai isyarat bahwa tak ada lagi sekat rasa malu untuk segera menyatukan cinta mereka yang tertunda satu malam. Gerak-gerik tubuh Jamila tak bisa disembunyikan lagi dengan perasaan malunya. Dia menginginkannya. Dia menginginkan sesuatu yang harus dilakukan pengantin baru. Dengan itu semuanya akan terasa lebih sempurna. Dia sudah tidak bisa lagi membendungnya. Ia ingin tangan Tuan Guru Izzul Islam segera menjamah tubuhnya.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam melepaskan perlahan mukena yang dipakai Jamila. Aroma tubuh Jamila menggetarkan seluruh persendian Tuan Guru Izzul Islam. Rambut Jamila yang terurai semakin mempersonakannya. Ia memejamkan matanya sembari bibirnya terlihat komat-kamit membaca doa. Setelah itu ia mengarahkan bibirnya ke ubun-ubun Jamila. Setelah itu berpindah ke lehernya. Jamila memejamkan matanya. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Seluruh tubuhnya bergetar. Nafasnya tertahan oleh degup jantungnya.
Tuan Guru Izzul Islam kemudian memegang kedua kaki Jamila dan menselonjorkannya.Ia lalu memasukkan lengan tangannya di bawah paha Jamila, sedangkan tangan kirinya melingkar di punggung Jamila. Tubuh Jamila kemudian diangkatnya dan dibopongnya menuju tempat tidur. Jamila memejamkan matanya, nyaris tanpa nafas. Tubuhnya lunglai pasrah ketika Tuan Guru Izzul Islam meletakkan tubuhnya pelan di atas ranjang. Karna malu, ia sempat menutupi salah satu pahanya yang tersibak dengan tangannya. Tapi Tuan Guru Izzul Islam segera memegang tangannya. Satu sentuhan lembut tangan Tuan Guru Izzul Islam di paha putihnya membuat Jamila menggelinjang.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia melihat ke arah lampu di dalam ruangan. Melihat wajah Jamila yang memerah menahan malu dengan menutupinya dengan satu lengannya, membuat Tuan Guru Izzul Islam memutuskan untuk mematikan lampu.
Malam beranjak larut. Mencatat setiap ******* nafas cinta dari keduanya, setiap sentuhan demi sentuhan di tubuh masing-masing sebagai ibadah di sisi Tuhan. Cinta yang bergejolak dalam dada terlampiaskan sudah. Lafadz hamdalah terucap di hati masing-masing ketika ******* terakhir membuat tubuh keduanya lunglai di atas ranjang.
Tubuh keduanya terasa lemah. senyum kelegaan mengembang dari bibir mereka dalam gelap ruang. Deru nafas mereka sebisa mungkin dikontrol. Seperti tak ingin di dengar satu sama lain.
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Jamila. Perlahan ia mendekatkan bibitnya ke kening Jamila dan mengecupnya lembut. Setelah itu ia berbisik lembut di telinga Jamila,
"Terimakasih. Semoga Allah meridhaimu sebagai istri yang shalehah."
Jamila tersenyum.
"Amin." ucapnya.
Malam yang semakin beranjak larut perlahan melelapkan keduanya dalam pelukan masing-masing.
__ADS_1