KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#124


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 11 malam ketika nada message di ponsel milik Sulastri terdengar berbunyi. Tak mau suara ponselnya mengganggu Rianti yang tertidur pulas di sampingnya, Sulastri segera meraihnya. Ia bangkit dan melangkah pelan keluar kamar. Ia bergegas menuju ke sofa ruang tamu dan duduk.


Sebuah pesan dari Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri membukanya dan mulai membacanya. Jantungnya berdegup. Seperti kedatangan sms dari kekasih yang sangat dicintainya.


"Assalamualaikum. Maaf, tadi sedang ada tamu. Ada yang bisa saya bantu?"


Sulastri mendesah. Ia menatap sejenak ke arah depan. Dia belum menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab sms Tuan Guru Izzul Islam. Perkaranya juga akan lebih panjang jika ia membalasnya lewat sms.


Kedua jempol Sulastri mulai mengetik.


"Maaf, Jika tidak mengganggu, saya ijin menelpon Tuan Guru,"


Sulastri menghela nafas panjang. Ia benar-benar merasa serba salah. Benar-benar tidak sopan. Agak lama ia menunggu. Ia bangkit dan mulai mondar-mandir di depan jendela.


Ponsel kembali berdering. Suaranya menggema dalam ruangan. Sulastri segera mengecilkan volume panggilan. Dadanya berdebar melihat nama Tuan Guru Izzul Islam di layar ponsel. Tak mau ada yang mendengar pembicaraannya, Sulastri segera berjalan cepat menuju teras rumah.


"Assalamualaikum, Tuan Guru. Maaf, saya jadi mengganggu Tuan Guru," kata Sulastri ketika telah sampai di teras rumah. Dia tersenyum sambil menoleh kesana kemari mendengarkan pembicaraan Tuan Guru Izzul Islam dari arah seberang.


"Maaf, Tuan Guru kalau saya lancang. Saya tak sempat menyuruh Fahmi mengundang Tuan Guru. Saya ingin bersih-bersih rumah, Tuan Guru. Saya ingin Tuan Guru mendoakan rumah saya jika Tuan Guru berkenan dan punya waktu," jawab Sulastri dengan suara bergetar. Alasan yang tiba-tiba saja muncul di benaknya setelah begitu lama memikirkannya.


"Biar lebih barokah saja, Tuan Guru," kata Sulastri setelah sejenak tadi mendengar jawaban Tuan Guru Izzul Islam. Ia terlihat tersenyum menganggukkan kepalanya. Sesekali ia memejamkan matanya menahan malu.


"Terimakasih, Tuan Guru. Saya tunggu kedatangan Tuan Guru besok. Sekali lagi terimakasih,"

__ADS_1


"Waalaikum salam." Sulastri menganggukkan kepalanya.


Sulastri mendesah panjang. Ia merasa sedikit lega, walaupun alasan mengundang Tuan Guru Izzul Islam menurutnya terdengar sedikit konyol. Sejenak tadi ia merasa sedang memikul batu besar di kepalanya. Sulastri mengibas-ngibaskan kerah bajunya. Keringat dingin membasahi lehernya. Setelah beberapa saat ia terdiam berdiri menatap sekelilingnya, ia memutuskan kembali masuk ke dalam rumah.


Perlahan Sulastri membaringkan tubuhnya di dekat Rianti. Ia tersenyum menatap wajah Rianti yang terlihat damai dalam tidurnya. Ia mengangkat tangannya pelan dan membelai lembut rambut Rianti.


* * * * *


Malam beranjak larut.


Sementara Sulastri sedang berusaha tidur membawa harapan bahagianya ke dunia mimpinya, Qurratul Aini terbaring lemah dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar. Pertemuannya tadi yang nyaris tanpa tegur sapa dengan Tuan Guru Izzul Islam sama sekali tak berbekas di hatinya. Bayangan Cristian hanya hilang beberapa saat saja dalam pembicaraan dua keluarga yang sedang berbahagia di depan meja makan. Setelahnya, dia menghabiskan waktunya dengan diam dan berpura-pura tidur di dalam mobil. Dia tak ingin kedua orang tuanya melanjutkan kembali tema perjodohannya dengan Tuan Guru Izzul Islam di dalam mobil. Perjodohan yang tak berani ia tolak. Melihat wajah kaku ayahnya saja, sudah cukup menciutkan nyalinya. Sepanjang perjalanan hingga di atas pembaringannya kini, wajah Cristian merajai. Bayangan Cristian yang sesekali membuatnya tersenyum, tapi lebih banyak membuatnya menangis dan lemah tak berdaya.


"Ya, Allah...," desah Qurratul Aini panjang penuh keresahan. Dia benar-benar merasa tak nyaman dengan posisi apapun di dalam kamarnya.


Qurratul Aini kembali mendesah resah. Keinginannya untuk bertaubat dengan menjauhi Cristian dan menikahi Tuan Guru Izzul Islam pada akhirnya akan berakhir sia-sia. Ia menyerah. Cintanya memang untuk Cristian.


Terdengar suara batuk dalam waktu yang panjang dari luar kamar. Qurratul Aini terdiam. Suara langkah kaki terdengar semakin menjauh. Qurratul Aini bangkit. Ia membuka perlahan pintu kamarnya. Dilihatnya Tuan Guru Faeshal sudah duduk membaca kitabnya.


Qurratul Aini mendesah resah. Dia mendongakkan kepalanya. Berpikir sejenak. Dua bisikan dalam hatinya berperang memberinya jalan keluar yang berbeda. Berdiam diri di kamar dengan perasaan resahnya, atau keluar dan berbicara baik-baik dengan ayahnya. Dia merasa harus berani mengatakan yang sebenarnya kepada ayahnya walaupun nanti akibatnya akan sangat pahit. Tapi mengingat berbagai rasa tidak enak yang saat ini menguasai hatinya, kemarahan ayahnya tak akan pernah sepadan.


Qurratul Aini segera menutup pintu kamarnya ketika terdengar suara langkah kaki lain dari arah samping. Ia segera melangkah cepat menuju tempat tidurnya dan segera berbaring. Bantal guling di letakkannya menutupi kepalanya. Telinganya awas mendengar setiap suara di luar sana. Suara langkah kaki itu seperti menjauh.


Qurratul Aini kembali bangkit dan kembali melangkah menuju pintu. Suara ibunya terdengar. Qurratul Aini membuka sedikit pintu kamarnya, sekedar bisa melihat ayah dan ibunya di ruang tamu.

__ADS_1


Qurratul Aini memejamkan matanya. Setelah beberapa kali mencoba menstabilkan detak jantungnya yang semakin berdebar kuat, ketika memikirkan kata-kata yang akan diungkapkannya didepan ayahnya, ia memberanikan diri membuka pintu dan melangkah menuju ruang tamu.


"Aini? Kenapa kamu belum tidur, Nak," kata Nyai Indrawati ketika melihat Qurratul Aini datang dan duduk di dekatnya. Tuan Guru Faeshal membuka kaca matanya. Keningnya mengkerut manatap wajah sayu Qurratul Aini. Qurratul Aini menunduk. Tatapan ayahnya membuatnya gentar. Saat sedang tidak marah saja, ia begitu menakutkan. Bagaimana jika nanti ia benar-benar memberitahukan sesuatu yang membuat ayahnya tersinggung dan akhirnya marah?


Qurratul Aini mulai bimbang. Tangannya basah oleh keringat dingin. Kakinya bergetar.


"Ada apa, Nak. Apa ada yang ingin kamu bicarakan sama ayah dan ibu?" tegur Nyai Indrawati lembut sambil mengusap rambut Qurratul Aini. Qurratul Aini masih tertunduk. Kali ini ia memejamkan matanya, mencoba menghimpun kembali keberaniannya. Setelah sejenak terdiam, ia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap wajah Tuan Guru Faeshal yang masih menatapnya penuh selidik. Qurratul Aini mengambil air minuman kemasan gelas di atas meja. Ia lalu merobek penutupnya dan menyodorkannya di depan Tuan Guru Faeshal.


"Ayah, doakan saya air ini, biar hati saya lebih tenang," kata Rianti dengan suara serak. Tatapan mata Tuan Guru Faeshal berubah tajam. Air gelas kemasan di depannya dihempaskannya keras dengan tangannya. Air terciprat kemana-kemana dan mengenai wajah Nyai Indrawati dan Qurratul Aini.


"Kurang ajar. Siapa yang mengajarkanmu perkara bid'ah seperti ini. Kamu telah sesat dan orang sesat tempatnya di neraka." Tuan Guru Faeshal berdiri. Tangannya terkepal memperlihatkan urat-urat besar di lengan tangannya. Melihat suaminya marah, Nyai Indrawati bangkit dan merangkul tubuhnya.


"Sabar, Yah. Anakmu mungkin belum tahu. Sabar."


"Makanya sekarang ini aku lagi kasih tahu kalau apa yang dia lakukan tadi adalah perkara bid'ah. Itu hanya akal-akalan Tuan Guru yang ingin dikatakan sakti. Ujung-ujungnya hanya alasan mereka untuk meminta upah," kata Tuan Guru Faeshal. Mata dan wajahnya memerah. Urat di lehernya membentang.


"Tapi bukankah di salah satu cerita, seorang laki-laki yang tersengat kalajengking, yang sembuh ketika dibacakan surat fatehah oleh seorang sahabat, terjadi di zaman Nabi dan Nabi sendiri mengetahui kejadian itu?" kata Qurratul Aini mencoba memberanikan diri melawan pernyataan ayahnya. Ia tahu sekali ayahnya akan murka dengan bantahannya itu. Ia menundukkan kepalanya. Pasrah dengan apapun yang akan terjadi.


Mendengar perkataan Qurratul Aini, amarah Tuan Guru Faeshal semakin memuncak. Ia mendorong tubuh Nyai Indrawati yang masih menghalanginya hingga terjatuh di sofa. Sebuah tamparan keras melayang ke wajah Qurratul Aini.


"Kurang ajar. Yang kamu nukil itu hanya sebuah cerita. Cerita yang hanya dibuat-buat untuk melegalkan prilaku bid'ah mereka. Itu bukan dalil. Kurang ajar, kamu sudah berani melawanku. Sekarang, masuk ke kamarmu dan renungi kesalahanmu. Jangan sampai darahmu aku halalkan dan kamu aku bunuh," bentak Tuan Guru Faeshal beringas. Telunjuknya lurus mengusir Qurratul Aini.


Nyai Indrawati bangkit dan segera memegang tubuh Qurratul Aini. Ia lalu menarik tubuh Qurratul Aini menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2