
Senyum di bibir Sulastri mengembang. Ia mengangkat tubuhnya pelan dan menyandarkannya di brangkar. Tatapannya tak berpaling dari sosok bercahaya yang muncul dari balik pintu. Begitupun dengan senyumnya. Ketika sosok itu berdiri di antara orang-orang yang berdiri, Sulastri mengerdipkan matanya seraya memberi isyarat ke arah bayi mungil yang terbaring lucu di sampingnya.
"Hei, semua, beri jalan buat papa kalian. Jaga tangis kalian. Jangan sampai air mata kalian jatuh diwajahku." kata Sulastri sambil mengibaskan tangannya ke arah orang-orang yang menangis mengerumuninya. Sosok laki-laki itu tersenyum.
"Apa yang kamu bawa itu, Yulian." Sulastri menggelengkan kepalanya. Raut mukanya tiba-tiba terlihat kecewa.
"Terlalu lama kamu datang menjengukku, Yulian. Aku sudah menunggumu terlalu lama. Aku kira, kamu sudah melupakanku."
Sosok laki-laki menyerupai Yulian Wibowo itu lebih mendekat. Senyumnya mengembang ceria. Wajahnya berseri-seri bak rembulan purna. Di lengan tangan kanannya, tergantung gaun berwarna putih yang menjuntai panjang seperti gaun pengantin. Pernak-pernik dari mutiara dan berlian berkilauan mempesonakan mata Sulastri. Kedua tangan Sulastri dipegangnya dan membantunya turun dari tempat tidurnya. Sulastri tersenyum. Kini ia sudah berdiri berhadap-hadapan dengan Yulian Wibowo. Ia diam saja saat Yulian Wibowo melepaskan satu persatu pakaian yang dipakainya, lalu kemudian menggantinya dengan gaun yang ada di lengan tangannya.
Sulastri memperhatikan dirinya. Ia merasa lebih muda dari biasanya. Kulit tangannya terlihat lebih segar. Ia benar-benar merasa seperti saat ia muda dahulu.
"Ayo, pandanglah orang-orang yang kamu cintai itu satu persatu. Kebersamaanmu bersama mereka sudah berakhir. Mereka harus menjalani sisa hidup mereka sebelum bersama-sama kita lagi dengan amal shaleh mereka."
Sulastri menoleh ke arah orang-orang yang mengerumuni tubuh kakunya. Satu persatu ia pandangi wajah mereka. Mulai dari Rianti, Fahmi, Rayhan, Farida Tuan Guru Izzul Islam dan semua yang ada dalam ruangan itu. Sulastri tersenyum. Wajah anak-anaknya, wajah orang-orang yang disayanginya dan menyayanginya semasa hidup. Ia melambaikan tangannya. Setelah itu, ia kembali duduk di atas brangkar, memandang tubuhnya yang terbujur kaku. Diusapnya wajahnya sendiri dengan lembut. Wajah kaku yang dipenuhi kerutan. Wajah yang pernah menangis panjang. Wajah yang dulunya pernah dibawanya kemana-mana dalam kesengsaraan panjang, sebelum Allah mentakdirkan nasib baik untuknya. Wajah yang akhirnya setia bersujud di tanah menyembah Sang Khaliq. Sulastri tersenyum. Kini dipandanginya tubuhnya yang membujur kaku berselimut kain panjang. Seperti batang kayu kering nan rapuh dan tak berguna lagi. Tubuh yang dulu segar, ranum dan membuat mata-mata liar terbius birahi, kini tak lebih sebatang kayu yang hanyut terbawa air bah.
"Selamat tinggal, hai wadak kasar tempat menampung segala penderitaan dan rasa sakit selama aku hidup di dunia. Jika tak ada amal baik, kau hanyalah seonggok daging yang sebentar lagi akan mengeluarkan bau busuk dan akhirnya habis dimakan belatung. Terimakasih telah menemaniku menderita. Terimakasih karna di sisa hidupku, kau tak pernah lelah bersujud menyembah Tuhan kita." Sulastri kemudian bangkit. Ia tersenyum ke arah Yulian Wibowo. Yulian Wibowo membalas senyumannya seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar, seperti hendak mengucapkan selamat datang ke dunia baru untuk Sulastri. Sulastri mendekat dan memeluk tubuh Yulian Wibowo.
Cahaya putih tiba-tiba terlihat menghilangkan seluruh yang ada dalam ruangan itu. Tak ada lagi warna. Tak ada ruang. Tak ada lagi yang terlihat. Hanya ruang putih bercahaya tak berujung.
__ADS_1
Yulian Wibowo memegang tangan kanan Sulastri dan melingkarkannya di pinggangnya. Tangan kiri Yulian Wibowo kemudian dilingkarkan di pinggang Sulastri. Keduanya saling pandang dan tersenyum. Dengan serempak, kaki mereka dilangkahkan meninggalkan menuju cahaya dan hilang begitu saja.
Suara lantunan surah Yasin yang dibaca oleh Farida, Rayhan, Rianti dan Jamila secara serempak, menambah suasana haru di dalam ruangan. Tuan Guru Izzul Islam yang berada di bawah kaki Sulastri, mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Fahmi sendiri tampak membisikkan kalimat tauhid di telinga Sulastri.
Dada Sulastri terlihat turun naik dengan cepatnya. Lalu beberapa menit kemudian, nafasnya perlahan melemah. Semakin lemah dan tak terlihat lagi gerakan apapun. Fahmi menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendekat. Ia kemudiankan telapak tangannya ke hidung dan dada Sulastri. Tak hembusan nafas maupun detak jantungnya. Begitu juga detak di urat nadinya. Sepi dan tenang. Tangis bermula pecah dari mulut Rayhan saat Tuan Guru Izzul Islam memalingkan wajahnya dari wajah Sulastri. Tangis Rayhan merembet ke yang lainnya. Di dalam ruangan seketika ramai oleh isak tangis.
Tuan Guru Izzul Islam berdiri. Ia mendehem beberapa kali sebelum berbicara. Ia merasa perlu berbicara karna ia tak ingin tangis kesedihan itu berakhir dengan ratapan.
"Innalillahi wa inna ilayhi roji'un. Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali. Menangis adalah hal yang wajar saat orang yang kita cinta pergi meninggalkan kita. Tapi jangan sampai tangis kita yang berlebihan sehingga menimbulkan ratapan, akan berbuah siksa bagi si mayit dan dosa bagi kita yang ada di dalam ruangan ini. Menangislah seperlunya sambil mendoakan bagi si Mayit. Semoga Allah mengampuni ibu dan kita yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu melangkah menuju Retno yang sedang menggendong anak Rianti sembari tak henti-henti sesenggukan. Tuan Guru Izzul Islam lalu mengambil bayi itu dan membawanya keluar.
Rianti menyeka air matanya lalu bangkit. Ia melangkah ke bagian bawah brangkar, di mana kaki Sulastri terbujur kaku. Selimut yang menutupi kaki Sulastri di bukanya. Air matanya kembali deras mengalir. Ia terdiam sejenak sampai ia merasa sudah bisa menahan tangisnya.
Terdengar tangis bayi dari arah luar. Rianti mendesah panjang. Ia tersenyum ke arah wajah Sulastri yang nampak bercahaya. Ia menundukkan kepalanya memberi hormat. Wajah bidadari surga. Damailah di surga, Bu. Titip salam buat papa," Batin Rianti. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya pelan dan melangkah keluar ruangan.
* * * * *
Di samping ranjang tempat Sulastri berbaring. Tuan Guru Izzul Islam, pak Sahril dan pak Pratama terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Bagaimana menurut Tuan Guru mengenai waktu pemakaman ibu," kata pak Sahril memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Termasuk tergesa-gesa yang dianjurkan adalah menguburkan seseorang yang telah meninggal. Kita bersaksi bahwa almarhum ibu adalah orang baik. Dia pasti rindu ingin segera melihat tempatnya yang indah di taman-taman syurga. Aku pribadi menginginkan pemakaman ibu dilakukan secepatnya. Paling telat jam 10 pagi nanti. Tapi kita akan menunggu dik Fahmi dulu, Pak. Sebagai anak, kita harus mendengar pendapatnya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Sahril dan pak Pratama mengangguk. Tak berapa lama kemudian, Fahmi muncul. Tuan Guru Izzul Islam segera memanggilnya dan menyuruhnya duduk.
"Begini, Dik. Kami sedang membicarakan mengenai waktu pemakaman ibu. Ini agar kita bisa segera menyebarkan informasi ini ke setiap masjid. Tapi kami masih menunggu kedatangan dik Fahmi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi terdiam sejenak. Setelah itu ia menatap bergantian ke arah Tuan Guru Izzul Islam, pak Sahril dan pak Pratama hingga pandangannya kembali berakhir ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Semasa hidupnya, ibu selalu istiqomah mengunjungi makam almarhum papa setiap jam sepuluh pagi. Entah kenapa itu yang tiba-tiba terbetik di dalam hatiku sejak beberapa menit lalu. Tapi semuanya kami serahkan kepada Kak Tuan," kata Fahmi.
Pak Sahril dan pak pak Pratama tersenyum dan serempak mengarahkan pandangan ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Alhamdulillah. Kita sepakati pemakaman almarhum ibu kita laksanakan jam 10 pagi. Kita berharap, sahabat-sahabat dan semua jamaah bisa hadir semua untuk menshalatkan jenazah ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Bagaimana dengan Non Rianti, Tuan Guru. Apa dia juga sudah diijinkan pulang?" kata pak pak Pratama.
"Alhamdulillah, kata dokter, Rianti sudah bisa kita bawa pulang juga." Tuan Guru Izzul Islam menyentuh tangan pak Pratama dan pak Sahril.
"Kalau begitu, aku mau ke ruangan Rianti dulu, Pak. Bantu-bantu mengemasi barang," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Oh ya, silahkan, Tuan Guru," kata pak Sahril.
"Kak Tuan, aku sudah melunasi biaya administrasi kak Rianti," kata Fahmi. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepala. Ia lalu keluar dari ruangan.
__ADS_1