
Sulastri mengetuk dengan pelan pintu kamar Jamila setelah untuk beberapa saat hanya berdiri di depan kamar. Jamila yang mendengar suara ketukan pintu disertai salam, menghentikan bacaan Al-qurannya. Setelah mencium mushaf, ia lalu menutupnya dan meletakkannya di atas meja. Dia kemudian melangkah membuka pintu. Pintu perlahan terbuka. Jamila melihat Sulastri bersedekap di luar pintu.
Sulastri tersenyum ketika Jamila muncul di balik pintu.
"Ibu? Mari masuk, Bu, Di luar dingin," kata Jamila. Tangan Sulastri dipegangnya hendak mengajaknya masuk. Sulastri tersenyum.
"Gak usah. Aku kesini mau mengajakmu ke kamar. Yah, seperti biasa, kita ngobrol-ngobrol. Dari tadi aku gak bisa tidur," kata Sulastri.
"Baik, Bu. Tapi aku mau selimut dulu," kata Jamila. Sulastri tersenyum menganggukkan kepala.
"Lihatlah, bulan itu begitu benderangnya. Malam jumat nanti tanggal 15 penanggalan qomariyah, pasti langit semakin indah karna bukan purnama," kata Sulastri sambil menggandeng tangan Jamila menuju kamarnya. Jamila hanya tersenyum.
"Kalau cuacanya tidak dingin seperti ini, aku pasti mengajakmu menggelar tikar di halaman untuk menikmati bulan purna," kata Sulastri. Jamila melepaskan gandengan tangan Sulastri dan membuka pintu rumah. Keduanya lalu masuk.
Sebelum naik ke tempat tidur, terlebih dahulu Sulastri mematikan semua lampu di dalam kamar dan meninggakan satu lampu di sudut plavon kamar.
"Kamu belum ngantuk kan?" tanya Sulastri ketika telah menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
"Belum, Bu. Kalau di penjara, saya biasa tidur larut malam bersama Rianti," kata Jamila. Sulastri tersenyum. Dia memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.
"Tapi nanti kalau kamu sudah menikah, kamu tak boleh begadang lagi."
Jamila menoleh. Sulastri tersenyum.
Jamila mendesah panjang.
"Saya tidak punya keinginan untuk itu, Bu. Biar saya tetap di sini mengabdi sama ibu dan Rianti." Jamila menghentikan kata-katanya. Ia kembali mendesah panjang.
"Lagi pula, tak akan ada yang mau menikahkan anaknya dengan seorang perempuan mantan pengedar narkoba," lanjut Jamila. Ia menundukkan wajahnya sejenak lalu menatap Sulastri sembari tersenyum. Sulastri mengusap punggungnya.
"Tidak usah seperti itu. Masing-masing kita sudah dipersiapkan pasangan hidup oleh Allah swt. Jangan kita, bahkan semua makhluk pun punya pasangan masing-masing. Kamu tentu sudah pernah membaca kisah Sayyidina Umar, para sufi seperti Ibrahim bin Adham, ataupun yang lainnya. Bahkan ada diantara mereka yang dulunya pernah jadi perampok, hingga akhirnya mereka bertaubat dan jadi semulia-mulia manusia. Kita tak hidup untuk mendengarkan penilaian orang tentang kita. Kita hidup untuk Allah dan akan kembali kepada-Nya," kata Sulastri. Dia meraih kepala Jamila dan menyandarkannya di pundaknya. Jamila terkejut. sekaligus merasa haru. Ia benar-benar tidak menyangka, kepalanya yang dianggapnya tidak pantas, bersandar di pundak perempuan seperti Sulastri. Dia merasakan kembali sedang berada di dekat Almarhum ibunya.
__ADS_1
"Aku juga sama sepertimu. Aku tidak serta merta mendapatkan tempatku yang kamu lihat saat ini. Penderitaanku begitu panjang. Hampir-hampir aku ingin mengakhiri hidupku." Sulastri menghela nafas panjang sembari tatapannya tak berpaling dari photo Yulian Wibowo. Sulastri tersenyum. Jamila memperhatikannya penuh haru.
" Penderitaan itu telah mengajarkanku, bahwa memang tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah," kata Sulastri melanjutkan kata-katanya. Ia kemudian menoleh ke arah Jamila. Ia tersenyum dan mengusap kepala Jamila dari belakang.
"Anggap aku ibumu. Taati aku seperti kamu mentaati ibumu. Sayangi aku seperti Rianti menyayangiku walaupun ia bukan anak kandungku," kata Sulastri. Jamila mengusap air matanya dan menganggukkan kepalanya.
Sejenak ia keduanya terdiam. Jamila yang masih nyaman menyandarkan kepalanya di pundak Sulastri, seperti benar-benar sedang merasakan dirinya sebagai anak dari Sulastri.
"Sejak aku keluar dari cobaan hidupku dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di masyarakat, aku bertekad tak ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang aku lihat menderita dalam hidupnya. Itu agar kelak aku juga berharap akan dapat tempat yang tinggi di mata Allah swt,"
"Amin, Bu. Semoga apa yang diharapkan ibu dikabulkan Allah," ucap Jamila. Sulastri tersenyum.
"Doa penghafal Al-Quran tentu mustajab di sisi Allah. Mudah-mudahan aku dapat berkah dari kalian," kata Sulastri penuh harap. Sekali lagi Jamila menganggukkan kepalanya.
Sulastri melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir jam tiga malam. Dengan kata-kata pembuka yang begitu panjang, ia merasa masih kesulitan untuk membicarakan topik yang sebenarnya pada Jamila malam ini. Tapi ia berpikir tidak mungkin menundanya. Ia harus segera mengatakannya agar keinginan Rianti untuk melihat Jamila dan Tuan Guru Izzul Islam menikah malam jumat nanti akhirnya bisa terlaksana. Dan itu tinggal dua malam lagi.
"Jamila." Sulastri memegang tangan Jamila. Jamila menoleh dan tersenyum.
Air mata Jamila kembali deras mengalir. Dia menggeleng-geleng. Tak bisa menjawab langsung sebab perasaan haru dan bahagia mendengar pertanyaan Sulastri.
"Sia_pa yang ti_dak mau punya ibu seperti Bu Sulastri. Saya yang hina ini sungguh tak pantas untuk itu. Teri_ma_kasih, Bu," jawab Jamila dengan suara terbata-bata. Sulastri tersenyum. Ia menghapus air mata Jamila. Ia masih menunggu Jamila tenang dari tangisnya.
"Sebagai ibu, aku menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku ingin kamu menikah," kata Sulastri setelah memastikan Jamila sudah tenang.
Jamila mengerutkan keningnya. Ia tersenyum.
"Menikah? apa ibu sedang bercanda? Saya baru saja bebas dari penjara dan saya tak mengenal laki-laki satupun di tempat ini," kata Jamila. Sulastri tersenyum. Ia memegang wajah Jamila.
"Serahkan sama ibu. Biar ibu yang carikan calon suami yang insya Allah shaleh untuk Jamila," kata Sulastri. Jamila terdiam sejenak. Setelah memandang wajah Sulastri beberapa saat, ia menundukkan wajahnya. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Fahmi. Ia mulai menduga-duga Fahmi lah yang mungkin dimaksudkan Sulastri. Apalagi setelah merenungi pertanyaan Sulastri yang ingin menjadikannya anaknya. Tapi ia segera menepis dugaannya itu. Tak mungkin Sulastri menjodohkannya dengan Fahmi. Fahmi masih muda dan sudah dipastikan usianya terpaut jauh darinya. Lagi pula,ia merasa tidak pantas. Masih ada dua nama lagi, pak Bayan dan pak Mustarah. Tapi keduanya sudah menikah. Fahmilah satu-satunya yang punya peluang masuk dalam laki-laki yang dimaksud Sulastri.
Atau jangan-jangan, Sulastri ingin melihatnya segera menikah, agar dia bisa pergi dari rumah itu? batin Jamila.
__ADS_1
"Kamu kok diam? Apa kamu gak mau ibu mencarikanmu jodoh?" tanya Sulastri setelah melihat Jamila hanya terdiam. Jamila mengangkat wajahnya. Ia menatap Sulastri. Ia menganggukkan kepalanya pelan.
Sulastri menggelengkan kepalanya.
"Kamu belum menyerahkan sepenuhnya kepada ibu. Anggukanmu itu masih penuh keragu-raguan," kata Sulastri. Jamila tersenyum. Ia mengangguk mantap sekali lagi.
"Saya serahkan sama ibu," jawab Jamila.
"Nah, begitu dong. Kalau begini kan ibu jadi leluasa mencarikanmu laki-laki yang pantas. Dan ibu tidak perlu berlama-lama mencarikanmu. Orangnya sudah ada di dalam hati ibu," kata Sulastri. Jamila mengerutkan dahinya sembari kembali menundukkan kepala. Anggapannya tentang Fahmi adalah orang yang dimaksud Sulstri kembali muncul. Ia jadi yakin, Fahmilah orang itu.
Dada Jamila berdebar.
"Siapa, Bu dan orang mana?" kata Jamila mencoba menanyakannya. Sulastri tersenyum.
"Orang sini," jawab Sulastri singkat. Jamila mendesah panjang. Tak salah lagi, Fahmi lah orangnya.
"Bu, maaf. Tolong carikan saya yang sepadan dengan saya. Sepadan dari segi wajah, keturunan dan kedudukannya. Janganlah saya yang miskin ini dicarikan laki-laki yang terhormat,"
"Loh, siapa bilang kamu miskin. Kamu sudah jadi anak ibu sekarang. Jika ibunya kaya dan terhormat, tentu anaknya juga begitu," kata Sulastri. Kembali Jamila mendesah. Dia tak tahu harus berkata apa lagi. Dia pasrah.
Sulastri menyingsingkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia duduk dan menghadap Jamila. Jamila pun segera mengikutinya.
Sulastri memegang kedua pundak Jamila.
"Ibu harap kamu jangan menolaknya, Nak. Ibu ingin kita tetap jadi keluarga. Oleh sebab itu, ibu tidak ingin menikahkanmu dengan orang lain." Jamila menundukkan kepalanya. Sulastri benar-benar ingin menikahkannya dengan Fahmi.
"Ibu ingin kamu menikah dengan...," Sulastri menghentikan kata-katanya. Jamila mengangkat kepalanya. Ia menatap mata Sulastri lekat. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya tertahan.
"ini juga permintaan dari Rianti, sahabtamu." Sulastri kembali terdiam. Ia menghela nafas panjang.
"Siapa, Bu." Nada suara Jamila bergetar. Dia tak tahan terlalu lama menunggu Sulastri mengungkapkan nama laki-laki itu. Ia benar-benar penasaran.
__ADS_1
"Tuan Guru Izzul Islam."