KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#137


__ADS_3

Matahari sudah tenggelam di ufuk maghrib. Sinar keemasannya masih menempel indah di antara kumpulan awan yang menggumpal. Bayu yang berhembus lembut, mengiringi suara adzan maghrib yang mulai berkumandang bersahut-sahutan dari segala arah. Suara burung-burung gereja yang mulai hinggap di ranting-ranting pohon mahoni tepi jalan, terdengar ramai mengiringi awal malam. Gelap menghampar, seperti selimut alam menuju rehat panjang hingga matahari bersinar kembali esok harinya.


Sulastri menoleh ke arah cermin dimana Rianti duduk. Dia belum membicarakan hasil pembicaraannya lewat telpon dengan Nyai Mustiani. Tadi siang Rianti pulang sekitar jam 2. Setelah shalat, Rianti langsung tidur dan ia tak tega mengganggunya. Nyai Mustiani pasti sedang menunggu informasi terkait keinginannya besok untuk berkunjung ke rumahnya.


"Nak, ada yang mau ibu bicarakan sebentar. Kemarilah," kata Sulastri kepada Rianti usai melipat mukenanya di atas sajadah. Rianti yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menoleh. Ia segera bangkit dan melangkah mendekati Sulastri.


"Duduklah," kata Sulastri menyuruh Rianti duduk di sisi ranjang. Melihat wajah Sulastri yang terlihat murung, Rianti sudah bisa menebak. Sesuatu yang akan dibicarakan Sulastri sepertinya bukan topik yang menyenangkan. Pikiran Rianti mengarah ke video itu.


"Rianti, tadi Nyai Mustiani menelpon ibu. Katanya besok dia dan Tuan Guru akan datang kesini. Tapi ibu belum mengiyakan. Ibu perlu meminta ijin dan pendapatmu,"


"Kenapa harus minta pendapatku, Bu.


"Mereka akan datang dengan tujuan untuk melamarmu. Seandainya saja kejadiannya tidak seperti ini, tentu sudah ibu putuskan,"


Rianti tersenyum.


"Biarkan mereka datang, Bu. Tidak ada alasan kita menolaknya. Aku juga ingin sekali memandang wajah Tuan Guru." Sulastri menatap Rianti dan mendesah pelan. Rianti masih saja bercanda ketika ia susah memikirkannya.


"Jangan bercanda, Rianti. Ibu lagi serius,"


Rianti kembali tersenyum.


"Maksud Rianti, Rianti ingin memandang wajah orang yang shaleh, Bu. Aku ingin termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud Nabi;Barangsiapa memandang wajah orang 'alim dengan pandangan yang menyenangkan, maka Allah akan menciptakan malaikat dari pandangan tersebut yang akan memohonkan ampunan kepada orang tersebut di hari kiamat; Bagaimana, masih menganggap Rianti bercanda?" kata Rianti. Dagu Sulastri dicoleknya. Sulastri tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Rianti mendesah panjang. Tubuh Sulastri dirangkulnya.


"Gak apa-apa, Bu. Ibu telpon saja bu Nyai. Bilang kalau kita siap menerima kedatangan mereka,"


"Tapi ibu tidak sanggup menolak lamaran mereka setelah sebelumnya mengiyakan Tuan Guru. Ibu bingung kalau nanti ditanya alasan penolakan,"


Rianti tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Sulastri. Salah satu tangannya yang melingkar di pinggang Sulastri diusapnya lembut di punggung Sulastri. Sulastri mengusap lembut rambut Rianti.

__ADS_1


"Kenapa harus ditolak, Bu. Kita akan menerima lamaran itu."


Sulastri mengangkat kepala Rianti dari pundaknya. Ia menatap Rianti dengan dahi mengerut. Lagi-lagi Rianti membalasnya dengan senyuman.


"Jangan becanda lagi, Rianti. Bagaimana kalau nanti mereka tahu tentang video itu. Kita akan mempermalukan mereka,"


Rianti menaikkan kedua pundaknya. Ekspresi wajah serta gerakan bibinya seperti meremehkan.


"Buktinya, sampai sekarang pak Jamal belum juga menyebarkan video itu." Rianti memegang pundak Sulastri. Ia lalu bangkit dan melangkah menuju lemari. Seperti sebelumnya, ia kembali mengeluarkan jilbab biru motif batik dari dalam lemari. Ia lalu memasangnya. Sulastri hanya menatapnya dengan tatapan haru. Rianti kembali duduk di dekat Sulastri.


"Apa ibu percaya mimpi Tuan Guru?"


Sulastri mengangguk.


"Ibu juga yakin kalau aku ini adalah perempuan dalam mimpi Tuan Guru itu?"


Sulastri kembali mengangguk.


"Jadi, Rianti memutuskan untuk menerima lamaran Tuan Guru. Apa yang ibu takutkan terkait video itu, Aku anggap sebagai rintangan untuk menyempurnakan kebahagiaanku. Ibu gak usah memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Jika memang nanti itu semua terjadi, baru kita akan memikirkan jalan keluarnya," kata Rianti. Sulastri mengusap wajahnya dan mendesah pendek. Semudah itu Rianti menjawab kecemasan hatinya. Rianti benar-benar sudah siap lahir batin. Apa yang dikatakan Rianti benar-benar mengagumkannya, tapi tak cukup menghilangkan kecemasan dan ketakutannya.


Rianti bangkit. Tangan Sulastri ditariknya pelan dan mengajaknya berdiri.


"Ayo, Bu. Waktunya makan. Aku sudah lapar. Kita juga harus memberitahu bi Munawarah dan Bi Aisyah kedatangan bu Nyai dan Tuan Guru besok."


Sulastri mendesah panjang dan tersenyum. Sikap tenang Rianti membuatnya menyerah. Dia menurut saja ketika Rianti menarik tangannya keluar kamar.


* * * * *


Gedebur ombak terdengar tak henti-henti menghempas bibir pantai. Bulan sabit tanggal 7 qomariyah terlihat indah diantara beberapa bintang yang berkedip di ufuk barat. Sesekali pekikan burung camar bersahut-sahutan di antara hempasan suara ombak.


Di ujung dermaga, Cristian dan Qurratul Aini tampak berdiri berdiri sejajar dengan kedua tangan saling berpegangan erat. Memandang jauh ke tengah laut. Memperhatikan satu persatu cahaya yang berkedip dari sampan nelayan di tengah laut. Cahaya rembulan yang memantul di permukaan laut menambah sejuk mata yang memandang.

__ADS_1


Tak ada penjemputan hari ini setelah sejak siang tadi mereka menunggu di pelabuhan. Hingga menjelang isya', mereka belum memutuskan untuk pergi kemana. Mereka seperti orang yang tersesat di dalam rumah sendiri.


"Aini, boleh aku bertanya?" kata Cristian.


"Tentang apa?"


"Tentang Adzan. Kenapa Tuhanmu harus dipanggil lewat pengeras suara? Bukankah Tuhan Maha Mendengar?"


"Adzan itu bukan panggilan untuk Tuhan. Tapi untuk penyembah-Nya. Kami umat islam diwajibkan shalat lima kali sehari semalam. Adzan mengingatkan kami bahwa diantara kesibukan kami, ada waktu dimana kami harus meninggalkan kesibukan itu untuk mengingat Sang Pencipta. Dalam agama kami, shalat merupakan tiang agama. Mengerjakannya sama dengan memperkokoh agama itu. Tapi sebaliknya, meninggalkannya sama saja dengan menghancurkan agama itu sendiri,"


"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu shalat?


"Masih ingatkah kamu kata-kata bijak Rumi yang pernah kamu sampaikan kepadaku? Setiap agama memiliki cinta, tapi cinta tak memiliki agama. Entahlah, Cristian. Mungkin karna aku tak pernah benar-benar sempurna mengerjakannya. Itu sebabnya aku selalu jatuh di lembah maksiat."


Suara Adzan isya' terdengar berkumandang. Cristian melepaskan pegangan tangannya. Ia lalu duduk. Pandangannya di arahkan ke arah bulan sabit . Ia menghela nafas panjang dan menghempaskannya perlahan. Matanya terpejam. Ia mencoba menghanyutkan dirinya dalam alunan suara adzan yang mendayu lembut, menyingsingkan suara-suara lain di sekelilingnya. Qurratul Aini menatapnya heran. Tapi ia tetap berdiri di tempatnya. Dia tahu, walaupun Cristian bukan seorang pujangga, tapi ia mengerti betul, saat Cristian menikmati sesuatu yang dianggapnya indah dan luar biasa, dia akan seperti pertapa yang diam dalam meditasi panjangnya. Hingga saat suara adzan telah usai, Cristian membuka matanya. Ia tersenyum dan mengangguk. Ia bangkit dan menghampiri Qurratul Aini.


"Ajak aku pulang menemui ayah. Suara Adzan itu telah mengantarkanku kepada sesuatu yang selama ini menjadi misteri dalam hatiku. Walaupun aku tidak mengerti artinya. Tapi aku yakin kalimat penutup adzan itulah jawabannya." Cristian memegang tangan Qurratul Aini. Qurratul Aini menatapnya lekat.


"Aku ingin memeluk Islam. Antar aku ke ayah."


Qurratul Aini terperangah. Mulutnya menganga menatap Cristian. Ia menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak terlalu jelas mendengar ucapan Cristian. Itu kata-kata paling indah yang pernah ia dengar. Kata-kata yang melebihi keindahan sajak beribu-ribu pujangga. Ia ingin mendengarnya sekali lagi.


"Katakan sekali lagi, Cristian. Mungkinkah aku salah dengar?" kata Qurratul Aini. Cristian tersenyum. Kedua pundak Qurratul Aini dipegangnya.


"Kamu tidak salah dengar, Aini. Aku benar-benar ingin masuk Islam" jawab Cristian.


Tubuh Qurratul Aini seketika terasa lemah dan perlahan hendak luruh ke tanah. Cristian segera menahannya dan memegangnya kuat. Qurratul Aini menggelengkan kepalanya seraya terus memandang wajah Cristian. Senyum tipisnya mengembang di sela-sela air matanya yang berderai. Tubuh Cristian segera di peluknya. Air mata Cristian yang sedari tadi tertahan, akhirnya keluar juga. Ia membalas pelukan Qurratul Aini erat.


"Benarkah yang aku dengar ini, Cristian," kata Qurratul Aini. Pelukannya masih erat di tubuh Cristian. Cristian menganggukkan kepalanya. Rambut Qurratul Aini diciumnya beberapa kali.


"Ayah pasti akan merestui hubungan kita." Qurratul Aini melepaskan pelukannya. Wajah Cristian dipegangnya. Ia tersenyum.

__ADS_1


"Kita akan pulang. Aku juga akan menghubungi Tuan Guru Izzul Islam. Aku akan menceritakan yang sebenarnya. Aku yakin Tuan Guru Izzul Islam akan memakluminya. Kita tak perlu kabur lagi, Cristian." Qurratul Aini kembali memeluk tubuh Cristian. Keduanya kembai larut dalam tangis.


__ADS_2