
Matahari terlihat mengintip di balik awan di ufuk timur. Semburat cahaya kekuning-kekuningannya seperti kipas emas di antara awan-awan tipis yang perlahan menjauh. Kicau burung-burung di ranting-ranting pepohonan terdengar ramai. Bayu berhembus semilir. Pagi yang sempurna untuk memulai hari setelah malam meninabobokan panjang dalam selimut gelapnya.
Hari berganti hari. Perputaran waktu yang terasa cepat mengantarkan usia yang terus betambah tanpa disadari. Seringkali melalaikan diri bahwa di depan sana, kematian adalah sesuatu yang pasti. Tidak hari ini, namun esok dan esoknya lagi. Ketika kematian dianggap sesuatu yang menakutkan, hati yang takut telah dkuasai kesenangan dunia yang fana.
Kabar bahagia datang dari lapas Selong. Setelah menjalani masa hukuman selama enam bulan, akhirnya besok, Rianti akan bebas. Rasa bahagia menyelimuti hati Tuan Guru Izzul Islam dan orang-orang terdekatnya. Tak terkecuali Jamila, yang sejak tadi malam sibuk merapikan kamar untuk Rianti dan calon bayinya. Suasana kamar yang ditatanya benar-benar mencerminkan karakter Rianti dengan warna biru kesukaan Rianti yang mendominasi. Begitu lengkap. Sehingga apapun kebutuhan Rianti dan bayinya, semuanya tersedia di dalam kamarnya. Ia merasa kini saatnya ia mengabdi dan membalas jasa Rianti. Rianti akan dibuatnya menjadi Ratu di rumah itu.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ketika melihat Jamila masih berdiri memandang tempat tidur bayi yang selesai di hiasnya. Tuan Guru Izzul Islam memeluk tubuh Jamila dari belakang. Jamila tersenyum.
"Sudah, kok dipandang terus. sudah bagus dan sangat sempurna," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Aku ingin memperembahkan yang terbaik buat Rianti. Aku ingin membuatnya terus bahagia karna dia telah memberikanku kebahagiaannya," jawab Jamila. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan membalikkan tubuh jamila. Kening Jamila kemudian diciumnya lama.
"Kalian berdua adalah bidadari-bidadariku di surga. Bahkan sebelum di surga yang sebenarnya, aku sudah merasakan surgaku di rumah ini," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tetap merangkul tubuh Jamila.
"Terimakasih," kata Jamila. Ia memegang wajah Tuan Guru Izzul Islam dan mencium manja kedua pipinya bergantian.
"Terus, kapan kamu sendiri kapan mau punya anak?" bisik Tuan Guru Izzul Islam.
"Anak Rianti adalah anakku juga, Kak Tuan. Aku ingin ikut membesarkan anak itu. Aku tidak ingin membagi kasihku walaupun itu dengan anak yang lahir dari rahimku sendiri." Jamila terdiam menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Aku hanya meminta ijin dan ridhamu untuk menunggu sampai anak Rianti besar. Setidak-tidaknya sampai umur 6 tahun," sambung Jamila. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Dia mengangguk. Setelah itu ia kembali mengecup kening Jamila.
"Oh ya, jam berapa kita akan menjemput Rianti?" tanya Jamila.
"Sekitar jam 9. Sebelum pulang, kita akan mampir di rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Rianti dan bayi dalam perutnya." Tuan Guru Izzul Islam melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Jamila. Ia seperti ingat sesuatu.
__ADS_1
"Oh ya, Dik. Apa kamu lihat hp ku?" tanya Tuan Guru Izzul Islam sambil mulai menoleh kesana kemari mencari ponselnya. Jamila segera bergegas menuju mushalla di dalam kamar. Di atas sajadah yang masih terhampar, ia melihat ponsel Tuan Guru Izzul Islam dan mengambilnya.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah.
"Aku sampai lupa. Tadi setelah shalat duha aku lupa membawanya," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah menerima ponselnya dari Jamila. Ia mulai sibuk membuka ponselnya.
"Mau telpon siapa, Kak," tanya Jamila ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam beberapa kali mengulang memencet tombol ponselnya dan ditempelkannya di telinganya.
"Ini, mau telpon ibu, tapi hp nya gak aktif. Beliau besok mau ikut menjemput Rianti, tapi kata dik Fahmi,kesehatan ibu lagi tidak baik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Setelah memastikan ponsel Sulastri tidak bisa dihubungi, ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke nomor Fahmi.
* * * * *
Suara batuk kering terdengar bertalu-talu dalam gemanya di dalam kamar Sulastri. Sudah seminggu ini Sulastri merasa tidak enak badan. Batuk yang sempat reda beberapa hari setelah diperiksa dokter pribadinya kembali kambuh. Semalaman Fahmi, Bi Aisyah Munawarah bergantian bangun memijat kaki Sulastri. Pegal dan rasa sakit di betis dan pahanya membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Setiap kali bangun, selalu disertai dengan kesulitan bernafas beberapa saat. Beberapa alat pijit elektrik yang disiapkan Fahmi tak berpengaruh. Sulastri bahkan selalu minta dipijit oleh ketiganya secara bergantian.
Fahmi segera menghabiskan kopi hangatnya di teras rumah dan segera bergegas ke dalam rumah.
"Bu, kita opname lagi ya, biar ibu dapat penanganan maksimal dari dokter," kata Fahmi. Tatapan Sulastri lemah ke arah lantai sembari mengurut-ngurut sendiri lutut kakinya.
"Nak, kalau adikmu Farida sudah mengambil penguman kelulusannya, suruh dia pulang. Biar nanti dia bolak-balik kalau mau kuliah di pesantren kak Tuanmu," kata Sulastri lemah. Fahmi mendesah panjang. Bukannya membahas kesehatannya, Sulastri malah mengalihkannya ke masalah yang lain.
"Iya, kalau masalah itu ibu gak usah memikirkannya, masih jauh. Yang penting saat ini adalah kesehatan ibu. Kak Tuan terus menanyakan Fahmi kapan akan membawa Ibu ke rumah sakit," kata Fahmi dengan tatapan memelas, berharap Sulastri mengiyakan keinginannya.
Sulastri mendesah lemah. Ia menoleh dan meletakkan tangannya di paha Fahmi.
"Bilang sama kak Tuanmu, ibu baik-baik saja. Ini cuma sakit biasa saja," jawab Sulastri. Fahmi menggeleng.
__ADS_1
"Sakit biasa bagaimana, Bu. Semalaman ibu tak tidur karna sesak. Jangan sampai kak Tuan berfikiran Fahmi gak mau membawa ibu ke rumah sakit," kata Fahmi.
"Sudah, nanti biar ibu yang ngomong sama kak Tuanmu," jawab Sulastri. Fahmi terdiam. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk Sulastri. Hanya Rianti yang bisa membujuknya. Besok adalah hari kebebasannya. Mudah-mudahan, Sulastri mengalah dan akhirnya mau dibawa ke rumah sakit. Dia sendiri tak mau terlalu memaksanya. Sulastri harus irit tenaga karna dengan berbicara beberapa kalimat saja, ia terlihat lelah.
"Ayo, ibu bersandar dulu. Kalau duduk dengan posisi begini, ibu semakin lelah," kata Fahmi setelah menyusun beberapa bantal sebagai sandaran tubuh Sulastri. Ia lalu membantu Sulastri menggeser tubuhnya ke tengah ranjang.
Suara santri yang sedang membaca doa belajar dari pengeras suara di pesantren mulai terdengar. Fahmi menoleh ke arah jam dinding. Setelah itu ia berpaling ke arah Sulastri.
"Bu, Fahmi mau ngajar dulu sebentar. Biar saya panggilkan bi Munawarah untuk menemani ibu," kata Fahmi sambil memegang kedua tangan Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Pergilah, Nak. Gak usah panggil Munawarah. Biarkan dia istirahat dulu. Kasihan semalaman ia tak tidur menjaga ibu. Lagi pula, ibu juga mau tidur," kata Sulastri. Fahmi tersenyum dan mencium tangan Sulastri. Setelah itu, ia turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu.
"Oya, Nak. Jam berapa besok kakakmu akan dijemput?" Tanya Sulastri ketika Fahmi hanya beberapa langkah lagi dari pintu.
"Sekitar jam 9, Insya Allah," jawab Fahmi. Ia memeriksa saku bajunya. Nada getar ponselnya terasa. Ia meraihnya dan segera membukanya. Sebuah pesan singkat dari Tuan Guru Izzul Islam.
...'Dik, biar kakak saja yang jemput kak Riantimu. Ibu gak ikut. Insya Allah, sepulang dari rumah sakit memeriksa kesehatan kakakmu, aku akan membawa Rianti langsung menemui ibu'....
"Ibu juga mau ikut menjemput kakakmu," kata Sulastri. Fahmi mendesah panjang dan kembali mendekati Sulastri. Setelah duduk di dekat Sulastri, ia memperlihatkan pesan dari Tuan Guru Izzul Islam.
"Tapi, Nak...,"
"Ibu, jika ibu tidak mau mendengar Fahmi, setidaknya ibu dengar kata-kata kak Tuan. Ibu masih sakit. Untuk berbicara saja ibu terlihat begitu lelah, apalagi harus melakukan perjalanan jauh ke lapas. Ibu tunggu saja di rumah. Kak Tuan kan sudah bilang akan langsung membawa kak Rianti kesini,"kata Fahmi. Sulastri mendesah lemah. Apa yang dikatakan Fahmi memang benar. Dia terlalu lemah untuk melakukan perjalanan jauh. Tapi dia hanya ingin menjadi orang pertama yang akan melihat senyum kebebasan Rianti ketika keluar dari pintu lapas.
"Ya sudah, bilang juga sama kak Tuanmu, setelah Rianti melahirkan, dia harus mengijikan Rianti membawa bayinya ke sini barang satu atau dua malam. Kalau tidak, ibu akan pergi sendiri bersama pak Mustarah," kata Rianti setengah mengancam. Fahmi tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke kening Sulastri dan mengecupnya.
__ADS_1
"Ibu tenang saja, Fahmi jamin itu," kata Fahmi. Ia lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu.