
Tuan Guru Izzul Islam tampak sibuk membolak-balik lembaran kitab yang sedang dibacanya di beranda rumah. Sesekali ia melihat ke arah rintik-rintik hujan yang menetes dari ujung genteng rumah. Suara shalawat masih terdengar dari arah masjid. Para santri yang tidak bisa sekolah hari ini sebab hujan yang tak henti-henti turun, memilih untuk menghabiskan waktu di masjid.
Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah jam dinding yang tergantung di dinding belakangnya. Sudah jam 12 siang. Ibu dan pamannya yang hari ini pergi ke rumah Sulastri, belum juga kembali. Ia mendesah. Walaupun ia terlihat sibuk membaca kitabnya, tapi rasa tidak tenang di dalamnya dadanya sesekali mengganggu khusyu'nya. Ia deg-degan ketika membayangkan saat ibunya mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada Sulastri. Walaupun ia selalu berprasangka baik kepada Allah, dan tetap yakin Sulastri akan menerima lamarannya.
Suara klakson mobil terdengar satu kali dari arah samping rumah. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia bangkit dan berjalan sedikit ke samping . Ia melihat mobil sedan warna hitam berhenti di parkiran samping rumah.
"Assalamualaikum," kata Nyai Mustiani ketika sudah turun dari mobil. Pak Nurasmin, paman Tuan Guru Izzul Islam, terlihat berjalan pelan di belakangnya. Tuan Guru Izzul Islam segera menyalami keduanya.
"Aduh, hujan terus ni Nak Izzul," kata pak Nurasmin. Ia mengibas-ngibaskan kopiah hitamnya yang terkena air hujan.
"Iya, Paman. Santri-santri juga tak ada yang sekolah hari ini. Guru mereka tidak ada yang datang," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mempersilahkan pamannya duduk.
"Kita gagal hari ini, Nak. Calonmu gak ada di rumah. Kata satpam yang menjaga rumah, dia sedang ada acara peresmian usaha barunya," kata Nyai Mustiani memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam yang memapah tubuhnya duduk di kursi.
Pamannya mengacungkan jempolnya ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Kamu hebat, Nak Izzul. Perempuan yang akan kamu lamar ini ternyata seorang bos besar. Dia adalah istri dari almarhum Yulian Wibowo. Pengusaha paling kaya di provinsi ini, bahkan masuk top ten orang terkaya di indonesia,"
Nyai Mustiani tersenyum.
"Hasil istiharah keponakanmu memang jos, Nurasmin. Selain kaya harta, dia juga kaya anak," Nyai Mustiani ikut-ikutan mengangkat jempolnya setengah bercanda ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum. Nyai Mustiani menepuk-nepuk pundak Tuan Guru Izzul Islam.
"Jangan khawatir, besok malam selepas shalat isya, ibu dan pamanmu akan datang lagi kesana. Pokoknya harus berhasil," kata Nyai Mustiani nampak bersemangat.
Pak Nurasmin memperhatikan jam dinding di belakangnya. Ia mendesah.
__ADS_1
"Ok, kak. Saya mau pulang dulu. Ingin istirahat sebentar." Pak Nurasmin bangkit. Ia menyalami dan mencium tangan Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendekat dan menyalaminya.
"Sama. Saya juga mau istirahat sebentar," kata Nyai Mustiani.
Setelah tubuh pak Nurasmin hilang dari pandangannya, Tuan Guru Izzul Islam memegang tubuh Nyai Mustiani dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
* * * * *
Walaupun hujan turun dengan derasnya, acara peresmian rumah makan dan panti asuhan yang diselenggarakan di kawasan jalan Doyan Medaran akhirnya sukses juga. Setelah melaksanakan shalat dhuhur, Sulastri langsung mengantar Bagas dan istrinya, Nurul ke rumah di kawasan cendana beserta rombongan anak yatim dan anak terlantar. Turut juga bersama mereka Rahini, Wahyu dan Minang, yang ditugaskan Sulastri untuk mengurus keperluan anak yatim tersebut.
Sekitar jam 4 sore, Sulastri yang saat itu ditemani Rahima, memutuskan pulang. Rahima yang seharusnya tinggal bersama Retno di perumahan karyawan di jalan Doyan Medaran, posisinya diganti oleh Munawarah. Rahima meminta tetap di rumah dengan alasan tak mau lagi berpisah dengan Sulastri.
Hari sudah mulai gelap ketika mobil yang ditumpangi Suastri sampai di depan rumah. Gerimis masih turun. Setelah menutup pintu gerbang, pak Bayan segera mengikuti mobil menuju garasi.
"Bu, tadi pagi ada tamu yang datang. Ia menitipkan ini untuk ibu," kata pak Bayan sembari memberikan sebuah kertas yang dilipat ketika Sulastri sudah turun dari mobilnya.
Assalamualaikum wr wb. *maaf, saya tadi berkunjung tanpa memberitahu terlebih dahulu. Kalau ada waktu, saya akan datang berkunjung lagi nanti malam. Mohon untuk menghubungi nomor ini kalau memang ibu punya waktu menerima kedatangan kami. Trimakasih.
Nyai Mustiani
08753203233*
Sulastri mengerutkan dahinya. Nyai Mustiani. Bukankah dia ibunya Tuan Guru Izzul Islam? Ada keperluan apa gerangan sehingga dia datang berkunjung ke rumahnya. Batin Sulastri. Sulastri mendesah. Ia melipat kembali kertas itu.
"Ya sudah, Pak. Saya mau masuk dulu," kata Sulastri kepada pak Bayan. Pak Bayan mengangguk dan kembali ke pos jaga. Sulastri sendiri segera masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamarnya. Sulastri menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia masih memikirkan catatan yang dititipkan Nyai Mustiani. Tak mau berlama-lama menyimpan rasa penasarannya, Sulastri bangkit dan mengambil ponselnya. Ia lalu mencatat nomor hp yang ada di dalam kertas dan langsung menghubunginya.
"Waalaikumussalam," jawab Sulastri ketika terdengar ucapan salam dari arah seberang.
"Ini Sulastri, Bu Nyai, ibunya Fahmi."
Sulastri tersenyum mendengarkan pembicaraan Nyai Mustiani dari seberang.
"Biar saya saja yang kesana,Bu, kalau memang sangat penting," kata Sulastri.
Sulastri mengernyitkan dahinya. Matanya kesana kemari mendengarkan penjelasan Nyai Mustiani.
"Baik, Bu Nyai. Kalau memang seperti itu, saya tunggu di rumah," kata Sulastri.
"Wa alaikumussalam."
Sulastri menutup panggilannya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. Ia lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Jantungnya berdebar. Nyai Mustiani tidak memberitahunya maksud kedatangannya malam ini. Jika tidak perkara yang penting, tidak mungkin ibu seorang pimpinan pondok pesantren besar mengunjunginya. Sulastri mulai menebak-nebak sendiri. Jika memang bukan masalah Fahmi, mungkin saja itu ada kaitannya dengan sikap aneh Tuan Guru Izzul Islam saat pertemuannya kemarin. Ah. Mungkin dia terlalu percaya diri menafsirkan sikap aneh Tuan Guru Izzul Islam. Mungkin saja itu adalah sikap seorang alim, yang tak sembarangan menatap wanita yang bukan mahromnya.
Sulastri menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia mengarahkan pandangannya ke arah photo Yulian Wibowo yang tergantung di dinding kamar, menghadap ke arahnya. Sulastri menyatukan kedua telapak tangannya sambil terus menatap photo itu. Ia tersenyum.
"Maaf ya, Bang. Aku khilaf. Gak usah khawatir. Aku tetap milikmu," kata Sulastri sembari tersenyum.
Suara tarhim terdengar sayup-sayup menembus celah dalam kamarnya. Sulastri mendesah. Sebentar lagi maghrib. Dia harus segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Nyai Mustiani isya' nanti.
__ADS_1
Sulastri mengangkat tubuhnya pelan. Jilbab yang sudah dilepasnya, dipasangnya kembali. Ia lalu melangkah keluar rumah menemui Rahima.