KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#204


__ADS_3

Jam dua belas malam. Tuan Guru Izzul Islam yang baru saja selesai melaksanakan shalat sunnahnya, kini mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. Jamila yang ada di belakangnya ikut mengangkat kedua tangannya dan mulai mengamini doa Tuan Guru Izzul Islam. Posisinya yang setengah miring, membuat tatapan Jamila kini tak berpaling dari menatap wajah bagian samping Tuan Guru Izzul Islam. Dia tidak lagi fokus kepada doa yang diucapkan Tuan Guru Izzul Islam. Pikirannya melayang membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.


Ini adalah malam pertamanya sebagai pengantin baru. Malam ini ia sudah sah menjadi istri Tuan Guru Izzul Islam. Sebagai seorang istri, malam ini ia punya kewajiban untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan pengantin baru. Ia merasa takut dan malu. Ia merasa tubuhnya banyak kekurangan. Ia takut Tuan Guru Izzul Islam kecewa. Tapi ada lagi yang lebih membebaninya, bayangan Rianti masih saja tak mau pergi ketika menatap Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam sudah identik dengan Rianti. Ia merasa tak tega melakukannya.


"Jamila?" tegur Tuan Guru Izzul Islam lembut ketika melihat Jamila masih mengangkat tangannya, sedangkan dia sudah mengakhiri doanya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ketika Jamila tergagap dari lamunannya. Jamila tersipu malu dan menundukkan wajahnya. Tuan Guru Izzul Islam menyodorkan tangannya hendak bersalaman. Jamila tersenyum. Ia melapisi kedua tangannya dengan ujung mukenanya dan menyambut tangan Tuan Guru Izzul Islam.


"Tuan Guru, boleh saya meminta sesuatu?" kata Jamila memberanikan diri untuk bertanya setelah beberapa lama menimbangnya. Mengatur kata demi kata agar terdengar sopan di telinga Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum. Jamila mengambil nafas panjang dan menghempaskannya perlahan. Ia mendehem pelan. Jari-jari tangannya mulai saling menyela satu sama lain. Tapi entah, tiba-tiba saja ia kehilangan kata-kata yang telah disusunnya. Ia tak tahu mau memulai dari mana.


"Ayo, kenapa belum ngomong?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Ia memperhatikan wajah Jamila.


"Apa kamu mau kita tidur terpisah?" sambung Tuan Guru Izzul Islam. Jamila kaget. Tuan Guru Izzul Islam seperti sudah tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tepat sekali dengan apa yang ingin ia tanyakan.


Jamila mendesah panjang. Ia mencoba menyingkirkan dahak yang mengganggu tenggorokannya dengan mendehem pelan.

__ADS_1


"Ayo, katakan saja. Jangan malu. Sebagai suami istri, tak elok menyembunyikan sesuatu. Apa yang menjadi permasalahanmu, mulai sekarang akan kita pikul bersama-sama," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba memberikan keberanian pada Jamila untuk mengungkapkan keinginannya.


"Maaf, Tuan Guru, saya,...,


"Satu lagi, kita sudah bukan orang lain lagi. Jika kamu terus memanggilku Tuan Guru, itu artinya kamu masih menganggapku orang lain. Panggil aku Kak Tuan, atau kak Izzul juga boleh. Jika tidak, aku tidak akan mengijinkanmu berbicara," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila mengusap-usap punggung lehernya dengan sedikit tekanan. Permintaan Tuan Guru Izzul Islam begitu mudah namun ia sulit mengucapkannya. Ia malu dan itu membuatnya memberi aba-aba sendiri di dalam hatinya untuk memulainya.


"Maaf, Ka_k Tuan."


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya sambil memandang lucu ke arah Jamila yang masih menundukkan wajahnya.


"Benar apa yang Tu_,eh, Kak Tuan katakan. Ijinkan aku tidur sendiri dulu malam ini." Jamila menghentikan kata-katanya. Keringat dingin sepertinya mulai menyerbu tubuhnya. Ia merasa itu tidak pantas diucapkannya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Maaf, Aku belum siap melakukannya di saat Rianti malam ini tidur sendiri di penjara. Perasaan bahwa aku sedang menari-nari di atas penderitaan Rianti, masih membayang di pikiranku. Sekalipun Rianti memang menghendaki semua ini. Aku ingin apa yang aku lakukan ini adalah bentuk penghormatanku pada Rianti." Jamila mengangkat wajahnya dan memberanikan diri memandang wajah Tuan Guru Izzul Islam. Tapi itu hanya sejenak. Tatapan bening mata Tuan Guru Izzul Islam membuatnya tak mampu menatapnya berlama-lama. Ia kembali menundukkan wajahnya. Jamila mendesah pelan.


"Aku juga ingin menghabiskan malam ini dengan mengaji dan shalat sebagai rasa syukurku atas nikmat yang telah diberikan kepadaku. Demi Allah, Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan anugrah seperti ini. Aku tidak akan pernah bisa membalasnya, bahkan dengan berpuasa seumur hidupku," sambung Jamila. Nada bicaranya bergetar seperti sedang menahan tangis.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia merengsek lebih dekat ke tempat Jamila duduk. Kedua lututnya kini bersentuhan langung dengan kedua lutut Jamila.


Tuan Guru Izzul Islam memegang dagu Jamila lembut dan perlahan mengangkat wajahnya. Mata Jamila tetap tak kuasa menatap wajah Tuan Guru Izzul Islam.


"Lakukan, Jamila. Permintaanmu ini mengingatkanku pada kisah Ratu Bilqis dan Raja Sulaiman. Kamu tahu? Nabi Sulaiman menunggu begitu lama di malam pertamanya karna Ratu Bilqis larut dalam sujud panjangnya. Karna rasa syukurnya bisa menjadi istri Nabi Sulaiman, malamnya ia habiskan dengan bersujud kepada Allah swt."


Tuan Guru Izzul Islam lalu memegang kedua tangan Jamila dan mengajaknya berdiri. Posisi keduanya tetap saling berhadapan. Tuan Guru Izzul Islam mengecup kening Jamila. Jamila tersenyum tersipu malu. Tuan Guru Izzul Islam kemudian memeluk tubuh Jamila.


"Maaf, kamu terpaksa mengambil air wudhu lagi karna menyentuhmu," bisik Tuan Guru Izzul Islam. Jamila tersenyum.


"Tapi keinginanmu untuk sendiri dulu bukan berarti tidak mengijinkanku tidur di sini kan?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jamila. Lagi-lagi Jamila hanya menjawab dengan senyuman. Wajahnya terlihat semakin memerah.


"Aku mau istirahat dulu. Minta tolong bangunkan aku jam tiga," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia tersenyum lalu melangkah ke tempat tidur. Setelah melepaskan baju dan pecinya di atas tempat tidur, ia membaringkan tubuhnya pelan. Jamila segera bergegas mengambil baju dan kopiah yang tergeletak di samping Tuan Guru Izzul Islam berbaring. Ia lalu menggantungnya di tempat penggantungan pakaian.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Setelah membaca doa, ia pun perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


Malam semakin larut. Suasana hening dan sepi seperti memberi ruang bagi Jamila untuk menangis karna syukurnya. Allah telah memuliakannya yang hina dengan menempatkannya bersama orang-orang shaleh di sekitarnya. Hal yang tak pernah disangkanya sebelumnya. Dia bertekad akan menjadi lebih baik semampunya. Menjadi istri yang shalehah, sekaligus menjadi madu yang baik untuk Rianti. Sahabatnya, dunia dan akhirat.


jangan lupa vote nya ya?


__ADS_2