KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
Berterimah


__ADS_3

3 Bulan Kemudian


Freya yang baru selesai mengaji menyimpan Al Qur an nya di tempatnya. Ya, Freya setiap malam mengaji, kalau gak selesai sholat Magrib, setelah sholat Isya. Ia lakukan itu, selain untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Juga, untuk kebaikan janin di dalam kandungannya. Serta untuk mempengaruhi sang suami agar mau mengaji juga, agar guna guna yang sudah mendarah daging di tubuhnya menguap.


Selama itu, hubungan mereka masih terlihat canggung. Belum mesra, masih jarang bicara. Tapi, mereka sudah tidur seranjang. Tapi, selalu dibatasi oleh guling.


Freya naik ke atas ranjang dengan perlahan, ia melirik sang suami yang sudah memejamkan mata di sebelahnya. Freya tersenyum tipis menatap wajah polos sang suami. Ia teringat kejadian tadi sore, suaminya itu terlihat cemburu padanya saat ia dan Alex beserta Hana, tertawa terbahak bahak di taman. Dan juga acara suap suapan, serta Mahesa yang ketagihan mengelus elus perutnya yang sudah buncit itu. Ternyata hanya butuh waktu tiga bulan, Mahesa sudah mau menerimanya sebagai istri.


****Flashback on****


"Dari tadi, kamu terus yang disuapin!" ujar Mahesa. Ia terlihat canggung dan cemburu, setelah menarik tangannya Freya yang akan menyendokkan tumpeng ke mulutnya Alex. Dan kini sendok yang di tangan Freya melesat masuk ke mulutnya Mahesa. Ya, Alex sedang berulang tahun, dan keluarga yang bahagia itu, sedang merayakannya di taman belakang rumah dekat kolam renang.


Sontak kelakuan Mahesa, membuat semua orang di tempat itu termangu, pasalnya ekspresi wajah nya terlihat lucu, karena menahan malu.


"Ya, yang ulang tahun kan Alex ya, wajar dia yang disuapin." Sahut Bu Jasmin, merangkul Alex yang senyam senyum menatap mahesa, yang kini salah tingkah.


"Perutnya sudah kenyang, disuapi banyak orang. Ayah, ibu, dan Hana. Jadi gak perlu disuap," Mahesa menghentikan ucapannya. Ia akhirnya sadar, kalau dirinya sedang ditertawakan orang orang di tempat itu. "Freya gak perlu menyuapnya!" Tegas Mahesa, dan berlalu dari acara sederhana itu.


"Hahhaha... Woi.. Ada yang cembokar...!"


Bu Jasmin dengan cepat menyumpal mulutnya Alex. "Lex, adikmu itu belum stabil kejiwaannya, jangan buat masalah kamu dulu." Bisik Bu Jasmin, tertawa kecil. Ya, sikapnya Mahesa sangat lucu sore ini.


"Biar Bu, biar ia dengar. Biar ia sadar, kalau ia sudah ada hati pada Freya. Kalau dia masih gengsi gitu, dia yang rugi." Jawab Alex tertawa kecil. Merangkul sang ibu dengan penuh kasih sayang. "Gadis sebaik ini disia sia in." Kini Alex merangkul Freya juga. sehingga ia dihapit oleh kedua wanita itu.


Freya yang sudah melupakan perasaannya pada Alex, hanya senyam senyum melihat tingkah sang suami, yang meninggalkan acara, karena malu.


"Sana, susul dia ke kamar!" Bisik Alex penuh penekanan.


"Iihh.. Abang, apaan sih?" Freya menatap masam Alex. Ia juha tak suka dibuat jadi bahan candaan. Ia kan jadi malu pada ayah dan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Sana sayang, bawakan dia nasi tumpengnya. Takutnya dia bisa kelaparan, karena tak akan turun untuk makan malam." Ujar Bu Jasmin lembut.


Alex melepas, rengkuhan tangannya dari Freya. Dan Freya pun mengambil piring dan mengisi piring itu dengan tumpeng.


"Ayo semangat! " teriak Alex disaat Freya meninggal kan tempat itu menuju kamar mereka.


Sesampainya Freya di dalam kamar, ia tak mendapati Mahesa di kamar itu. Ia kemudian ke balkon, juga tak melihat sang suami di kamar itu. Dan kini Freya mencari Mahesa ke ruang kerja. Ia buka secara perlahan pintu yang tak ditutup rapat itu, ya benar sang suami ada di ruang kerjanya.


Freya melihat sang suami seperti memperhatikan sesuatu dengan serius di tangannya. Saat ini, Mahesa duduk di kursi kerjanya, Tapi, membelakangi Freya. Hal itu membuat Mahesa tak mengetahui kehadiran Freya di tempat itu.


"Haahh....!" Freya yang terkejut, dengan cepat menutup mulutnya. Sehingga Mahesa tak mendengar suara eran gan sang istri. Freya sangat tercengang melihat sang suami yang memperhatikan lekat hasil USG anak mereka. Suaminya juga mengusap- usap lembut lembaran hasil USG itu, dan juga menciuminya.


Praak..


Freya yang tak memperhatikan jalan, malah menendang tiang meja kerjanya sang suami.


"Ke, kenapa kamu kemari?" tanya Mahesa gugup. Ia sampai memegangi mulut dan hidungnya. Tak berani menatap Freya.


"Mau antar makanan, kan tadi tuan belum sempat makan."


"Aku bukan tuanmu, berapa kali sih aku katakan itu padamu!" Tegas Mahesa kesal. Wajah yang tersipu malu, kini berubah masam.


"Maaf, jadi aku manggil apa ya?" tanya Freya sopan. Memang sih seminggu terakhir ini suaminya itu gak mau dipanggil tuan. Tapi kan, ia gak tahu harus manggil apa. Secara sejak kejadian di perumahan, tiga bulan lalu. Hubungan mereka masih biasa biasa saja. Gak pernah ada romantisnya, hanya saja Mahesa gak menghina hinanya lagi.


"Suamiku!"


"Haahh..?!" ujar Frey dengan tak percayanya. Mulutnya menganga sudah, dengan mata yang membeliak. Apa suaminya itu sudah mengakui dia sebagai istri?


"Eemm... Sudahlah!" Mahesa terlihat salah tingkah. Sikap nya Freya yang terkejut membuatnya malu. Ia bangkit dari duduknya, berjalan hendak keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Su, suami suamiku kita makan du, dulu...!" ujar Freya tergagap. Ia dengan cepat menunduk setelah mengatakan itu.


Mahesa menghentikan langkahnya. Ia putar tubuh tegapnya. Ia seret kakinya lagi menghampiri Freya.


"Emmm.. Iya, aku mau makan." Ujar Mahesa, seperti anak kecil, yang kelaparan meminta makan pada sang ibu.


Freya mengangkat wajahnya dengan lirikan mata yang malu-malu kucing menatap Mahesa. Sungguh tingkah pasangan suami istri itu terlihat sangat lucu.


"Aku mau disuapi, seperti kamu mau nyuapin abang Alex." Pinta Mahesa sendu.


"I, iya Suamiku!" Sahut Freya masih grogi.


Mahesa berjalan ke arah sopa yang diikuti oleh Freya. Pria itu mendudukkan bokongnya di sopa panjang. Freya hendak duduk di sofa tunggal di hadapan Mahesa.


"Koq duduk di situ?" tanya Mahesa heran, jarak ia dan istrinya ada 1 meter, kalau jauh jauhan gitu, gimana mau nguapinnya. "Sini duduk di samping saya!" Mahesa menepuk sopa di sebelah kanannya.


Dengan perasaan yang tak karuan, Freya duduk di sebelah kanan suaminya itu. Ia masih terlihat canggung. Apalagi Mahesa dari tadi menatapnya terus. Saking groginya ditatap lekat Mahesa. Freya jadi jantungan. Dadanya naik-turun saat ini. Dan perutnya Freya yang sudah membuncit terlihat naik turun juga. Ya, kandungan Freya sudah masuk bulan ke 6.


"Bo, boleh aku elus perutmu sa, sayang!"


Haaahh..


Lagi-lagi Freya dibuat terkejut dengan ucapan Mahesa. Berarti suaminya itu sudah mau menerimanya. Padahal tiga bulan ini, suaminya itu tak pernah menyentuhnya. Bahkan di ranjang pun mereka tidur dibatasi guling.


Flashback Or


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2