
Sementara itu. Suara dentang penanda waktu dari pos lapas terdengar nyaring membelah malam. Sudah jam 12 malam. Rianti gelisah mondar-mandir di dalam ruangannya. Sambil memegang pinggangnya, sesekali ia meringis merasakan sakit di perutnya. Malam ini ia tiba-tiba tak bersemangat, bahkan untuk sekedar menyuapi sedikit makanan ke mulutnya. Ia resah memikirkan Jamila yang belum ia dapatkan kabarnya. Dadanya tiba-tiba berdebar tanpa sebab. Suasana malam paling tidak mengenakkan yang pernah ia alami.
Rianti mendesah lemah dan kembali ke tempat tidurnya. Sebenarnya berbaringpun sama tidak enaknya dengan berdiri dan mondar-mandir di depan tempat tidur. Tapi beban di perutnya membuatnya tak bisa berlama-lama berdiri.
Rianti membaringkan tubuhnya pelan setelah duduk sejenak di tepi tempat tidur. Matanya nanar melukiskan apa yang kini mengacau perasaannya. Sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi pada Jamila malam ini. Jika tidak, perasaan cemas dan gelisah yang berlebihan tak datang begitu saja mengganggunya. Tapi ia berharap dan terus berdoa, semoga Allah selalu melindungi Jamila. Dan semoga saja apa yang kini dirasakannya hanyalah pengaruh dari semakin besarnya janin yang ada dalam kandungannya.
"Ya, Allah, aku bersangka baik kepada-Mu, sebagaimana persangkaanku sebelumnya kepada-Mu. Maka lindungilah orang-orang terkasihku..., Amin."
Jamila menghela nafas panjang sembari pelan memejamkan matanya. Berusaha menyingsingkan rasa gelisah dalam hatinya. Bibirnya mulai bergerak membaca ayat-ayat suci Al-qur'an.
* * * * *
"Agh!
Jini membanting ponsel yang ia gunakan untuk menerangi jalan yang gelap di hadapannya. Ia membabi buta menendang batang-batang tembakau di dekatnya. Berkali-kali ia berteriak kesal dengan caci maki dan sumpah serapahnya yang menghentak sunyi malam.
Jini menoleh dan menatap tajam ke arah dua orang laki-laki di belakangnya.
__ADS_1
"Lihat! lihatlah yang terjadi jika bersama orang-orang bodoh seperti kalian. Lihat, perempuan yang akan melunasi hutang-hutangku sudah kabur karna kebodohan kalian. Kalian tak pakai otak kalau bertindak," kata Jini marah dengan menunjuk muka kedua laki-laki di depannya. Suaranya menderu. Keringatnya mengalir setiap kali ia menghembuskan nafasnya cepat. Mendengar kata-kata Jini yang kasar, mata kedua laki-laki itu tak kalah tajam menatap Jini. Salah satu laki-laki mendekat. Kerah baju Jini di pegangnya dan ditariknya kasar.
"Hei, Jini. Jaga omonganmu itu. Atas dasar apa kamu mengata-ngatai kami seperti itu. Jangan sampai kami bertindak kasar kepadamu," kata laki-laki itu. Jini memegang tangan laki-laki itu dan menariknya dari bajunya. Tatapan Jini seperti menantang.
" Kamu mau apa? Membunuhku? Kalian menanyakan kenapa aku mengatai kalian bodoh? Dengar, jika kalian memang punya otak, kalian tidak akan membuat perempuan itu curiga dengan suara motor kalian. Seharusnya kalian tidak menghidupkan motor sampai depan rumah. Dasar penjahat amatir," kata Jini menunjuk bergantian ke muka keduanya.
"Hei, Kamu sendiri tidak pernah menjelaskan kalau perempuan yang kamu maksudkan itu ada di rumahmu. Kami tidak mau disalahkan dalam masalah ini,"kata salah satu laki-laki tak kalah sengit.
"Ah, persetan dengan kalian. Aku lebih baik bekerjasama dengan anjing dari pada kalian. Anjing lebih pintar daripada kalian. Otot yang besar itu gak ada gunanya jika di sini kosong," kata Jini. Setelah menatap kedua laki-laki itu beberapa saat, ia berpaling dan melangkah pergi. Umpatan kembali terdengar dari mulutnya. Kedua laki-laki itu saling pandang.
"Kurang ajar."
Tanpa berkata-kata lagi, laki-laki yang memegang pisau segera menghunjamkan ujung pisau ke leher Jini berkali-kali. Jini berteriak kesakitan, namun suaranya tertahan bekapan kuat tangan laki-laki itu. Darah segar muncrat dari leher Jini disertai suara menakutkan dari tenggorokannya. Setelah untuk beberapa lamanya tubuh Jini menggelinjang di tanah, Jini akhirnya meghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh Jinu lunglai tanpa gerakan. Laki-laki itu tersenyum ketus penuh kepuasan.
"Kurang ajar. Dia kira kita siapa dikata-katainya seperti itu. Mampus kamu," kata laki-laki itu setelah mencabut pisau dari leher Jini. Ia lalu berdiri dan meludahi tubuh Jini. Dia lalu merobek baju yang dikenakan Jini dan digunakannya membersihkan pisau yang bersimbah darah.
"Terus, bagaimana sekarang. Apa yang akan kita katakan pada bos," kata temannya.
__ADS_1
"Gampang, bilang saja kalau perempuan ini membohongi kita. Yang penting kita amankan dulu mayat perempuan ini." kata laki-laki itu sambil memasukkan kembali pisau di tangannya ke dalam balik bajunya. Temannya sejenak terdiam menatap tubuh Jini. Sobekan baju di bagian dada Jini memperlihatkan bayangan buah dadanya yang menyembul. Ia mendesah dan menelan ludahnya dalam-dalam.
"Seharusnya kita perkosa dulu perempuan ini sebelum kamu membunuhnya, biar penderitaannya double,"
"Ah, gak enak. Wanita seperti ini sudah seperti bubur. Itu makanannya orang tua. Sekarang, potong-potong saja tubuhnya kemudian timbun di dekat parit sana. Cepatlah sebelum ada yang memergoki kita," jawabnya.
Tubuh Jini kemudian diseret keduanya menuju parit tak jauh dari lokasi kejadian. Keduanya lalu membagi tugas. Yang satunya memotong-motong bagian tubuh Jini dan yang lainnya bertugas menggali tanah di tepi parit. Malam semakin larut. Bunyi jangkrik dan melata malam sekitar parit mengiringi nafas kedua laki-laki yang berusaha keras menimbun potongan tubuh Jini di dalam lubang.
* * * * *
Jamila yang sudah berlari berjam-jam melewati sawah diantara tanaman-tanaman tembakau dan kerasnya tanah persawahan, akhirnya merasa tak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Di sebuah pondok di pematang sawah, tubuhnya terjatuh dan terkapar dengan posisi telungkup. Nafasnya menderu tak terkontrol. Tenggorokannya terasa kering. Tubuhnya benar-benar lelah dan lemah, sehingga untuk bergerak pun ia sudah tidak sanggup. Ia pasrah seandainya Jini dan orang-orangnya akhirnya menemukannya di tempat itu.
* * * * *
Jini membuka matanya ketika ia merasakan salah satu pipinya yang menyentuh tanah seperti basah. Setelah beberapa lamanya ia terbaring lemah di tanah, ia mulai merasa tenaganya yang terkuras dan rasa lelahnya mulai hilang. Ia memegang pipinya yang basah.
"Air," desah Jini. Dengan sekuat tenaga ia menggerakkan tubuhnya dan berusaha duduk. Ia mulai meraba-raba tanah basah tempat tadi ia menyandarkan kepalanya. Jamila tersenyum ketika tangannya menyentuh sebuah benda yang sepertinya ia kenal. Ketika benda itu ia remas, air tiba-tiba muncrat dan mengenai wajahnya. Jamila kegirangan. Yang dipegangnya memang air kemasan plastik ukuran gelas. Jamila segera mengangkatnya. Setelah merobek plastik penutupnya, ia segera meneguknya.
__ADS_1
Jamila memejamkan matanya ketika seteguk air itu mengalir ditenggorokannya. Walaupun hanya seteguk, air itu sedikit telah menghilangkan dahaganya. Ia kembali meraba kesana kemari, berharap ada air kemasan yang akan ia temukan lagi. Dan benar saja, beberapa air kemasan bekas yang ia temukan sebagiannya ada yang masih menyisakan air. Jamila merasa lega, sisa-sisa air yang ia minum menuntaskan dahaganya.