
Ada apa sih, Pa, kok tiba-tiba berhenti di sini," kata bu Trianti penasaran.
Pak Sahril tak menjawab. Ia terus memperhatikan seorang perempuan yang duduk sambil menggendong anak kecil di pangkuannya. Di sisi kiri dan kanannya, dua orang anak duduk mengapitnya. Sekitar 3 meter dari tempat mobilnya terparkir.
"Sebentar, Ma," kata pak Sahril tanpa menoleh ke arah bu Trianti. Ia membuka pintu mobil dan melangkah pelan ke arah perempuan yang tak lain adalah bi Aisyah itu.
Bi Aisyah menatap pak Sahril yang berdiri di depannya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dahi keduanya mengerut. Seperti sedang mengingat satu sama lain.
Pak Sahril mengalihkan pandangannya ke wajah Fahmi dan Farida. Wajah keduanya tampak hitam dan kusam. Rambut mereka acak-acakan tak terurus. Namun ia yakin masih mengenali wajah-wajah itu. Ia yakin tak salah orang, walaupun dia tidak tahu nama-nama mereka.
Bu Trianti masih memperhatikan pak Sahril dari dalam mobil. Dia masih tidak mengerti apa yang dilakukan suaminya.
"Maaf, Ibu yang bekerja di rumahnya bu Sulastri?" tanya pak Sahril. Ia meniup debu di tepi trotoar dan duduk. Dia meraih tubuh Farida dan mengajaknya duduk di dekatnya.
"Benar," kata bi Aisyah. Ia menatap pak Sahril lekat. Ia juga merasa pernah melihat laki-laki di depannya. Namun ia ragu. Takut salah. Pak Sahril mendesah lega. Ia tersenyum.
"Bapak siapa," tanya bi Aisyah ragu.
"Saya ini pak Sahril, pengacaranya almarhum pak Yulian Wibowo,"
Bi Aisyah tersenyum lega. Wajahnya yang sayu perlahan terlihat ceria. Pikirannya yang kusut seketika berubah penuh harapan.
"Ya, Allah, Pak, Alhamdulillah." Bi Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia terlihat menangis.
Bu Trianti yang masih penasaran di dalam mobil, akhirnya memutuskan keluar dan mendekat ke arah mereka. Dia kemudian duduk di dekat pak Sahril.
"Siapa, Pa," bisik bu Trianti.
"Ini ibu yang bekerja di rumahnya bu Sulastri, dan ini anak-anaknya," kata pak Sahril sambil menunjuk ke arah bi Aisyah, Fahmi dan Farida.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga ya, Pa," kata bu Trianti senang.
__ADS_1
"Terus, bu Sulastrinya mana," sambung bu Trianti. Ia menatap ke arah bi Aisyah.
"Fahmi, ajak adikmu beli makanan di warung," kata bi Aisyah. Uang dua puluh ribu yang diberikan seorang wanita kepada Farida beberapa menit tadi, diberikannya kepada Fahmi.
"Fahmi, ini, tambah lagi uangnya," kata pak Sahril. Ia mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya.
"Dari tadi mereka belum makan, Pak," kata bi Aisyah sembari mengusap ujung matanya. Mendengar itu, bu Trianti mengusap dadanya. Ia terlihat kaget.
"Astaghfirullah, kok bisa, Bu," tanya bu Trianti. Ia menoleh ke arah Fahmi dan Farida yang tengah berdiri di depan warung tepi jalan.
Bi Aisyah kembali menangis.
"Semenjak bu Lastri menghilang sejak lima hari yang lalu," kata bi Aisyah sesenggukan.
Bu Trianti dan pak Sahril saling pandang.
"Menghilang? menghilang kemana Bu," tanya bu Trianti mendahului pak Sahril.
Bu Trianti dan pak Sahril serempak mendesah.
Pak Sahril melambaikan tangannya pada Hasbi yang sedang duduk di bawah pohon dekat mobil. Hasbi mendekat.
"Kamu pergi dulu cari alfa mart. Beli sabun selengkapnya untuk mandi, juga makanan," kata pak Sahril. Bu Trianti mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada Hasbi.
"Oya, Hasbi, nanti kalau kamu tidak menemukan kami di sini, kamu mundurkan mobil ke gang itu ya?" tegur pak Sahril. Hasbi mengangguk.
"O ya, Bu, Selama ini kalian tinggal dimana," tanya pak Sahril.
"Kami ngontrak, Pak. Itu, di gang itu," tunjuk bi Aisyah ke arah gang tak jauh dari tempat mereka duduk. Pak Sahril mengangguk. Dilihatnya Fahmi dan Farida telah selesai dari makannya. Keduanya nampak malu ketika bu Trianti tersenyum ke arah keduanya.
"Bi, ini buat bibik," kata Farida sambil menyerahkan sebungkus nasi kepada bi Asiyah. Fahmi sendiri mendekat ke tempat bu Trianti dan menyodorkan uang sisa makannya.
__ADS_1
"Simpan buat belanja kamu dan adikmu ya," kata bu Trianti sambil mengusap kepala Fahmi. Fahmi mengangguk dan kembali mendekati Farida.
"Bu, ayo, kami antar ke kontrakan. Ada banyak hal yang ingin saya dengar terkait bu Lastri." Pak Sahril bangkit dan mengajak bi Aisyah kembali ke kontrakan.
* * *
Gelap malam terhampar. Suasana sepi mencekam terlihat di kawasan jalan Doyan medaran. Sehabis maghrib. Suasana jalan yang minim penerangan, membuat jalan itu terlihat lengang dan menakutkan bagi para pengendara.
Mami Zelayin terlihat duduk bak seorang ratu di atas tangga rumahnya. Di bawah tangga, Jamblang dengan tubuh tegapnya bersedekap memandang satu persatu sepuluh perempuan yang duduk di atas tanah. Suasana di dalam komplek terlihat gelap. Hanya satu lampu yang menyala di salah satu pohon samping rumah. Itu pun masih terhalang dahan-dahan pohon yang menjuntai ke bawah. Angin malam yang bertiup dingin membuat penghuni komplek berdesakan satu sama lain. Mereka masih berbisik satu sama lain sementara menunggu apa yang akan dikatakan mami Zelayin.
Mami Zelayin mendehem dan menatap ke arah perempuan-perempuan di bawahnya. Ia mulai sibuk membolak-balikkan lembar demi lembar buku di tangannya. Cahaya lampu yang kurang terang, membuatnya harus menyalakan senter ponselnya.
"Yang saya sebutkan namanya, berarti tetap tinggal dan ikut kemana saya pergi. Yang tidak saya sebut, boleh meninggalkan tempat ini. Mau ataupun tidak," kata mami Zelayin. Mereka yang ada dibawah saling pandang. Sulastri yang duduk bersebelahan dengan Rahima tampak tersenyum.
"Ternyata apa yang kita bicarakan tadi siang benar, Lastri," bisik Rahima.
"Rahima." Mami Zelayin mulai mencari wajah Rahima dalam remang malam. Rahima menoleh. Tubuhnya ditegakkan dan mengangkat tangannya.
"Kamu, Wati, Suhaini, dan Usnati, tetap ikut saya. Utang kalian terlalu banyak. Saya tidak mungkin membiarkan kalian pergi. Sedangkan yang lain, yang tidak saya sebutkan namanya, besok subuh-subuh kalian sudah harus meninggalkan tempat ini," kata Mami Zelayin. Mendengar namanya di sebut, Rahima memegang tangan Sulastri. Ia tersenyum, namun wajah Sulastri nampak murung.
"Selamat ya, Lastri, ingat, jangan lupakan saya," bisik Rahima. Sulastri ingin tersenyum, namun air matanya keburu tumpah di pipinya. Rahima memeluk tubuhnya erat.
"Mami, kalau boleh tahu, apa yang terjadi, kenapa harus ada yang tinggal dan pergi. Kami mau kemana setelah keluar dari sini," kata salah seorang perempuan.
"Aku bangkrut. Kalian sama sekali tidak memberiku pemasukan,"
"Biarkan saya ikut, Mami. Mungkin Mami masih membutuhkan tenaga saya untuk memasak dan segala keperluan Mami," katanya lagi.
"Aku saja masih bingung harus kemana setelah tempat ini dijual. Maaf, aku tidak bisa membawamu," kata mami Zelayin. Ia bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo, kalian masuk ke kamar masing-masing," kata Jamblang. Merekapun bangkit dan segera menuju kamar masing-masing.
__ADS_1
"Rahima, aku tidur di kamarmu ya," kata Sulastri sambil mengikuti langkah Rahima dari belakang. Rahima mengangguk dan merangkul tubuhnya.