
Mobil lycan hiyperspot itu berhenti di jalan Doyan Medaran tepat ketika Adzan dhuhur berkumandang. Rahima, Rahini, Minang dan Wahyu nampak heran ketika melihat komplek yang dulu mereka tinggali selama bertahun-tahun kini terlihat rata tanpa pohon pisang yang rimbun. Hanya ada beberapa pohon mahoni dan mimba dekat sungai yang masih berdiri teduh. Sebuah bangunan besar dengan bagian depan full kaca bening sudah dalam tahap pemasangan rangka baja untuk atap. Benar-benar telah berubah.
Sulastri menggelengkan kepalanya. Ia meraih tangan Rahima.
"Ini baru dua hari, tapi mereka sudah hampir menyelesaikan satu bangunan sebesar ini," kata Sulastri. Rahima mengangguk. Pandangannya dilemparkannya ke arah pohon mahoni tempat ia dan Sulastri dulu sering menghabiskan waktu siang mereka. Rasanya baru kemarin ia melihat Sulastri menangis memperlihatkan mata sembabnya. Melihatnya kini yang begitu cantik dan mempesona, ia merasa seperti tak pernah bersama dengan Sulastri yang kini memegang erat tangannya. Rahima melirik ke arah Sulastri. Tidak ada yang kebetulan. Semua yang ditakdirkan Tuhan memang punya tujuan. Termasuk menjadikan Sulastri perantaranya menikmati kebebasannya. Ia bersyukur telah menjadi orang yang dekat dengan Sulastri saat berdukanya. Itu semua memberikan pelajaran berharga bagi dirinya. Berbuat dan bersangka yang baik kepada seseorang tanpa harus mengenalnya terlebih dahulu, adalah kunci untuk meraih pertolongan Tuhan.
Rahima mendesah dan tersenyum. Ia menoleh ke arah ketiga temannya yang berdiri di belakangnya. Ia mengajak mereka untuk mendekat di sampingnya. Rahima melepaskan genggaman tangan Sulastri dan menggantinya dengan sebuah gandengan. Sulastri menoleh dan tersenyum.
"Jangan di sana semua dong. Ayo sini, di samping saya," kata Sulastri kepada salah satu dari mereka. Rahini dengan tersipu-sipu segera mendekat dan berdiri di samping Sulastri. Sulastri menggandeng tangannya.
"Uang memang bukan segalanya. Tapi uang memberikan perubahan yang banyak dalam kehidupan kita. Dengannya, aku bisa mengajak kalian menikmati apa yang sebelumnya hanya kita bisa nikmati dalam angan-angan kita. Dengannya aku bisa membantu sesama kita yang membutuhkan. Aku tidak lagi hanya bisa berhayal meraih rembulan. Tapi lebih dari itu. Penderitaanku memberikanku banyak pelajaran. Salah satunya, aku bisa mengerti bagaimana rasanya kelaparan. Aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya orang-orang yang tak beruntung ingin keluar dari ketidak beruntungannya." Sulastri mendesah dan menundukkan kepalanya. Ia mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi putihnya.
"Aku setuju. Tapi hati yang bersih seperti hatimulah yang menentukan perubahan itu selalu ke arah yang baik. Kamu telah memaafkan orang-orang yang telah menyakitimu. Jika tidak karna hatimu yang bersih, tentu kamu tidak akan pernah mengampuni mami Zelayin," kata Rahima. Sulastri mengangguk.
"Tuhan memang maha Adil. Satu persatu orang yang menyakitiku telah menerima hukumannya. Semoga Tuhan mengampuni mereka,"
"Amin," kata mereka serempak.
Sulastri melambaikan tangannya ke arah pak Bayan yang sedang duduk di tepi sungai. Pak Bayan bangkit dan segera bergegas menuju Sulastri.
"Kita pulang, Pak,"
"Baik, Bu," kata pak Bayan. Ia segera bergegas menuju mobil. Merekapun kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Kita singgah di rumah makan bu Pratiwi ya Pak. Kita makan siang di sana," kata Sulastri. Pak Bayan mengangguk.
* * * * *
Pak Bayan menghentikan mobil setelah dua jam lamanya berkendara dari lokasi di jalan doyan medaran. Sekitar lima puluh meter dari lampu merah di perempatan jalan. Dia lalu memutar mobilnya dan masuk ke area parkir rumah makan milik bu Pratiwi. Aktifitas di rumah makan itu seperti tak biasanya. Beberapa pelayan terlihat sibuk mengeluarkan kursi dan beberapa perabot lain dari dalam rumah makan. Sulastri menatap ke arah pak Bayan. Pak Bayan sendiri nampak heran.
"Kalian di sini dulu. Biar aku tanyakan apa yang terjadi," kata Sulastri. Ia melihat Retno nampak keluar membawa vas bunga dari dalam rumah makan. Ia segera membuka pintu dan keluar. Begitu melihat dan mengenali Sulastri, Retno langsung melepas vas bunga dan segera menyambut Sulastri.
__ADS_1
"Kak Lastri?" kata Retno. Ia mencium tangan Sulastri dan memeluknya.
Sulastri melihat ke sekelilingnya. Di dekat tumpukan kursi, ia melihat bu Pratiwi nampak murung menundukkan wajahnya.
"Kak Lastri mau makan?" kata Retno. Walaupun masih bingung, Sulastri mengangguk saja. Ia menengok ke arah dalam rumah makan. Tampak sepi. Hanya beberapa perempuan yang mondar-mandir mengeluarkan barang-barang.
"Maaf, Kak. Kayaknya mulai hari ini kami akan tutup untuk selamanya," lanjut Retno. Ia menatap wajah Sulastri dengan sedikit senyum.
"Tutup? Kok tutup, Dik," tanya Sulastri.
Retno mendesah.
"Tempat ini di sita pihak bank," jawab Retno. Sulastri mengernyitkan dahinya.
"Loh, kok bisa, Dik Retno."
Retno mengangkat kedua bahunya. Tatapannya mengarahkan Sulastri ke arah bu Pratiwi. Sulastri melangkah menghampiri bu pratiwi.
"Apa yang terjadi, Bu. Kenapa pihak bank menyita rumah makan ini," tanya Sulastri. Bu Pratiwi kembali menundukkan wajahnya. Isak tangisnya mulai terdengar.
"Saya tidak mampu membayar hutang di bank, Bu. Pemasukan dari rumah makan tidak cukup untuk membayar cicilan perbulannya. Mau tidak mau saya harus merelakan rumah makan ini di sita," kata bu Pratiwi sesenggukan.
Sulastri mengusap punggung bu Pratiwi pelan. Ia terdiam sejenak. Dilihatnya Retno masih berdiri memandang ke arahnya.
"Memangnya ibu punya hutang berapa?" tanya Sulastri kemudian. Bu Pratiwi mengusap ingus yang keluar dari hidungnya. Ia berusaha terlihat tegar.
"Tujuh ratus juta, Bu," jawabnya singkat. Tetap menundukkan wajah. Angin yang bertiup membuat rambut sebahunya menutupi wajahnya. Sulastri kembali terdiam. Ia menatap ke arah langit. Setelah terdiam beberapa saat, ia menoleh ke arah bu Pratiwi dan memegang tangannya.
"Ibu bisa tetap memiliki rumah makan ini, dengan syarat ibu mau menerima tawaranku," kata Sulastri kemudian. Bu Pratiwi mengangkat wajahnya dan melihat penasaran ke arah Sulastri.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Saya akan bantu melunasi hutang ibu di bank. Saya akan investasi di rumah makan ibu. Hasil dari rumah makan akan kita bagi dua. Saya tidak akan membatasi jumlah uang yang akan ibu setor kepada saya untuk menyicil hutang ibu. Rumah makan ini adalah ikon kota ini. Orang-orang akan rindu pelecing kangkung, ayam taliwang ataupun sayur kelor rumah makan ini. Adik-adik di sini juga tidak akan kehilangan pekerjaan mereka. Menjadi pengangguran itu susah, Bu. Cukup saya yang merasakannya," kata Sulastri dengan penjelasan panjangnya.
Bu Pratiwi memegang pundak Sulastri. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja di katakan Sulastri. Sulastri tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Benar apa yang kamu katakan ini, Bu," kata bu Pratiwi. Sekali lagi Sulastri mengangguk memberi keyakinan. Raut wajah bu Pratiwi seketika berubah. Senyumnya mengembang. Ia tidak bisa berkata-kata untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Ia langsung memeluk Sulastri.
"Terimakasih, Bu. Terimakasih," Bu Pratiwi kembali menangis. Para pelayan melihat heran dari kejauhan.
"Maafkan juga atas kejadian kemarin. Saya seharusnya tak pantas mendapatkan ini. Kamu orang baik. Kamu sama sekali tidak menyimpan dendam. Kamu bahkan datang membantuku," kata bu Pratiwi. Ia tak mau melepaskan pelukannya.
Sulastri menganggukkan kepalanya ke arah Retno, menyuruhnya mendekat.
"Ada apa, Kak," kata Retno.
"Kami belum makan sama sekali siang ini. Kalau ada menu yang masih tersisa, tolong siapkan untuk kami," kata Sulastri. Retno nampak kebingungan. Ia belum mengerti maksud Sulastri.
"Saya tidak mengerti, Kak,"
"Suruh yang lain tangkap ikan di kolam belakang. Hidangkan makanan untuk bu Lastri dan rombongannya," bu Pratiwi ikut menyahut.
Retno masih berdiri. Dia masih belum mengerti apa maksud keduanya. Bu Pratiwi bangkit. Ia meraih tangan Sulastri dan mengajaknya berdiri.
"Ayo semua. Kita masak seperti biasa," kata bu Pratiwi ke arah beberapa pelayan yang berdiri di parkiran. Ia lalu menarik tubuh Retno dan mengajaknya masuk bersama Sulastri.
* * * * *
"Kalian tentu belum mengerti apa yang terjadi." Bu Pratiwi menoleh ke arah Sulastri seperti meminta persetujuan. Sulastri mengangguk kecil.
"Ibu Sulastri telah menyelamatkan kita. Rumah makan ini akan tetap beroperasi. Sekali lagi, kami mengucapkan terimakasih kepada bu Lastri," kata bu Pratiwi. Ia meletakkan telapak tangannya di atas tangan Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Berterimakasih dan bersyukurlah pada Allah. Dialah Pemberi Nikmat ini. Sekarang, mari kita makan," kata Sulastri. Para pelayan terlihat bahagia. Mereka berbisik satu sama lain karna baru mengerti maksud bu Pratiwi menyuruh mereka menyiapkan makanan.
__ADS_1
Suasana makan dengan duduk di atas lantai menambah suasana keakraban di antara mereka. Hingga setelah dirasa cukup, Sulastri pun pamit pulang. Bu Pratiwi bersama pelayannya berdiri berjejer dengan senyum mengembang mengiringi kepergian Sulastri dan rombongannya.