KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#163


__ADS_3

Kedua mata masih menatap ke arah langit-langit kamar dalam kegelapan malam. Suara nafas keduanya nyaris tak terdengar. Bahkan gerakan tubuh keduanya di atas ranjang sebisa mungkin tak terdengar di telinga masing-masing. Tuan Guru Izzul Islam yang sarat dengan materi tentang pernikahan seperti telah kehilangan semua ilmunya. Ia bingung untuk memulai sesuatu setelah beberapa menit tadi mematikan lampu, dia hanya terbaring terlentang dengan pakaian lengkapnya. Jaraknya dengan Rianti pun, dia masih belum mengetahuinya pasti, walaupun Rianti terbaring di sampingnya. Tak ada gerakan sama sekali. Bahkan suara nafasnya.


Tuan Guru Izzul Islam menggerakkan matanya ke samping. Ia mencoba memasang pendengarannya lebih dalam. Berusaha menangkap dan meraba apa gerangan yang sekarang dipikirkan Rianti. Apakah sama dengan yang kini ia rasakan? Ataukah ia sudah tertidur? Sesungguhnya ia benar-benar tahu apa yang harus dilakukan pengantin baru di malam pertamanya. Tapi dalam keadaan tegang seperti itu, ia benar-benar merasa bingung untuk memulainya. Ia hanya berharap, suara yang berbunyi sesekali di perutnya tidak di dengar oleh Rianti.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang namun dengan sedikit di tahan. Gatal dan serak di tenggorokannya membuatnya terpaksa mendehem. Tapi karna deheman yang terlalu hati-hati, membuatnya tersedak dan batuk. Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan menyandarkan tubuhnya. Ia berusaha menahan batuknya dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, namun semakin ditahannya, batuknya tak kunjung juga berhenti.


Clek!


Tiba-tiba lampu di dalam kamar menyala. Entah kapan Rianti turun dari ranjang dan pergi menyalakan lampu. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan wajahnya karna silau dengan cahaya lampu. Dia segera menurunkan ujung jubahnya ketika melihatnya tersibak hingga memperlihatkan betisnya. Wajah Tuan Guru Izzul Islam terlihat pucat. Ia terlihat malu di hadapan Rianti. Rianti menundukkan wajahnya malu. Dia segera membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu dan keluar. Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia mengusap wajahnya beberapa kali. Ia menengok ke arah pintu. Dia belum tahu apa yang dilakukan Rianti ketika tiba-tiba keluar dari kamar. Tuan Guru Izzul Islam berpikiran, mungkin Rianti tidak nyaman dengan suasana seperti itu. Tapi apa yang dipikirkan Tuan Guru Izzul Islam ternyata salah. Tak beberapa lama kemudian, Rianti terlihat di balik pintu. Di tangannya sebuah gelas dan wadah berisi air. Setelah menuangkan air ke dalam gelas, ia melangkah perlahan mendekati Tuan Guru Izzul Islam.


"Minumlah," kata Rianti. Ia duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam sembari menundukkan wajahnya. Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya. Gelas di tangan Rianti dipegangnya. Tangannya bergetar. Rianti yang belum sempat menarik tangannya saat memegang gelas, terdiam ketika tangan Tuan Guru Izzul Islam berada di atas punggung telapak tangannya. Seperti halnya Rianti, Tuan Guru Izzul Islam pun hanya bisa terdiam. Tangannya seperti melekat kuat di atas punggung telapak tangan Rianti. Jangankan menariknya, menggerakkannya saja ia merasa tak bisa. Hangat tangan Rianti seperti menjalar ke seluruh tubuhnya, menyingkirkan hawa dingin yang menelingkupi ruangan. Keduanya serempak mengangkat wajah. Tatapan mata keduanya kini beradu penuh dengan binar-binar, seperti mengisyaratkan untuk saling rengkuh satu sama lainnya. Gelas berisi air tetap terpegang erat di tengah-tengah keduanya dengan getar tangan yang semakin kuat, membuat air di dalam gelas sedikit tumpah di atas sprai. Nafas keduanya bergemuruh. Turun naik dengan cepatnya.


Brar!


Suara petir menggelegar dari arah luar memekikkan telinga. Keduanya kaget dan spontan menarik tangan masing-masing dari gelas, sehingga gelas terlepas dan jatuh membasahi gamis yang dipakai Rianti. Spontan Tuan Guru Izzul Islam menyingkirkan gelas yang jatuh di pangkuan Rianti. Jubah yang dipakainya dilepasnya. Tangan Rianti yang mencoba membersihkan air yang tumpah di gamisnya dipegang Tuan Guru Izzul Islam dengan lembutnya. Setelah itu, ia kembali membersihkan gamis Rianti hingga ia tak sadar, tangannya menyentuh salah satu bagian sensitif Rianti di bagian dada. Rianti mengangkat wajahnya. Tuan Guru Izzul Islam terdiam terperangah. Tatapannya kini beradu dengan tatapan Rianti, dengan tangan yang masih menempel di salah satu buah dada Rianti.


Rianti mengangkat kedua tangannya perlahan dan memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersadar dari terperangahnya. Ia kaget dan segera menarik tangannya dengan cepat. Tapi kedua tangan Rianti menahannya. Gemuruh nafas Rianti terdengar. Ia merasa sudah tidak tahan lagi. Ia berpikir, inilah saatnya seorang istri yang baik menawarkan terlebih dahulu kepada suaminya. Melihat sikap dan gelagat Tuan Guru Izzul Islam yang sulit untuk memulai, ia sangsi besok malam ia akan bersikap yang sama. Ia yakin dalam hal ini, ia lebih tahu apa yang harus dilakukan.


Rianti tersenyum. Satu tangan Tuan Guru Izzul Islam yang belum dipegangnya di raihnya dan mengarahkan keduanya ke arah kancing gamisnya. Karna Tuan Guru Izzul Islam hanya diam saja, Rianti memberanikan diri membantunya melepas satu persatu kancing gamis. Setelah itu, Rianti membuka sendiri gamisnya dengan pelan. Kali ini Tuan Guru Izzul Islam tak menundukkan wajahnya. Tubuh Rianti yang kini tanpa balutan gamis, terlihat mengeluarkan cahayanya. Tuan Guru Izzul Islam menelan ludahnya dalam-dalam dan memejamkan matanya. Kesempatan itu digunakan Rianti dengan menyodorkan keningnya ke bibir Tuan Guru Izzul Islam. Dengan lembut, Tuan Guru Izzul Islam mencium kening Rianti. Sejurus kemudian, ia membuka matanya dan menemukan Rianti terbaring di depannya dengan memejamkan mata. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Setelah membaca doa, ia melangkah ke arah stop contact dan mematikan lampu.


* * * * *


"Farida mengerjapkan matanya berusaha mengkondisikan matanya agar tak silau dengan cahaya lampu di dalam ruangan. Ia menoleh ke arah sampingnya berbaring. Ia hanya melihat Rayhan yang begitu lelap dalam dengkur panjangnya. Sulastri yang tadi tidur di tengah-tengah mereka, sudah tidak ada di tempatnya.

__ADS_1


Farida mengangkat tubuhnya pelan. Ia mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia belum menemukan Sulastri. Farida bangkit dan melangkah menuju kamar mandi di dalam ruangan. Ia mengetuk pintu kamar mandi pelan.


"Ibu? Ibu di dalam?" panggil Farida. Tidak ada jawaban. Farida mendesah. Pintu kamar mandi di bukanya. Lagi-lagi ia tak menemukan siapa-siapa di dalam kamar mandi. Farida mengernyitkan dahinya. Ia menoleh ke pintu kamar. Ia berpikir mungkin Sulastri ada di ruang tamu.


Farida mengambil jaketnya dan segera keluar. Kembali ia mendesah panjang dan mengerutkan keningnya ketika tak menemukan Sulastri di ruang tamu. Dada Farida mulai berdebar ketika pandangannya tertuju ke arah jam dinding. Sudah jam 3. Ia mulai resah.


"Ibu," panggilnya. Suaranya menggema dalam ruangan. Tak ada jawaban. Kembali ia memanggil, tapi tetap tak ada jawaban. Farida membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu luar. Sebelum membuka pintu, ia melihat suasana di halaman rumah lewat kaca jendela. Ia tersenyum ketika melihat pak Bayan nampak mondar-mandir di depan pintu gerbang. Perasaannya berangsur tenang. Ia segera membuka pintu.


"Pak Bayan," panggil Farida dari arah teras. Pak Bayan menoleh. Melihat Farida melambaikan tangannya, ia segera berlari kecil mendekat.


"Ada apa, Non," tanya pak Bayan ketika telah sampai di depan Farida.


Kening Farida mengerut. Dia lebih mendekat ke arah pak Bayan.


"Ibu ada di kubur Bapak, Non. Ibu sedang mengaji,"


Farida mendesah panjang sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya udah, Pak. Saya mau kesana," kata Farida. Pak Bayan mengangguk dan kembali ke pos jaga.


Suara langkah kaki Farida di atas paving block halaman rumah terdengar menghentak sunyi malam. Sulastri yang baru saja selesai berdoa menoleh. Ia mengernyitkan dahinya ketika Farida berjalan ke arahnya dengan mendekap erat tubuhnya.


"Kenapa kamu bangun, Nak," tanya Sulastri ketika Farida beberapa langkah lagi ke tempatnya.

__ADS_1


Wajah Farida nampak cemberut. Dia langsung saja duduk bersila di dekat Sulastri.


"Ibu kok gak bilang-bilang kalau kesini. Farida kan jadi takut tiba-tiba gak lihat ibu di kamar,"


Sulastri tersenyum. Kepala Farida di usapnya.


"Bagaimana ibu mau kasih tahu kamu. Kamu tidurnya lelap sekali. Lagian ibu tidak kemana-mana. Masih di sekitar rumah,"


"Iya, tapi Farida takut,"


"Ibu tidak bisa tidur, Nak. Ibu terus saja teringat sama Kakakmu, Rianti,"


"Owch, jadi kita-kita ini gak ngaruh sama sekali ya. Kalau begitu, besok saya ajak dik Rayhan balik lagi ke pondok," kata Farida. Kali ini ia pura-pura memasang wajah cemberutnya. Sulastri mendesah dan tersenyum. Dia menarik tubuh Farida dan mendekatkannya ke tubuhnya. Ia lalu merangkulnya penuh kehangatan.


"Tidak seperti itu, Nak. Kalian sama saja di mata ibu. Kalian semua adalah anak-anak ibu. PIbu sudah terbiasa tidur berdua dengan kakakmu. Ibu belum terbiasa saja malam ini tanpa kakakmu,"


Farida mendesah panjang. Ia menatap ke arah langit.


"Kak Rianti memang ngangenin ya, Bu. Farida saja dulu hampir mau berhenti mondok karna kangen kak Rianti. Padahal Farida hanya semalam tidur sama kak Rianti." Farida tersenyum. Ia menoleh ke arah Sulastri.


"Satu lagi, Bu. Kalau lihat wajahnya kak Rianti, bawaannya,kalau gak kepingin ngaji, pasti ingin shalat. Intinya, kita maunya berbuat baik terus ketika memandang wajahnya," sambung Farida. Kembali ia mengarahkan pandangannya ke arah langit. Sulastri tersenyum. Ia ikut mengarahkan pandangannya ke langit. Ia menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Farida memang benar. Ternyata tidak hanya dia yang merasakan sesuatu yang berbeda saat memandang wajah Rianti, Farida pun merasakan hal yang sama. Mungkin juga orang-orang lain yang melihatnya.


"Ayo, Nak. Ibu takut adikmu terbangun dan kaget tidak menemukan kita di kamar," kata Sulastri mengajak Farida bangkit. Keduanya lalu melangkah bergandengan tangan.

__ADS_1


Hawa dingin terasa menusuk sehabis hujan turun dengan derasnya. Sesekali terdengar gemeretak sisa-sisa hujan di dedaunan pohon. Alam berselimut dingin.


__ADS_2