KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#188


__ADS_3

Mata Jamila melirik kesana kemari memperhatikan rumah super besar dan mewah di hadapannya ketika Sulastri mengajaknya masuk usai turun dari mobil. Model rumah mewah yang dulunya sering ia lihat di kawasan Jerowaru Daye, yang merupakan kawasan paling elit, yang ditempati para pengusaha. Sulastri yang melihatnya hanya tersenyum. Sosok Jamila yang nampak kagum dengan rumah besar miliknya, mengingatkannya kembali kepada dirinya beberapa puluh tahun yang lalu, saat pertama kalinya ia diajak oleh Almarhum Yulian Wibowo.


"Jamila, kamu letakkan dulu tas itu di meja teras. Kamu akan ibu perkenalkan ke penghuni rumah lain yang tinggal di sini. Sekalian melihat kamarmu," kata Sulastri. Jamila mengangguk dan meletakkan tasnya di atas meja. Setelah itu, Sulastri mengajaknya ke dapur.


Aroma makanan dari dapur tercium ketika Sulastri dan Jamila baru beberapa langkah akan sampai di halaman samping rumah. Di dapur, nampak bi Aisyah dan Munawarah sedang sibuk memasak di dapur. Keduanya menoleh ke arah Sulastri dan Jamila ketika keduanya masuk ke dalam.


"Lagi buat apa, Bi," tanya Sulastri.


"Ini, disuruh nak Fahmi buat kolak pisang. Katanya nanti malam adalah malam terakhir jamaah akan gotong royong," kata bi Aisyah.


"Loh, kan saya sudah telpon dik Retno, apa belum datang?" kata Sulastri.


"Sudah, Bu. Itu ada di sebelah. Kata Nak Fahmi, hari ini sekalian mau ajak anak-anak panti asuhan kesini untuk makan bersama." Sulastri mengangguk dan mulai memeriksa beberapa makanan yang sudah siap. Sementara Sulastri terlihat sibuk memeriksa makanan, Jamila mendekati Munawarah yang sedang menggoreng ikan. Ia meminta Munawarah menyerahkan sutil di tangannya dan menggantinya menggoreng ikan. Tangan Jamila begitu cekatan membalik beberapa ikan di dalam penggorengan. Sulastri tersenyum.


"Ayo, kasih Munawarah lagi. Kamu ke kamarmu dulu dan istirahat. Biar mereka berdua yang membereskan," kata Sulastri.


"Bu, Jamila di sini saja dulu ya. Kayaknya pekerjaan di dapur masih banyak. Saya ingin membantu bibi berdua," kata Jamila sambil menatap ke arah bi Aisyah dan Munawarah. Sulastri menatap tubuh Jamila yang mulai melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia mendesah.


"Baiklah kalau begitu. Bi, nanti ajak Jamila makan, setelah itu antar dia ke kamarnya. Aku mau istirahat sebentar," kata Sulastri. Setelah itu ia beranjak keluar.


Tak butuh waktu terlalu lama, Jamila sudah terlihat akrab dengan bi Aisyah dan Munawarah. Mereka sudah seperti mengenal lama. Bahkan sesekali terdengar tawa renyah dari ketiganya di sela-sela pekerjaan mereka.


** * * *


Waktu terus berlalu. Tak terasa Adzan Maghrib telah berkumandang. Senja telah berlabuh, berganti gelap menghampar.


Di dalam kamarnya, Layla tampak mondar-mandir dengan mukena masih di tubuhnya sehabis shalat maghrib. Dia belum tahu jam berapa Tuan Guru Izzul Islam akan datang ke rumahnya. Duduk pertamanya di meja rias, olesan gincu warna merah muda dan make up di pipinya di hapusnya kembali. Beberapa lembar tisu berserakan di lantai. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa gincu dan make up yang dipoles di wajahnya terlalu berlebihan. Padahal dia sudah terbiasa melakukannya. Gincu dan make up pun adalah gincu dan make up yang sama yang sering ia gunakan setiap harinya. Dan ia hanya memoleskannya sekedar saja seperti ketika ia memakainya ke sekolah.


Layla menatap jam di dinding. Hampir isya. Layla melangkah menuju meja rias dan duduk. Ia mendesah dan mulai memperhatikan detail wajahnya di depan cermin. Tanpa make up, ia merasa wajahnya menjadi tidak cantik. Tidak hanya wajahnya, ia melihat penampilannya terlihat tidak menarik. Pujian teman-temannya tentang bodi dan wajahnya yang cantik, serta beberapa cowok-cowok yang memperebutkannya di sekolah, malam ini seperti tak berguna lagi. Kedatangan Tuan Guru Izzul Islam benar-benar menjadikannya seperti seorang pelukis yang tertegun di depan kanvas dan tak kunjung bisa menggoreskan kuasnya.


Suara Adzan isya berkumandang. Layla kembali mendesah. Dia memperbaiki lingkaran mukena di wajahnya. Ia tersenyum, berusaha menyingkirkan deg-degan di dadanya. Dia meyakinkan dirinya, mukena yang dipakainya dan tanpa riasan di wajahnya sudah cukup untuk menemui Tuan Guru Izzul Islam. Jika terus tidak percaya diri dengan wajah dan penampilannya, dia akan terus tertegun di depan cerminnya.


Terdengar ketukan dari pintu kamar. Layla segera merunduk mengumpulkan tisu-tisu yang berserakan di bawahnya dan membuangnya di tempat sampah.


"Nak, ditunggu ayahmu. Kita shalat isya' berjamaah," terdengar suara bu Sofia dari arah luar.


"Iya, Bu. Layla mau keluar," jawab Layla. Setelah memperhatikan wajahnya sejenak di depan cermin, Layla segera bergegas keluar.


* * * * *


Suara klakson mobil terdengar sekali dari arah luar. Jantung Layla berdegup kencang. Dadanya berdebar-debar. Usai shalat isya' dan makan malam, ia langsung masuk kamarnya. Sudah satu jam lebih setelah shalat isya' dan makan malam ia menunggu gelisah di dalam kamarnya. Tak ada terdengar ayahnya menelpon Tuan Guru Izzul Islam yang menanyakan tentang kedatangannya malam ini. Dan kini, setelah mendengar suara mobil dan klakson di luar rumah, rasa-rasa tidak tenang dalam hatinya seperti sudah meledak.

__ADS_1


Layla berjalan pelan menuju jendela kamar yang menghadap halaman rumah. Ia menyibak sedikit kelambu yang menutupi jendela. Layla tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam terlihat keluar dari dalam mobil di sambut bu Sofia dan pak Nurasmin.


Layla segera menutup kelambu jendelanya dan melangkah menuju meja rias. Mukena yang sudah dilepasnya kembali dipasangnya. Waktu terasa begitu sempit. Ia berharap bu Sofia tidak datang memanggilnya sebelum ia mantap dengan penampilannya.


Suara ketukan terdengar dari pintu kamar. Layla mendesah panjang. Suara pintu terdengar berdret. Dari balik cermin, ia melihat bu Sofia tersenyum dan melangkah mendekatinya.


"Sudah. Tanpa make up pun kamu sudah cantik, Nak. Orang seperti kak Tuanmu tak tertarik dengan kecantikan zahir, ia tertarik dengan wanita yang kaya hati," kata bu Sofia sambil merapikan mukena bagian belakang yang dipakai Layla. Layla tersenyum. Kata-kata bu Sofia menenangkannya.


"Ayo, nanti keburu larut malam. Kasihan kak Tuanmu. Pulangnya jauh," kata Bu Sofia. Tangan Layla dipegangnya dan menggandengnya keluar.


Layla menghela nafas panjang dengan pelan. Semakin dekat ke arah ruang tamu, debar jantungnya terasa semakin kuat.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ketika bu Sofia dan Layla terlihat mendekat. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Layla menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah menahan malu. Keringat mulai terlihat berkumpul di keningnya. Ia merasa gerah karna tiba-tiba saja seluruh tubuhnya telah dikuasai keringat.


"Pak, Bu, maaf, agar tidak terlalu larut, saya mau bicara langsung sama dik Layla," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin melirik ke arah bu Sofia. Keduanya mengangguk.


Bu Sofia mengambil tisu di atas meja dan menggenggamkannya di tangan Layla. Setelah itu ia bangkit mengikuti pak Nurasmin dan melangkah meninggalkan keduanya di ruang tamu.


"Bu, ayo. Gak boleh curi-curi dengar seperti itu. Kita tunggu saja bagaimana sikap Layla setelah bertemu nak Izzul," kata pak Nurasmin ketika melihat bu Sofia mengintip dari balik kelambu. Bu Sofia mendesah panjang. Tatapannya terlihat sedih menatap ke arah Layla yang masih menundukkan kepala. Tanpa disadarinya, air matanya mengalir.


"Ibu tak menyangka akan secepat ini anak kita seperti ini, Pak. Cita-citanya untuk sekolah setinggi mungkin hilang begitu saja." Pak Nurasmin mendekat dan memegang pundak bu Sofia.


"Tapi bagaimana kalau nak Izzul mengiyakannya dan mau menikahi anak kita, Pak," kata bu Sofia. Pak Nurasmin tersenyum.


"Ya..., gak apa-apa, Bu. Mau apa lagi,"


"Tapi ini kayaknya terlalu tergesa-gesa, Pak,"


"Tergesa-gesa itu dianjurkan dalam tiga hal, menguburkan mayit setelah meninggalnya, melunasi hutang dan yang terakhir menikahkan anak gadis jika sudah waktunya. Layla memang masih sekolah, tapi secara pemikiran dia bapak anggap sudah dewasa. Menjaga anak perempuan lebih sulit dari pada menjaga harimau. Lebih-lebih di zaman ini. Dengan menikahkannya, dia lebih bisa menjaga pandangan dan kehormatannya," kata pak Nurasmin. ia lalu melepaskan pegangan tangan bu Sofia pada kelambu. Tubuh bu Sofia kemudian dibalikkannya dan mengajaknya masuk kamar.


* * * * *


"Bagaimana kabarnya, Dik Layla. Baik?" kata Tuan Guru Izzul Islam memulai pembicaraan. Layla tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia masih berat mengangkat kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Dia menatap Layla.


"Bapak sudah menceritakan semuanya kepada saya. Awalnya saya sendiri kaget ketika mendengar cerita bapak. Kejadian beberapa bulan lalu tak pernah saya pikirkan. Itu saya anggap lalu. Dan apa yang dilakukan dik Layla dulu dengan kabur karna menolak perjodohan sepihak adalah hal yang wajar. Sayapun jika dalam posisi dik Layla pasti akan melakukan hal yang sama." Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak. Di teguknya sekali air putih di depannya. Ia kembali menatap Layla yang tetap menundukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Waktumu masih panjang, Dik Layla. Kamu masih terlalu muda untuk memikirkan sesuatu yang mungkin saja hanya singgah sebentar saja di hati dik Layla. Jika dik Layla mencoba berusaha tidak terlalu memperhatikannya, rasa itu pasti hilang," sambung Tuan Guru Izzul Islam.


Layla menggelengkan kepalanya. Gelengan kepala pelan menolak saran dari Tuan Guru Izzul Islam hampir tak terlihat. Ia mulai merasa gelisah. Jangan-jangan, Tuan Guru Izzul Islam datang menemuinya hanya untuk menasehatinya agar berhenti menyukainya.


"Pikirkan lagi perasaan yang kamu rasakan itu, Dik. Itu bisa jadi godaan. Godaan yang sering datang ketika seseorang punya tanda-tanda untuk sukses," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah lama terdiam memperhatikan Layla. Tak ada respon dari Layla. Bahkan suasana sesaat menjadi hening. Tuan Guru Izzul Islam melihat, Layla saat ini tidak sedang membutuhkan nasehat. Jika dia terus berbicara tanpa ada jawaban dari Layla, ia yakin tak akan ada perubahan dari kedatangannya malam ini.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Layla, apa kamu benar-benar menginginkanku?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Layla mengangkat wajahnya. Ia menatap sejenak ke arah Tuan Guru Izzul Islam lalu menunduk kembali. Ia menganggukkan kepalanya satu kali. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Aku bersedia menikahimu tapi jika kamu bisa memenuhi dua syarat dariku." kata-kata Tuan Guru Izzul Islam membuat rasa gelisah di hati Layla seketika hilang. Nafasnya tertahan. Kedua bibirnya tak bisa ia gerakkan untuk sekedar menanyakan dua syarat yang diajukan Tuan Guru Izzul Islam. Dia hanya bisa memberi isyarat dengan anggukan kepalanya.


"Syarat yang pertama, kamu harus melanjutkan sekolahmu. Aku mau kamu melanjutkannya hingga tamat. Kita tak mungkin menikah di saat usiamu masih dalam usia yang dilarang pemerintah untuk menikah. Bagaimana, Dik. Kamu setuju dengan syarat ini?"


Layla terdiam. Tuan Guru Izzul Islam masih menunggu jawabannya.


Layla tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam ikut tersenyum.


"Syarat yang kedua akan kamu ketahui nanti setelah kamu membawakan aku surat tanda kelulusanmu."


Layla mengerutkan keningnya. Ia mendesah dan mengangkat wajahnya. Kali ini ia mencoba bertahan lebih lama memandang Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Aku mempertaruhkan gelar Tuan Guruku jika aku membohongimu. Aku berjanji, jika kamu sudah memenuhi dua syarat yang aku ajukan, aku akan menikahimu, Insya Allah. Dan kamu tak perlu terlalu memikirkannya lagi. Aku akan menepati janjiku," kata Tuan Guru Izzul Islam. Kata-kata Tuan Guru Izzul Islam menenangkan hati Layla dan membuatnya tersenyum.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Jodoh, maut, adalah rahasia Allah. Kita hanya disuruh berikhtiar. Dan saya salut dengan ikhtiar yang dik Layla jalani. Jika kita memang berjodoh, tak perlu bersusah payah memikirkannya. Kita pasti ditakdirkan bersama. Perbanyak shalat dan doa, insya Allah, Allah akan memberikan kebaikan untuk kita," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil meraih gelas di depannya. Ia lalu meneguknya sampai habis.


"Kak tuan." Suara serak Layla membuat Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Saya minta maaf jika dulu saya pernah mengumpat dan mencaci kak Tuan dan bu Nyai karna perjodohan itu. Saya minta maaf karna telah kabur dan mempermalukan kak Tuan. Saya sungguh menyesal," kata Layla. Air matanya mengalir.


Tuan Guru Izzul Islam kembali tersenyum. Ia menatap Layla lekat.


"Gak usah dipikirkan. Sebelum dik Layla meminta maaf, aku sudah memaafkannya. Aku sangat mengerti keadaan dik Layla saat itu," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Sekarang, tenangkan hatimu. Aku sudah berjanji akan menikahimu. Aku tidak akan mengingkari janjiku jika syaratnya telah kamu penuhi." Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah jam tangannya. Ia mendesah.


"Sudah hampir jam 10. Sekarang panggilkan bapak dan ibu ya. Aku mau pamit pulang," kata Tuan Guru Izzul Islam. Layla menganggukkan kepalanya, tapi ia masih belum bangun dari duduknya. Tuan Guru Izzul Islam tahu Layla masih malu. Ia mengambil ponsel di saku bajunya dan mulai berpura-pura sibuk memencet tombol ponselnya. Layla terlihat bangkit dan melangkah pelan menuju kamar bapaknya.


"Loh, kok cepat sekali, Nak Izzul. Kita makan dulu baru pulang," kata bu Sofia dari arah belakang. Tuan Guru Izzul Islam bangkit ketika melihat bu Sofia, pak Nurasmin dan Layla melangkah mendekatinya.


"Sudah malam, Bu. Lain kali saja," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari mendekat ke arah ketiganya. Ia lalu menyalami ketiganya.


"Ibu berterimakasih sekali Nak Izzul mau mengunjungi kami di sela-sela waktu sibuk Nak Izzul," kata bu Sofia. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


Pak Nurasmin dan bu Sofia mengantar Tuan Guru Izzul Islam hingga halaman rumah. Layla sendiri memilih masuk ke dalam kamarnya dan melihat Tuan Guru Izzul Islam dari balik kelambu jendela kamarnya. Tak henti-henti senyum tersungging dari bibirnya ketika melihat wajah Tuan Guru Izzul Islam yang berseri-seri. Hingga mobil yang dikendarai Tuan Guru Izzul Islam telah keluar dan melesat di jalanan, Layla masih berdiri tertegun menatap ke arah luar. Rasa bahagianya kini seperti telah mematri kuat kedua kakinya untuk tetap berdiri menatap bayang-bayang Tuan Guru Izzul Islam yang seperti masih ada di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2