KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#215/ Sembilan bulan kemudian


__ADS_3

Hari berganti hari. Musim kemarau telah berganti musim penghujan. Musim penghujan yang pendek. Dan kini, musim kemarau kembali menyambangi, menebarkan sayapnya ke seantero ranah.


Daun-daun kering berguguran. Beberapa pohon terlihat meranggas. Saat ini, pertengahan Juli 2021.


Suasana ramai terlihat di depan kantor Madrasah Aliyah Yaqin Pemondah. Siswa-siswi kelas tiga yang baru saja menerima pengumuman kelulusan dari kepala Madrasah, nampak bersorak dan berpelukan satu sama lain. Suasana semakin riuh karna beberapa orang siswa mulai menyemprotkan pilog ke arah baju teman-temannya. Tak mau pakaiannya kotor, Layla yang berada di tengah-tengah kerumunan siswa yang lain segera keluar dan berlarian mencari tempat yang aman. Walaupun teman-temannya yang lain berusaha menarik tangannya agar tetap di tempatnya, Layla ngotot pergi menjauh. Teman satu mejanya, Julia, ikut berlarian menyusulnya. Mereka berdua memilih masuk dan bersembunyi di ruang perpustakaan.


"Ini bukan waktunya ke perpustakaan, Layla. Kita ini sudah lulus. Bukankah setelah ini kita akan pergi ke pantai bersama teman-teman. Eh, malah ngajaknya ke perpustakaan," kata Layla setelah keduanya telah duduk di bangku baca perpustakaan. Suasana perpustakaan yang hening dan sepi membuat suara Julia terdengar menggema. Layla memberi isyarat dengan telunjuk di bibirnya agar Julia diam.


"Kalau gak mau, kenapa kamu juga ikut kesini?" tanya Layla. Jawaban Layla membuat Julia terlihat cemberut.


"Tapi kamu ikut gak ke pantai," tanya Julia lagi. Layla berdiri dan berjalan pelan menuju rak buku. Setelah memilah-milah buku-buku di depannya, ia mengambil dua buah buku dan membawanya kembali ke tempat duduk. Salah satu buku disodorkannya ke depan Julia. Julia tak merespon. Ia hanya diam saja melihat buku yang posisi covernya terbalik. Dia mulai tidak senang karna Layla tidak juga menjawab pertanyaannya.


Layla mendesah. Tangan Julia yang diletakkannya di atas meja dipegangnya. Layla tersenyum. Melihat Julia masih cemberut, Layla mencubit dagunya.


"Sudah, jangan cemberut terus. Kalau begini terus aku gak mau jawab pertanyaan kamu," kata Layla. Julia terdiam menatap Layla. Setelah sejenak keduanya saling pandang, keduanya serempak tersenyum. Layla merangkul tubuh Julia.


"Insya Allah, kita lihat saja nanti," jawab Layla. Julia tersenyum. Buku di depannya di pegangnya dan membaliknya. Keningnya mengerut ketika melihat cover buku yang dipegangnya.


"Indahnya pernikahan?"


Layla melirik dan tersenyum.


"Baru saja lulus sudah mau bahas pernikahan." Julia mendorong kembali buku itu ke depan Layla.


"Lebih baik kita bahas rencana kuliah kita ke jawa. Kemarin ayah tanya kemana aku mau kuliah. Aku jawab, kemanapun Layla kuliah, aku ikut," kata Julia.


Layla menutup buku yang sedang dibacanya. Ia membalikkan badannya dan menghadap Julia. Pundak Julia dipegangnya.


"Kayaknya aku gak jadi kuliah, Julia. Tapi jangan sampai kamu ikut-ikutan gak kuliah," kata Layla. Mata Julia memincing. Ia menatap lekat Layla.

__ADS_1


"Kamu serius, La,"


Layla mengangguk. Senyum tipis sedikit terlihat dikedua bibir yang ia tempelkan satu sama lain.


"Tapi kenapa, La. Kenapa tiba-tiba patah semangat seperti ini. Gak mungkin kalau bapak gak punya biaya untuk kuliahin kamu,"


Layla mendekatkan tubuhnya ke tubuh Layla.


"Janji gak bilang siapa-siapa?"


Kedua bola mata Julia bergerak memperhatikan tatapan Layla. Ia mengangguk.


"Aku...mau langsung S3, ingat, kamu sudah janji tidak mengatakannya kepada siapapun.Ini antara kita berdua saja," kata Layla sambil tersenyum. Hidung Julia dicoleknya lembut. Julia menarik tubuhnya sedikit ke belakang. Ia tersenyum sembari seperti mencari keseriusan di wajah Julia.


"Serius kamu, La."


"Serius, La," tanya Julia kedua kalinya sambil menggoyang-goyang tubuh Layla. Layla mendesah. Ia mulai memasang muka cemberut ketika Julia tidak juga berhenti menggerak-gerakkan tubuhnya.


"Coba carikan satu saja kapan aku pernah bohong sama kamu. Kalau ada aku kasih kamu uang," kata Layla. Mata Julia melirik ke atas.


"Kayaknya gak ada," jawab Julia. Layla tersenyum. Dia kembali membaca buku. Julia yang masih belum percaya kembali memegang tangannya.


"Serius ini, La."


"Ya Allah, Julia." Layla berdiri. Setengah kesal, ia menutup buku dan berdiri. Tak mau melihat Layla marah, Julia ikut berdiri sambil memegang kuat tangan Layla.


"Ok, ok, aku percaya." Julia mengajak Layla kembali duduk. Punggung Layla diusapnya lembut.


"Tapi kenapa begitu cepat, Layla. Mana Layla yang dulu punya cita-cita tinggi itu?" kata Julia setelah berhasil membuat Layla kembali tersenyum. Layla mendesah panjang. Tatapan matanya yang berbinar-binar serta raut wajahnya yang ceria memperlihatkan bahwa saat ini ia sedang terbayang sesuatu yang indah di depannya.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik. Anak perempuan tak boleh berlama-lama jadi perawan.Di zaman ini banyak terjadi fitnah," Jawab Layla setelah lama terdiam.


"Wow, jawabannya agamis banget. Iiih...," kata Julia sambil gemes mencubit pipi Layla. Layla hanya tersenyum.


"Mentang-mentang punya saudara Tuan Guru. Terus, kalau boleh tahu, cowoknya orang mana?" tanya Julia.


Jantung Layla seketika berdegup kencang ketika nama Tuan Guru Izzul Islam disebut. Mukanya tiba-tiba memerah. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa malu ketika nama Tuan Guru Izzul Islam disinggung.


Melihat Layla kembali diam dalam waktu yang lama, Julia menepuk pundaknya. Layla tersenyum. Ia tersipu malu.


"Rahasia. Tapi aku akan segera memberitahumu. Insya Allah minggu depan kamu sudah mengetahuinya," kata Layla. Ia menutup buku di depannya dan bangkit dan meletakkan kembali buku itu di rak.


"Ayo, kayaknya teman-teman sudah pulang semua. Ingat, jangan sampai rahasia ini tersebar sebelum waktunya," Kata Layla. Ia memegang tangan Julia dan mengajak keluar.


"Serius ini, La," katanya lagi masih penasaran saat Layla menarik tangannya keluar. Layla menghentikan langkahnya. Kesal karna Julia mengajukan pertanyaan itu terus menerus, tangan Julia dilepaskannya.


"Males, Ah,"


"Layla, tunggu. Aku becanda kok," teriak Julia saat melihat Layla semakin mempercepat langkahnya.


* * * * *


Seorang perempuan tua dengan pakaian lusuh serta selendang yang mengikat kepalanya terlihat mondar-mandir di depan pintu gerbang kediaman Tuan Guru Izzul Islam. Wajahnya terlihat kusut dengan rambut yang terurai acak tertiup angin. Sesekali diusapnya kedua matanya yang berair. Sekilas, ia seperti pengemis yang hendak meminta-minta. Sesekali tangan lemahnya memukul-memukul pintu gerbang, berharap ada orang yang mendengarnya. Suasana di halaman rumah tampak sepi. Beberapa lamanya ia duduk di depan gerbang, tak ada seorangpun yang ia lihat di halaman maupun teras rumah. Dia sempat mendengar suara anak menangis di dalam sana. Dia berharap penghuni rumah membuka pintu dan melihat kehadirannya di depan gerbang. Tapi setelah lama menunggu dan tak ada yang keluar dari rumah itu, ia membalikkan badannya dan melangkah pergi.


Terik matahari begitu menyengat. Biru langit terlihat jelas tanpa ada goresan sedikitpun awan yang menghalangi matahari yang bersinar purna di tengah-tengah langit.


Rianti membuka pintu. Ia menoleh ke sekitarnya. Tadi ia sempat mendengar suara besi dipukul dari arah luar rumah saat bersama Jamila sedang mempersiapkan makan siang di dapur.


Setelah memastikan tak ada siapapun di luar rumah, Rianti kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2